Ini merupakan sequel dari Pembalap Idola. Masih bercerita tentang Nicken yang harus LDRan Jakarta - Jogjakarta bersama Satria tapi tidak mengurangi rasa kepercayaan satu sama lain. Sampai pada akhirnya banyak pihak ketiga yang semakin menguji kekuatan cinta mereka berdua.
Munculnya Danise agak menggoyahkan hubungan Nicken dan Satria. Namun Danise melakukan itu karena diimingi impiannya menjadi fotografer terkenal oleh Deandra yang pada akhirnya diketahui motif Deandra ingin membalas dendam kepada Nicken dan semua kakaknya dan juga kepada.. Satria.
Bantuan dari Adam yang berpura-pura pacaran dengan Nicken membuat Nicken dan Satria berhasil membongkar rencana Deandra. Perlahan Adam dan Nicken pun ikut larut dalam perannya sebagai pacar gadungan. Akankah cinta Satria dan Nicken berakhir akibat Deandra dan Danise? Ataukah Nicken benar-benar terlibat cinta sesaat oleh Adam? Atau mungkin cinta Nicken dan Satria semakin mendalam dan mereka tidak terpisahkan?
Inget yaa.. Apabila ada kesamaan nama karakter atau tempat, itu hanya kebetulan. Karena semuanya fiktif belaka. Enjoy!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caroline Gie White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOTIF SI ORANG KETIGA
JOGJAKARTA.
Axel dengan sedikit celingukan mengamati rumah Danise dari dalam mobil Rubicon hitamnya. Dia nongkrong di sana sudah hampir 2 jam. Sebelumnya dia sempat mencari di tempat-tempat yang biasa Danise datangi tapi nihil, jadi dia memutuskan buat menunggu cewek itu langsung di depan rumahnya. Toh dia tidak bakal bisa kabur kemana-mana lagikan?
Untungnya malam itu para wartawan-yang beberapa hari sempat mantengin pagar rumah Danise- kayanya lagi capek juga menunggu Danise, jadi mungkin mereka lagi liburan bareng dulu sebelum memburu Danise lagi buat dimintai keterangan langsung. Dan untungnya lagi, satpam komplek sedang bertugas di blok lain jadi Axel tidak perlu khawatir bakal digrebek karena mengamati rumah orang di tengah malam.
Axel menguap lebar. Jam di mobilnya menunjukkan tepat tengah malam, tapi tidak ada tanda-tanda Danise atau penghuni lainnya di dalam rumah.
Kalau bukan karena Satria, gue malas mengurus hal kaya gini.
Diapun menguap lagi. Beberapa menit kemudian, penantian panjangnya pun berbuah manis. Sebuah mobil yang Axel kenal banget adalah mobil Danise berhenti di depan pintu pagar dan Danise pun keluar dari mobil buat membuka pintu pagar. Dengan sigap dan gagah berani, Axel keluar dari mobilnya dan langsung menangkap lengan Danise yang kelihatan banget kagetnya.
“Kalau lo teriak, gue bunuh lo.” Ancam Axel yang pasti tidak serius tapi berhasil membuat Danise diam dan pasrah. Dengan tetap memegang lengan Danise, Axel membuka pintu mobil Danise lalu mengambil kuncinya dan menguncinya dari luar. Diapun menarik Danise menuju mobilnya dan merekapun pergi.
“Kenapa lo tega melakukan ini semua?” Tanya Axel dijutek-jutekin.
Danise terdiam dan membiarkan rambutnya dimainkan sama angin pantai.
“Lo sudah merencanakan ini semua dari awal? Iya?” Axel tetap mendesak Danise buat ngomong.
“Gue suka sama Satria.. at last.” (pada akhirnya.) Diapun akhirnya ngomong.
“At last? Maksud lo?”
Danise menghela nafas. Matanya tetap memandang pantai di depannya. “Awalnya gue cuma disuruh buat merusak hubungan Satria sama Nicken..”
“Tunggu..” Axel memotong omongan Danise. “Lo disuruh sama siapa?”
“Gue enggak tahu hubungan cowok ini sama Nicken dan Satria apa, dia cuma mau gue merusak hubungan mereka dengan imbalan gue bisa ke Milan tanpa audisi. Tapi pada akhirnya, gue ternyata.. suka sama Satria biarpun dia enggak pernah anggap gue ada di dekatnya.”
Axel mendengus sinis. “Terus cowok itu siapa?”
Danise lagi-lagi terdiam.
"Kak, lo sudah sampai mana?” Axel memacu kendaraannya di jalan yang terlihat sepi.
“Gue baru masuk perbatasan, Kak, kenapa? Kok lo belum tidur? Masih di jalan ya? Lo darimana sih?”
“Bisa agak cepetan enggak? Gue tunggu di rumah. Ini soal Danise.”
“Lo sudah berhasil menemukan dia?”
“Pokoknya lo cepat sampai rumah, gue bakal cerita semuanya.”
“Oke.”
Satria mematikan ponselnya dan langsung menyalakan kedua lampu hazardnya lalu menambah kecepatan mobilnya mengikuti 1 mobil patroli dan 1 mobil lagi di belakangnya.
“Pada akhirnya dia suka beneran sama lo.”
Satria jalan mondar-mandir di depan Axel sambil mikir. “Terus siapa yang menyuruh dia?”
“Itu yang belum berhasil gue dapatkan. Maaf ya.”
“It’s okay, Kak. Lo berhasil menemui dia saja sudah bagus banget.”
“Rencana lo apa sekarang?”
Satria berhenti mondar-mandir lalu menatap Axel. “Gue mesti ketemu sama dia. Tapi gue numpang tidur dulu di sini ya, gue ngantuk banget.”
Axel tertawa lalu bangun dari duduknya dan mengacak rambut Satria. “Gue ambil baju dulu buat lo.”
“*Thanks, Brother*.”
Axel menuju lemarinya dan Satria merebahkan badannya di tempat tidur dan terdiam.
JAKARTA.
Belum ada yang berubah dari Nicken. Dia masih senang berjibaku sama hobinya yang baru, melamun. Padahal salah satu masalah dia di Keamanan sudah selesai, biarpun dia masih rada dendam banget sama Deandra dan masih mempertanyakan dalam hati sebenarnya Deandra punya masalah apa sama Canopus atau mungkin sama dia. Tidak berapa lama Nico duduk di sampingnya sambil memberikan sekotak susu coklat.
“Thanks, Nick.”
“Keamanan diurusinlah.” Sahut Nico sambil meminum air mineralnya.
“Gue masih enggak terima sama Deandra, Nick. Pasti ada maksud lain kenapa dia bisa melibatkan banyak orang buat hal yang sepele.” Nicken menyeruput susu kotaknya dengan sedotan.
Nico tersenyum lalu merubah duduknya menghadap Nicken. “Kalau menurut gue sih, dia masih suka banget sama lo.”
“Gue serius, Nick.”
“Gue juga serius, De. Gue yakin dia mau membuat lo simpati gara-gara bantu lo menyelesaikan masalah David.”
“Dia bantu gue buat merumitkan masalah gue.”
“Berarti strategi dia salah dan untungnya adik gue enggak terpancing.”
Nicken mendengus. “Enggak bakal. Tapi kayanya ada faktor lain deh.”
“Misalnya? Kalian kan enggak pernah ada urusan, kecuali dia yang emang sempat naksir lo.”
“Nicky sama Vicky pasti tahu sesuatu.”
...***...
Nicky masih saja mendribble bola basket di lapangan komplek biarpun dari tadi Nicken menyerocos ke arahnya. Lagi-lagi Nicken masih mencari jawaban yang mebuat dia puas dan berhenti dendam sama makhluk yang namanya Deandra.
Dia tahu dulu emang ada masa lalu yang tidak enak dialamin antara Canopus dan Harapan Bangsa yang membuat Harapan Bangsa sempat menutup diri. Tapi waktu Deandra naik jadi Ketua Keamanan, dia berjiwa besar menyelesaikan semuanya dan mengembalikan nama SMU Harapan Bangsa ke peradaban.
Nicken masih ingat banget juga kalau Deandra emang pernah bilang suka sama dia, tapi waktu itu Nicken masih duduk di SMP, dia belum mau pacaran dan emang belum diijinkan sama Ayah dan Bunda. Seharusnya emang tidak perlu ada sesuatu karena saat itu Deandra kaya menerima alasan Nicken dan mau menerima kenyataan kalau cowok seganteng dia ditolak sama anak SMP. Mungkin benar kata Nico kalau Deandra usaha lagi buat menarik simpati Nicken tapi dia merasa ada hal lain dibalik kelakuan Deandra kemarin.
“Kak, please, listen to me.”
Nicky akhirnya menghentikan gerakan bola basketnya lalu menghampiri Nicken.
“Gue enggak bisa menjelaskan apa-apa ke lo, tapi cuma satu saran gue, jangan pernah terpancing sama hal-hal yang bisa bikin hidup lo makin rumit. Dan gue bangga banget lo masih pakai kepala dingin lo buat menyelesaikan masalah kemarin biarpun lo sama anak-anak lo dapat banyak tekanan.”
“You don’t answer my question." (Lo enggak menjawab pertanyaan gue.)
Nicky meletakan tangannya di kepala adik ceweknya itu. “Lo sudah dapat jawabannya tanpa lo sadari. Sudah sana mandi, sudah sore dan tolong bilang Nico, jangan telat jemput Vicky.”
Nicky membalikan badan Nicken dan sedikit mendorongnya pergi. Nicky hanya bisa tersenyum melihat Nicken berjalan menuju rumah lalu dia kembali mendribble bolanya dan memasukkan ke dalam ring.
Jangan pernah ganggu adik gue lagi, Yan, atau gue enggak bakal anggap lo lagi.
JOGJAKARTA.
Satria menatap sirkuit dari tribun paling atas tempat dia duduk sekarang. Habis latihan tadi dia langsung menyepi dan melamun, sama kaya yang sering Nicken lakukan akhir-akhir ini. 2 orang kru yang biasa mengawalnya sengaja duduk agak jauh dari dia tapi mereka masih bisa memastikan kalau tidak ada media yang ganggu ‘artis’ mereka. Tidak berapa lama Dude menghampiri dan mereka tidak bisa melarang Bos mereka mendekati Satria yang lalu duduk di sampingnya.
“Masih mikirin masalah cewek itu?”
“Axel, sudah berhasil menemui dia, dan dia diperalat orang lain buat melakukan itu semua.”
“Orangnya siapa?”
“Itu yang belum berhasil gue dapatkan. Dia enggak mau mengaku.”
“Lo ada bayangan kira-kira siapa yang bisa melakukan itu ke kalian?”
“Ada beberapa nama, tapi gue enggak mungkin bilang karena gue enggak punya bukti.”
“Cepat selesaiin karena gue enggak mau ini semua ganggu konsentrasi kalian di sirkuit.”
Satria mengangguk dan lagi-lagi terlihat berpikir.
To be continued......
Author : Terimakasih buat yang sudah mampir. Like dan komen kalian sangatlah berarti..
yuppy datang lagi bawa 8 like buat KK
terus semangat berkarya ya 💐
bdw mampir juga ya kak di novelku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Ceritamu sangat sayang dilewatkan
Semoga kunjunganku tidak membuatmu bosan
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
dikaryamu yang hebat
Tetap semangat
salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
Maaf lama baru mampir
Ditunggu kelanjutannya
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"