NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Turbulence

"Setujui permintaannya," kata Kaizan.

Di seberang telepon, Moreno terdiam. "Bos yakin?"

"Kalau aku menolak tanpa alasan operasional, Revan akan bilang Keira dilindungi manajemen. Tempatkan mereka di bawah kapten yang berpengalaman. Semua perubahan tugas dicatat."

"Kapten Hendra tersedia."

"Bagus. Pastikan tim kepatuhan menerima salinan laporan penerbangan."

Kaizan menutup panggilan dan kembali ke ruang tamu. Keira sudah masuk kamar, masih bersenandung sambil menggantung seragam. Dia tidak tahu mantan kekasihnya baru saja meminta satu kokpit dengannya.

Empat hari kemudian, Keira melihat nama Revan di lembar penugasan.

Jarinya berhenti di baris kedua. Revan bertugas sebagai pilot tambahan dalam penerbangan Jakarta-Balikpapan yang dipimpin Kapten Hendra Kusumo. Wenny tercantum sebagai kepala kru kabin.

Keira membaca sekali lagi untuk memastikan matanya tidak keliru.

"Ada masalah?" tanya Kapten Hendra dari belakangnya.

Keira berdiri tegak. "Tidak, Kapten. Saya siap bertugas."

Pria senior itu menatap kedua nama di lembar, lalu kembali kepada Keira. "Di udara, urusan pribadi berhenti di pintu kokpit. Kalau ada yang membawa masalah pribadi ke operasi penerbangan, lapor kepada saya."

"Dipahami."

Revan masuk ke ruang briefing beberapa menit kemudian. Dia tidak meminta maaf. Tidak pula menatap Keira lebih dari seperlunya.

"Pagi, Kapten."

"Duduk," kata Kapten Hendra. "Keira memimpin briefing cuaca."

Rahang Revan mengeras, tetapi dia mengambil kursi.

Keira menjelaskan rute, bahan bakar, kondisi landasan, serta potensi turbulensi ringan di atas Laut Jawa. Suaranya tetap rata. Saat Revan mencoba memotong dengan koreksi yang tidak diperlukan, Keira menunjukkan data terbaru tanpa meninggikan nada.

"Informasi itu diperbarui pukul enam lewat empat puluh. Yang saya gunakan terbit pukul tujuh lewat lima."

Kapten Hendra mengangguk. "Gunakan data terbaru. Lanjutkan, Keira."

Revan terpaksa diam.

Di kokpit, Keira bekerja seolah kursi di sebelah belakang tidak ditempati orang yang pernah menjual keselamatannya. Dia membaca daftar periksa, mengulang izin, dan memastikan setiap perubahan dikonfirmasi kru. Ketika pesawat memasuki turbulensi ringan, tangannya tetap mantap pada kendali.

"Kurangi kecepatan ke batas turbulensi," perintah Kapten Hendra.

"Kecepatan disesuaikan."

Revan mencoba memberi saran sebelum diminta. "Kita bisa turun dua ribu kaki."

Keira memeriksa radar. "Lapisan di bawah lebih padat. Jalur sekarang lebih aman."

Kapten Hendra mengamati layar, lalu berkata, "Pertahankan ketinggian. Keputusan Keira tepat."

Turbulensi reda delapan menit kemudian.

Di kabin belakang, Wenny menerima laporan seorang penumpang yang menumpahkan kopi saat pesawat berguncang. Tidak ada luka, hanya kemeja basah dan kemarahan.

"Pilotnya tidak becus," keluh penumpang itu. "Kenapa tidak memberi peringatan lebih awal?"

Lampu sabuk pengaman sebenarnya sudah menyala tujuh menit sebelum guncangan. Kru juga telah mengumumkan penghentian layanan. Penumpang itu melepas sabuk dan mengambil kopi setelah peringatan.

Namun Wenny melihat peluang.

"Saya mengerti, Pak," katanya manis. "Silakan isi formulir keluhan. Tulis bahwa peringatan dari kokpit terlambat. Pilot yang bertanggung jawab bernama Keira Liem."

Seorang pramugari junior menatapnya kaget. "Bu Wenny, pengumumannya sudah dilakukan sesuai instruksi."

"Kamu mau mengajari saya bekerja?"

"Tidak, Bu. Tapi catatan kabin menunjukkan waktunya."

Wenny merebut formulir dari tangan pramugari itu. "Saya yang menangani laporan."

Setelah mendarat di Balikpapan, formulir tersebut sampai ke Kapten Hendra sebelum kru turun. Dia membaca satu paragraf, lalu memanggil Wenny ke galley depan.

"Kapan peringatan sabuk pengaman dinyalakan?"

"Mungkin terlambat, Kapten. Penumpang merasa tidak diberi waktu."

Kapten Hendra membuka log kabin. "Pukul sembilan lewat dua belas. Turbulensi mulai pukul sembilan lewat sembilan belas. Tujuh menit."

"Tapi penumpang tetap dirugikan."

"Karena melepas sabuk dan mengambil minuman setelah layanan dihentikan. Kenapa formulir ini menyebut Keira secara pribadi?"

Wenny kehilangan senyum. "Penumpang bertanya siapa pilotnya."

"Ada tiga pilot di kokpit. Anda hanya memberi satu nama."

Keira berdiri di ujung lorong, mendengar setiap kata. Dia tidak menyela.

Kapten Hendra mengembalikan formulir. "Tulis fakta sesuai log. Kalau laporan palsu ini dikirim, saya lampirkan catatan bahwa kepala kru mencoba mengarahkan keluhan kepada personel tertentu."

Wenny meremas kertas itu. "Baik, Kapten."

Penerbangan pulang selesai tanpa insiden. Keira menandatangani laporan dan meninggalkan ruang kru dengan kepala tegak. Revan mengejarnya sampai koridor.

"Kamu senang sekarang? Membuat semua orang menganggap kami penjahat?"

Keira berhenti. "Aku tidak menulis log kabin. Aku tidak memaksa Wenny berbohong. Kalian melakukan semuanya sendiri."

"Jangan merasa menang."

"Aku tidak sedang berlomba denganmu, Revan. Aku sedang bekerja."

Revan bergerak menutup jalannya. "Aku meminta jadwal ini supaya kita bisa bicara tanpa Vera atau orang hotel ikut campur."

"Kokpit bukan tempat menyelesaikan hubungan pribadi."

"Aku mau memperbaiki semuanya."

"Kamu masih bekerja sama dengan Wenny untuk membuat laporan palsu. Bagian mana yang sedang kamu perbaiki?"

"Aku tidak tahu dia akan melakukan itu."

Keira hampir tertawa. Kalimat yang sama, alasan yang sama. Revan selalu tidak tahu tepat ketika orang lain tertangkap.

"Mulai sekarang, kalau ada yang ingin kamu sampaikan tentang kejadian malam itu, kirim melalui tim kepatuhan atau pengacaraku. Jangan meminta jadwal yang sama denganku lagi."

"Kamu punya pengacara sekarang?"

"Itu bukan urusanmu."

Kapten Hendra keluar dari ruang kru. Tatapannya berpindah dari Revan yang menghalangi koridor ke wajah Keira.

"Ada masalah?"

"Revan mengakui dia meminta penugasan bersama untuk membicarakan urusan pribadi," kata Keira. "Saya sudah meminta agar itu tidak diulangi."

Kapten Hendra memandang Revan. "Permintaan jadwal digunakan untuk kebutuhan operasional, bukan akses pribadi. Saya akan mencatat percakapan ini dalam laporan hari ini."

"Kapten, ini salah paham."

"Kalau begitu jelaskan kepada tim kepatuhan. Sekarang buka jalan."

Revan mundur. Keira berjalan melewatinya tanpa menoleh.

Di apartemen malam itu, Kai pura-pura sibuk memotong buah ketika Keira menceritakan penerbangan.

"Jadi dia duduk di kokpit yang sama denganmu selama berjam-jam?"

"Kapten Hendra juga ada."

Kai mendorong secangkir teh jahe ke arahnya. "Dia mengganggumu setelah mendarat?"

"Dia mencoba menghalangi jalan. Kapten Hendra mencatatnya sebagai potensi penyalahgunaan penugasan."

Rahang Kai mengeras. "Kalau dia menyentuhmu, beri tahu aku."

"Untuk apa? Kamu mau melemparinya dengan tagihan listrik?"

"Aku punya cara lain."

"Aku tidak bertanya tentang Kapten Hendra."

Keira menahan senyum. "Kamu cemburu?"

"Aku sedang memastikan kontrak kita tidak diganggu orang luar."

"Pasal mana yang membahas mantan pacar?"

Kai meletakkan pisau. "Besok kita tambahkan."

Keira tertawa, lalu mengambil potongan apel dari talenan. Liontin perak murah berbentuk awan, hadiah lama dari Meilin, terlepas dari balik kerah kausnya. Kai memperhatikan bentuknya sesaat.

"Bagus," katanya.

"Ini bukan barang mahal. Mama membelinya di bazar sekolah."

"Tetap bagus."

Di sisi lain kota, Wenny sedang memeriksa foto kru yang diambil sebelum keberangkatan. Dia memperbesar bagian leher Keira. Liontin kecil itu sekilas mirip logo koleksi Cloud yang belum resmi dirilis.

Wajah Wenny menegang.

Dia beli dari mana duitnya buat ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!