Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Zain masih memandangi layar ponselnya. Panggilan sudah berakhir dan nama penelepon tidak tersimpan—hanya deretan angka.
"Kepada Profesor Surya?" gumamnya pelan.
Kakek yang sedang menyuap mi menoleh. "Kenapa?"
Zain meletakkan ponselnya di meja. "Tadi ada orang nelepon."
"Siapa?"
"Katanya rekan Profesor."
"Terus?"
"Dia bilang jangan terlalu cepat percaya sama siapa pun, khususnya Profesor Surya."
Kakek tidak langsung menjawab. Ia menyeruput kuah mi terlebih dahulu. "Lalu menurutmu?"
"Hah?"
"Kamu sendiri gimana?"
Zain berpikir sejenak. "Selama ini Profesor baik, enggak pernah marah, enggak pernah minta yang aneh-aneh. Kalau kerja juga selalu dibayar."
"Ya sudah," Kakek mengangguk. "Berarti lihat saja terus."
"Maksud Kakek?"
"Kepercayaan itu dibangun, bukan diberikan sekaligus. Jangan langsung percaya, tapi jangan juga langsung curiga."
Zain tersenyum kecil. "Kakek bijak juga."
Kakek terkekeh. "Umur tujuh puluh lima, masa enggak ada manfaatnya."
Mereka pun tertawa bersama.
...
Senin pagi, kehidupan kembali berjalan normal. Zain menerima orderan sejak pukul enam. Penumpang pertama seorang pegawai rumah sakit, penumpang kedua seorang mahasiswa, dan penumpang ketiga seorang bapak yang terus menelepon selama perjalanan.
Semua berjalan seperti biasa. Namun di sela-sela menunggu orderan, pikiran Zain kembali mengingat telepon semalam.
*Jangan terlalu cepat percaya kepada Profesor Surya.*
"Ah..." Ia menggeleng. "Mungkin cuma salah paham."
Ponselnya berdering menandakan orderan baru masuk. Lokasinya hanya tiga ratus meter. Begitu tiba, Zain sedikit terkejut.
"Pak Ardi?"
Pria berkacamata itu tersenyum tipis. "Kebetulan sekali."
"Bapak yang kemarin?"
"Iya. Ke kampus, ya."
"Silakan."
Ardi naik ke jok belakang dan perjalanan pun dimulai.
Beberapa menit pertama, tidak ada yang berbicara. Ardi yang justru memecah keheningan.
"Profesor sering bercerita tentangmu."
"Lho?"
"Katanya kamu anak yang rajin."
Zain tertawa kecil. "Beliau berlebihan."
"Bukan. Prof jarang memuji orang."
Zain tidak tahu harus menjawab apa.
Ardi kembali berkata, "Kamu tahu penelitian beliau?"
"Enggak. Beliau juga belum pernah cerita."
Ardi mengangguk pelan. "Bagus."
"Bagus?"
"Artinya Prof masih berhati-hati."
Zain semakin bingung. "Bapak sebenarnya maksudnya apa?"
Ardi terdiam beberapa saat, lalu menjawab pelan. "Prof Surya adalah orang yang sangat baik. Tapi... kadang orang yang terlalu baik juga bisa membuat keputusan yang berbahaya."
"Berbahaya?"
"Bukan karena jahat, tetapi karena terlalu yakin."
Motor berhenti di lampu merah. Ardi memandang ke arah jalanan.
"Dulu... ada seseorang yang hampir kehilangan nyawanya karena proyek itu."
Zain spontan menoleh lewat spion. "Siapa?"
Ardi hanya tersenyum tipis. "Lain kali saja."
Lampu berubah hijau dan motor kembali melaju.
Sesampainya di kampus, Ardi turun. Sebelum berjalan pergi, ia berkata, "Kalau suatu hari nanti Prof meminta sesuatu yang besar darimu... jangan langsung menjawab. Berpikirlah dulu."
Zain mengangguk pelan. "Baik, Pak."
Ardi berlalu memasuki gedung. Zain tetap bergeming beberapa saat di atas motornya.
Ia mulai bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang pernah terjadi di laboratorium itu? Dan mengapa setiap orang yang mengenal Profesor Surya selalu berbicara seolah ada sebuah rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Hari Selasa datang seperti biasa. Zain kembali mengantar Profesor Surya ke kampus, namun kali ini suasananya berbeda. Profesor tampak lelah dan di bawah matanya terlihat lingkaran hitam yang cukup tebal.
"Bapak lembur lagi?"
Profesor tersenyum tipis. "Semalaman."
"Pak, nanti sakit."
"Kalau penelitian sudah dekat... kadang waktu tidur memang berkurang."
Zain menggeleng sambil tertawa. "Saya mah enggak kuat."
Profesor hanya mengangguk. "Tidak usah ditiru."
Sesampainya di kampus, Profesor tidak langsung turun. "Zain."
"Iya, Pak?"
"Kalau kamu tidak sedang buru-buru... temani saya sebentar."
"Boleh."
Mereka berjalan melewati lorong yang belum pernah dilewati Zain. Tujuannya bukan menuju laboratorium bawah tanah, melainkan ke lantai tiga gedung tua.
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu kayu dengan tulisan kecil: RUANG ARSIP.
Profesor membuka pintu dengan sebuah kunci kuningan. Begitu pintu terbuka, aroma kertas tua langsung memenuhi ruangan.
Rak-rak besi berjajar hingga ke langit-langit, penuh dengan map, kotak, dokumen, dan buku-buku penelitian yang usianya puluhan tahun.
"Pak... semua ini penelitian?"
"Sebagian. Sebagian lagi sejarah."
Profesor mengambil sebuah map tebal dari rak paling atas. Debunya cukup tebal.
"Sudah lama tidak dibuka."
Zain membantu membersihkan meja, lalu Profesor meletakkan map itu dengan hati-hati. Di sampulnya tertulis: PROYEK KRONOS.
Zain membaca pelan. "Kronos? Itu nama proyek Bapak?"
Profesor mengangguk. "Nama lamanya."
"Kenapa Kronos?"
"Dalam mitologi Yunani... Kronos berkaitan dengan waktu."
"Oh..." Zain mengangguk-angguk meski tidak terlalu paham.
Profesor membuka map tersebut. Isinya foto-foto lama, gambar teknik, catatan tangan, dan puluhan hasil pengujian.
Di halaman pertama tertulis tahun: 1998.
"Pak... Bapak mulai penelitian ini dari tahun segitu?"
"Iya."
"Berarti... hampir tiga puluh tahun."
Profesor tersenyum kecil. "Hampir."
Zain spontan bersiul pelan. "Tahan juga ya."
Profesor menatap lembaran-lembaran itu. "Kadang saya sendiri heran."
Saat Profesor sibuk mencari dokumen tertentu, mata Zain tak sengaja tertuju pada sebuah foto. Foto laboratorium lama yang memperlihatkan lima orang berdiri di depannya: Profesor Surya yang masih muda, Rio, beberapa peneliti lain, dan... seorang pria berkacamata.
"Pak."
"Hm?"
"Ini Pak Ardi kan?"
Profesor melihat foto itu. "Iya."
"Lho? Saya kira beliau baru gabung."
Profesor menggeleng. "Tidak. Ardi sudah bersama saya sejak awal."
"Sejak awal?"
"Iya. Dulu dia mahasiswa, sekarang dia menjadi penghubung dengan pihak pendanaan."
"Oh..."
Jadi Ardi bukan orang baru. Ia sudah mengikuti proyek ini bertahun-tahun.
Profesor akhirnya menemukan dokumen yang dicari. Namun saat hendak menutup map, sebuah lembar foto kecil terjatuh ke lantai.
Zain buru-buru mengambilnya. Begitu melihat isi foto itu, ia terdiam.
Foto tersebut memperlihatkan sebuah kendaraan yang ditutupi kabel dan alat-alat aneh. Bentuknya sangat mirip dengan motor merah marun milik Profesor.
Namun yang membuat Zain membeku bukan itu. Di bagian belakang foto, seseorang menulis dengan tinta hitam: Uji coba ke-47. Gagal. Objek tidak kembali.
Zain membaca tulisan itu dua kali, lalu perlahan menoleh ke arah Profesor Surya.
"Pak... objek... tidak kembali itu maksudnya apa?"
Profesor Surya yang sedang merapikan dokumen langsung berhenti bergerak. Ruangan mendadak sunyi.