"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Balik Asap Dapur
Dapur Kediaman Jati Jajar pagi itu begitu riuh. Uap air yang mendidih dari kuali besar membubung tinggi, membawa aroma nasi hangat dan tumisan bawang yang tajam. Laras dan Gendis sedang sibuk memotong sayuran, sementara Mbok Sum mengawasi tungku api yang terus menjilat dasar periuk.
Di tengah kesibukan itu, Jaka dan Wira melangkah masuk. Mereka masing-masing membawa wadah bambu berukuran besar yang biasa digunakan untuk menyimpan air minum di perjalanan jauh.
"Wira, ambilkan air di kendi besar itu. Nona Merah mewajibkan setiap sudut gudang memiliki persediaan air minum yang cukup," ucap Jaka sambil meletakkan wadahnya di atas meja kayu.
Wira mengangguk, tangannya yang masih dibalut kain tipis bergerak mengambil gelas-gelas tanah liat yang bersih. "Benar. Nona bilang, orang yang bekerja di bawah terik matahari atau di gudang yang pengap tidak boleh sampai kekurangan air. Itu katanya bagian dari prosedur keselamatan kerja agar pikiran tetap fokus."
Laras menghentikan irisannya sejenak, lalu menatap kedua pengawal itu dengan binar mata kagum. "Luar biasa ya? Tadinya saya pikir Tuan Besar akan marah besar melihat Nona Merah berubah jadi begitu rajin dan mencampuri urusan gudang. Tapi ternyata Tuan justru sangat bangga."
"Siapa yang tidak bangga?" sahut Gendis menimpali. "Nona Merah sekarang seperti memiliki mata elang. Dia tahu mana timbangan yang miring dan mana lada yang sudah berjamur. Seumur hidup saya di rumah ini, baru kali ini saya melihat ada anak majikan yang mau kotor-kotoran di gudang hanya untuk memastikan kita tidak merugi."
Di luar dapur, tepat di balik dinding bambu yang sedikit terbuka, Menjangan berdiri mematung. Dia sedang melakukan jalan pagi untuk melihat-lihat keadaan rumahnya setelah semalam penuh dengan emosi yang meluap.
Dia mendengar setiap kata yang diucapkan para pelayannya. Namun, sebelum dia sempat melangkah masuk, sebuah suara yang tajam dan dingin menyela percakapan itu.
"Kalian ini bicara apa? Memuji orang yang sebenarnya menjadi sumber petaka?"
Melati berdiri di ambang pintu dapur, menatap Jaka dan Wira dengan pandangan penuh kebencian.
Dia melihat Menjangan yang berdiri agak jauh dari sana, tapi dia berpura-pura tidak melihatnya. Melati menarik napas dalam, lalu mengeraskan suaranya agar terdengar jelas sampai ke halaman.
"Kalau bukan karena Nona Merah yang ceroboh dan hanyut di sungai tempo hari, kita semua tidak akan terluka seperti ini! Punggungku tidak akan hancur oleh cambuk, dan kaki kalian tidak akan bengkak!" Melati menunjuk luka-luka temannya dengan dramatis. "Bahkan Nona Putih harus menderita kelaparan karena mencemaskan kakaknya yang egois itu. Ini semua terjadi karena kelakuan Nona Merah yang sok tahu!"
Langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Menjangan melangkah masuk ke dalam dapur, membuat semua orang di sana seketika bersujud ke lantai dengan tubuh gemetar.
"Apa yang kalian lakukan? Pagi begini bukannya bekerja tapi malah sibuk menggunjingkan majikan?" tanya Menjangan dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan.
"Ampun, Tuan Besar! Mohon ampun!" teriak Jaka dan Wira bersamaan.
Menjangan menatap Melati yang masih tertunduk, lalu beralih ke arah Jaka. "Apa maksud perkataan pelayan ini tadi? Merah hanyut di sungai? Dan kenapa Putih sampai dibuat kelaparan? Sebenarnya apa yang terjadi pada putriku saat aku tidak ada di rumah?"
Jaka baru saja hendak membuka mulut saat Melati memberanikan diri untuk bersuara lebih dulu. Dia mengangkat wajahnya yang pucat, matanya dibuat berkaca-kaca seolah menahan penderitaan yang luar biasa.
"Itu benar, Tuan Besar," ucap Melati dengan nada yang sangat memelas. "Nona Merah memberikan beban yang sangat besar kepada kami semua. Dia sangat ceroboh di sungai Amerta sampai-sampai hanyut terbawa arus deras. Dan karena itu, kami semua harus menanggung hukuman cambuk dari Nyonya Besar karena dianggap gagal menjaganya. Nona Putih bahkan sampai jatuh lemas karena tidak makan berhari-hari demi mendoakan keselamatan kakaknya."
"Tutup mulutmu! Lancang sekali pelayan rendahan berbicara seperti itu tentang putriku!"
Sebuah teriakan melengking terdengar dari arah pintu masuk. Citra muncul dengan wajah yang memerah padam, tangannya sibuk mengibas-ngibaskan kipas pandan dengan sangat kencang.
Dia melangkah masuk dengan anggun tapi tatapannya sangat tajam tertuju pada Melati.
"Benarkah begitu, Adinda?" tanya Menjangan sambil menoleh ke arah istrinya. "Mengapa kamu tidak menceritakan soal kejadian di sungai ini kepadaku semalam?"
Citra tertegun sejenak. Dia tidak suka rahasia hukuman cambuknya terbongkar di depan suaminya, tapi dia juga merasa bingung karena di sisi lain, dia sangat bangga saat putrinya dipuji.
"Itu ... Kakang, aku tidak mau mengganggu ketenanganmu yang baru saja pulang. Memang Merah sempat hanyut, tapi dia selamat berkat keberuntungannya. Apa Kakang lebih percaya pada pelayan rendahan ini daripada kepadaku?" tanya Citra lagi dengan nada terluka yang dibuat-buat.
"Itu tidak benar, Tuan!" tiba-tiba Laras bersuara, mengalahkan rasa takutnya pada Citra. "Justru Nona Merah sangat baik kepada kami semua. Saat kami terluka dan tidak ada yang peduli, Nona Merah sendiri yang datang memberikan obat-obatan. Dia membawakan kami makanan yang terbaik, bahkan menyuapi Nona Putih dengan tangannya sendiri di kamar kami!"
"Apa katamu?" pekik Citra, matanya membelalak kaget.
"Benar, Tuan Besar," sahut Wira ikut membela. "Nona Merah melindungi kami dari kemarahan Nyonya Besar. Dia berjanji tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi kepada kami. Bahkan di pasar tempo hari, Nona Merah membela kami di depan para pedagang yang ingin mencurangi timbangan rempah pada keluarga kita. Dia sangat peduli pada keselamatan kami lebih dari apapun."
Citra mengibas-ngibaskan kipasnya semakin kencang, merasa hawa di dapur itu menjadi sangat panas baginya. Dia tidak suka dibilang tidak peduli pada pelayan, tapi dia juga tidak bisa membantah kesaksian yang begitu kompak dari orang-orang kepercayaannya.
Menjangan terdiam. Dia memproses setiap informasi yang masuk. Bayangan Merah yang rajin di gudang, sistem lidi yang jenius, dan kini kesaksian tentang kebaikannya kepada para pelayan.
Rasa bangga yang semalam sudah tumbuh kini semakin mengakar kuat di dalam dadanya. Dia melihat putrinya bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai seorang pemimpin yang memiliki hati nurani.
"Beraninya kamu berbicara seperti itu di depan Tuan Besar mengenai diriku!" bentak Citra ke arah Laras.
Laras segera tertunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar ketakutan. "Ampun, Nyonya Besar ... saya hanya mengatakan kebenaran."
Tiba-tiba, suara tawa yang ringan terdengar dari luar dapur. Rosie masuk dengan langkah santai, tangannya masih membawa beberapa ikat kayu manis yang baru dia sortir di halaman belakang. Dia mendengar hampir seluruh percakapan itu.
"Wah, ternyata aku dibicarakan sehebat itu ya?" ucap Rosie sambil tertawa bahagia.
Dia merasa sangat keren mendengar testimoninya sendiri dibacakan oleh para pelayannya. Rasanya seperti sedang mendengarkan pengumuman karyawan terbaik tahun ini di kantor pusat.
Namun, begitu dia menyadari tatapan tajam dari Menjangan dan wajah cemberut Citra, Rosie segera menutup mulutnya dengan tangan. Dia baru teringat kalau di zaman ini, tertawa lepas bagi seorang wanita bangsawan dianggap kurang sopan.
Dia memasang wajah malu-malu yang dibuat-buat, meskipun di dalam hatinya sedang merayakan kemenangan.
"Eh ... maksudku, itu semua sudah tugasku sebagai anak tertua di rumah ini untuk menjaga semuanya, Ayah," ucap Rosie sambil membungkuk sedikit ke arah Menjangan.
Pujian para pelayan itu semakin menguatkan posisi Rosie di mata ayahnya. Menjangan mengangguk pelan, memberikan senyuman penuh kehangatan kepada Rosie. "Kamu memang luar biasa, Merah. Ayah tidak menyangka kebijakanmu sampai menyentuh hati para pelayan kita."
Di balik bayang-bayang pintu kayu dapur, Putih berdiri mematung. Dia melihat bagaimana ayahnya memberikan tatapan penuh kasih itu kepada Rosie.
Dia melihat bagaimana Citra pun akhirnya terdiam tidak bisa membantah. Semua orang di dapur itu hanya fokus pada Merah, memuja setiap perubahannya, membicarakan setiap tindakannya.
"Orang-orang hanya fokus pada Merah," batin Putih dengan perasan perih yang luar biasa. Jemarinya meremas kain selendangnya hingga kusut. "Mereka benar-benar mengabaikan keberadaanku sekarang. Bahkan Melati yang terluka parah pun tidak ada menyebut namaku."
Rasa iri itu kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah tekad yang gelap. Putih menyadari bahwa di rumah ini, dia tidak lagi menjadi bintang yang paling terang. Dia merasa seperti bayangan yang perlahan menghilang ditelan oleh cahaya baru yang dibawa oleh Rosie.
Melati melirik ke arah Putih, menyadari kegelisahan majikannya. Dia mengepalkan tangannya di lantai, bersumpah di dalam hati bahwa dia akan mencari cara untuk menghancurkan citra Nona Merah yang baru ini.
Baginya, satu kali kesalahan Rosie di masa depan akan menjadi senjata yang paling ampuh untuk menjatuhkannya kembali.
Sementara itu, Rosie tetap berdiri dengan wajah yang pura-pura tenang, tidak menyadari bahwa kesaksian para pelayan yang membuatnya merasa hebat tadi, baru saja menyulut api dendam yang lebih besar di dalam hati adik kandungnya sendiri.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..