NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Kisah ini bermula dari zaman kami masih satu sekolah. Aku adalah kakak kelas yang terpaut dua tahun dari Clara Adelin.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.

Teng... teng... teng...

Bunyi lonceng tanda masuk sudah berbunyi.

"Cepat! Lima menit lagi gerbang akan saya tutup!" teriakku.

Ini adalah aku di masa sekolah. Jabatanku waktu itu adalah Ketua OSIS.

"Tunggu, Kak! Terima kasih, Pak," teriak seorang gadis cantik yang tak lain adalah Clara.

Namun, karena dia sudah terlambat, aku terpaksa menutup gerbang dan menghukum atau mengusir siswa-siswi yang datang terlambat hari itu.

"Kalian sudah terlambat. Kalian terlambat lima menit," kataku dengan nada serius dan tegas.

Lalu, pandanganku tertuju pada Clara yang hampir setiap hari terlambat.

"Nama kamu Clara, kan?" tanyaku, masih dengan wajah serius.

"Iya, Kak," jawab Clara dengan wajah menunduk.

"Kamu saya lihat hampir setiap hari terlambat. Padahal kamu diantar pakai mobil. Rumah kamu di mana?"

Lalu Clara menyebutkan salah satu daerah, dan daerah tempat dia tinggal ternyata sama dengan tempat tinggalku.

"Padahal kita satu daerah, loh. Kamu juga berangkat pakai mobil, tapi masih terlambat," tegasku. "Sekarang kalian semua pilih: pulang, atau membersihkan WC sekolah?"

Semuanya memilih untuk membersihkan WC. Aku pun mengantar mereka ke area toilet dan membaginya menjadi dua kelompok. Pria membersihkan WC pria, dan wanita membersihkan WC wanita.

Hari itu menjadi hari sial untuk Clara Adelin, karena hanya dia satu-satunya murid wanita yang terlambat.

"Kak, enggak mungkin, kan, kalau aku bersihin ini sendiri?" kata Clara dengan nada bicara yang sedikit dibuat memelas.

"Kenapa tidak mungkin? Yang membuat pelanggaran hanya kamu saja wanitanya. Kan tidak mungkin saya harus memanggil murid lain untuk masuk ke WC wanita."

"Tapi, Kak..."

"Tidak ada tapi-tapi, Nona. Berani berbuat salah, harus berani juga bertanggung jawab."

Hari itu aku bisa tahu kalau Clara ini memang anak orang kaya. Dilihat dari caranya memegang sapu saja sudah tidak benar.

"Kamu ini... tidak pernah kerja, ya?" tanyaku dengan nada sedikit heran.

"Iya, Kak. Aku enggak pernah kerja karena di rumah kami selalu dilayani oleh pelayan," jawab Clara tanpa rasa malu.

"Pantas saja. Dasar anak manja."

Ternyata Clara tidak terima dikatai manja.

"Hiii... aku bukan manja! Itu karena orang tuaku kaya, makanya di rumah disediakan pelayan oleh orang tuaku!" jawabnya dengan nada meninggi.

Dia lalu membanting sapu yang dipegangnya dan pergi dengan wajah yang sudah hampir menangis.

"Hey! Pekerjaan kamu belum selesai, Anak Manja!" panggilku.

Namun, dia tidak peduli dan tetap pergi meninggalkanku yang hanya bisa terdiam.

"Baiklah, hukumannya nanti saja kalau sudah pulang sekolah," gumamku dalam hati.

Sesuai rencana, tepat ketika bel pulang sekolah berdentang nyaring, aku sudah berdiri tegak di depan kelas Clara dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Beberapa siswa yang keluar kelas menatapku segan—maklum, jabatan Ketua OSIS buat mereka cukup disegani.

Tak lama kemudian, sosok yang kutunggu muncul. Clara keluar sambil menggendong tasnya dengan wajah lesu. Begitu matanya menatapku, langkahnya langsung terhenti. Wajahnya yang tadinya cemberut makin bertambah sebal.

"Ikut aku. Hukuman mu tadi pagi belum selesai, Nona Manja," kataku santai tapi tetap tegas.

"Kak Arkan! Aku kan udah bilang aku bukan anak manja! Lagian tadi baju aku hampir kotor cuma gara-gara pegang sapu itu!" protesnya dengan nada melengking, bibirnya cemberut maksimal.

"Alasan. Di sekolah ini enggak ada anak emas atau anak kaya, semuanya sama. Ayo, selesaikan atau nama kamu saya catat di buku pelanggaran dan dipanggil orang tua," ancamku.

Mendengar kata 'orang tua', raut wajah Clara langsung berubah panik. Dengan terpaksa dan langkah kaki yang sengaja dihentakkan ke lantai, dia mengikutiku kembali ke area toilet belakang.

Selama hampir 30 menit, aku memperhatikannya dari luar toilet. Harus kuakui, melihat anak kaya raya yang biasanya tinggal terima beres ini kesulitan meremas kain pel dan bingung cara menyiram lantai sampai bersih adalah pemandangan yang cukup menggelikan. Tapi di sisi lain, ada sedikit rasa iba melihat tangannya yang halus harus berurusan dengan ember dan sabun pembersih.

"Udah selesai kan, Kak?" tanya Clara akhirnya, keluar sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah dengan napas terengah-engah. Rambutnya sedikit acak-acakan, sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang selalu rapi di pagi hari.

"Ya, lumayan. Besok-besok jangan terlambat lagi, Clara. Kurangi kebiasaan begadang atau malas-malasan kamu," jawabku sambil menyodorkan saputangan dari saku seragamku. "Pakai ini buat ngeringkan tangan kamu."

Clara menatap saputangan polos milikku sebentar, lalu mengambilnya dengan canggung. "Makasih..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar, sebelum berpaling karena gengsi.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur pelan dan berhenti di dekat area parkir depan sekolah. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas turun dari pintu belakang. Aura kepemimpinan dan kewibawaannya terasa begitu kuat.

"Clara? Kenapa kamu baru keluar? Dan kenapa baju kamu agak basah begitu?" suara berat pria itu terdengar.

"Papi..." panggil Clara dengan nada mengadu.

Ternyata pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Pak Frans menatapku penuh selidik, sementara aku tetap berdiri tegak menyapa mereka dengan sopan.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!