NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Tak Pernah Cukup

Ucapan Bu Mirna kemarin masih membekas di hatiku.

"Kalau saya jadi dia, mah pasti kasih semua gajinya ke mertua."

Aku mulai menyadari satu hal. Berapapun yang kuberikan, sepertinya tidak akan pernah cukup di mata beliau. Namun, aku tetap memilih diam. Aku masih ingin menghormati ibu dari suamiku.

Pukul empat pagi seperti biasa aku sudah berada di dapur. Aku baru saja selesai memotong sayuran ketika Bu Mirna masuk sambil menguap.

"Sudah bangun?" Ucap Mertuaku.

"Iya, Ma."

"Hari ini masak apa?"

"Sayur lodeh sama ayam goreng." Jawabku.

Bu Mirna membuka tutup panci. "Hmm... ayamnya sedikit ya."

"Ada satu ekor, Ma." Jawabku.

"Besok tambah dua ekor aja." Ucap mertua dengan enteng.

Aku tersenyum kecil. "Nanti disesuaikan sama uang belanja ya, Ma."

Beliau langsung menoleh kepadaku.

"Loh, kan sekarang kamu sudah kerja.Kalau kurang ya tambah pakai uang kamu."

"Iya, Ma. Kalau memang perlu." Jawabku.

Bu Mirna mengangguk puas.

"Nah, begitu."

Sore harinya aku pulang sedikit lebih lambat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Begitu membuka pintu rumah, ruang tamu terlihat berantakan. Bungkus camilan berserakan. Gelas bekas minum ada di meja. Lantai juga penuh remah makanan. Belum sempat aku meletakkan tas kerja, Bu Mirna keluar dari kamarnya.

"Fitri." Panggil mertuaku.

"Iya, Ma."

"Kamu sapu sama pel ya." Perintah nya.

Aku melihat jam tangan. Sudah hampir pukul enam sore.

"Iya, Ma."

Aku masuk ke kamar lebih dulu untuk meletakkan tas dan ganti baju. Belum sampai lima menit, suara Bu Mirna kembali terdengar.

"Fitri."

"Iya, Ma?" jawabku singkat.

"Lama amat. Orang nyuruh nyapu sama pel doang." Ucap beliau meninggi.

Aku kembali keluar. "Iya, Ma. Ini juga mau mulai."

Aku mengambil sapu. Saat sedang menyapu, Dinda keluar dari kamarnya sambil membawa semangkuk mi instan.

"Mbak."

"Iya?"

"Nanti mangkuknya sekalian dicuci ya." Ucapnya meletakan mangkuk di tempat cuci piring.

Aku menoleh.

"Dinda."

"Hm?"

"Kamu habis makan kan?"

"Iya. Kenapa sih?" Jawabnya dengan merengut

"Ya dicuci sendiri dong."

Dinda langsung memasang wajah kesal.

"Lah, sekalian sama piring yang lain."

"Aku baru pulang kerja."

"Aku juga capek kuliah."

Aku tersenyum tipis.

"Kalau capek, ya kita sama-sama belajar bertanggung jawab."

Dinda mendengus pelan.

"Ih, pelit tenaga."

Dia meletakkan mangkuk itu di meja lalu pergi begitu saja.

Aku baru selesai mengepel ketika Mas Viyan pulang.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Jawabku.

Mas Viyan melihatku yang masih memegang pel.

"Kamu baru selesai?"

"Iya."

Belum sempat aku menjelaskan, Bu Mirna sudah lebih dulu berbicara.

"Kasihan ya Yan."

Mas Viyan menoleh.

"Kenapa, Ma?"

"Istri kamu sekarang sibuk kerja." Ucap mertuaku.

Aku mengernyitkan dahi.

"Rumah jadi enggak keurus." Lanjut nya lagi.

Aku menatap Bu Mirna tak percaya. Sejak pagi aku memasak. Pulang kerja aku langsung menyapu dan mengepel. Lalu bagaimana bisa rumah ini disebut tidak terurus?

Mas Viyan melihat ke sekeliling rumah.

Ruang tamu bersih.

Lantai mengilap.

Meja makan juga sudah rapi.

"Menurutku bersih kok, Ma."

Bu Mirna langsung tertawa kecil.

"Ya sekarang bersih. Tadi mah berantakan."

Aku ingin mengatakan kalau yang membuat berantakan bukan aku. Namun aku memilih diam.

***

Malam itu, saat kami sedang makan, Dinda tiba-tiba membuka pembicaraan.

"Bang." Panggil Dinda.

"Iyaa?"

"Kampusku mau study tour." Ucapnya lagi.

"Oh ya?" respon suamiku datar.

"Iya..Butuh biaya bang.." Ucap Dinda lagi

"Berapa?" tanya suamiku.

"Rp3.000.000 aja kok bang." ucap Dinda enteng.

Mas Viyan langsung tersedak.

"Tiga juta?"

"Iya bang. Harus ikut tuh. Kalau enggak, nilai ku ga bakalan keluar" ucap Dinda.

Bu Mirna ikut menyela.

"Yan."

"Iya, Ma?"

"Kalau bisa dibantu tuh adek mu." Ucap mertuaku.

Mas Viyan menghela napas. "Ma, bulan ini aku belum bisa."

Bu Mirna langsung menunjuk ke arahku. "Kan ada Fitri."

Aku yang sedang makan langsung menghentikan gerakan tanganku.

"Ma?" Ucap Mas Viyan ingin menolak.

"Fitri kan baru gajian." Lanjut mertua lagi.

"Iya tuh. Mbak kan aru gajian. Bagilah" Ucap Dinda menambahi.

Aku tersenyum sopan. "Maaf, Ma. Gaji Fitri sebagian sudah ditabung. Sebagian lagi buat kebutuhan aku sama Mas."

Wajah Bu Mirna mulai berubah. "Tabung lagi. Study tour cuma sekali ini. Jangan pelit sama keluarga suami mu."

Aku menatap Mas Viyan. Suamiku tampak serba salah.

"Ma."

"Apa?"

"Nanti aku usahakan cari tambahan."

"Lama." Ucap Mertua merengut wajahnya.

"Tapi jangan minta ke Fitri terus." Ucap Mas Viyan dengan jelas.

Kalimat itu membuat suasana meja makan mendadak sunyi. Aku menoleh ke arah Mas Viyan. Ini adalah kedua kalinya... Dia membelaku di depan ibunya.

Wajah Bu Mirna langsung memerah.

"Kenapa? Sekarang istri lebih penting daripada adik sendiri?" Suaranya agak meninggi.

"Bukan begitu, Ma." Ucap Mas Viyan.

"Lalu bagaimana?"

"Fitri juga punya kebutuhan."

Bu Mirna langsung berdiri.

"Iya sudah."

"Mulai sekarang Mama enggak akan minta apa-apa lagi."

Beliau pergi meninggalkan meja makan.

Dinda ikut berdiri.

"Dih. Baru punya kakak ipar pelit."

Dia menyusul ibunya masuk ke kamar. Kini tinggal aku dan Mas Viyan di meja makan.

Aku menundukkan kepala. "Maaf ya, Mas."

Mas Viyan menggeleng. "Kamu enggak salah."

"Tapi gara-gara aku..."

"Enggak."

Mas Viyan menggenggam tanganku. "Yang salah itu kalau semua orang menganggap hasil kerja kamu adalah hak mereka."

Aku menatap wajah suamiku. Untuk pertama kalinya sejak menikah... Aku melihat Mas Viyan mulai berani menyampaikan pendapatnya. Meski masih pelan. Meski masih hati-hati.

Setidaknya...

Dia mulai berdiri di sampingku.

Namun kami tidak tahu... Di balik pintu kamar, Bu Mirna dan Dinda sedang berbicara dengan suara pelan.

"Ma."

"Hmm?"

"Kalau Abang terus bela mbak Fitri begini...lama-lama Abang enggak bakal nurut lagi sama Mama."

Bu Mirna menyipitkan matanya. "Tenang..Masih ada banyak cara."

"Cara apa, Ma?" Tanya Dinda.

Senyum tipis terukir di bibir Bu Mirna.

"Kalau enggak bisa menguasai uangnya..Mama akan buat Fitri kehilangan kepercayaan Viyan."

Dinda ikut tersenyum.

Mereka berdua sama sekali tidak menyadari... Rencana itu akan menjadi awal dari fitnah yang jauh lebih besar, hingga membuat rumah tangga kami berada di ambang kehancuran.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!