NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi di Bawah Hujan

​Malam turun menyelimuti ibu kota bersama badai hujan yang tak kunjung reda.

​Di dalam apartemen mewahnya yang berada di lantai dua puluh, Aluna duduk di depan meja kerjanya yang dipenuhi oleh salinan berkas penyelidikan kepolisian. Sebagai korban sekaligus hakim ketua, ia memiliki akses terhadap laporan kronologi kejadian di ruang sidang siang tadi.

​Aluna menganalisis semuanya dengan ketelitian seorang anak intelijen. Laporan pelarian Baskara menyebutkan bahwa komplotan itu menggunakan tiga mobil van hitam yang berpencar. Dua mobil berhasil dilacak dan ternyata hanya umpan kosong. Mobil ketiga—yang diyakini membawa Baskara—hilang dari radar kepolisian setelah memasuki kawasan pabrik tua yang terbengkalai di daerah industri pelabuhan utara.

​Polisi telah menyisir area tersebut, namun karena luasnya kawasan yang mencapai puluhan hektar dan minimnya pencahayaan, mereka tidak menemukan apa-apa selain mobil van yang telah dibakar untuk menghilangkan jejak. Pengejaran dihentikan sementara hingga badai reda.

​Namun, tidak bagi Aluna.

​Matanya terpaku pada peta kawasan pabrik tua tersebut. Area industri pelabuhan utara. Ingatannya berputar kembali ke masa SMA. Dulu, Arjuna sering menghilang dari sekolah berhari-hari. Suatu kali, pemuda itu pernah tanpa sengaja bercerita bahwa ayahnya memiliki sebuah gudang pengalengan ikan yang sudah bangkrut di ujung utara pelabuhan. Gudang itu memiliki akses bunker bawah tanah yang dulu digunakan untuk menyelundupkan barang secara ilegal. Arjuna sering bersembunyi di sana setiap kali ia kabur dari amukan ayahnya.

​Apakah Arjuna kembali ke tempat persembunyian masa kecilnya?

​Tanpa berpikir panjang, Aluna bangkit dari kursinya. Ia mengganti pakaiannya dengan sweter hitam kerah tinggi, celana kargo gelap, dan mantel anti air. Ia membuka brankas rahasia di balik lukisan di kamarnya, mengeluarkan sebuah pistol revolver seri lama milik ayahnya yang dulu pernah diajarkan cara memakainya. Ia menyelipkan senjata itu di pinggangnya, mengambil kunci mobil, dan bergegas pergi menembus badai.

​Kawasan pabrik utara benar-benar gelap gulita. Tidak ada lampu jalan, hanya ada suara gemuruh hujan yang menghantam seng-seng berkarat dari bangunan-bangunan kosong.

​Aluna memarkirkan mobilnya agak jauh dari titik kordinat gudang pengalengan ikan tersebut. Ia berjalan kaki mengendap-endap menembus hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Instingnya bekerja dengan sempurna. Ia menemukan bangunan yang dimaksud—gudang nomor 14 yang tampak paling hancur dari luar.

​Aluna menyelinap masuk melalui pintu samping yang rantai gemboknya telah terpotong dengan bersih. Bagian dalam gudang itu sangat gelap, berbau karat dan air payau. Ia menyalakan senter kecil dari ponselnya, berjalan hati-hati menghindari puing-puing.

​Ia ingat deskripsi Arjuna bertahun-tahun lalu. 'Ada pintu besi di balik ruang pendingin lama.'

​Aluna menemukan ruang pendingin itu. Dan benar saja, di baliknya terdapat sebuah pintu baja yang sedikit terbuka, memancarkan cahaya lampu kuning temaram dari arah bawah tanah.

​Jantung Aluna berdegup kencang. Ia menuruni anak tangga semen yang lembap itu perlahan. Di ujung tangga, terdapat sebuah ruangan luas yang disulap menjadi safehouse (rumah aman) darurat. Ada beberapa monitor komputer yang menyala, tumpukan senjata api, dan peta tata kota Jakarta di dinding.

​Namun, ruangan itu tampak kosong.

​Aluna melangkah masuk, menyapu pandangannya. Tiba-tiba, sebuah logam dingin dan keras menempel tepat di pelipis kanannya dari arah titik buta di balik pilar. Diikuti oleh tarikan pelatuk senjata yang berbunyi klik sangat pelan.

​"Kau punya nyali yang terlalu besar untuk ukuran seorang wanita yang hampir mati siang tadi, Nona Hakim," bisik sebuah suara serak yang mematikan dari arah belakangnya.

​Aluna membeku, tapi ia tidak mengangkat tangannya. Perlahan, ia memutar tubuhnya.

​Di sana berdiri Arjuna. Tubuhnya masih mengenakan kaus taktis hitam yang kini basah oleh darah dari luka tembak yang terserempet di lengan atasnya. Rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat lelah, marah, sekaligus tak percaya melihat kehadiran Aluna di markas rahasianya. Ujung pistol Glock miliknya terarah tepat di antara kedua mata Aluna.

​"Apa yang kau lakukan di sini, Aluna?" desis Arjuna, matanya menyorotkan ancaman murni. "Kau merusak karirmu, nyawamu, dan segalanya dengan menginjakkan kaki di tempat ini."

​Bukannya gemetar ketakutan, Aluna justru melangkah maju satu tindak, membuat ujung pistol Arjuna menyentuh keningnya. Gadis itu mendongak, menatap mata kelam sang buronan dengan sorot mata yang penuh dengan sepuluh tahun kemarahan yang terpendam.

​PLAK!

​Suara tamparan itu menggema keras di dalam ruangan bunker.

​Aluna baru saja menampar wajah buronan nomor satu di negara itu dengan sekuat tenaga, hingga wajah Arjuna berpaling ke samping.

​Arjuna terdiam kaku. Pistol di tangannya sedikit menurun. Ia mengusap sudut bibirnya yang kembali berdarah akibat tamparan itu, lalu menoleh menatap Aluna dengan raut wajah terkejut yang gagal disembunyikannya.

​"Itu untuk sepuluh tahun aku menunggu seperti orang bodoh di stasiun kereta," suara Aluna bergetar hebat, air mata yang selama ini dibekukannya akhirnya tumpah, bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya.

​Aluna maju lagi, dan menampar pipi Arjuna di sisi sebelahnya. PLAK!

​"Dan ini... untuk ancamanmu di ruang sidang tadi siang!" bentak Aluna, suaranya pecah oleh emosi yang meluap-luap. Sang Palu Es yang selalu tenang itu kini runtuh sepenuhnya. "Tembak aku, Arjuna! Tembak! Buktikan padaku kalau pemuda bodoh yang dulu kuajarkan fisika di pinggir lapangan basket itu benar-benar sudah menjadi monster!"

​Aluna meraih tangan kanan Arjuna yang memegang pistol, lalu menarik moncong senjata itu hingga menempel kuat di dada kirinya, tepat di atas jantungnya. "Lakukan! Atau kau bukan pria bernyali seperti yang kau banggakan!"

​Arjuna menatap Aluna dengan napas memburu. Tangan kanannya yang menggenggam senjata, yang tidak pernah ragu menarik pelatuk pada musuh-musuhnya, kini gemetar hebat. Ia melihat air mata Aluna mengalir deras, melihat kerapuhan dari wanita yang sangat ia cintai, namun tak pernah bisa ia miliki.

​Pertahanan sang Baskara hancur lebur.

​Arjuna menjatuhkan pistolnya ke lantai semen dengan bunyi denting yang keras. Detik berikutnya, ia menarik tubuh Aluna dengan kasar dan memeluknya. Sangat erat, sangat putus asa, seolah ia ingin menyatukan tulang rusuk mereka berdua.

​Arjuna membenamkan wajahnya di ceruk leher Aluna, menghirup aroma lavender yang sudah sepuluh tahun meracuni kewarasannya. Bahu lebar sang buronan itu bergetar hebat.

​"Kenapa kau datang, Na...?" bisik Arjuna parau, suaranya sarat akan rasa sakit dan kerinduan yang membakar jiwa. "Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja di dalam ingatanmu?"

​Aluna membalas pelukan itu tak kalah eratnya, mencengkeram kaus hitam Arjuna hingga buku jarinya memutih. Di bawah tanah yang dingin, diiringi suara badai hujan di luar sana, seorang penegak hukum dan seorang buronan negara menangis dalam pelukan satu sama lain, terjebak dalam jaring laba-laba takdir yang tak bisa mereka hindari.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!