Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pembalasan (2)
Dalam halusinasinya yang sudah kacau, Devan melihat sebuah guling putih yang terletak di atas kasurnya mendadak berubah wujud menjadi sosok Reina, pacarnya, yang sedang melambai-lambaikan tangan dengan pose sangat menggoda.
Rasa gairah yang tidak tertahankan akibat efek obat perangsang langsung meledak di dalam dirinya.
Tanpa sadar dan di luar kendali akal sehatnya, Devan langsung melompat ke atas kasur.
Ia menerkam guling tersebut dengan beringas.
Ia mulai melakukan tindakan-tindakan cabul dan tidak senonoh terhadap guling itu sambil meracau tidak jelas, memanggil-manggil nama pacarnya dengan suara mendesah yang aneh.
Sementara itu, Arga yang sejak tadi sudah bersiap di depan pintu kamar Devan yang sedikit terbuka, langsung mengeluarkan ponselnya.
Ia mengarahkan kamera ponsel berspesifikasi tinggi miliknya melalui celah pintu yang terbuka sekitar beberapa sentimeter.
Arga merekam seluruh aksi memalukan dan menjijikkan kakaknya itu dengan kualitas video definisi tinggi.
Ia memastikan wajah Devan yang sedang memerah menahan gairah dan seluruh gerakan konyolnya terekam dengan sangat jelas tanpa ada yang terlewat.
Melihat Devan yang bertingkah seperti orang gila berdurasi hampir sepuluh menit dengan sebuah guling, Arga harus mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak di depan pintu.
"Hahaha! Gila, ini benar-benar tontonan mahakarya. Rasakan itu, Kakak teladan," bisik Arga puas di dalam hati setelah mematikan rekaman videonya.
Ia segera kembali ke kamarnya sendiri, lalu melakukan proses penyuntingan video singkat untuk memperjelas suara racauan Devan agar terdengar semakin memalukan.
Keesokan paginya, masa skors Arga resmi berakhir.
Ia kembali mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dan berjalan kaki menuju sekolah dengan langkah yang sangat ringan dan penuh percaya diri.
Sesampainya di sekolah, suasana koridor masih tampak seperti biasa.
Murid-murid sibuk mengobrol di depan kelas masing-masing. Arga berjalan menuju kelasnya di 2-B, lalu duduk di bangkunya.
Sindi, sang wakil ketua OSIS yang tempo hari menegurnya, sempat melewati depan kelasnya dan memberikan tatapan kesal, namun Arga hanya membalasnya dengan senyuman santai.
Tepat saat bel masuk berbunyi dan seluruh murid sudah berada di dalam kelas, Arga membuka ponselnya.
Ia menggunakan sebuah akun anonim yang sudah ia hubungkan dengan jaringan nomor virtual untuk masuk ke dalam grup besar obrolan sekolah yang berisi ratusan murid dari kelas satu hingga kelas tiga.
Tanpa ragu sedikit pun, Arga langsung mengunggah video berdurasi dua menit yang memperlihatkan aksi cabul Devan terhadap guling semalam dengan keterangan singkat:
"Sisi lain dari sang bintang sekolah, Kak Devan dari kelas 3. Ternyata punya selera yang sangat unik malam-malam di kamarnya. Silakan dinikmati."
Bum!
Hanya dalam hitungan detik setelah video itu terkirim, suasana di seluruh penjuru sekolah langsung pecah dan gempar.
Dari dalam kelas Arga sendiri, terdengar pekikan kaget dari beberapa siswi yang langsung menutup mulut mereka dengan tangan.
"Eh, demi apa ini Kak Devan?!"
"Gila! Ini beneran dia?! Kok menjijikkan banget sih?!"
"Hahaha! Itu dia lagi ngapain sama guling? Stres ya?!"
Teriakan-teriakan serupa, tawa ejekan, dan bisik-bisik langsung bergema di sepanjang koridor sekolah dan kelas-kelas lain.
Video itu menyebar seperti virus dalam waktu kurang dari lima menit, diteruskan ke berbagai grup kelas dan obrolan pribadi antarmurid.
Arga yang duduk di bangku belakang kelas hanya bisa menopang dagunya dengan tangan sambil tersenyum puas melihat kekacauan yang berhasil ia ciptakan.
Rencana balas dendamnya berjalan dengan sangat sempurna.
Reputasi Devan sebagai murid populer, tampan, dan berkuasa di sekolah itu kini hancur lebur tanpa sisa dalam satu kedipan mata.
"Yah, sekarang mental siapa yang hancur Devan? mungkin nanti ayah sama ibumu itu akan membereskan semua ini. Tapi, mentalmu mulai rusak hahaha!"