Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Rhaella berhenti di depan gerobak penjual sate dia berniat membeli sate untuk di bawa makan ke apartemennya. Setelah memesan dia duduk menunggu pesanannya sambil bermain handphone.
"Bang tunggu bentar saya balik ke rumah dulu ambil uang kayanya uang saya jatuh bang" ucap seorang pemuda sedikit panik kepada penjual sate. Rhaella yang mendengar itu pun menengok dan melihat pemuda yang berbicara tadi' kaya mirip seseorang' ucapnya dalam hati karena merasa familiar dengan wajar pemuda di yang di lihatnya.
"Ya udah dek gapapa saya tunggu aja dek" jawab penjual tersebut.
"Nggak perlu biar saya aja yang bayar sekalian sama punya saya tadi bang" ucap Rhaella. kemudian pemuda itu menoleh pada seorang perempuan cantik
"Eh jangan kak saya ngga enak biar saya ambil dulu aja di rumah saya, rumah saya nggak jauh ko dari sini. Kayanya tadi jatuh pas mau ke sini" ucap sopan pemuda itu pada Rhaella. Belum sempat Rhaella ingin kembali berbicara
"Ini neng pesanan eneng" kemudian penjual tersebut memberikan pesanan Rhaella. Rhaella pun kemudian memberikan uang kepada penjual sate itu.
"Bayar sekalian sama punya adek ini" ucap Rhaella pada penjual.
"Kalau sama adek ini totalnya 1 30 ribu neng" jawab penjual tersebut. "Nih bang simpen aja kembaliannya" Rhaella pun memberikan selembar uang seratus ribu dan selembar uang 50 ribu pada penjual itu
"Wah makasih banyak neng" ucap senang penjual tersebut
"Kak makasih banyak yah udah bantu saya, saya jadi nggak enak kak udah di bayarin" ucapnya "gimana kalau kakak cantik ke rumah saya aja. Ayok kak ke rumah saya dulu. nanti saya ganti uangnya" lanjut ucapannya pada Rhaella merasa tidak enak karena sudah di bayarkan.
"Iya sama-sama. Ngga perlu di ganti, kamu pulang aja gih" ucapnya pada pemuda itu.
"Aku Alaska kak. nama kakak siapa?" Tanya pemuda itu pada elsa.
"nama kakak Rhaella "
"Oke kak Rhaella semoga kita bertemu lagi " ucapnya lalu melambaikan tangannya pada Rhaella.
Rhaella hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Setelah melihat pemuda itu pergi Rhaella pun menuju motornya. Kemudian pergi ke apartemennya untuk makan dan beristirahat.
"Bundaaaaa" suara menggelegar di ruangan itu
"Bundaa Griffin bawa sate nih" teriaknya lagi
"Griffin ini rumah yah bukan hutan jangan teriak-teriak, datang bukannya salam ini malah teriak-teriak" omel bundanya.
"Hehehe maaf bunda" cengengesan Griffin
"Griffin panggil bang El dulu ya Bun" lanjutnya setelah menyimpan makanan di atas meja makan
Tok tok tok
Ceklek
"Bang El mau sate nggak?" tanyanya pada Gabriel
"Duluan nanti gue turun " jawabnya
"Oke"
Di meja makan Shaera sedang menyiapkan sate yang di beli oleh Griffin ke dalam piring. Mereka hanya bertiga di rumah dengan para maidnya serta beberapa bodyguard, Godric anak sulungnya sedang berada di luar kumpul bersama teman-temannya dan tuan Warren sedang berada di luar negeri untuk perjalanan bisnis, Shaera sendiri sengaja tidak ikut karna tidak mau meninggalkan anak-anaknya terlalu lama, sebab tuan Warren sendiri sepertinya akan berada di luar negeri selama lebih dari satu Minggu.
Tap
Tap
Tap
Shaera menoleh saat mendengar suara langkah kaki dan hanya menemukan Griffin yang berjalan menuju ke arahnya.
"Katanya tadi panggil bang El. Kok Dateng sendiri?" Tanyanya pada Griffin
"Udah di panggil tadi Bun tapi katanya suruh dul.. " ucapannya terpotong karena yang dibicarakan sudah nongol.
"Tuh bang El udah ke sini" lanjutnya
Gabriel pun langsung menarik kursi di samping bundanya kemudian duduk dan langsung menyantapnya.
"Bun tahu ngga Griffin tadi ngga bayar loh sate ini" celetuk Griffin tiba-tiba kemudian panik karena bundanya tersedak
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Melihatnya bundanya tersedak El pun segera memberikan air minum kepada bundanya kemudian melirik tajam ke arah Griffin.
"Kamu ngutang nak?" Ucap bundanya "kamu jangan bikin malu Griffin astagaaa" suara bundanya yang sudah mulai kesal.
"Eh bunda tunggu dulu Griffin belum selesai ngomong tadi" jawab cepat Griffin sebelum di amuk singa betina rumah ini.
"Ya terus kenapa kamu ngga bayar satenya nak?" Tanyanya tidak sabaran
"Griffin tadi bukannya ngga mau bayar bunda tapi uang yang Griffin bawa hilang mungkin jatuh tapi tadi ada kakak cantik yang bantuin terus bayarin sate ini bunda" jawab Griffin
"Kakak cantik?" "Kamu kenal orangnya? Kenapa ngga suruh ke sini dulu aja biar di ganti uangnya" tanya bundanya beruntun.
"Tadi Griffin udah nawarin Bun tapi kak Rhaella nggak mau" jawabnya santai
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Kini giliran Gabriel yang tersedak makanannya setelah nama yang disebut adiknya. Griffin sendiri kembali panik, Shaera lalu segera memberikan air minum kepada anaknya sambil menepuk pelan belakang leher anaknya.
"Kamu kenapa bang?" Tanya bundanya.
"Siapa tadi namanya?" Tanya Gabriel Setelah minum memastikan pendengarannya
"Kak Rhaella namanya kak? Emang kenapa si langsung keselek gitu denger nama kak Rhaella" tanya Griffin bingung
"Kamu kenal sayang sama yang namanya Rhaella?" Tanya bundanya
"Ciri-cirinya kaya gimana?" Tanyanya pada Griffin dan melanjutkan makanannya
"Kakak Rhaella tadi itu cantik, tinggi, terus putih, rambutnya juga panjang terus ada gigi ginsulnya dia juga tadi bawa motor besar kaya motor bang El warna item" jawab Griffin panjang lebar menyebutkan ciri-ciri Rhaella yang dia ketahui.
Gabriel yang mendengar ciri-ciri yang di sebut oleh adiknya malah tersenyum tipis tanpa di sadari oleh bunda serta adiknya, dia yakin itu adalah Rhaella yang di kenalnya
"Kamu kenal bang sama ciri-ciri yang di bilang Griffin?" Tanya bundanya kembali karena penasaran jua
"Kayanya El kenal" jawabnya santai lalu minum setelah menyelesaikan makannya.
"Serius bang El kenal kakak cantik, coba ajak ke rumah aja kakak cantiknya bang" ucap Griffin dengan antusias. Gabriel hanya melirik Griffin tanpa berniat untuk menjawab
"El ke atas dulu Bun "
bukannya menjawab adiknya dia malah bangun dari duduknya dan pamit ke kamar. Griffin yang melihat itu dan tak mendapatkan jawaban pun tentu saja merasa kesal.
...
Rhaella saat ini sedang berada di teras balkon kamarnya. Hembusan angin menerpa wajah cantik serta tubuhnya tapi tidak menghalangi keinginan untuk Berdiri Melihat pemandangan dari atas. Dia Melihat kelap kelip dari lampu kendaraan ibu kota jakarta yang berlalu lalang. Sambil menyeruput coklat panasnya dia mendongak menatap langit malam yang terang karna cahaya bulan serta bintang-bintang di atas sana.
"Apakah bunda ada di antara bintang-bintang itu?" Gumamnya seolah sosok yang di sebut bisa melihat dan mendengarnya
"Bunda hari ini ulang tahun Rhaella. Tapi Hari ini juga hari meninggalnya bunda" gumamnya kembali.
"Apakah Rhaella memang penyebab meninggalnya bunda?" Lanjutnya "Maafin Rhaella yah bunda" kemudian menunduk kembali
"1 September 2024, hari ini Rhaella sudah 17 tahun bunda" lagi "Rhaella berharap ada kebahagiaan yang menanti Rhaella" lanjutnya.
Jam menunjukkan pukul 12 malam, dinginnya angin malam semakin terasa menusuk ke dalam tulang. Rhaella kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya dan setelah itu menutup pintu balkon tak lupa gordennya.
Dia merasa sedih dan ingin sekali rasanya menangis tapi air matanya terasa kering seolah melarangnya untuk menangis.
Hampa yah satu kata itu memang tepat untuk menggambarkan keadaan hatinya.
Hari ini Rhaella bangun kesiangan, dia langsung ke kamar mandi hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit dia sudah selesai membersihkan diri dan langsung memakai seragamnya, dia tidak sarapan dan langsung mengambil kunci motor lalu turun ke basement kemudian melajukan motornya menuju sekolah. Dia bahkan tidak terburu-buru tidak takut jika akan dihukum padahal dia murid baru. 15 menit berkendara Rhaella sampai di sekolah tapi gerbang sekolah sudah tertutup.
"Aduh neng Udah telat atuh " ucap satpam sekolah tersebut. Rhaella di sekolah barunya memang baru kali ini terlambat tapi tidak saat di sekolah lamanya, jika orang lain bisa di hitung jari telatnya maka Rhaella kebalikannya, Rhaella tidak telat ke sekolah bisa di hitung dengan menggunakan jari kalau telat ke sekolah sudah tidak bisa di hitung karena hampir setiap hari dia telat.
"Nggak bisa dibuka pak?" Tanyanya pada satpam
"Maaf neng ngga bisa ini teh udah telat banget nanti saya di marahi" ucap satpam lagi
"Hm yaudah" ucap datar Rhaella lalu kembali melajukan motornya dan pergi meninggalkan sekolah. Jika kalian berfikir Rhaella akan memanjat tembok sekolah untuk masuk maka kalian salah besar Rhaella tidak se effort itu untuk bisa masuk ke sekolah.
Saat sedang berkendara tiba-tiba dia mengingat kartu nama yang dia temukan di kamar orang tuanya dia berfikir akan mendatangi alamat yang tertera di kartu nama itu.
"Ngga begitu jauh tempatnya" gumamnya setelah melihat alamat di kartu nama.
Sekitar 40 menit berkendara Rhaella sampai di studio yang tidak besar tapi tidak kecil juga sederhana tapi terlihat mewah. Rhaella lalu turun dari motornya dan berjalan masuk, di dalam ada sebuah kursi yang sepertinya itu adalah kursi tunggu, Rhaella pun duduk tapi tidak lama dia hampiri oleh seseorang.
"Maaf mba ada yang bisa saya bantu?" Tanya sopan seseorang itu. Sepertinya dia pegawai di studio ini.
"Hmm. Iya maaf saya boleh bertanya?"
"Boleh mbak mau tanya apa?"
"Fotografer yang bernama Yakim yang mana ya mba?" tanya elsa
"Soalnya saya di rekomendasikan oleh teman saya" lanjutnya agar tidak di curigai.
"Oh kalau mas Yakim sekarang lagi bertemu dengan kliennya mbak. Tuh itu mas Yakim yang pakai kemeja hitam" ucap pegawai tersebut lalu menunjukkan Arah di mana Beno sedang duduk.
"Di sini ada berapa fotografer mbak?" Tanya lagi Rhaella berbasa-basi agar tidak ketahuan bahwa dia sedang mencari tahu tentang Yakim.
"Ada 4 mba. Ada mas Yakim yang di sana terus ada Dani, julan, dan Rendi. Kalau mas Dani dan mas julan sedang ada di tempat job kalau Rendi sepertinya belum datang mba" jawab pegawai tersebut menjelaskan, Rhaella hanya mendengarkan dan sesekali mengangguk-anggukkan kepala.
"Oh begitu ya udah mba makasih"
"Iya mbak sama-sama"
Sekarang Rhaella menuju apartemennya setelah mendapatkan sedikit informasi tentang Yakim yang kemungkinan adalah kekasih dari Alane yang dia pergoki waktu lalu. Yakim, Rhaella akan mencari tahu lagi tentang laki-laki itu.
"Gue harus main cantik jangan sampai Tante Alane atau si Yakim itu tahu atau curiga ke gue"
gumamnya sendiri saat sudah sampai di basement apartemennya.
Saat ini sudah waktunya jam istirahat inti Desmond sekarang sedang berada di rooftop tempat tongkrongan mereka, sebenarnya mereka punya ruangan khusus untuk mereka tapi karena mereka rata-rata merokok jadilah mereka mencari ruangan yang terbuka. Tapi beberapa saat lalu Merrit di panggil oleh guru, Gabriel sedang ke toilet tinggallah Rufus sendiri karna Hans dan Calix saat selesai belajar mereka ngacir ke toilet duluan.
Ceklek
Rufus pun menengok melihat siapa yang datang ternyata itu adalah Hans.
"Sendirian loh?" tanya Rufus
"Lo liatnya gue sama siapa?" Jawab Hans sambil berjalan menuju sofa
"Gue cuma nanya ya babi?"
"Gue juga cuma jawab kambing"
"Ck" kesal Rufus lalu menendang bokong Hans.
"yang lain pada kemana?" Tanya Hans.
"Kamu nanya?"
"ck serius bangke" kesal Hans
"Kamu bertanya-tanya" ucap Rufus kembali
"Lo udah pernah di jadiin tumbal pesugihan" ucap Hans yang sudah berkacak pinggang menahan kekesalan sedangkan pelaku sudah terbahak melihat taring sahabatnya sudah mau keluar.
Ceklek
Rufus dan Hans pun menoleh ke arah sumber suara ternyata ke tiga sahabatnya sudah datang dengan Gabriel di belakang.
Mereka pun duduk bersandar di sofa.
Drrtt
Drrtt
Handphone milik Calix
berdering dia melihat ternyata yang menelfonnya adalah junior anggota Desmond lainnya.
" Halo ada apa?" Tanya Calix
"Kapan?" Tanya Calix dengan alis berkerut
"Posisi mereka sekarang dimana?"
"Oke tunggu gue sama yang lain ke markas sekarang "
Tut
"Kenapa?" Suara datar Gabriel setelah melihat Hans memutuskan sambungan telepon.
"Gio pengen nyerang markas kita, mereka lagi di jalan menuju ke sana " jawab Ibra kepada ketuanya
"Kenapa?" Merrit bertanya
"Lo inget orang yang coba nyelakain Lo waktu di sirkuit tempo itu?" Tanya Hans. Mereka semua menoleh ke arah Hans yang bersuara dan mengangguk kecuali Gabriel
"Ternyata dia adalah bagian dari Gii. Kayanya mereka pengen bales kejadian saat di sirkuit karna waktu itu anggotanya di buat patah tulang sama El terus di tambah patah kaki karena Rhaella" jawab serius dan panjang lebar Hans kembali pada sahabat-sahabatnya dan di angguki oleh mereka.
Gabriel bangun terlebih dahulu dan di ikuti oleh yang lain di belakangnya, mereka langsung menuju ke tempat parkir untuk mengambil motor mereka. Sang satpam tidak pernah melarang atau bertanya saat para inti Desmond ingin keluar apalagi bersama ketuanya Gabriel. Sebab sekolah ini adalah sekolah milik ayah Gabriel tuan Warren Duchess.
Perjalanan mereka menuju markas tidak sampai 10 menit karena mereka mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Saat sampai di markas ternyata anggota Desmond dan lawannya sudah saling berhadapan. Gabriel pun segera turun dari motornya kemudian disusul oleh para inti di belakang.
"Akhirnya kalian muncul juga" ucap songong sang ketua dari pihak lawan.
"Emang Lo mau apa kalau kami udah muncul hm?" Jawab Hans santai.
"Gue mau buat perhitungan sama kalian terutama sama ketua Lo. Ketua lo yang udah bikin anggota gue babak belur sampai kritis dan yah mana cewe jalang Lo itu dia juga yang bikin kaki anggota gue patah" ucap Regi ketua dari geng motor Gio.
"Siapa yang lo maksud cewe jalang?" Suara dingin Gabriel
"Siapa lagi kalau bukan si queen queen Bangsat jalang lo itu. Bukannya dia juga ikut saat di sirkuit cuma dia satu-satunya perempuan saat itu " jawab Regi dengan menyeringai.
"Tarik lagi kata-kata lo" Gabriel kembali berbicara dengan nada datar serta aura dinginnya.
"Kenapa? Lo ngga suka gue panggil dia jalang? Bukannya kalian suka berbagi pasti soal cewe juga kalian suka berbagi" ucap Regi kembali yang sukses membuat Gabriel marah.
"Anjir itu si El auranya kenapa makin gelap pas si Regi ngejelekin nama queen" tanya Hans yang berbisik kepada Calix.
"Gue juga ngga tahu "
"kalau gue liat auranya si El gue yakin si Regi bakal di bikin koma minimal 1 bulanan " jawab Rufus kembali berbisik.
Teman-teman dan anggota Desmond yang melihat ketuanya mengeluarkan aurat berbeda bergidik ngeri. Pasalnya mereka hafal betul jika sudah seperti itu biasanya lawannya akan berakhir kristis atau koma. Mereka hanya menatap iba kepada ketua dari lawan mereka yang sukses memancing keluar seekor singa.
"Banyak bacot Lo anjing. Sini Lo lawan gue dulu baru setelah itu ketua gue" celetuk Hans yang sudah emosi
"Dia bagian gue " Gabriel menahan Juna yang mulai maju.
"Maju Lo" ucap Regi kepada Gabriel.
"Lo yang maju, Lo kan yang mau bales karena anggota Lo udah gue bikin patah tulang" ucap datar Gabriel tapi dengan aura dinginnya.
"Bangsat "
Regi pun maju kemudian langsung menyerang Gabriel, tapi Gabriel menghindari serangannya bahkan kini Regi sudah mengeluarkan sebuah pisau dan itu di ketahui oleh Gabriel. Regi kembali menyerang El dengan membabi buta dengan pisaunya, namun El dengan kepekaan yang tinggi bisa menghindari serangan pisau. Gabriel kemudian mencengkram tangan Regi dan memutarnya setelah sehingga membuat pisau yang di pegangnya jatuh. Dengan secepat kilat Gabriel langsung menendang perut serta kepala Regi saat ingin mengambil kembali pisau itu. Melihat ketuanya sudah kewalahan para Anggota Tiger berinisiatif untuk membantu tapi di halangi oleh para inti Desmond dan terjadi perkelahian antara kedua geng tersebut.
Saat ini kondisi Regi tidak bisa di katakan baik-baik saja, wajah yang hampir membengkak akibat pukulan dan darah yang keluar dari hidung, mulut serta telinganya, Bahkan sepertinya tangan kirinya terlihat patah. Melihat ketua mereka yang tidak bergerak dan tak berdaya mereka menatap Gabriel ngeri pasalnya dengan situasi seperti ini wajahnya masih tetap terlihat datar tapi bisa membuat ketua mereka sekarat di tempat. Mereka pun langsung membawa ketua mereka pergi menuju rumah sakit.
Setelah melihat Regi yang di bawa oleh anggotanya Gabriel langsung masuk ke dalam markas dan diikuti oleh yang lainnya
"Yang lukanya parah bisa segera ke rumah sakit atau yang luka ringan bisa ke klinik" ucap Merrit pada anggota Aderfia kemudian pergi menyusul yang lain ke dalam markas.