Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Solusi tak Terduga dari Odette
"Kalau begitu, mari kita merampok brankas Istana Soleil saja malam ini, Nona."
Suara Odette mengalun begitu santai, seolah ia baru saja menyarankan untuk menyeduh secangkir teh kamomil hangat di sore hari. Pelayan kecil itu sedang berdiri mengasah belati kecilnya menggunakan batu asahan, menimbulkan suara pergesekan logam yang berirama kaku di dalam ruang kerja Geneviève.
Geneviève yang sedang berdiri menatap peta jalur perdagangan Kekaisaran Valerand memiringkan kepalanya sedikit. Ia menoleh, menatap pelayannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Merampok brankas istana?" ulang Geneviève. "Kau sadar, bukan, bahwa tempat yang kau sebutkan itu dijaga oleh tiga batalion ksatria elit berpakaian zirah lengkap dan dikelilingi tembok setinggi sepuluh meter?"
Odette berhenti mengasah belatinya. Ia mendongak dengan ekspresi polos tanpa dosa. "Nona, Istana Soleil baru saja memborong seluruh batu permata biru dan ungu milik kita menggunakan dekrit boikot yang licik. Itu artinya, semua batu mulia yang kita butuhkan saat ini sedang menumpuk rapi di dalam brankas perbendaharaan kerajaan. Kita hanya perlu menyelinap lewat saluran pembuangan air dapur, melumpuhkan dua atau tiga penjaga dengan racun tikus, lalu membawa kabur lima karung permata."
Geneviève mengurut pangkal hidungnya. Rasa frustrasi yang membakar dadanya sejak tadi siang mendadak berganti menjadi pusing yang teramat sangat. Logika pekerja kantorannya kembali diuji oleh pemikiran ekstrem pelayannya yang lahir dari kerasnya kehidupan jalanan abad ketujuh belas.
"Ide yang sangat luar biasa, Odette," sindir Geneviève dengan nada datar. "Kecuali fakta bahwa jika kita tertangkap, kepala kita berdua akan dipajang di atas tombak di gerbang utama ibu kota sebelum fajar menyingsing. Aku berniat menghancurkan faksi Putri Mahkota Camille secara finansial, bukan menyerahkan nyawaku secara gratis."
Odette mendesah pelan, menyimpan kembali belatinya ke balik lipatan celemek. "Hamba hanya memberikan opsi efisien, Nona. Rakyat jelata seperti hamba terbiasa mengambil kembali apa yang dicuri dari kami. Lalu, jika tidak merampok istana, bagaimana cara kita mendapatkan permata itu dalam waktu enam hari? Pasar ibu kota sudah bersih. Semua pedagang takut pada gertakan Marquis de Chanteclair."
Keheningan kembali menyergap ruang kerja yang penuh dengan tumpukan dokumen tersebut.
Geneviève melangkah mendekati peta besar yang tertempel di dinding kayu. Jarinya menyusuri garis pantai timur Kekaisaran Valerand, melewati pelabuhan utama hingga berhenti tepat di sebuah teluk kecil yang terpencil. Pelabuhan pesisir Montmirail. Wilayah yang baru saja ia selamatkan dari cengkeraman korupsi sang Walikota tiga hari yang lalu.
Mata cokelat Geneviève seketika berbinar tajam. Sebuah kilatan deduksi bisnis meledak di dalam kepalanya.
"Kita tidak perlu membeli permata dari pasar ibu kota yang sudah dikuasai oleh faksi kerajaan, Odette," ucap Geneviève. Suaranya kembali memancarkan keyakinan yang dingin dan terukur.
Odette mendekat dengan kening berkerut. "Maksud Anda, Nona?"
"Dekrit boikot yang dikeluarkan oleh paman Camille hanya berlaku untuk wilayah komersial darat di ibu kota Lumière," jelas Geneviève sambil mengetukkan jarinya di titik pelabuhan pesisir. "Siapa yang menguasai jalur perdagangan laut di pesisir timur kekaisaran ini?"
"Keluarga Montmirail," jawab Odette cepat.
"Tepat sekali. Ayahku adalah pelindung utama jalur pelayaran timur. Setelah kita memenjarakan Walikota korup itu dan mengembalikan keteraturan di pelabuhan, semua kapal dagang asing yang masuk dari Benua Selatan wajib bersandar di dermaga kita sebelum melanjutkan perjalanan ke ibu kota."
Geneviève berbalik, menatap Odette dengan senyum kemenangan yang mematikan.
"Kapal dagang dari Benua Selatan selalu membawa bahan mentah yang belum dipotong," lanjut Geneviève. "Batu safir mentah, kecubung kasar yang baru digali dari tambang gurun, dan batu kristal yang belum tersentuh oleh serikat perajin istana. Camille memborong permata yang sudah dipotong di pasar lokal, tetapi dia tidak bisa memboikot kapal asing yang belum melempar jangkar di tanah kekaisaran."
Odette membelalakkan matanya. Mulut pelayan itu terbuka lebar saat menyadari kejeniusan strategi majikannya.
"Astaga Naga," bisik Odette takjub. "Anda ingin mencegat kapal dagang asing itu di pelabuhan milik kita sendiri sebelum barang muatan mereka diperiksa oleh kementerian perdagangan?"
"Bukan mencegat, Odette. Itu bahasa yang terlalu kasar," ralat Geneviève santai. "Kita hanya melakukan transaksi transaksi pembelian eksklusif di atas air. Kita akan membeli seluruh muatan permata biru dan ungu mentah langsung dari kapten kapal dengan harga emas tunai. Kita memotong jalur tengkulak ibu kota sepenuhnya."
"Tapi Nona," Odette teringat sesuatu. "Batu mentah memerlukan proses pemotongan dan pemolesan. Apakah Tuan Fabron dan perajinnya sempat memotong ratusan batu kasar dalam waktu kurang dari seminggu?"
Geneviève tertawa kecil. Tawa yang sangat percaya diri. "Tuan Fabron mungkin sombong, tetapi dia memiliki enam anak magang dan tiga mesin asah tenaga air di bengkelnya. Jika aku membayar mereka dengan bonus lima ratus koin emas tambahan, mereka akan bekerja siang dan malam tanpa tidur untuk memoles batu-batu itu. Kecepatan kerja manusia selalu berbanding lurus dengan jumlah uang yang ada di depan mata mereka."
Odette mengepalkan tangannya penuh semangat. Rasa putus asa yang sempat menghantuinya kini menguap tanpa sisa, digantikan oleh kesenangan materialistis yang meluap luap.
"Hamba akan menyiapkannya sekarang juga, Nona," seru Odette. "Siapa yang akan kita kirim sebagai utusan ke pelabuhan pesisir?"
"Bukan 'siapa', melainkan kita berdua yang akan mengurusnya," jawab Geneviève. "Tetapi agar tidak memicu kecurigaan mata-mata Camille di ibu kota, kita butuh penunggang kuda yang paling cepat untuk membawa surat perintah resmi dan kantong emas kita ke kapten pelabuhan pesisir malam ini juga. Kita harus mengamankan kapal itu sebelum fajar."
"Serahkan masalah pengiriman surat itu pada hamba," ucap Odette mantap. "Hamba kenal beberapa anak pelari cepat dari serikat kurir rahasia di pasar bawah. Mereka bisa sampai ke pesisir dalam waktu empat jam dengan menukar kuda di setiap pos."
Dalam waktu kurang dari satu jam, persiapan darurat itu selesai.
Geneviève menulis surat perintah berstempel segil wax merah berlambang keluarga Duke of Montmirail. Surat itu berisi instruksi mutlak kepada kepala dermaga pesisir untuk menahan seluruh kapal dagang yang membawa komoditas batu mulia dari Benua Selatan, serta melarang siapapun mengunduh muatan sebelum utusan Montmirail tiba.
Odette menyerahkan kantong emas tebal dan surat tersebut kepada seorang kurir muda berwajah cerdik yang mengenakan jubah abu-abu tanpa lambang. Dengan imbalan sepuluh koin perak, pemuda itu melesat memacu kudanya membelah kegelapan malam ibu kota menuju jalur pesisir timur.
Empat hari berlalu dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut kediaman Montmirail.
Di bengkel selatan, Monsieur Fabron dan para perajinnya sedang sibuk menyelesaikan pembangunan gerobak etalase berjalan dari kayu mahoni. Rangka perak untuk koleksi kalung dan cincin fairy tale telah selesai diukir dengan sangat indah, kini hanya terduduk pasrah di atas kain beludru, menunggu batu permata yang tak kunjung tiba.
Sementara itu, berita tentang persiapan Pesta Dansa Musim Gugur di Istana Soleil semakin gencar terdengar. Faksi kerajaan menyebarkan rumor bahwa Putri Mahkota Camille akan memamerkan sebuah karya perhiasan monumental yang belum pernah terlihat sebelumnya di kekaisaran. Publik ibu kota sudah tidak sabar untuk memuji keagungan sang Putri suci.
Geneviève memanfaatkan empat hari itu untuk mematangkan strategi pemasarannya. Ia menyebar brosur cetak bergambar garis abstrak di antara para wanita bangsawan kelas menengah, menciptakan rasa penasaran tanpa membocorkan bentuk asli perhiasannya.
Pada hari kelima, hanya tersisa dua hari sebelum pesta dansa istana digelar.
Pagi-pagi sekali, sebuah pesan merpati tiba di jendela kamar Geneviève. Kertas kecil yang terikat di kaki burung itu membawa kabar yang sangat menggembirakan dari pesisir timur.
"Kapal dagang 'Laksamana Bintang' dari Benua Selatan telah berlabuh di dermaga Montmirail," baca Geneviève dengan suara lantang di hadapan Odette. "Kapten kapal menyetujui transaksi eksklusif kita. Mereka membawa lima peti batu safir biru mentah dan empat peti kecubung ungu berkualitas tertinggi. Utusan kita sedang membawa peti peti itu menggunakan kereta kuda tertutup menuju bengkel Fabron."
Odette melompat gembira di atas karpet. "Kita berhasil, Nona! Batu-batu itu akan tiba di ibu kota sore ini! Tuan Fabron bisa mulai memolesnya nanti malam, dan perhiasan kita akan siap tepat pada waktunya!"
Rasa lega yang luar biasa mengalir di dalam dada Geneviève. Senyum puas terukir di wajah cantiknya. Rencana boikot yang dirancang Camille dengan begitu sombong akhirnya patah oleh kekuatan logistik darat dan laut yang ia kuasai.
"Siapkan pembayaran ekstra untuk Tuan Fabron dan anak buahnya, Odette," perintah Geneviève. "Pastikan gerobak etalase berjalan kita sudah siap diparkir di halaman belakang bengkel. Begitu perhiasan terpasang, kita akan langsung menguncinya di dalam etalase baja itu."
"Siap laksanakan, Nona!" jawab Odette gembira.
Namun, roda takdir di Kekaisaran Valerand tidak pernah berputar dengan mudah bagi Geneviève.
Sore harinya, langit ibu kota Lumière tertutup oleh awan mendung berwarna kelabu pekat. Angin dingin musim gugur bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering di sepanjang jalan utama.
Geneviève dan Odette sedang berada di dalam kereta kuda pribadi mereka, melaju menuju gerbang selatan ibu kota untuk menyambut kedatangan kereta pembawa peti batu permata dari pesisir. Hati mereka dipenuhi oleh antisipasi kemenangan.
Tetapi, ketika kereta mereka mendekati pos pemeriksaan gerbang masuk Lumière, lalu lintas kereta dagang mendadak terhenti total.
Puluhan kereta pedagang menumpuk di sepanjang jalan berbatu. Suara teriakan marah para pengemudi dan klakson terompet kayu menggema memecah udara sore.
"Ada apa di depan sana, Odette?" tanya Geneviève sambil membuka sedikit tirai jendela keretanya.
Odette mencondongkan tubuhnya ke luar jendela, menatap ke arah gerbang kota. Wajah ceria pelayan itu seketika berubah kaku. Matanya membelalak melihat puluhan prajurit berseragam merah emas berdiri memblokir pintu gerbang.
"Nona... itu adalah Pasukan Bea Cukai Kerajaan," bisik Odette dengan suara bergetar.
Geneviève segera menyingkap tirai lebih lebar. Matanya menyipit tajam.
Di tengah jalan utama pos pemeriksaan, sebuah kereta kuda tertutup berlambang keluarga Montmirail tampak dikelilingi oleh belasan prajurit bea cukai yang membawa tombak dan surat periksa. Kereta itu adalah kereta yang membawa peti-peti batu permata mentah dari pesisir.
Di depan kereta tersebut, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian megah dengan topi berbulu tinggi. Pria itu adalah Komandan Kepala Bea Cukai Ibu Kota, salah satu bawahan paling setia Marquis de Chanteclair.
"Turunkan semua peti itu dari atas kereta!" teriak sang Komandan Bea Cukai dengan suara nyaring yang sengaja dikeraskan. "Berdasarkan instruksi khusus dari Kementerian Perdagangan dan Yang Mulia Putri Mahkota Camille, seluruh komoditas batu mulia mentah yang masuk ke ibu kota hari ini wajib disita sementara untuk pemeriksaan potensi racun dan bahan sihir terlarang!"
Kusir Montmirail mencoba membela diri. "Tapi ini adalah barang muatan resmi milik keluarga Duke of Montmirail! Kami memiliki surat izin jalan dari pelabuhan pesisir!"
"Surat izin pelabuhan Anda tidak berlaku di depan hukum keamanan istana!" bentak sang Komandan tanpa ragu. Ia mengangkat sebuah perkamen berstempel lilin emas milik keluarga kerajaan. "Siapapun yang mencoba melawan penyitaan ini akan dianggap melakukan tindakan makar dan diseret ke penjara bawah tanah Istana Soleil!"
Di dalam keretanya, Odette mencengkeram erat tepi jendela. Tangannya gemetar hebat oleh amarah yang membakar.
"Ular betina itu..." desis Odette dengan gigi gemertak. "Camille tahu tentang kapal asing itu. Dia menggunakan wewenang bea cukai kerajaan untuk mencegat permata kita tepat di pintu gerbang kota!"
Geneviève menahan napasnya. Buku-buku jarinya memutih saat ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Rasa frustrasi yang teramat sangat kembali menghantam dadanya bagaikan godam besi.
Camille benar-benar sangat licik. Saat mengetahui rencana pembelian daratnya digagalkan oleh boikot pasar, sang Putri Mahkota tidak ragu menggunakan kekuasaan absolut bea cukai istana untuk melakukan penyitaan paksa di pintu masuk kota. Dengan dalih "pemeriksaan sihir terlarang", istana bisa menahan batu-batu permata itu selama berbulan-bulan di dalam gudang bea cukai tanpa perlu memprosesnya secara hukum.
Waktu mereka hanya tersisa empat puluh delapan jam sebelum pesta dansa istana dimulai.
Peti-peti batu permata mentah milik mereka kini berada di bawah pengawasan ketat belasan prajurit bersenjata, siap diangkut menuju gudang penyitaan kerajaan. Tanpa batu-batu itu, seluruh koleksi Le C'eow hanyalah kerangka perak kosong yang tak bernilai.
Geneviève menatap Komandan Bea Cukai yang sedang tersenyum culas di depan keretanya. Mata cokelat sang putri Duke berkilat berbahaya di bawah bayangan tirai. Permainan kotor istana telah mencapai puncaknya, dan Geneviève dipaksa untuk membuat keputusan paling berbahaya dalam hidupnya.