NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 08. Respect

Pagi baru saja dimulai, namun hari Acha langsung diuji dengan kepanikan luar biasa. Alarm di ponselnya ternyata mati, membuat Acha terbangun kesiangan dengan mata terbelalak lebar.

Setelah berlarian pontang-panting menyiapkan diri tanpa sempat sarapan yang layak, dia langsung mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menuju tempat kerjanya.

Sialnya, nasib buruk seakan belum mau berhenti. Begitu Acha tiba di area parkir Minimarket dengan napas tersengal-sengal dan rambut yang sedikit berantakan karena terburu-buru, sesosok pria yang paling malas dia temui justru muncul dari balik pintu masuk.

Denis, dengan gaya songongnya dan senyum sok manisnya, langsung menahan langkah kakinya Acha yang sedang terburu-buru merapikan tasnya.

"Eh, si cantik nih. Tumben banget pagi-pagi mukanya kusut begini, kesiangan ya?" sapa Denis usil sambil sengaja menghalangi jalan Acha.

"Mau aku tolongin buat alasan ke bos biar nggak dipecat? Asal kamu mau senyum manis dulu sama aku."

Acha mendengus pelan, menatap Denis dengan mata jengah. Mood-nya yang sudah hancur gara-gara bangun kesiangan kini semakin diperparah oleh kehadiran cowok caper tersebut.

Tanpa membuang waktu dan tenaga untuk meladeni gombalan basi Denis, Acha memilih mengabaikannya begitu saja.

"Maaf Denis aku sibuk. Permisi, aku mau lewat udah telat nih!" ketus Acha dingin sambil melangkah cepat melewati Denis tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan pria itu berdiri bengong karena diabaikan telak di depan umum.

"Oke deh, boleh deh untuk kamu cantik... Jadi makin syuka kan aku sama kamu" gumam Denis pelan.

Dia salah tingkah sambil merapikan kerah kemejanya setelah melihat punggung Acha yang semakin menjauh memasuki ruangan karyawan Minimarket.

Beberapa rekan kerja yang tak sengaja melihat kejadian itu langsung menahan senyum, geli menyaksikan Denis yang kembali kena mental setelah sebelumnya diabaikan saat jajan gorengan.

Acha sama sekali tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya. Dengan langkah selebar mungkin dan napas yang masih belum sepenuhnya teratur, dia bergegas menyusuri koridor lantai tempat kerjanya.

Beruntung bagi Acha, sang manajer atau atasan bagian sedang tidak berada di meja saat dia menggeser mesin absensi.

Sambil mengusap dadanya karena lega berhasil lolos dari hukuman telak akibat terlambat, Acha langsung menuju mejanya, melempar tas selempangnya ke samping kursi, dan mulai menyalakan komputer dengan gerakan kilat.

Hari yang melelahkan ini baru saja dimulai, dan dia bertekad agar tidak ada lagi hal konyol yang merusak fokus kerjanya hari ini.

Belum genap setengah jam Acha duduk di depan komputernya untuk merapikan pekerjaan yang tertunda, seorang penjual bubur langganan tiba-tiba datang ke area kantor membawa satu mangkuk atau kemasan bubur ayam hangat yang masih mengepul.

"Permisi, atas nama Mbak Acha?" tanya abang penjual bubur itu ramah.

Acha yang merasa tidak pernah memesan makanan apa pun mengernyitkan dahi bingung. "Iya, benar, Pak. Tapi saya nggak merasa pesan bubur kok pak."

"Oh, tadi ada mas-mas di luar yang pesan dan bayar di depan, katanya buat Mbak yang keliatannya tadi pagi buru-buru banget sampai pucat belum sarapan," jelas si penjual bubur sambil menyerahkan bungkusan hangat tersebut ke meja Acha.

Mendengar kata "buru-buru tadi pagi", ingatan Acha langsung tertuju kepada satu orang yaitu Denis. Pria songong itu adalah satu-satunya orang yang melihat kedatangannya dengan kondisi panik di parkiran tadi.

Tanpa pikir panjang, Acha langsung beranjak dari kursi kasirnya dan melangkah cepat mencari keberadaan Denis.

Begitu melihat Denis sedang bersantai di dekat area parkiran Minimarket, Acha langsung menghampirinya dengan tatapan menyelidik.

"Nih, maksud kamu apa ngasih-ngasih aku bubur segala?" tanya Acha to the point sambil menyodorkan bungkusan bubur itu ke hadapan Denis.

Denis yang tadinya sedang memegang gelas kopi mendadak terkejut, lalu tertawa kecil dengan gaya songongnya. "Hah? Bubur apaan? Dih, GR banget jadi cewek! Mana mungkin aku repot-repot beliin kamu bubur."

"Alah, gak usah akting deh, Denis! Tadi abang buburnya bilang yang pesen cowok yang merhatiin aku pas datang buru-buru tadi pagi. Siapa lagi kalau bukan kamu?" desak Acha mulai jengkel.

Alih-alih mengaku, Denis justru semakin gencar meledek Acha. Dia menyeringai usil sambil bersidekap.

"Ohhh... jadi kamu pengen banget dibeliin sama aku? Ngaku aja kali, Cha, gengsi kamu tuh setinggi langit. Kalau mau dibeliin makanan sama cowok ganteng kaya aku, tinggal ngomong aja, nggak usah nuduh-nuduh gitu dong cantik."

Melihat ekspresi Denis yang benar-benar tidak tahu apa-apa—atau pura-pura bego—sambil terus mengejeknya, Acha sadar kalau pria itu memang benar-benar tidak tahu dan tidak mungkin berbaik hati membelikannya sarapan. Denis hanya memanfaatkannya untuk tebar pesona lagi.

Acha mendengus kesal, memutar bola matanya jengah, lalu memilih meninggalkan Denis yang masih tertawa puas merasa diandalkan.

"Kalau bukan Denis... terus siapa yang ngasih aku bubur ini yah?" batin Acha kebingungan sambil membawa pulang bungkusan bubur itu ke mejanya.

Tiba-tiba, mata Acha menangkap sesosok pria berjaket rapi dengan tas selempangnya yang sedang merapikan di rambutnya di pinggir jalan dekat parkiran.

Pria itu melirik ke arah Acha dari kejauhan, lalu tersenyum tipis sambil mengangguk sopan seolah mengonfirmasi sesuatu tanpa bersuara.

Acha tertegun sejenak. "Jadi... dia yang beliin?" Rasa hangat mendadak menjalar di dadanya, membuat pagi yang tadinya menyebalkan berubah menjadi jauh lebih manis dari yang dia duga.

Acha menatap bungkusan bubur ayam yang masih mengepul di atas mejanya, lalu kembali melirik ke arah sang pria yang kini sedang sibuk merapikan pakaiannya dan pergi melajukan motornya.

Tidak ada kata-kata gombalan murahan seperti yang biasa dilontarkan Denis, tidak ada pula nada menyebalkan atau caper. Perhatian kecil itu diberikan begitu tulus tanpa pamrih—hanya karena pria itu melihatnya datang dengan panik dan belum sempat sarapan pagi tadi.

Perlahan, seulas senyum tulus mengembang di bibir Acha. Rasa kesal akibat bangun kesiangan dan diganggu oleh keisengan Denis seketika lenyap, tersapu oleh kehangatan yang mendadak merayap di dadanya.

Acha membuka bungkusan bubur tersebut, menghirup aroma harumnya, lalu mulai menyuap sesendok demi sesendok dengan hati yang terasa jauh lebih ringan.

Di tengah kesibukannya didepan kasir yang mulai padat, pagi itu mendadak terasa jauh lebih manis dan menyenangkan dari apa yang pernah dia bayangkan.

Sore hari menjelang senja, ketika Acha baru saja merilekskan badan usai hari kerja yang panjang, Ibu Ema mendadak memanggilnya dari arah ruangannya sambil menenteng daftar belanjaan yang cukup panjang.

"Acha, tolongin Ibu sebentar ya. Ambil pesanan bahan-bahan Minimarket di langganan pasar tradisional sekarang, ya. Keburu tokonya mau tutup," pinta Ibu Ema dengan nada penuh harap.

Acha langsung menggeleng pelan sambil melangkah mundur, wajahnya menyiratkan keraguan.

"Duh, gimana yah buk... jangan naik motor sendiri deh soalnya. Saya kan baru banget belajar, naik motornya juga masih kaku, takut kenapa-napa di jalan raya kalau bawa barang belanjaan yang lumayan banyak!"

Mendengar penolakan ragu-ragu itu, Ibu Ema tersenyum hangat. Dia mendekati bawahannya, lalu menepuk-nepuk pundak Acha dengan lembut untuk menyalurkan keberanian.

"Udah, jangan takut begitu. Ibu yakin kamu pasti bisa. Kapan lagi mau lancar kalau nggak dicoba jalan sendiri? Pelan-pelan aja, yang penting fokus dan hati-hati di jalan," ucap Ibu Ema memberi semangat.

"Ayo, anak buah Ibu pasti hebat!"

Mendapat dukungan penuh dari atasannya, keraguan di dada Acha perlahan mencair. Dengan menarik napas dalam-dalam dan memantapkan hatinya, dia akhirnya mengangguk patuh.

Tak lama kemudian, Acha sudah mengenakan jaketnya, menaiki motor matic milik atasannya, dan memposisikan kantong belanjaan kosong di bagian depan serta gantungan motor.

Sambil membaca doa, Acha menyalakan mesin motor dan perlahan menarik gas meninggalkan halaman Minimarket, siap menaklukkan jalanan sore menuju pasar tradisional.

Motor matic yang dikendarai oleh Acha melaju perlahan keluar dari halaman Minimarket. Tarikan gasnya masih terasa hati-hati, mengingat dia belum sepenuhnya mahir dan kini ditambah beban kantong belanjaan kosong yang menggantung di depannya.

Suasana jalanan sore hari itu tampak cukup padat oleh lalu-lalang kendaraan yang pulang bekerja. Jantung Acha sempat berdegup kencang setiap kali ada mobil atau motor lain yang mendahuluinya terlalu dekat.

Namun, dia terus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang, menjaga fokus, dan memegang setang kemudi erat-erat sesuai pesan Ibu Ema.

Beberapa kilometer dia lalui dengan selamat, hingga akhirnya siluet keramaian pasar tradisional mulai terlihat di depan mata.

Rasa bangga dan lega perlahan menyelimuti hatinya karena berhasil mengendalikan motor di jalan raya tanpa kendala berarti.

Acha memarkirkan motornya dengan hati-hati di area parkir pasar, lalu melepas helmnya sambil menyeka keringat tipis di dahinya.

Dengan langkah yang mantap, dia berjalan masuk ke dalam pasar yang beraroma rempah dan stok barang yang sudah kosong, siap menyelesaikan misi belanjaan dari sang atasannya.

Setelah berhasil memarkirkan motor dengan selamat, Acha segera menuju kios langganan yang sudah Ibu Ema informasikan sebelumnya.

Di kios sayur dan bumbu, Acha sibuk memilih bahan-bahan segar.

"Mbak Acha, ini pesanan dari Bu Ema sudah saya siapkan semua, ya. Tadi beliau telepon saya," ujar si pedagang ramah sambil menyerahkan dua kantong plastik besar yang berisi sayuran, bumbu dapur, dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya.

Acha menerima barang-barang tersebut dengan sedikit kewalahan karena bobotnya yang lumayan berat. "Wah, makasih banyak ya, Pak. Pas banget, nih."

Tepat saat Acha hendak membawa kantong-kantong itu ke area parkiran, dia berpapasan dengan Raka, mantan kekasih yang beberapa hari lalu membuatnya galau setengah mati.

Raka tampak sedang berjalan bersama seorang perempuan lain, dan tatapan mata mereka tak sengaja bertemu.

Acha sempat terpaku sejenak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena masih mencintai, melainkan karena rasa canggung yang tiba-tiba muncul.

Namun, teringat dukungan Ibu Ema dan keberhasilannya membawa motor sendiri ke pasar tadi, Acha menolak untuk terlihat lemah.

Dia mengangkat dagunya sedikit, memberikan senyum tipis yang sopan namun sangat berjarak, lalu melangkah santai melewati Raka seolah pria itu tidak lebih penting dari pada belanjaan di tangannya.

"Berhasil, Cha. Kamu keren," bisik Acha menyemangati diri sendiri dalam hati.

Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Acha kembali ke parkiran. Dia mengikat kantong belanjaan dengan hati-hati di motornya, memastikan semuanya seimbang.

Kini, rasa percaya diri Acha benar-benar bangkit. Dia bukan lagi gadis yang terpuruk karena cinta, melainkan Acha yang mandiri, berani, dan siap pulang dengan selamat ke Minimarket.

Dengan sisa-sisa konsentrasi dan rasa bangga karena berhasil mengendarai motor membawa belanjaan yang cukup banyak, Acha akhirnya tiba di halaman pelataran Minimarket tempatnya bekerja.

Dia segera mematikan mesin motornya, menarik standar, dan bersiap memindahkan seluruh kantong belanjaan serta kardus barang yang dibawanya.

Acha tampak sedikit kewalahan saat mengangkat kardus-kardus persediaan toko ke area gudang. Napasnya mulai terengah-engah karena tenaganya terkuras habis sepulang dari pasar.

Tepat saat Acha sedang membungkuk untuk mengambil kardus berikutnya, sebuah bayangan tubuh tinggi berdiri di dekat rak pajangan luar. Seorang pria berjaket rapi dengan senyum ramah melangkah mendekat.

Pria itu adalah Nathan—pria yang diam-diam membelikannya bubur gratis di pagi hari, dan juga orang yang tak sengaja memergoki aksi heboh Acha saat karaokean beberapa hari lalu.

Nathan sengaja berdiri di dekat etalase saus sambal dan kecap, lalu mengambil dua botol saus berbeda merek dengan gestur seolah-olah sedang kebingungan memilih.

"Permisi, Mbak. Kira-kira kalau buat cocolan gorengan malam-malam, enakan saus merek yang merah ini apa yang botol hitam ya?" tanya Nathan berbasa-basi dengan nada ramah, berusaha mencari perhatian Acha.

Sayangnya, kondisi mental Acha sedang tidak mendukung untuk diajak bercanda. Badannya lelah sepulang dari pasar, ditambah beban kerjanya di Minimarket yang menumpuk membuat mood-nya berada di titik terendahnya.

Terlebih lagi, Acha sama sekali tidak mengenal siapa pria di hadapannya ini—dia tidak sadar bahwa Nathan adalah pria baik hati yang membelikannya bubur, apalagi menyadari kalau Nathan adalah pria yang melihatnya berteriak fals di tempat karaoke. Di mata Acha, Nathan hanyalah orang asing menyebalkan yang datang di waktu yang tidak tepat dan sok akrab.

Acha melirik Nathan sekilas dengan tatapan datar, lalu kembali sibuk mengangkat kardusnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Dia sama sekali tidak menanggapi pertanyaan itu, mengabaikan kehadiran Nathan begitu saja.

Nathan sempat terpaku sejenak melihat reaksi dingin Acha. Dia tersenyum tipis, merasa sedikit salah tingkah namun juga maklum melihat gadis itu tampak begitu kelelahan.

Nathan meletakkan kembali dua botol saus ke atas rak dengan perlahan. Dia menyadari kalau waktu pendekatan yang dia pilih benar-benar salah.

Alih-alih membuat Acha terhibur atau merasa diperhatikan, kehadirannya saat ini justru menambah daftar beban pikiran gadis yang sedang mati-matian merapikan tumpukan kardus tersebut.

"Maaf ya, Mbak. Kayaknya saya salah waktu buat numpang nanya," ucap Nathan pelan, mencoba mencairkan suasana dengan nada bersahabat sebelum akhirnya melangkah mundur dan membiarkan Acha kembali bekerja dengan tenang.

Acha hanya melirik sekilas tanpa membalas ucapan itu. Pikirannya sudah terlalu penuh dengan rasa lelah di sekujur tubuh serta bayangan tugas-tugas toko yang belum selesai.

Selepas kepergiannya Nathan, Acha menarik napas panjang, mengusap pelipisnya yang berkeringat, lalu kembali fokus menuntaskan sisa barang bawaannya demi bisa segera beristirahat.

Menjelang jam istirahat malam di swalayan, Acha baru saja bisa meluruskan punggungnya yang pegal setelah seharian sibuk menata barang.

Dia merebahkan diri sejenak di kursi ruang istirahat karyawan sambil memegang botol air mineral dingin.

Belum sempat air itu melepas dahaganya, Vika—yang kebetulan mendapat shift sore di bagian kasir swalayan yang sama—langsung nyelonong masuk dengan senyum penuh selidik.

Vika menjatuhkan diri ke kursi sebelah, matanya menyipit menatap Acha penuh arti.

"Heh, Cha! Kamu kenapa. Tadi sore siapa tuh cowok tinggi rapi yang sok asyik nanya-nanya saus sama kamu di depan rak?" tanya Vika langsung to the point, nada suaranya terdengar antusias khas orang yang sedang kepo tingkat dewa.

Acha mendengus pelan, memutar bola matanya malas. "Mana aku tahu! Orang aku sendiri juga nggak kenal."

"Ah, masa nggak kenal? Keliatannya akrab banget ngobrol, pake senyum-senyum sok ganteng segala lagi si cowoknya," goda Vika sambil menyenggol lengan Acha dengan sikunya, berusaha memancing reaksi.

Acha menggelengkan kepala dengan ekspresi lempeng, sama sekali tidak terpengaruh oleh ledekan sahabatnya.

"Sumpah, Vika, aku beneran nggak kenal. Dia cuma orang iseng yang tiba-tiba datang pas aku lagi capek-capeknya nurunin barang. Udah ah, jangan ngadi-ngadi deh, badan aku lagi remuk nih habis dari pasar."

Melihat wajah Acha yang tampak serius dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan—murni karena dia memang tidak tahu menahu soal latar belakang Nathan—Vika akhirnya menghentikan godaannya.

Meski dalam hatinya Acha tetap penasaran dengan sosok pria misterius yang sempat memerhatikan sahabatnya itu.

Vika akhirnya mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah melihat ekspresi lempeng Acha yang sama sekali tidak menyimpan rasa penasaran pada si pria asing.

"Iya deh, iya, yang lagi mode 'Jangan Ajak Acha Ngobrol' on. Yaudah, lanjut istirahat sana, bentar lagi shift kita beres kok."

Acha mengangguk pelan, kembali meneguk air mineralnya hingga tenggorokannya terasa jauh lebih segar. Obrolan singkat itu sukses mengalihkan penatnya sejenak.

Begitu jam kerja resmi berakhir, Acha membereskan barang-barangnya, mengenakan jaket kembali, dan bersiap pulang bersama Vika. Di tengah perjalanan pulang malam itu, di bawah terangnya lampu jalanan kota, Acha merenung sejenak.

Hari ini penuh dengan kejutan kecil—mulai dari bubur misterius di Minimarket, perjalanan motor pertamanya ke pasar, hingga kemunculan si cowok aneh bernama Nathan. Namun satu hal yang pasti, Acha merasa dirinya kini jauh lebih kuat menghadapi hari-hari esok.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!