NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Peduli

Malam semakin gelap ketika suara ledakan kembali mengguncang kota. Di pos kemanusiaan, Amara sedang membantu beberapa warga yang baru tiba dari wilayah timur. Seorang anak kecil menangis sambil memeluk ibunya. Seorang pria tua duduk di lantai dengan luka di bagian kepala. Beberapa relawan berlari membawa kotak obat dari satu ruangan ke ruangan lain.

“Amara, kita kekurangan perban!” teriak salah satu relawan.

“Aku ambil dari kendaraan.”

Amara segera keluar dari bangunan. Hujan mulai turun mengguyur kota itu. Tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat jalanan berubah licin. Di kejauhan, suara tembakan masih terdengar. Beberapa kendaraan militer melintas dengan kecepatan tinggi.

Amara membuka bagian belakang kendaraan dan mengambil satu kotak perlengkapan medis. Namun sebelum ia kembali ke dalam, suara ledakan terdengar dari arah timur. Tanah bergetar. Dan beberapa warga langsung berteriak.

“Asapnya semakin dekat!” kata seorang relawan.

Amara menatap ke arah jalan. Langit terlihat berwarna kemerahan dengan asap hitam mulai naik dari beberapa bangunan. Salah satu petugas keamanan berlari menuju mereka.

“Semua relawan masuk ke tempat perlindungan!”

“Bagaimana dengan warga yang masih berada di luar?” tanya Amara.

“Kami sedang membawa mereka.”

Amara memandang jalan yang mulai dipenuhi orang-orang berlari. Di tengah kekacauan itu, ada seorang perempuan tua terlihat kesulitan berjalan. Amara segera meletakkan kotak obat dan berlari menghampirinya.

“Ayo, ikut saya.”

Perempuan itu menggenggam tangannya.

“Mereka masih di sana.”

“Siapa?”

“Anakku.”

Amara menoleh.

“Di mana?”

Perempuan itu menunjuk ke arah bangunan tua yang sebagian sudah runtuh.

“Dia tadi pergi mencari suamiku.”

Amara menatap bangunan itu.

“Amara!” teriak salah satu relawan. “Jangan ke sana!”

Namun Amara sudah berlari. Ia tidak tahu apakah masih ada orang di dalam. Ia juga tidak tahu apakah bangunan itu akan kembali terkena serangan. Namun ia tidak bisa membiarkan seseorang berada di sana tanpa bantuan.

Saat memasuki reruntuhan, bau asap dan debu langsung memenuhi udara.

“Apakah ada orang di sini?” teriak Amara.

Tidak ada jawaban. Ia melangkah melewati pecahan dinding dan kayu yang berserakan.

“Kalau ada yang mendengar, jawab!”

Bangunan itu masih sunyi. Amara terus berjalan menuju bagian belakang bangunan. Kemudian ia melihat sesuatu. Seorang pria terbaring di dekat dinding yang runtuh. Tubuhnya tertutup debu dan darah. Jas hitam yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian. Salah satu tangannya menekan luka di perut. Wajahnya pucat, tetapi fitur wajahnya masih terlihat jelas.

Pria dengan rahang tegas, rambut pirang, dan mata abu-abu yang menatap tajam meskipun tubuhnya hampir tidak mampu bergerak.

Amara segera berlutut di sampingnya.

“Apakah kamu bisa mendengarku?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Amara memeriksa lukanya. Di sana darah masih mengalir.

“Kalau kau tetap di sini, kau akan mati,” ujar Amara singkat.

Pria itu tertawa kecil meski napasnya terdengar berat.

“Kau bahkan tidak tahu siapa aku.”

Amara mulai membuka tas medisnya.

“Aku tidak peduli.”

Leon terdiam.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap perempuan di hadapannya.

Selama hidupnya, orang-orang selalu bereaksi ketika mengetahui siapa Leon Volkov. Sebagian langsung menunjukkan rasa hormat. Sebagian terlihat takut. Sebagian mencoba mengambil keuntungan dari namanya.

Namun perempuan ini bahkan tidak bertanya. Ia tidak ingin tahu siapa dirinya. Ia hanya ingin menghentikan darah yang terus mengalir dari tubuhnya.

“Kau terluka cukup parah,” ujar Amara.

“Aku masih bisa berjalan.”

Amara menatapnya datar.

“Kalau kau bisa berjalan, kenapa masih terbaring di sini?”

Leon tidak menjawab. Amara mengambil kain dan menekan bagian luka.

Leon menarik napas tajam.

“Pelan sedikit.”

“Kalau mau pelan, kau bisa menolong dirimu sendiri.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Leon hampir tersenyum. Sementara di luar bangunan, suara tembakan kembali terdengar.

Amara menoleh ke arah pintu.

“Kita harus pergi.”

“Kau pergi saja.”

“Apa?”

“Aku hanya akan memperlambatmu.”

Amara berdiri.

Kemudian ia meraih salah satu lengan Leon.

“Bangun.”

Leon menatapnya.

“Kau tidak mendengar?”

“Aku mendengar.”

“Kalau begitu, tinggalkan aku.”

Amara menggeleng.

“Aku tidak akan meninggalkan orang terluka.”

“Kau bisa mati.”

“Kalau kita tetap di sini, kita berdua bisa mati.”

Amara berusaha membantu Leon berdiri. Namun tubuh pria itu terlalu berat. Leon mencoba berjalan beberapa langkah, lalu kehilangan keseimbangan.

Amara segera menahannya.

“Kau lebih berat daripada kelihatannya.”

“Kau bisa pergi.”

“Diam.”

Leon kembali menatapnya. Perempuan itu terlihat kesal. Rambutnya mulai basah terkena hujan. Wajahnya dipenuhi debu. Namun tangannya tetap memegang lengannya dengan kuat. Tidak ada rasa takut dalam tatapannya. Atau mungkin saja ia takut, tetapi memilih untuk tidak meninggalkannya.

Mereka berjalan perlahan menuju jalan utama. Namun baru beberapa langkah, suara tembakan terdengar lebih dekat.

Amara langsung menarik Leon ke balik dinding.

“Menunduk!”

Leon bergerak cepat meskipun tubuhnya terluka. Beberapa peluru menghantam bagian atas bangunan.

Amara menutup kepala dengan kedua tangannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Leon.

Amara mengangguk.

“Kau?”

“Aku pernah mengalami yang lebih buruk.”

“Jangan bicara. Hemat tenaga.”

Leon menatapnya.

“Kau selalu memerintah orang asing?”

“Hanya yang keras kepala.”

Mereka kembali berjalan ketika suara tembakan mulai menjauh. Di depan bangunan, sebuah kendaraan bantuan terlihat berhenti.

“Amara!” teriak salah satu relawan. “Cepat!”

Amara mencoba membawa Leon menuju kendaraan. Namun ketika mereka hampir sampai, suara ledakan kembali terdengar. Dentuman yang menggelegar menyebabkan tanah bergetar.

Leon kehilangan keseimbangan dan jatuh. Amara ikut terjatuh di sampingnya.

“Leon!”

Pria itu membuka mata perlahan.

Amara menatapnya.

“Kau belum bilang namamu.”

Leon terdiam beberapa detik.

“Leon.”

“Baik, Leon. Sekarang berdiri.”

Amara kembali menarik lengannya, dan mereka berhasil mencapai kendaraan. Dua relawan langsung membantu membawa Leon masuk.

“Siapa dia?” tanya salah satu relawan.

Amara menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

“Kau tidak tahu siapa dia?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau mempertaruhkan nyawamu?”

Amara menatap pria yang kini terbaring lemah di dalam kendaraan.

“Karena dia butuh pertolongan.”

Leon mendengar jawaban itu. Matanya tetap tertuju pada Amara. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang menyelamatkannya tanpa mengetahui nama Volkov. Tanpa mengetahui kekuasaannya. Tanpa mengetahui bahwa banyak orang di dunia takut kepadanya. Perempuan itu hanya melihat seorang manusia yang terluka.

Kendaraan mulai bergerak menuju pos kemanusiaan. Amara duduk di dekat Leon sambil terus menekan bagian lukanya.

“Jangan tidur,” katanya.

“Aku hanya memejamkan mata.”

“Jangan.”

“Kau sangat berisik.”

“Dan kau terlalu keras kepala.”

Leon tersenyum kecil.

“Aku belum pernah bertemu orang seperti kau.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Berarti sekarang kau punya pengalaman baru.”

Leon menatapnya cukup lama.

“Siapa namamu?”

Amara masih fokus pada luka di tubuhnya.

“Amara.”

Leon mengulang nama itu perlahan.

“Amara.”

Entah mengapa, nama itu terasa berbeda.

Di luar kendaraan, suara perang masih terdengar. Kota tetap dipenuhi asap dan ketakutan. Banyak orang berusaha menyelamatkan diri. Banyak keluarga kehilangan rumah.

Namun di dalam kendaraan sederhana itu, dua orang dari dunia yang sangat berbeda duduk berhadapan.

Amara belum mengetahui bahwa pria yang diselamatkannya adalah Leon Volkov. Salah satu orang paling berpengaruh dan paling ditakuti di dunia.

Sedangkan Leon belum mengetahui bahwa perempuan yang duduk di sampingnya akan menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat dirinya tanpa kekuasaan.

Malam itu, Amara menyelamatkan nyawa Leon.

Namun tanpa disadari keduanya, pertemuan itu juga menjadi awal dari sebuah ikatan yang akan mengubah seluruh perjalanan hidup mereka.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika Leon berkata bahwa Amara adalah satu-satunya rumah yang ingin ia tuju, ia akan selalu mengingat malam itu.

Malam ketika seorang perempuan menemukan dirinya di antara reruntuhan perang.

Malam ketika ia bertanya,

“Kau bahkan tidak tahu siapa aku.”

Dan perempuan itu hanya menjawab,

“Aku tidak peduli.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!