Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jhon jadi keledai pengangkut barang
...Bab 22...
"Jhon. Security tadi?" Jasson menghampiri Jhon yang juga bingung dengan cara kerja security tua itu. Dia adalah seorang penjaga, tapi seenaknya pergi begitu saja meninggalkan pos.
Bukan hanya Jhon yang merasa heran. Keempat sahabatnya yang lain juga merasa heran. Tapi kembali ke sifat kosong Jhon. Dia tidak peduli.
"Ayo kita bersiap-siap. Katanya di dekat Canyon of university ini ada sebuah kafe yang makanannya enak," Jay Landers yang juga tidak mau ambil pusing urusan orang namun suka menggosip itu berpura-pura cuek. Benar-benar dua kepribadian yang berbeda.
"Ya sudah ayo!"
Namun, baru saja ke lima pemuda itu hendak meninggalkan area kampus, dari arah luar datang lah satu unit mobil SUV yang langsung berhenti di depan mereka.
Kaca samping mobil turun yang menampakkan sosok gadis cantik tapi wajahnya sangat jutek seolah-olah ada yang berhutang satu juta Dollar kepadanya.
Mereka berlima serentak menoleh ke arah mobil tadi dan lumayan kaget juga. Karena, gadis yang berada di dalam mobil yang kacanya turun itu tidak lain adalah salah satu dari bunga kampus yaitu Tiffany Bellamy. Mereka ingin menyapa namun urung karena melihat ekspresi gadis itu yang tidak ramah.
"Jhon!" Tiffany Bellamy turun dari mobil kemudian memanggil Jhon layaknya seorang majikan memanggil seorang babu.
"Eh. Jhon?!" Yang lain menoleh ke arah Jhon tanpa dikomandoi.
"Masalah lagi ini," gerutu Jhon dalam hati.
"Apa yang kau lakukan berdiri di sana? Apa kau tidak mendengar kalau Nona Tiffany memanggil mu. Atau kau merasa linglung karena nona Tiffany berinisiatif untuk menyapamu. Cepat datang dan menurut. Karena itu adalah kehormatan bagimu!" Tiba-tiba pintu mobil di bagian penumpang terbuka disertai semburan kata-kata yang memekakkan telinga.
Gadis yang memiliki wajah biasa-biasa saja namun berdandan menor keluar dari dalam mobil lalu berkacak pinggang sembari membeliakkan mata menatap Jhon seolah-olah dengan tatapan itu dia ingin mencabik-cabik wajah Jhon.
Bertambah pusing kepala Jhon. Dia tidak mencari masalah. Tapi kali ini sepertinya masalah lah yang menghampirinya.
"Jhon, siapa betina itu, kelihatannya sangat galak?"
"Aku juga tidak tau. Tapi tadi di kantin dia terus menerus menunjukkan sikap permusuhan padaku," jawab Jhon yang terlihat tidak berdaya.
Melihat Jhon mengabaikan dirinya, gadis yang tidak lain adalah Flo semakin berang. Baginya, siapapun yang dia panggil harus segera menghadap dan mengiyakan semua apapun yang dia katakan. Berdirinya Jhon tanpa menggubris dirinya terutama Tiffany Bellamy adalah sebuah penghinaan.
"Jhon. Apa kau tuli? Ke sini kataku!" Flo menjadi semakin berang. Wajahnya merah padam.
Sebenarnya jarak mereka hanya terpaut tiga meter. Andai dirinya ingin mengatakan sesuatu, tidak mungkin Jhon tidak mendengar. Tapi dasar ego, dia ingin Jhon datang padanya dan menuruti perintah.
Jhon pun terlihat sangat enggan. Dia tidak mengenal gadis bernama Flo itu. Adapun Tiffany Bellamy, itu karena ayahnya adalah saudara dari ayah angkatnya.
Melihat ketegangan antara sahabatnya dan Jhon, ditambah lagi ada ramai pasang mata yang melihat mereka, Tiffany pun mulai bersuara, "Jhon, aku menginginkan agar kau membantuku untuk memindahkan barang-barang ku ke asrama!" Ujar Tiffany. Kata-kata sama sekali tidak menginginkan bantahan. Itu bukan permintaan pertolongan namun lebih ke arah perintah yang tidak boleh ditolak.
"Kau kenal Tiffany ini Jhon?" Tanya Jay Landers. Bagaimanapun, ini juga termasuk kejutan karena salah satu dari bunga kampus mengenal Jhon. Namun yang paling mengejutkan adalah temperamen gadis itu yang sangat melenceng dari ekspektasi nya. Dia kira Tiffany ini sangat dingin penuh dengan martabat ataupun pendiam yang acuh. Namun ketika dia menyaksikan sendiri sikap arogansi dari si bunga kampus, poin Tiffany Bellamy mendadak anjlok dimatanya.
Jhon mengangguk lalu menjawab. "Ayahnya adalah saudara laki-laki dari ayah angkat ku,"
"Sudah lah Jhon. Orang-orang mulai menonton. Lebih baik kau pergi saja membantunya. Makan malam bisa kita tunda beberapa jam. Lagipula ini masih siang. Masih ada waktu beberapa jam lagi," Erick yang lebih muda menyarankan. Dia bukannya takut terhadap Flo. Yang dia takutkan adalah dia tidak bisa menahan emosi lalu menampar gadis itu. Bisa berabe urusan.
Jhon yang juga malas berdebat langsung menghampiri kemudian bertanya apa saja yang bisa dia bantu untuk memuaskan hati dua singa betina yang mengerikan ini.
Tiffany menunjuk ini dan itu kemudian meminta Jhon untuk mengangkut nya.
Singkat cerita, tubuh Jhon mulai dari tangan hingga leher menjadi gantungan tas dan kotak sampai-sampai dirinya pun sulit untuk melihat jalan di depan. Andai saat ini ada salah satu dari tentara Zagraria melihat keadaan Jhon yang seperti keledai pengangkut barang, mungkin sampai mati tujuk kali pun mereka tidak mungkin akan percaya. Seorang Jenderal yang memiliki gelar Dewa kematian diperlakukan seperti keledai pengangkut barang. Jika Jhon saja diperlukan seperti itu lalu bagaimana dengan mereka yang pernah dikalahkan.
"Cepat lah. Kau seperti orang yang tidak makan tiga hari. Mana tenaga mu?" Di sepanjang jalan Flo terus saja mengomel tak karuan membuat Jhon terus saja menjadi serba salah. Jalan di depan dimarahi, jalan di belakang juga mendapat omelan seolah-olah Jhon tidak pernah ada benar dimatanya.
Sementara itu di belakang, Jay Landers, Jasson, David dan Erick hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menaruh rasa kasihan terhadap Jhon.
"Bagaimana? Itu gadis yang kau puja-puji sebagai gadis tercantik di kampus? Cantik saja apa gunanya?" Sindir David kepada Jay Landers yang juga memasang wajah seperti orang kebelet kencing.
"Mana aku tau kalau seperti itu wajah aslinya. Ih takut!" Jawab Jay Landers seketika bergidik ngeri.
"Apa? Bukannya kau segala tahu. Kau tau identitas dan segala pernak-pernik para gadis. Tapi sekarang malah kau seperti orang yang tidak tau apa-apa. Kalau begitu makan malam ini ditanggung masing-masing!" Kali ini Jasson tidak dapat lagi untuk mengeluarkan segala uneg-unegnya. Dia tidak ingin melepaskan Jay Landers yang sok tau itu.
"Kalian mengapa sibuk memojokkan aku? Sekarang ini sebagai teman bagaimana caranya agar kita bisa membebaskan Jhon dari singa betina itu?"
"Bagaimana? Apa mungkin kita bertindak kasar? Aku bukan jenis lelaki seperti itu," Erick segera lepas tangan. Sama sekali dia tidak ingin terlibat dengan dua gadis itu.
"Biarkan. Kita bisa menunggu di sini. Tidak mungkin juga Jhon akan disekap selamanya. Dia kan laki-laki. Pasti bisa bertahan. Paling hanya satu atau dua jam saja,"
"Huh. Lagian untuk apa Jhon begitu penurut. Kalau dia menolak mereka bisa apa?"
"Jangan begitu David. Bagaimanapun, ada banyak pasang mata yang melihat. Jhon pasti juga berpikir bahwa lebih baik mengalah daripada dituduh sebagai lelaki yang tidak mau membantu gadis. Lagipula kau tau bahwa ada banyak pahlawan kesiangan di sini. Apa kau mau nanti tiba-tiba Jhon menjadi musuh publik?" Kata Jay Landers. Dia tau bahwa tidak mudah juga bagi Jhon untuk menolak begitu saja. Tiga bunga kampus ini memiliki ramai penggemar. Bisa jadi nantinya Jhon akan menjadi target para penggemar buta ini. Ketika Jhon menjadi musuh publik, setidaknya mereka juga akan mendapatkan dampak nya.