Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 3.
Sore itu, rumah terasa lebih dingin dari biasanya.
Milea duduk di sofa dengan punggung tegak, mengenakan kemeja lengan panjang warna krem. Tangannya terlipat di pangkuan, jemarinya saling mengunci erat untuk menahan gemetar. Di depannya, Rangga duduk dengan posisi yang sama tegaknya. Begitu formal, berjarak, seperti dua orang rekan bisnis yang akan membahas kontrak penting.
Bukan sepasang suami istri yang telah hidup bersama selama empat tahun.
Di atas meja, tergeletak map berwarna coklat. Isinya bukan laporan proyek atau dokumen perusahaan.
Melainkan masa depan mereka.
“Pengacaraku sudah menyiapkan drafnya,” ucap Rangga membuka pembicaraan. Suaranya tenang, terlalu tenang.
Milea mengangguk pelan. Ia tak langsung menatap map itu. Seolah jika ia melihatnya terlalu lama, hatinya akan runtuh lebih cepat.
“Kita bisa menyelesaikannya secara baik-baik,” lanjut Rangga. “Tanpa keributan.”
Milea tersenyum tipis. “Sejak kapan kita ribut, Rangga?”
Kalimat itu membuat Rangga terdiam sesaat. “Justru itu, kita terlalu diam.”
Milea akhirnya menatap map itu. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” tanyanya lirih. “Bukan karena kamu minta cerai. Tapi karena kamu terlihat begitu… siap.”
Rangga tak menjawab.
“Aku bertanya-tanya,” Milea melanjutkan, “Apakah selama ini aku benar-benar istrimu, atau hanya kewajiban yang kebetulan tinggal serumah.”
Rangga menarik napas dalam. “Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”
“Tapi kamu melakukannya,” sahut Milea cepat. “Setiap hari.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Di luar angin berdesir pelan, menggerakkan tirai jendela. Suasana terasa seperti jeda panjang sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
“Apa kamu pernah mencintaiku, sedikit saja?” tanya Milea tiba-tiba.
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa persiapan. Bahkan Milea sendiri terkejut mendengarnya.
Rangga menatap wanita itu lamat-lamat, ia menarik nafas dalam-dalam.
“Aku menghormatimu sebagai istriku,” jawabnya akhirnya.
Jawaban itu menghantam Milea lebih keras daripada penolakan terang-terangan. Ia tertawa kecil, terdengar begitu getir. “Aku tidak bertanya tentang rasa hormat.”
Rangga mengepalkan tangannya. “Milea—”
“Tidak apa-apa,” potong Milea pelan. “Jawabanmu sudah cukup bagiku.”
Milea meraih map itu, membukanya. Matanya menelusuri tulisan-tulisan resmi yang terasa asing namun menentukan. Tentang pembagian aset, tentang tanggal pemisahan, tentang status mereka setelah ini.
Aneh.
Begitu mudah di atas kertas.
“Aku tidak akan menuntut apa pun,” ucap Milea. “Aku hanya ingin ini selesai dengan baik.”
Rangga menatap istrinya, seolah baru menyadari sesuatu. “Kamu yakin?”
Milea mengangguk. “Aku hanya ingin bebas.”
Kata itu... bebas, membuat dada Rangga tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
Milea berdiri, “Aku akan tanda tangan besok.”
“Baik.”
Lalu, Rangga bersiap pergi. Ia meraih kunci mobil dari meja.
“Kamu mau kembali ke perusahaan?” tanya Milea.
“Tidak, aku akan ke apartemen... aku butuh waktu sendiri.”
Milea mengangguk, ia ingin mengatakan banyak hal. Ingin bertanya apakah ini benar-benar akhir. Ingin meminta Rangga menoleh sekali saja sebagai suaminya, bukan sebagai orang asing.
Namun semua kata itu terperangkap di tenggorokan.
Rangga membuka pintu, lalu berhenti sejenak.
“Milea.”
Wanita itu menoleh, ada harapan kecil menyelinap tanpa izin.
“Terima kasih… sudah menjadi istri yang baik.”
Kalimat itu terdengar seperti salam perpisahan.
Rangga pergi.
Pintu pun tertutup.
Dan... Milea tak mengejar suaminya. Ia berdiri diam, membiarkan air matanya jatuh tanpa diseka.
“Kalau ini akhirnya, semoga kita sama-sama menemukan kebahagiaan nantinya.”
Di dalam mobil, Rangga menyetir dengan kecepatan stabil. Pikirannya kosong, namun dadanya terasa berat. Sore sudah berganti malam, jalanan masih lenggang.
Ia teringat pertanyaan Milea tadi.
Apa kamu pernah mencintaiku, sedikit saja?
Rangga mengepalkan setir.
Ia tak tahu jawabannya. Atau mungkin… ia terlalu takut untuk mengakuinya.
Ponselnya bergetar di kursi penumpang, sebuah panggilan masuk dari kantor tentang rapat besok pagi.
Rangga melirik layar ponsel itu sejenak. Dan dalam sepersekian detik itulah, sebuah cahaya menyilaukan datang dari arah berlawanan.
Suara klakson.
Rem mendecit.
Benturan keras.
Segalanya menjadi gelap.
Sementara itu, Milea duduk sendirian di kamar, memeluk bantal. Dadanya terasa kosong, namun entah kenapa… hatinya tiba-tiba terasa gelisah.
Ia meraih ponsel, menatap layar yang gelap.
Perasaan tak enak menyusup perlahan.
“Rangga…” gumamnya tanpa sadar.
Tanpa Milea tahu, malam itu bukan hanya mengakhiri pernikahan mereka, tapi juga mengubah takdir mereka.
Hujan turun deras malam itu, mengguyur jalanan kota tanpa ampun.
Sirine ambulans memecah keheningan, melaju kencang menembus lalu lintas yang mulai sepi. Lampu merah biru berpendar di aspal basah, menciptakan pantulan cahaya yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding.
Rangga Azof terbaring tak sadarkan diri di dalam ambulans.
Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi sisi wajah tampannya. Jas mahal yang dikenakannya kini kusut dan ternodai. Monitor di samping ranjang darurat itu berbunyi ritmis, menandakan detak jantung yang masih bertahan.
“Tekanan darah menurun!” teriak salah satu paramedis.
“Siapkan oksigen!” sahut yang lain.
Tubuh Rangga terguncang pelan setiap kali ambulans melewati jalan berlubang. Wajahnya pucat, napasnya berat. Tak ada lagi aura dingin dan berwibawa, yang tersisa hanyalah seorang pria rapuh di ambang batas hidup.
Di sisi lain kota, Milea terbangun dari tidurnya dengan jantung berdebar kencang. Ia terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dadanya terasa sesak, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang tak kasatmata.
Milea meraih ponselnya di meja samping ranjang, jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Perasaan gelisah itu belum pergi.
Ia membuka kontak Rangga. Menatap nama itu lama, lalu menghela napas dan meletakkan ponsel kembali.
“Aku hanya terlalu sensitif,” gumamnya, mencoba menenangkan diri.
Namun tak sampai lima menit kemudian, ponselnya kembali menyala.
Nomor tak dikenal.
Milea ragu sejenak sebelum menjawab.
“Halo?”
“Apakah benar ini dengan Ibu Milea Azof?” suara pria asing terdengar formal dan serius.
Jantung Milea langsung melorot.
“I-iya. Saya sendiri.”
“Saya dari kepolisian, suami Ibu mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat ini beliau sedang dibawa ke rumah sakit terdekat.”
Dunia seakan berhenti berputar.
“Apa… apa maksud Anda?” suara Milea gemetar. “Bagaimana keadaannya?”
“Ada benturan cukup keras, mohon Ibu segera datang ke Rumah Sakit Cakrawala.”
Panggilan terputus.
Milea berdiri dengan tubuh gemetar. Tangannya menutup mulut, menahan teriakan yang nyaris keluar. Tanpa sempat mengganti pakaian dengan layak, ia meraih tas dan kunci mobil.
Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.
“Rangga… tolong jangan kenapa-napa,” bisiknya di antara isak.
Unit gawat darurat rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik dan suara langkah tergesa. Milea berlari menyusuri lorong, rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Ia menghampiri meja perawat dengan napas terengah.
“Suami saya, Rangga Azof. Dia kecelakaan,” ucapnya terbata.
Seorang perawat memeriksa data di komputer. “Ibu Milea?”
Milea mengangguk cepat.
“Pasien sudah masuk ruang operasi, mohon tunggu.”
Kata operasi membuat kaki Milea hampir lemas. Ia duduk di kursi panjang ruang tunggu, memeluk tasnya erat-erat. Waktu berjalan lambat, setiap detik terasa menyiksa.
Tak lama kemudian, keluarga Rangga datang. Nyonya Atalia terlihat panik, sementara Ayah Rangga berusaha tetap tenang meski wajahnya tegang.
“Bagaimana keadaan Rangga?” tanya Nyonya Atalia dengan suara bergetar.
“Masih dioperasi, Mah,” jawab Milea lirih.
Nyonya Atalia duduk di samping menantunya, memegang tangan Milea erat. Untuk pertama kalinya, tak ada jarak di antara mereka.
Milea menunduk. “Seandainya tadi aku menahannya…,” bisiknya penuh penyesalan.
Tak ada yang menjawab.
Berjam-jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka.
Seorang dokter keluar dengan wajah serius.
“Keluarga Rangga Azof?”
Milea berdiri paling cepat.
“Operasi berjalan lancar, namun pasien mengalami cedera kepala cukup berat,” jelas dokter itu. “Saat ini beliau dalam kondisi koma. Kita harus menunggu 48 jam ke depan untuk melihat perkembangannya.”
Koma.
Kata itu menggema di kepala Milea.
“Apa dia akan sadar, Dok?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.
“Kami akan melakukan yang terbaik.”
Milea terjatuh terduduk, air matanya tumpah tanpa bisa dihentikan.
Malam itu, Milea duduk di samping ranjang rumah sakit. Rangga terbaring diam, dipenuhi selang dan alat medis. Wajahnya tampak damai, jauh berbeda dari ekspresi dingin yang biasa ia kenal.
Milea menggenggam tangan suaminya.
“Maafkan aku, maaf karena kita mengakhiri segalanya dengan dingin.”
Air matanya jatuh ke seprai putih.
“Aku belum siap kehilanganmu,” lanjutnya pelan. “Bahkan jika kita memang akan berpisah…”
Tangannya gemetar, menggenggam lebih erat. “Bangunlah, Rangga. Tolong...”
Mesin monitor terus berbunyi, menjadi satu-satunya jawaban atas doanya.
Dan di antara sunyi ruang rawat itu, tak ada yang tahu bahwa ketika Rangga akhirnya membuka mata... pria itu tak akan lagi mengenali dunia yang sama.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌