Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JIWA YANG TERKIKIS
Suara engsel pintu besi raksasa di ujung lorong bawah tanah Balai Kota Lembah Berdarah bergema pelan. Hawa dingin yang menusuk tulang merayap keluar dari balik celah pintu yang baru terbuka sedikit, membawa aroma amis tembaga dan bau tanah basah yang menyengat.
Ryu Jin memegang kunci emas di tangannya, siap mendorong pintu itu lebih lebar.
Namun, tepat sebelum telapak tangannya menyentuh permukaan besi tua tersebut, harum lembut aroma bunga teratai malam menyapu udara dingin di lorong sepi itu. Langkah kaki yang sangat halus, hampir tanpa suara, berhenti tepat di belakang punggungnya.
Ryu Jin tidak menoleh. Matanya tetap menatap lurus ke arah kegelapan di dalam ruang bawah tanah.
"Siapa kau sebenarnya?"
Sebuah suara merdu namun penuh kelelahan memecah keheningan. Dari balik bayangan pilar batu, melangkah keluar Tuan Putri Yuan Xuefei.
Gadis itu tidak lagi mengenakan gaun sutra merah melati yang mewah seperti di panggung turnamen, melainkan jubah kain polos berwarna ungu gelap. Tanpa pengawal pribadi di sampingnya, matanya yang sebening telaga es menatap tajam ke arah punggung Ryu Jin.
"Seorang praktisi ranah Qi Condensation biasa tidak akan mampu mengendalikan gravitasi dan titik tumpu lawan hanya dengan menggeser lututnya beberapa sentimeter," kata Yuan Xuefei pelan, matanya menyempit. "Kemenanganmu atas Zheng Bao di panggung tadi... bukan sebuah kebetulan."
Ryu Jin tetap mematung. Wajahnya yang kusam berbalut zirah pengawal kota tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Lalu kenapa?" suara Ryu Jin datar, dingin, dan tanpa emosi. "Kau memberiku kunci emas ini melalui turnamen. Bukankah ini yang kau inginkan?"
Yuan Xuefei tertegun sejenak. Ia melangkah satu tingkat lebih dekat, menatap sosok pemuda di hadapannya dengan pandangan yang teramat rumit dan penuh teka-teki.
"Aku memang sengaja membujuk Ayah untuk mengadakan turnamen dan menyerahkan kunci emas pos pemeriksaan rahasia ini sebagai hadiah utama," aku Yuan Xuefei dengan bibir yang sedikit gemetar. "Niat hatiku... aku ingin memancing ahli kuat dari sekte luar atau praktisi kelana berdarah dingin yang tergiur oleh kecantikanku dan posisi di kota ini."
Gadis itu menghela napas panjang, sebuah senyuman pahit yang penuh keputusasaan terukir di bibirnya yang pucat.
"Gubernur Kota—pria yang kupanggil ayah itu—sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan di bawah balai kota ini. Aku membutuhkan seorang ahli kuat yang cukup tangguh dan cukup serakah untuk menjadi 'alatku' membongkar tempat ini, atau setidaknya menjadi pengalih perhatian saat formasi bawah tanah ini bergejolak," lanjut Yuan Xuefei dengan mata berkaca-kaca. "Tapi rencanaku salah besar... Orang yang memenangkan kunci emas ini justru seorang pemuda asing yang tidak jelas asal-usulnya."
Yuan Xuefei menatap Ryu Jin dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan kebingungan yang teramat sangat.
"Aku tidak mengerti dirimu," bisik Yuan Xuefei dengan suara bergetar. "Setiap pemuda di benua ini yang melihatku selalu menatap dengan mata penuh nafsu dan keserakahan. Mereka menginginkan tubuhku, posisiku, dan kekayaan ayahku. Tapi kau... kau bahkan tidak melirikku sekilas pun. Kau mengambil kunci emas ini seolah kecantikan dan jabatanku tak lebih dari sekadar debu di tepi jalan. Kenapa kau melangkah ke tempat terkutuk ini tanpa rasa takut?"
Ryu Jin tidak langsung menjawab. Ia berbalik perlahan, menatap wajah Tuan Putri Yuan Xuefei secara langsung untuk pertama kalinya.
Ryu Jin tidak banyak bicara. Keheningan yang menyelimuti pemuda itu terasa jauh lebih menekan daripada bentakan keras para ahli ranah tinggi.
Dari balik penyamarannya yang kusam, Ryu Jin secara diam-diam mengaktifkan penglihatan batinnya. Cahaya merah darah yang teramat halus berkedip lambat di pupil matanya, menembus lapisan kulit, daging, hingga ke dalam saluran meridian tenaga dalam milik Yuan Xuefei.
Saat itulah, Ryu Jin menemukan sebuah kenyataan yang teramat kelam dan rumit.
Di dalam tubuh gadis yang tampak anggun dan terpandang ini, saluran meridian utamanya telah berubah warna menjadi abu-abu pudar. Inti kehidupan dan esensi jiwa milik Yuan Xuefei ternyata telah terkikis secara halus selama bertahun-tahun oleh jaringan mantra raksasa yang tertanam di bawah balai kota!
Usia hidup dan potensi kultivasi gadis ini terus disedot secara konstan setiap hari, tanpa ia sadari secara penuh. Ayahnya sendiri—Gubernur Kota Yuan—dengan dingin mengorbankan putri kandungnya demi menjaga stabilitas kota dan memberi makan formasi milik Sekte Iblis Langit Merah!
Yuan Xuefei tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia hanya merasa jiwanya kian hari kian hampa, tubuhnya semakin lemah, dan ada rasa dingin mengerikan yang terus merayapi dadanya saban malam. Naluri dan ketakutannya itulah yang mendorongnya membujuk sang ayah menggelar turnamen, mencari cara untuk membongkar ruang rahasia ini.
Gadis ini... tak lebih dari sekadar seekor hewan ternak berhiaskan gaun indah yang sedang menunggu hari penyembelihannya.
Ryu Jin mematikan penglihatan batinnya. Tatapannya pada Yuan Xuefei sedikit melembut, bukan karena rasa kasihan, melainkan karena ia melihat benang takdir tragis yang melilit seluruh warga di benua ini.
"Kau bukan sedang memancing ahli kuat," kata Ryu Jin datar, suaranya bergaung pelan di lorong batu. "Kau hanya seorang korban yang secara samar merasakan lehermu sedang diikat oleh rantai jagal."
Yuan Xuefei mendadak membeku. Kata-kata Ryu Jin seperti petir yang menghantam dadanya, membuat napasnya tertahan dan air mata yang ditahannya menetes membasahi pipinya yang mulus.
"J-Jika kau tahu..." rintih Yuan Xuefei dengan bibir gemetar, "kenapa kau tetap ingin masuk ke sana?"
"Karena aku datang untuk memotong rantainya," jawab Ryu Jin singkat.
Ryu Jin memutar tubuhnya kembali menghadap pintu besi raksasa. Ia tidak melarang atau mengusir gadis itu. "Jika kau ingin melihat bentuk asli dari rantai yang mengikat lehermu... ikutlah."
Ryu Jin mendorong pintu besi raksasa itu hingga terbuka lebar.
KRIEEAK!
Suara gesekan besi tua yang memilu bergema menembus kegelapan. Sebuah tangga batu yang curam dan licin membentang turun ke dasar jurang bawah tanah Balai Kota.
Yuan Xuefei mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu melangkah ragu mengikuti di belakang Ryu Jin.
Semakin dalam mereka melangkah turun, udara di sekitar mereka terasa semakin kental dan berat, dipenuhi oleh hawa busuk darah yang melelehkan tenggorokan. Dinding-dinding batu di sekeliling tangga tidak lagi terbuat dari semen biasa, melainkan susunan tulang-belulang manusia yang sengaja disemen untuk menahan gejolak energi rahasia.
Begitu kaki mereka menapak di dasar ruangan raksasa tersebut, pemandangan di hadapan mereka membuat Yuan Xuefei terperanjat hebat. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat dan lututnya lemas hingga hampir terjerembap ke tanah.
Di tengah ruangan bawah tanah seluas lapangan kota itu, mengapung puluhan sangkar kristal transparan berwarna merah darah.
Di dalam setiap sangkar kristal tersebut, terkurung anak-anak kecil yang berusia antara enam hingga sepuluh tahun—anak-anak yang dilaporkan hilang oleh warga di alun-alun kota! Anak-anak itu terbaring tidak sadarkan diri, wajah mereka pucat pasi bagaikan mayat.
Dari tubuh anak-anak berenergi murni stabil tersebut, ratusan jarum spiritual tak kasat mata menancap di leher dan dada mereka, menyedot cairan darah esensi dan gelombang jiwa murni mereka secara terus-menerus!
Darah esensi anak-anak itu dialirkan melalui pipa-pipa tembaga raksasa menuju ke pusat ruangan—sebuah kolam darah membara yang dipenuhi oleh ribuan ukiran aksara Iblis Langit!
GLUB... GLUB... GLUB...
Di dalam kolam darah tersebut, cairan esensi dari seluruh kota dan darah anak-anak diputar secara konstan, memurnikan energi jiwa murni sebelum dialirkan menembus tanah menuju ke markas utama Sekte Iblis Langit Merah di Puncak Gunung Tengkorak Merah!
"T-Tidak..." rintih Yuan Xuefei dengan histeria yang tertahan di tenggorokan, air matanya mengalir deras melihat kengerian tak terbayangkan di depan matanya. "Tempat ini... kota tempat tinggalku selama ini... berdiri di atas pembantaian anak-anak ini?!"
"Ini bukan sekadar pembantaian," kata Ryu Jin dingin, melangkah pelan mendekati pinggir kolam darah. "Ini adalah mesin pemanen. Dan kota tempat kau tinggal... hanyalah ladang tempat mereka menanam jiwa kalian."
Di atas kolam darah raksasa tersebut, susunan mantra merah keemasan mendadak bergejolak keras saat mendeteksi keberadaan dua manusia asing yang melangkah masuk!
WUUUSH!
Gelombang hawa membunuh yang teramat pekat meledak dari dalam kolam darah, membentuk sesosok wujud raksasa tengkorak darah berkepala tiga yang melayang di udara, menatap Ryu Jin dan Yuan Xuefei dengan mata hijau menyala!
Proyek raksasa yang menyelimuti Benua Luar kini secara perlahan mulai menyingkap tabir kelamnya di hadapan Sang Pendekar dari Desa Sunyi!