NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Rapat yang Berubah Menjadi Badai

Rabu pagi, Navin tiba di kantor tanpa sarapan, tanpa tidur cukup, dan dengan suasana hati yang membuat Dimas menyimpan semua tablet cadangannya di laci tertutup.

Ia sudah mencoba banyak hal untuk menenangkan diri. Ia berlari di treadmill hotel selama empat puluh menit. Ia membaca laporan keuangan tiga kuartal terakhir. Ia bahkan menonton dokumenter tentang penguin dan tidak bisa mengingat satu fakta pun. Tak satu pun berhasil. Setiap kali pikirannya jeda, kata itu muncul lagi: belum.

Rapat mingguan dimulai pukul sepuluh di ruang utama. Semua kepala divisi hadir, dan Navin duduk di kursi kepala meja dengan berkas terbuka yang tidak ia baca. Di sudut, Sinta mencatat notulen dengan tangan sedikit gemetar. Ophelia duduk di sisi kanan, dengan Pak Harto di sebelahnya. Bastian duduk di ujung meja, bersama tim logistik.

"Kita mulai dari penjualan," kata Navin. "Rangga."

Rangga berdiri dan menyalakan proyektor. "Pak, proyeksi kuartal ini turun empat persen dibanding target, akibat ketidakpastian pasokan. Kami sudah menyiapkan skenario..."

"Empat persen."

"Ya, Pak."

"Empat persen dari angka yang bulan lalu kamu bilang aman." Navin membolak-balik halaman. "Apa yang berubah?"

"Distributor mengancam menghentikan pengiriman, Pak. Itu di luar kendali kami."

"Di luar kendali kalian." Suara Navin datar, tapi ada sesuatu di bawahnya, seperti retakan di permukaan es. "Kalian punya waktu tiga minggu. Apa yang kalian lakukan dengan tiga minggu itu? Membuat grafik?"

"Pak, kami sudah menghubungi dua belas klien untuk..."

"Dua belas klien. Dan berapa yang menandatangani?"

"Tiga, Pak."

"Tiga dari dua belas." Navin menutup map. "Itu bukan hasil. Itu alasan."

Rangga menelan ludah. Beberapa orang menunduk, dan di sudut ruangan, Navin mendengar bunyi pena Sinta berhenti.

Ia tahu ia sedang keterlaluan. Tahu, tapi tidak bisa berhenti. Seperti orang yang menuruni tangga dengan mata tertutup dan menyadari terlalu terlambat bahwa tidak ada pegangan.

"Berikutnya. Pak Harto. Draf balasan Mitra Nusantara."

"Pak, timeline-nya... kami memerlukan tambahan dua hari untuk verifikasi pemasok alternatif."

"Dua hari."

"Ya, Pak."

"Saya tidak membayar orang untuk meminta tambahan waktu. Saya membayar orang untuk menyelesaikan masalah." Navin menatap Pak Harto tanpa berkedip. "Kalau tim kontrak tidak mampu, katakan sekarang. Saya tidak butuh orang-orang yang tersenyum sambil membuang waktu saya."

Ruangan hening. Pak Harto memucat. Lia, di sisinya, menegakkan punggung. Navin tidak berani menatapnya.

"Logistik," katanya cepat. "Bastian."

Bastian berdiri dengan tenang, seolah rapat itu tidak berbeda dari acara arisan. Ia menunjukkan rencana distribusi: alur pengiriman sementara dari gudang Cirebon, jadwal truk, biaya tambahan. Presentasinya rapi, jelas, tidak berlebihan. Dan Navin, entah kenapa, semakin tersulut.

"Rencana ini terlalu optimis," katanya, sebelum Bastian selesai.

"Optimis dengan dasar, Pak. Angka kapasitas truk sudah saya hitung dengan margin sepuluh persen."

"Sepuluh persen tidak cukup."

"Untuk skenario terburuk, Pak, saya tambahkan..."

"Rencana ini bukan skenario terburuk. Ini rencana orang yang datang ingin menyenangkan seseorang, bukan menyelesaikan masalah."

Sunyi. Napas tertahan bergema di seluruh ruangan.

Bastian menatapnya. Tidak marah. Tidak takut. Hanya tenang, dengan sorot yang sudah Navin kenal sejak hari pertama, sorot seseorang yang tidak bisa dibeli oleh jabatan.

"Bapak marah karena laporan saya," ucapnya pelan, "atau karena hal lain?"

Sesuatu di dalam ruangan seperti pecah. Rangga menutup mulutnya. Bu Retno, yang duduk di sisi Navin, memejamkan mata. Dari sudut mata, Navin melihat Ophelia mendadak menegang.

"Bas," desisnya.

Navin berdiri. Kursinya bergeser mundur dengan bunyi keras. "Keluar."

"Baik, Pak." Bastian menutup laptopnya, mengumpulkan berkas, dan berjalan ke pintu dengan langkah santai. Di ambang pintu, ia menoleh sekali. "Tapi angkanya benar, Pak."

Pintu menutup pelan.

Keheningan yang menyusul terasa seperti kaca yang siap pecah. Navin berdiri dengan telapak tangan menekan meja, merasakan darah berdebar di pelipis. Ia menunggu seseorang bicara, siapa pun, agar ia punya sasaran baru.

"Pak."

Suara itu rendah dan tenang. Ophelia berdiri.

"Izinkan saya menjelaskan angka logistik."

"Duduk."

"Angka kapasitas truk itu saya bantu verifikasi sendiri, Pak. Dua malam saya hitung ulang. Kalau Bapak ingin mengkritik, silakan kritik data saya."

"Saya bilang duduk."

"Bapak boleh marah pada angka." Ia menatap lurus ke mata Navin, dengan suara yang tidak meninggi sedikit pun. "Tapi tolong jangan pada orang yang mengerjakannya."

Kalimat itu jatuh di ruangan seperti batu ke dalam sumur. Navin mendengar gaung panjang dari kedalamannya.

Ia menatap Ophelia. Dan ia melihatnya. Bukan kemarahan. Bukan ketakutan. Melainkan kekecewaan yang sunyi dan dalam, seperti orang yang sempat berharap sebuah pintu telah dibuka, lalu mendapati ia hanya salah lihat. Tatapan itu sama persis seperti yang pernah ia lihat di ruangan Bu Retno, sesaat sebelum senyum sopan itu menutup segala sesuatu.

Sesuatu dalam dirinya runtuh.

"Bubar," katanya.

Tidak ada yang bergerak.

"Rapat bubar."

Satu per satu kursi bergeser. Orang-orang keluar tanpa bicara, menunduk, menghindari matanya. Sinta mengangkut notesnya dengan mata merah. Rangga bahkan tidak menoleh. Ophelia berjalan terakhir, dan saat ia melewati Navin, ia tidak berkata apa-apa, tidak menatap, tidak berhenti.

Pintu menutup.

Navin tinggal sendiri di ruangan besar itu. Ia menatap kursi-kursi kosong, dan bunyi detak jam dinding terasa seperti hitungan mundur.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka pelan. Dimas masuk membawa segelas air, meletakkannya di depan Navin tanpa berkata apa-apa.

"Katakan sesuatu," ucap Navin serak.

"Apa yang ingin Bapak dengar?"

"Apa saja."

Dimas menarik napas. "Pak, tiga minggu terakhir Bapak telah membangun sesuatu. Kecil, tapi nyata. Staf mulai berani menyapa Bapak. Ibu Ophelia mulai... tidak selalu memandang Bapak seperti dinding." Ia berhenti sejenak. "Dan dalam satu jam Bapak baru saja menghancurkan semuanya."

"Saya tahu."

"Bapak tahu?"

"Saya tahu waktu saya bilang."

"Kalau begitu kenapa..."

"Karena saya tidak bisa berhenti." Suara Navin pecah, hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Dimas terdiam. "Dia bilang, jangan marah pada orang yang mengerjakannya. Dan aku..." Ia menutup mata. "Aku baru sadar bahwa yang kumarahi bukan mereka."

Dimas menunggu, dan untuk sekali ini, ia tidak mencatat apa pun.

"Kalau kamu ke pantry hari ini," lanjut Navin pelan, "lihat apakah Sinta baik-baik saja."

"Baik, Pak."

"Dan Rangga."

"Baik, Pak."

"Dan..." Ia menelan sesuatu. "Ophelia."

"Untuk Ibu Ophelia, Pak, saya rasa Bapak sendiri yang harus."

Navin mengangguk pelan. Ia membuka laci, mengambil selembar kertas kecil bertuliskan Terima kasih atas payungnya, Pak. — O. Puspa, dan menatapnya lama.

Ia baru saja membuktikan pada perempuan itu bahwa segala kebaikan yang ia lakukan hanyalah cuaca. Datang, lalu pergi, tanpa akar.

Dan ia tidak tahu bagaimana caranya menanam sesuatu yang akan tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!