Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siuman
'Ah... Jam telah menunjukan pukul 5:45, tapi kenapa rumah Metal masih saja gelap,' terlihat seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya, menatap jam Klasik di tangan kirinya, seraya berjalan menuju ke kediaman Ibu Elena dan anaknya.
Anak itu tak lain adalah keponakan Metallo. Tingkah lakunya sangat baik kepada siapapun tanpa pandang bulu, sehingga dia sangat didambakan oleh warga dusun itu.
Dia juga merupakan seorang anak yang sangat mencintai kedamaian, dan adanya membenci perpecahan, walaupun demikian dia tak segan-segan menceramahi ataupun memukul seseorang, jikalau memujinya di depan dia.
Kedua orangtuanya sangat membenci Metallo dan Ibunya, tetapi tidak dengan dia, karena baginya masalah kedua orangtuanya bukan merupakan bagian darinya, dan yang terpenting adalah menjalani silaturahmi agar kedua orangtuanya bisa melupakan semua permasalahan yang telah berlalu.
Tingkah baik yang di tanamnya telah meluluhkan benak Ibu Elena, sehingga Ibu Metallo sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Dan ampir tiap malam dia selalu bersama Metallo dan teman-temennya yang lain di situ.
Selang beberapa saat kemudian anak itu telah tiba di depan teras rumah Metallo. Dia menghela nafas sejenak, "Metal... Metal," panggilnya, memastikan keadaan di sekitar rumah Metallo.
'Hm... Rupanya mereka tidak ada disini,' dia kemudian mengarahkan pandangannya pada pakaian yang dijemur oleh Ibu Elena disamping kanan rumah. Matanya terbuka lebar, dahinya pun mengkerut, "Bukankah itu seragam sekolah Metal," gumannya pelan.
Tanpa pikir panjang dia langsung berjalan menuju ke jemuran itu, sebelum menuju ke dalam rumah Metallo, dan meletakan seluruh pakaian itu di dalam kamar Metallo. Dia kemudian menghidupkan seluruh lampu di situ, karena keadaan rumah Metallo sangat gelap.
Walaupun di luarnya terlihat masih terang, tetapi sebalik di dalamnya sangat gelap, oleh karena tidak ada satu pun jendela yang terbuka.
Setelah selesai meletakan pakaian Metallo dan Ibunya, dia kemudian menuju ke ruangan tamu untuk menunggu mereka.
Tidak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki di samping kanan rumah Metallo, 'Siapa itu? Mungkinkah, Metal dan Ibunya,' benaknya, sembari menyimak pembicaraan kedua orang itu. Seketika dia menghela nafas panjang, serta mengerutkan dahinya, "Mereka... Apa yang mereka lakukan lagi malam ini?"
Pikirnya, bahwa kedua orang itu tak lain adalah Rian dan Pram. Kedua orang ini selalu saja membuat keonaran di kampung mereka dan juga beberapa dusun lainnya, sebab mereka berdua hampir tiap malam kecanduan mabuk, akibat dari cara kerja arak pada tubuh mereka.
Tiap malam selalu saja ada perkelahian antara keduanya baik itu di kampung mereka, dan juga di kampung lain yang mereka singgahi.
Walaupun terbilang cukup dewasa, tetapi tingkah buruk mereka tak pernah hilang. Tiap malam terjadi percekcokan, tetapi anehnya ketika pagi mendatang keduanya sangat akur dan begitu baik satu sama lain.
"Metal... Metal," panggil salah seorang anak.
Mereka berdua bukannya menuju ke rumah Metallo, melainkan langsung menuju ke tempat nongkrong yang berada di depan halaman rumah Metallo.
Keponakannya yang berada di dalam rumah itu tidak menghiraukan mereka. Dia kemudian memperhatikan keduanya lewat jendela, 'Hm... Festo dan Martin. Oh... Aku tahu, tapi kenapa mereka tidak mengatakannya kepada aku.'
Festo dan Martin merupakan teman seangkatan mereka. Keduanya tinggal di tengah-tengah kampung ini, hanya saja hampir tiap malam mereka selalu nongkrong di situ. Biasanya yang mereka lakukukan di sini ialah sekedar bergurau dengan bermain gitar klasik milik Metallo, dan ditemani merdu suara yang mereka lantunkan menemani indahnya malam-malam yang mereka lewati.
Melihat Festo dan Martin menunggu Metallo di tempat nongkrongan. Anak itupun mulai keluar dan berdiri di depan teras rumah Metallo, "Hoe! Ngapain kalian berdua di situ?" seketika mereka berdua kaget akibat teriakan darinya.
"Faelo..." keduanya menyapa dia secara bersamaan.
Festo yang berada di atas tempat duduk nongkrongan itu perlahan mulai melipat kedua kakinya menjadi bersila, dia kemudian memukul kedua pahanya yang seakan-akan menjadi sebuah alunan nada, sedangkan kepalanya di condong-condongkan ke depan dan belakang, "Ngapain lagi, jikalau bukan nongkrong."
Martin menatap Faelo penuh tanya, dia menyadarkan badannya di tiang dari pada tempat nongkrongan itu, "Biasa... Tiap malam juga begini, dimana Metal?" tanyanya.
Faelo menghela nafas panjang, sebelum memberikan penjelasan kepada mereka berdua, "Metal tidak ada," dia kemudian menjelaskan bahwa keadaan rumah Metallo sebelum kedatangnya sangatlah gelap, dan dialah yang menghidupkan lampu di dalam rumah maupun ditempat nongkrongan mereka.
Walaupun malam telah tiba, tapi keadaan di sekitar rumah Metallo sangatlah terang, sebab di tempat nongkrongan itu terdapat pula lampu yang disambungkan dari rumahnya.
*****
Perjuangan Indri akhirnya membuahkan hasil juga, dia menatap Metallo dengan senyuman yang penuh makna, "Puas kamu," cetusnya.
Ia mengerutkan dahinya, kedua alis matanya terangkat memandangi Indri penuh kegirangan, "Terima kasih Indri."
Mey yang tidak sadar dari pingsannya kini telah sadar, perjuangan Indri pun tak sia-sia demi menghindari Metallo dari Mey.
Indri terlihat sedikit aneh, sebab yang ada di pikirannya bukanlah Mey yang tidak sadarkan diri, melainkan Metallo sebab dia sama sekali tidak mau Metallo yang memberikan nafas buatan itu kepada Mey.
Dia kemudia menatap Metallo dengan tatapan yang sangat sinis, sebelum mengalihkan pandangannya kepada Mey, "Iya... Sudahlah."
Metallo tak bisa berbuat apa-apa selain menatap mereka berdua secara bergantian, sebab Indri melarangnya.
"Mey, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Indri, sembari membantunya duduk.
Mey menghela nafas panjang sebelum merilekskan tubuhnya. Dia kemudian mengingat semua kejadian sebelum dirinya pingsan. Sesaat dia menatap Indri dengan penuh tanya, 'Sejak kapan dia ada di sini?'
"Jangan engkau tanyakan sejak kapan aku ada di sini!" perkataan Indiri itu membuat Mey sedikit terpana menatapnya lebih dalam, karena seakan-akan dia menjawab pertanyaan dari dalam benak Mey.
Metallo mulai menghampiri mereka berdua, sembari memberikan pertanyaan kepada Mey, "Engkau tak apa-apakan?"
Mey menghela nafas panjang, sebelum mendorong tangan Indri yang menyanggahnya, serta mengalihkan pandangannya kepada Metallo dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya, "A... Aku tidak apa-apa, ini hanya saja..."
Metallo memotong pembicaraannya, "Sudahlah... Aku telah mendengarkan semuanya dari Indri. Tanganku tidak apa-apa."
Mey kemudian menghela nafas panjang, "Maafkanlah aku, ya." Mey menundukkan kepalanya tersipu malu terhadap mereka berdua, sebab dia sendiri tidak tahu harus berkata apa kepada mereka berdua.
Dilain sisi Indiri menatap mereka berdua secara bergantian, dengan tatapan yang sangat sinis. Dia menggit bibir bawahnya, ketika pandangan Metallo mengarah kepadanya.
Metallo sama sekali tak menghiraukannya, dan ingin sekali membuat Indri marah tetapi dilain sisi Indri terlihat begitu tenang.
'Hm... Dasar!' benak Indir, "Mey jikalau kamu bisa berjalan, maka kita sesegera mungkin ke dapur rumahmu, sebab Ibumu pasti akan mencari engkau."
Mey mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, "Iya, Aku bisa."
Walaupun baru beberapa menit Mey sadar, tetapi dia dapat mengontrol dirinya, sehingga dia melangkah begitu cepat layaknya manusia normal, sedangkan Metallo dan Indri mengikutinya dari belakang sembari menjahili satu sama lain.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??