Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Waktu bergulir pernikahan Sifa dan Revan sudah memasuki bulan ketiga, hubungan mereka masih stagnan, belum ada perubahan, terlebih sekarang Revan sudah kembali dengan aktivitas nya sebagai dokter dengan jam kerja yang cukup tinggi membuat Sifa dan Revan semakin jarang bertemu.
Sedangkan Sifa lebih memilih berlama-lama di kampus, agar ia bisa pulang ke rumah setelah sore menjelang.
Ini pun membuat kedua sahabatnya menjadi curiga, namun Sifa masih menutupi status dirinya yang sebenarnya, ia hanya memberitahu jika ia sudah tidak ada hubungan dengan Novan.
" Sif.. Kok sekarang tumben deh Mas Novan jarang jemput Lo kesini buat ajak makan siang " tanya Zoya penasaran.
" Hmm.. Gue udh gak ada hubungan apa-apa sama Novan sekarang " jawab Sifa.
" Hah "
" Hah "
Sontak jawaban Sifa membuat kedua sahabatnya kaget.
" Kok bisa ? Kenapa ? " tanya Dilla.
" Hmm.. udah gak cocok aja " jawab Sifa berbohong.
Bukan itu alasan sebenarnya.
" Syang banget.. Padahal aku liat hubungan kalian baik-baik aja " susul Zoya.
Sifa hanya tersenyum kecut. Zoya dan Dilla pun tidak ingin banyak bertanya, cukup mereka tahu jika Sifa sudah putus dengan kekasihnya.
" Jadi Free nih.. " ucap Dilla.
" Yes.. Kita bertiga free !! " balas Zoya lalu memeluk Sifa dan Dilla.
Sifa hanya tertawa melihat tingkah Zoya.
" Suatu saat kalian akan tahu apa yang sebenarnya terjadi " batin Sifa.
Berangsur-angsur Sifa sudah mulai bisa menerima keadaannya sekarang, ia perlahan mengobati luka hatinya sendiri. Semenjak pertemuan terakhir nya dengan Novan ia sudah tidak pernah bertemu lagi, ia mulai menghapus Novan dalam memori hatinya, memblokir semua kontak Novan yang ada, ia ingin benar-benar hidup tanpa bayang-bayang Novan.
Sifa akan mulai belajar menerima kenyataan jika dirinya ditakdirkan tidak bersama Novan namun bersama Revan. Walaupun kenyataannya tidak sesuai harapan.
Lamunannya dibuyarkan oleh dering telepon dari Mama mertuanya, Sifa langsung mengambil ponsel yang ia simpan di atas meja perpustakaan kampusnya. Ia segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel.
Sifa : " Halo Ma "
Bu Ratna : " Halo sayang, apa kabar Sifa ? "
Sifa : " Alhamdulillah baik Ma "
Bu Ratna : " Kamu dimana ? Mama lagi di jalan nih mau ke rumah kalian "
Deg
Sifa : " Sifa masih di Kampus Mah, tapi sebentar lagi Sifa pulang "
Bu Ratna : " Oke, kamu tidak perlu repot ya, Mama sudah bawa makanan dan cemilan untuk kamu dan Mas Revan "
Sifa : " Oh iya Ma .. Terima kasih "
Klik
Sambungan telepon di tutup.
Sifa langsung merapikan buku-buku nya, ia menyimpan buku dan ponselnya kedalam tas, ia bergegas keluar perpustakaan kampus menuju parkiran motor.
Karena beberapa waktu lalu Sifa mengambil motornya di rumah orangtuanya, Agar ia lebih mudah pergi ke kampus atau jika ia ada keperluan lainnya.
Ia melajukan motornya meninggalkan kampus menuju rumah Revan.
***
30 menit berselang Sifa sudah sampai rumah, ia melihat ada 2 mobil sudah terparkir di halaman rumah suaminya, satu mobil yang ia kenali yaitu mobil Revan dan satu lagi ia menebak jika itu mobil mertuanya.
" Mama sudah tiba, Mas Revan juga sudah pulang, tumben pulang siang " gumam Sifa.
Ia berjalan masuk melalu pintu samping rumah, benar saja pintu samping tidak terkunci pertanda Revan sudah ada di rumah.
" Assalamu'alaikum " ucap Sifa masuk kedalam rumah.
" Wa'alaikumusalam " balas Bu Ratna yang sedang menyiapkan makanan yang ia bawa di atas meja maka.
Sifa tersenyum lalu menghampiri Mama mertuanya.
" Mama sudah lama ? " tanya Sifa.
" Mama baru aja nyampe, tadi Mama sebelum hubungi kamu, Mama hubungi Mas Revan, kebetulan Mas Revan sudah selesai praktek jadi dia bisa langsung pulang, makanya dia duluan dateng deh " jawab Bu Ratna.
" Hmm " Sifa mengangguk tersenyum.
Ia benar-benar tidak tahu tentang pola kerja Revan, jam berapa saja mulai praktek, jam berapa selesai praktek, kapan saja ada di rumah, sungguh Sifa tidak pernah hafal betul, karena terkadang mereka bertemu hanya pagi hari dan bertemu lagi esok di pagi hari nya.
Selama ini mereka benar-benar tidak pernah ingin tahu privasi masing-masing sesuai yang diucapkan Revan. Sifa pun menjadi sudah terbiasa dengan hal itu. Revan berkomunikasi dengan Sifa seperlunya.
" Oya Ma.. Sifa bersih-bersih dulu ya "
" Iya Sif, jangan lama-lama nanti kamu ajak Mas Revan kita makan bareng ya " ucap Bu Ratna.
" Iya Bu " Sifa mengangguk mengiyakan.
Sifa berjalan menaiki anak tangga, untung kamar Sifa dan Revan tidak begitu jauh dan tidak begitu terlihat dari bawah, sehingga Bu Ratna tidak bisa melihat Sifa masuk ke kamar sebelah mana yang nyatanya ia berbeda kamar dengan Revan.
Sesampainya dikamar, Sifa menyimpan tas dan mengambil bajunya di lemari, ia berganti pakaian rumahan, lalu ia melihat di keranjang baju kotor, baju kotornya sudah menggunung.
" Perasaan baru nyuci kemaren deh, sekarang udah numpuk lagi " batin Sifa.
Sifa pun sudah mulai terbiasa untuk mencuci pakaian nya sendiri dan Revan, Revan akan menyimpan keranjang baju kotornya di dekat mesin cuci jika sudah penuh, Revan pun tidak memaksa dan menyuruh Sifa untuk mencucikan baju nya, namun Sifa merasa tidak enak dan sangat tahu diri, sehingga ia lebih memilih untuk mencucikan baju Revan bersama dengan baju-baju miliknya.
Disaat yang bersamaan pintu kamarnya di ketuk pelan. Sifa berjalan membuka pintu kamarnya, terlihat Revan sudah berdiri disana.
" Ayo turun, Mama ngajak makan " ucap Revan.
" Hmm " Sifa mengangguk.
Sifa lalu membalikkan badan, ia berniat untuk membawa baju kotornya ke bawah.
" Mau kemana lagi ? " Revan melesak masuk kedalam kamar yang Sifa tempati.
" Mau ambil keranjang baju kotor " jawab Sifa.
Revan menghela nafas dalam, lalu ia menghampiri Sifa.
" Sini, biar aku yang bawa "
" Gak usah Mas aku aja " Sifa menolak.
" Keras kepala ya " Revan langsung mengambil keranjang baju kotor dari tangan Sifa, ia berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga.
Sifa yang masih heran dengan sikap Revan, namun ia tidak memperdulikan, ia pun mengekori Revan keluar kamar menuruni anak tangga.
" Apa itu Mas ? " tanya Bu Ratna sesaat setelah melihat Revan membawa keranjang baju kotor.
" Baju kotor Ma, mau disimpan ke belakang " ucap Revan.
" Oh.. " balas Bu Ratna mengerti.
Sifa lalu duduk di kursi meja makan, ia melihat menu makanan yang Mama mertuanya bawa sudah tersaji.
" Mama masak semua ini ? " tanya Sifa.
" Iya, Mama buatkan spesial untuk kamu dan Mas Revan " jawab Bu Ratna tersenyum.
" Oya Ma.. Ini Roti yang Mama buat ? " Sifa melihat ada satu bungkusan lagi tersimpan di sisi meja makan.
" Oh iya, waktu itu Mama kan sempat membuat varian baru roti untuk di toko, sudah beberapa kali Mama coba sepertinya masih kurang pas, nah yang sekarang ini sudah pas banget rasanya, kamu harus coba "
" Siap Ma " balas Sifa tersenyum.
Revan sudah kembali dan ia pun duduk di kursinya. Mereka makan bersama.
" Ini ikan cakalang, kesukaannya Mas Revan Sif, nanti lain waktu kamu buatkan untuk Mas Revan ya.. " ucap Bu Ratna membuyarkan keheningan.
" Eu... I.. Iya Ma " Jawab Sifa kikuk.
Revan hanya menoleh sekilas ke arah Sifa.
Mereka melanjutkan kembali makannya. Tiba-tiba Sorot mata Bu Ratna melihat ke arah jari-jari tangan Sifa.
" Sif.. Kemana cincin kawin kamu ? " tanya Bu Ratna.
Sifa mendongkakkan wajahnya.
" Cincin kawin ? " batin Sifa.
Deg
Ia terhenyak kaget, benar ia tidak pernah memakai cincin kawinnya dengan Revan, sesaat setelah acara resepsi, ia pun sudah melepas cincin kawin itu dan ia pun lupa entah ia simpan dimana cincin kawin itu.
" Duh.. Mati aku..... " batin Sifa.
🌺🌺🌺
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara vote like dan komennya ya ❤️