Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburunya Sang Istri
Aku tidak pernah melihat Varun lagi. Dia tidak pernah ke sini. Aku pun tidak tertarik keluar rumah. Aku lebih suka bergumul dengan buku-buku kesehatan yang kukoleksi. Entah apakah ia sudah kembali ke Jakarta atau menetap di rumah Bayu. Aku benar-benar tidak tahu. Sudah sebulan lamanya.
"Nyonya, Romo memanggil Nyonya" Kata Tina.
Aku segera turun. Romo tengah bersama tiga orang tamu. Satu perempuan dan dua laki-laki. Busananya resmi. Mungkin kolega bisnis Romo.
"Azimah, duduk" Pinta Romo.
Aku duduk di ujung kursi. Sengaja agar tidak terlalu dekat dengan Romo.
"Ini dari universitas swasta di Bali. Pihaknya sudah membuka cabang di Lombok. Semacam kelas jauh. Bagaimana kamu tertarik?" Tanya Romo.
Aku masih belum mengerti apa hubungan mereka denganku. Kenapa aku dilibatkan dalam hal ini.
"Bukankah kamu kepingin kuliah kebidanan?"
Oh aku mengerti. Romo akan menguliahkanku. Tapi aku tidak mau terlalu percaya diri dulu. Jangan-jangan cuma prank.
"Jadi, mereka sengaja Romo panggil kesini untuk mendaftarkanmu menjadi mahasiswa di kampusnya" Jelas Romo.
"Benar Nyonya, Nyonya tidak perlu khawatir, sistem pembelajaran bisa dilakukan via online khusus untuk Nyonya. Sedang prakteknya jika Nyonya keberatan kami bisa menghadirkan petugas kesini. Namun jika Nyonya ingin praktek di rumah sakit seperti yang lainnya kami bisa mengusahakan" Jelas tamu yang perempuan
Ah aku tidak percaya ini. Aku akan kuliah? Kebidanan? Sesuai keinginanku. Sesuai impianku. Sesuai cita-cita yang selama ini kupupuk. Tunggu sebentar. Jika aku ikut dengan kampus ini. Berarti aku tidak jadi kuliah di Jogja. Lalu impianku bersama Firman? Akankah kuhentikan? Tapi jika aku tidak mengambil kesempatan ini akankah hadir kedua kali? Akankah aku tetap bisa ke Jogja bersama Firman?
Selama sekitar dua jam mereka mendata identitasku. Mereka membutuhkan ijazah SMA ku, untung saja semua sudah kubawa meski hanya copian. Awalnya aku ingin mengurus KTP di sini tetapi ternyata bisa bermanfaat untuk hal lain.
"Deni, biasanya orang kuliahan membutuhkan laptop dan printer. Besok segera belikan" Perintah Romo pada asistennya.
Uhuuu laptop dan printer sekaligus. Ah benar-benar mudah caraku menempuh impianku. Cukup Azimah jangan melihat wajah suamimu yang tua. Kebahagiaamu akan hilang jika kau melakukannya
Pria tua ini. Apakah ia sedang membeliku? Bukankah ia sudah melakukannya dengan menikahiku? Apa ia sedang mencoba membeli hatiku? Cih, jangan harap. Sampai kapanpun aku tidak mungkin menyukai pria tua sepertimu kecuali jika kau lepaskan aku, aku akan menganggapmu seperti ayahku.
***
Aku kini seorang mahasiswi. Tetapi aku jarang ke kampus. Aku menjalani kuliahku via daring -dalam jejaring-. Dosenku akan memberikan video pembelajaran dan aku akan mencatatnya. Jika ada yang kurang paham aku akan membuat video yang berisi pertanyaan atau materi yang kurang kupahami. Untuk dapat begini, Romo sampai merelakan sekitar satu milyar rupiah sebagai donasi di kampus itu. Sebagai imbalannya mereka memudahkanku mengikuti perkuliahan.
Pertanyaannya, kenapa aku tidak datang saja ke kampus seperti layaknya mahasiswa yang lain? Jawabannya jelas. Romo takut aku kecantol cowok mahasiswa. Jika hanya materi aku akan menjalani via daring. Namun jika ada praktek aku akan datang ke kampus. Itulah perjanjiannya. Perjanjian antara aku dan Romo.
Sekarang aku cukup sibuk. Tugas-tugas dari kampus seakan tak pernah berhenti. Tapi aku suka. Pada dasarnya aku memang suka belajar. Jadi dengan tugas yang seabrek tidak akan menyurutkan semangatku. Justru sebaliknya. Aku begitu suka dengan tugas itu.
Ibuku begitu senang mendengar berita ini. Aku kembali pada impianku. Sekalipun harapanku untuk berumah tangga secara wajar sudah hilang. Paling tidak impianku yang lain akan terwujud.
"Nyonya, Romo meminta semua berkumpul di ruang tengah" Marni mengingatkan.
Aku tahu hari ini Romo akan bepergian. Ini bukan pertama kali. Ia memang sering ke luar kota mengurus bisnisnya. Aku segera turun ke tempat dimana semua orang sedang berkumpul. Ketiga istri Romo yang lain juga sudah di sana. Mehmed pun ada di sana.
Aku segera duduk di samping Mbakyu. Begitu melihat kedatanganku, Mbakyu memberikan kode agar aku duduk di sampingnya. Huft, aku selalu menjadi yang terakhir datang.
"Baik, semua sudah berkumpul. Hani ini aku akan melakukan perjalanan ke Kalimantan, menengok usahaku di sana. Semua berdoa semoga aku selamat dan dapat kembali berkumpul dengan kalian" Kata Romo.
Ini pertama kalinya aku melihat Romo akan bepergian. Ternyata begini prosesinya. Hmm, cukup bagus sih. Ada semacam perpisahan begitu. Seandainya di tengah jalan ada apa-apa setidaknya ada kenangan manis.
"Jenny, kamu siap-siap, ikut saya, tiket sudah saya boking" Kata Romo.
Jenny tampak sumringah dengan hal itu. Sementara Lestari, tampak kecewa dengan keputusan Romo. Begitulah sejatinya kehidupan poligami. Tentu akan sakit jika suami memilih ke pelukan madunya.
Beberapa pelayan tambahan membantu Jenny mengemas barang-barang. Tak lama Jenny telah siap. Mereka berada dalam satu mobil. Deni ikut serta, dialah yang akan mengurus ini itu di Kalimantan termasuk penginapan tempat mereka menginap.
"Selama saya tinggal, rumah akan diurus oleh Bune, Bune semoga tidak akan ada masalah" Kata Romo sebelum masuk mobil
Kulirik Mbakyu. Ekspresinya tetap datar. Apa dia tidak cemburu seperti Lestari? Kalau aku? Jangan tanya tentangku. Aku begitu bebas jika dia tak ada. Setidaknya aku bisa tidur nyenyak tanpa bayang-bayang kedatangan Romo meminta jatah walaupun is sudah mengatakan baru akan menyentuhku jika usiaku sudah dua puluh lima tahun. Tetap saja was-was.
Dua mobil rombongan Romo dan para rekannya berangkat. Kami kembali masuk ke dalam rumah.
"Tolong buatkan jahe hangat, Mehmed, kamu mau minum apa?" Tanya Mbakyu.
"Jus buah naga Bu" Jawab Mehmed.
"Tolong siapkan, aku akan rehat sejenak di kamar. Bawakan ke kamar ya"
Pelayan yang menerima perintah itu segera ke dapur. Akupun meminta Tina membuatkanku kopi susu. Banyak sekali tigas kampus yang harus kukerjakan. Jika masih awal kuliah, tugasnya selalu seputar teori sehingga aku harus mengetik puluhan lembar setiap harinya.
Aku kembali ke kamarku. Tina mengekor dengan membawakan kopi susu yang kuminta. Beberapa cemilan basah tersedia di meja. Aku menuju balkon, sebelum mengerjakan modul aku harus membaca dan menandai bagian penting. Aku duduk di sana menghadap ke luar. Tepat di hafapanku afalah panotama kolam renang. Di sisi sebelah kiri aku bisa melihat balkon kamar Lestari. Sementara kamar Jenny dan Mbakyu berada di bagian rumah yang lain.
Hmm dari kejauhan rumah ini tampak sekali jauh dari pemukiman. Rumah ini berada di perbukitan namun akses jalannya sudah bagus dan tertata. Entah berapa luas area rumah ini. Mengelilingi rumah ini bisa membuat kaki pegal-pegal. Kuakui Romo pandai dalam memilih tempat. Sepi, indah namun mudah dalam memenuhi kebutuhan. Untuk bisa ke pasar, toko atau pemukiman bisa ditempuh sekitar dua sampai tiga kilometer. Rumah ini jauh dari pemukiman namun tidak terasa serem karena pelayan disini banyak. Otomatis rumah ini selalu ramai.
Aku melihat sesuatu di kamar Lestari. Ia sedang membanting barang-barang. Tapi aku tak begitu jelas karena tertutup tirai tipis. Kuperhatikan benar-benar. Aku mulai khawatir. Aku berlari menuju kamarnya. Kamarnya tertutup tapi tidak dikunci sehingga aku bisa masuk.
Aku terkejut karena seluruh kamar ini berantakan. Vas bunga pecah dimana-mana. Gelas-gelas juga demikian. Meja kursi sudah tidak pada tempatnya. Yang mengerikan adalah kedua pelayannya duduk tersungkur di lantai dan rambut ya acak-acakan. Lestari ngamuk. Sepertinya ia memarahi pelayannya dan menjambaki rambutnya. Kulihat tangan Lestari juga berdarah.
"Ngapain kamu kesini? Senang? Kayak tontonan? ha?!" Lestari membentakku. Seumur-umur baru ini aku dibentak seseorang.
"Ta...tangan kamu berdarah, Mbak Lestari" Kataku terbata-bata. Sebenarnya yang kukasihani adalah kedua pelayannya, bukannya dia.
"Jangan sok peduli ya, mentang-mentang anak kuliahan jadi nguliahin aku, keluar kamu. Keluar!!!" Aku dibentak sekali lagi.
"Ada apa ini!!" Mbakyu tiba-tiba sudah masuk ke kamar Lestari. Entah siapa yang memberitahunya. Tak heran, banyak pelayan disini yang pasti melihat kejadian ini.
"Mbakyu" Lestari tampak takut pada Mbakyu. Ia pasti tidak berpikir panjang bahwa pasti akan ketahuan oleh Mbakyu Halimah.
"Kenapa semua berantakan begini?" Tanya Mbakyu tegas.
"Mbakyu, bukankah ini waktuku untuk mendampingi Romo, kemarin sudah Jenny sebelum Romo nikahi Azimah, ini giliranku kan. Iya kan Mbakyu?" Lestari menumpahkan kekecewaannya.
"Yuni, Sul, kemari" Mbakyu memanggil kedua pelayan Lestari yang juga berantakan oleh amukan Lestari.
Kedua pelayan itu berdiri dan menuju belakang Mbakyu, seolah mencari perlindungan darinya. Kemudian Mbakyu mendekati Lestari.
"Tenanglah Lestari, jangan bertindak bodoh. Bukankah sudah peraturan bahwa kita tidak diperbolehkan protes jika Romo memilih salah satu diantara kita. Yang dipilih tidak bisa menolak dan yang tidak dipilih tidak boleh protes. Sudah berapa tahun kamu menjadi istri Romo. Hal begini saja masih belum paham?" Jelas Mbakyu.
"Saya yakin Jenny pasti pakai guna-guna Mbakyu" Kilah Lestari.
"Cukup. Jika Romo tahu kamu bisa kena hukuman. Kamu mau diceraikan Romo?" Mbakyu sedikit membentak.
Lestari menggeleng kuat.
"Benahi dirimu. Jaga sikapmu baik-baik sebagai istri Romo. Menjadi yang bukan satu-satunya memang berat konsekuensinya. Tapi Romo sudah memberikan yang lebih untuk kita semua bukan? Kemewahan yang tiada tara ini, siapa yang bisa memberi. Jadi jangan nglunjak. Benahi dirimu. Sul, panggil Sinta, suruh bantu bereskan kamar ini"
Sinta segera datang memenuhi panggilan Mbakyu. Ia datang bersama beberapa pelayan yang lain dan segera membereskan pecahan-pecahan gelas, vas bunga juga guci yang berserakan.
"Ingat, jaga mulut kalian. Jangan sampai Romo tahu soal ini atau kalian juga akan kena imbasnya" Perintah Mbakyu.
Aku hendak kembali ke kamar namun Mbakyu mencegah.
"Kamu juga Azimah, jangan sampai melapor pada Romo. Tutup mata dan telingamu" Kata Mbakyu.
Aku mengangguk pelan. Sampai kamar aku merenung. Aku tak habis pikir. Begitu bagganya lelaki berpoligami. Mereka tak tahu bagaimana batin istri yang terkoyak melihat suaminya pergi dengan perempuan lain sekalipun ia juga istri sahnya. Seharmonis-harmonisnya kehidupan poligami tetaplah ada kecemburuan di mata para istri. Hari ini aku menyaksikan sendiri, istri yang begitu cemburu melihat madunya.
Aku bersyukur. Aku tidak cemburu dengan Jenny, Lestari bahkan Mbakyu karena memang aku menikah hanya menutup hutang leluhur. Aku beruntung tidak memiliki rasa cinta untuk suamiku yang beristri lebih dari satu. Andai aku mencintainya tentu batinku akan sama terkoyaknya dengan Lestari.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕