Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Laila mengobati jarinya dengan kasar, namun senyum licik mengembang di bibirnya.
Rasa perih di jarinya tak sebanding dengan rencana jahat yang baru saja terlintas di kepalanya.
Ia merogoh saku gamisnya, mengeluarkan beberapa butir obat pencahar berdosis tinggi yang memang sengaja ia bawa dari pondok.
Dengan cepat, ia menghancurkan obat itu dan mencampurkannya ke dalam saus koloke khusus untuk Rani.
"Mampus kamu, Ran. Lihat saja, setelah ini Mas Yudiz akan tahu siapa yang lebih berguna di rumah ini. Aku yang akan menjadi satu-satunya istri Mas Yudiz yang sesungguhnya," gumam Laila penuh kebencian.
Setelah semuanya tertata di atas meja, Laila mencoba mengatur ekspresi wajahnya menjadi sesedih mungkin agar tampak seperti istri yang terzalimi.
"Mas Yudiz, Mbak Rani, makanannya sudah siap," panggilnya dengan suara pelan.
Yudiz membimbing Rani ke meja makan. Aroma ayam bakar dan koloke memenuhi ruangan.
Rani, yang dasarnya memang memiliki hati yang bersih, merasa sedikit tidak enak hati melihat Laila yang tampak lesu dengan jari terbungkus plester.
"Wah, harum sekali masakan kamu, Laila. Terima kasih ya, maaf kalau aku merepotkanmu dalam kondisi begini," ucap Rani tulus sambil tersenyum ke arah Laila.
Yudiz hanya diam, ia mengambilkan nasi untuk Rani lalu menyendokkan koloke yang sudah diberi "bumbu rahasia" oleh Laila itu ke piring istrinya.
"Makan yang banyak, Sayang. Kamu butuh tenaga untuk pulih," ucap Yudiz lembut tanpa curiga sedikit pun.
Laila menunduk, menyembunyikan kilatan matanya yang penuh kemenangan.
Ia memperhatikan Rani yang mulai menyuapkan potongan pertama koloke itu ke dalam mulutnya.
Dalam hati, Laila menghitung mundur kapan obat itu akan mulai bekerja dan menghancurkan malam tenang mereka.
"Bagaimana, Mbak? Enak?" tanya Laila pura-pura perhatian.
Rani mengunyah pelan. "Enak kok, bumbunya pas banget. Kamu ternyata pinter masak juga ya."
Yudiz mulai memakan ayam bakarnya, sementara Rani terus memakan koloke itu dengan lahap tanpa menyadari bahwa bahaya besar sedang mengintai perutnya.
Selesai makan Yudiz meminta Laila untuk membersihkan meja makan.
Rani masuk kedalam kamar dan dudu di tepi tempat tidur.
Tiba-tiba ia merasakan perutnya yang seperti dipelintir dengan sangat hebat.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, dan wajahnya yang tadi mulai sedikit berwarna kini kembali pucat pasi, bahkan lebih pucat dari sebelumnya.
Di dapur, Laila mencuci piring dengan senyum kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan.
Ia sengaja memperlambat gerakannya, menunggu suara rintihan yang ia nantikan.
"A-abi..." suara Rani terdengar parau dan gemetar dari dalam kamar.
Yudiz yang baru saja mengeringkan tangannya di wastafel langsung berlari kencang.
Ia mendobrak pintu kamar yang hanya tertutup setengah.
Dilihatnya Rani sedang meringkuk di atas kasur sambil memegangi perutnya erat-erat, air mata mulai mengalir di sudut matanya.
"Rani! Kamu kenapa, Sayang?!" pekik Yudiz panik. Ia segera merengkuh tubuh istrinya.
Rani hanya bisa menggelengkan kepala lemah, tangannya yang sehat mencengkeram kemeja Yudiz dengan kuat.
"Sakit, Bi. Perut aku perih banget, kayak disayat-sayat..."
Yudiz merasakan jantungnya berdegup tidak karuan.
Ia teringat Rani baru saja makan koloke buatan Laila. Kecurigaan langsung melesat di benaknya seperti kilat.
"Laila! Kemari kamu!" teriak Yudiz dengan suara yang menggelegar hingga membuat piring di tangan Laila hampir jatuh.
Laila masuk ke kamar dengan wajah yang dibuat-buat panik.
"Ada apa, Mas? Kenapa Mbak Rani?"
Yudiz berdiri, ia menatap Laila dengan sorot mata yang penuh kemarahan.
"Apa yang kamu masukkan ke makanan Rani?! Dia sakit perut setelah makan masakanmu!"
"Aku nggak masukin apa-apa, Mas! Mungkin Mbak Rani saja yang perutnya sensitif karena baru keluar rumah sakit," bela Laila dengan suara bergetar.
Rani mengerang lagi, kali ini ia harus berlari—atau lebih tepatnya tertatih—menuju kamar mandi dengan sisa tenaganya.
Yudiz dengan sigap membopongnya. Di dalam kamar mandi, Rani terus-menerus muntah dan mengalami diare hebat yang membuatnya hampir pingsan karena dehidrasi instan.
Yudiz yang menunggu di depan pintu kamar mandi mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu ini bukan sekadar sakit perut biasa.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rani karena ulahmu, Laila. Aku bersumpah malam ini juga kamu akan keluar dari rumah ini tanpa membawa status apa pun!" ancam Yudiz tanpa menoleh ke arah Laila yang kini mulai merasa ketakutan melihat kondisi Rani yang jauh lebih parah dari dugaannya.
Yudiz panik luar biasa saat melihat Rani ambruk di pelukan kondisinya yang sudah sangat lemas.
Mengingat Rani baru saja melewati masa kritis pasca kecelakaan, dehidrasi hebat akibat obat pencahar itu bisa merusak organ dalamnya atau memicu komplikasi serius.
"RANI! Bangun, Sayang! Jangan tinggalin Abi!" teriak Yudiz dengan suara serak.
Tanpa mempedulikan apa pun lagi, ia menyambar kunci mobil dan membopong tubuh Rani yang terkulai lemah.
Pandangannya beralih sejenak ke arah Laila yang berdiri mematung di sudut ruangan.
"Kalau terjadi sesuatu pada Rani, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" desisnya sebelum berlari keluar menuju mobil.
Begitu deru mobil Yudiz menjauh, Laila langsung tersadar dari keterpakuannya.
Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu Yudiz bukan orang bodoh, Yudiz pasti akan meminta dokter memeriksa sisa makanan atau sampel muntah Rani.
"Aku harus singkirkan buktinya sekarang!" gumam Laila panik.
Ia berlari ke dapur, mengambil botol kecil berisi sisa bubuk obat pencahar itu dari saku gamisnya. Dengan tangan gemetar, ia lari ke kamar mandi belakang.
Byuur!
Ia menuangkan seluruh isi botol itu ke dalam lubang kloset dan menyiramnya berkali-kali sampai tidak ada sisa.
Botol plastiknya pun ia injak-injak hingga pipih lalu ia bungkus dengan pembalut bekas agar tidak mencurigakan, kemudian ia buang ke dasar tempat sampah paling bawah.
"Sekarang tidak ada bukti. Mas Yudiz tidak bisa menyalahkanku tanpa bukti!" ucap Laila mencoba menenangkan dirinya sendiri, meski tangannya masih gemetar hebat.
Yudiz menggendong Rani masuk ke ruang IGD dengan tergesa-gesa. Dokter dan perawat segera menangani Rani yang sudah setengah sadar.
"Dokter, istri saya tadi baru makan, lalu langsung muntah dan diare hebat. Padahal dia baru saja keluar dari sini karena kecelakaan," lapor Yudiz dengan wajah penuh kecemasan.
Dokter senior yang menangani Rani mengernyitkan dahi setelah memeriksa denyut nadi dan perut Rani.
"Kondisinya sangat drop, Pak Yudiz. Tekanan darahnya rendah sekali. Ini seperti gejala keracunan atau reaksi zat kimia yang sangat keras di lambung. Kita harus melakukan bilas lambung segera."
Yudiz terduduk lemas di kursi tunggu. Amarahnya memuncak.
Ia teringat jelas senyum tipis Laila saat Rani memakan koloke itu.
"Laila, kamu benar-benar keterlaluan," geram Yudiz sambil mengepalkan tinjunya ke dinding rumah sakit.
Di dalam ruang IGD yang dingin, suasana terasa begitu mencekam.
Perawat dengan sigap namun hati-hati mencari pembuluh darah di pergelangan tangan Rani.
Kulit Rani yang biasanya putih bersih kini tampak pucat kebiruan dan terasa sangat dingin.
Setelah beberapa kali mencoba, jarum infus akhirnya berhasil masuk, mengalirkan cairan untuk menggantikan cairan tubuhnya yang terkuras habis.
Monitor di samping tempat tidur berbunyi tit... tit... tit... dengan irama yang lemah, menunjukkan betapa dropnya kondisi fisik "Ratu Sirkuit" itu saat ini.
Yudiz duduk di kursi tunggu kayu yang keras, menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin.
Ia menangkupkan kedua tangan di wajahnya, mencoba meredam isak tangis yang hampir pecah.
Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah yang amat dalam dan amarah yang membara.
"Ya Allah, selamatkan Rani. Jangan ambil dia sekarang," rintihnya dalam doa.
Yudiz merasa gagal menjadi pelindung. Ia yang memaksa Rani tetap di rumah, ia yang menyuruh Rani makan masakan itu, dan ia pula yang membiarkan ular seperti Laila masuk ke dalam kehidupan mereka.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari rumah—dari Laila.
Yudiz menatap layar ponselnya dengan mata berkilat marah. Ia menggeser tombol hijau dengan kasar.
"Mau apa lagi kamu?" desis Yudiz, suaranya rendah namun sangat mengancam.
Di seberang telepon, suara Laila terdengar dibuat sedu-sedan.
"Mas, bagaimana keadaan Mbak Rani? Aku takut sekali, Mas. Aku sedang membersihkan dapur, aku takut kalau-kalau ada bumbu yang sudah kadaluarsa tanpa aku tahu. Aku benar-benar tidak sengaja..."
"Berhenti bersandiwara, Laila!" potong Yudiz tajam.
"Dokter sedang memeriksa sampel darah dan isi lambung Rani. Jika ditemukan zat yang tidak seharusnya, jangan harap kamu bisa melihat matahari besok pagi dari luar penjara. Aku tidak akan memandangmu sebagai putri Kyai, tapi sebagai orang yang mencoba membunuh istriku."
Yudiz langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Ia tidak ingin mendengar satu kata pun dari wanita itu.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan dengan wajah serius, membawa selembar kertas hasil laboratorium sementara. Yudiz langsung berdiri tegak, jantungnya berdegup kencang menanti kabar tentang belahan jiwanya.