Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit (revisi)
Rena menyambut kedatangan Raihan. Ia mengambil alih tas kerja suaminya. Membantu untuk melepaskan dasi Raihan.
"Dimana Devan?" tanya Raihan dengan raut keras.
"Ada di kamar Elea,"
"Apa?! dia rela meninggalkan meetingnya hanya untuk gadis itu?"
Rena menegur suaminya dengan tepukan di bahu. Raihan bila sedang marah memang tidak akan segan untuk mengeluarkan kata-kata tajamnya. Tidak jauh berbeda dengan Devan.
"Ia benar-benar sudah gila karena Elea,"
Raihan mengangguk setuju. Ia berjalan ke arah ruang tengah lalu duduk di atas sofa. Rena mengikuti suaminya.
"Apa yang dia lakukan sangat merugikan perusahaan. Banyak dari mereka yang membatalkan kerja sama karena Devan yang tidak menghadiri pertemuan penting itu. Hari ini seharusnya Devan menjelaskan materinya di depan mereka semua,"
Mendengar ucapan Raihan, Ibu dua anak itu menggeleng tidak habis pikir. Devan sangat keterlaluan.
"Aku akan menasihatinya nanti,"
"Aku rasa percuma,"
"Kau tahu, tadi dia membuat ulah lagi dengan Lovi," adu Rena. Biarkan Raihan tahu sikap anaknya selama Ia tidak ada.
Raihan menoleh dengan dahi mengerinyit. Rahangnya mengeras dengan mata yang tajam berusaha mendengar lanjutan dari kalimat Rena.
"Dia menyakiti hati Lovi di depan Elea. Aku melihat kerjadian itu di taman,"
"Sudah seharusnya Elea pergi dari mansion ini,"
************
"Jangan pergi kemana pun, Devan," Elea tidak membiarkan tangannya di lepaskan oleh Devan saat Lelaki itu merebahkannya di ranjang.
Devan duduk disamping Elea yang berbaring.
"Aku akan mengambilkan bubur ayam kesukaanmu,"
"Aku tidak mau makan,"
Devan menggeleng tegas.
"Kamu belum makan, Elea. Tunggu sebentar, Aku akan kembali lagi. Okay? "
"Janji tidak akan lama?"
Devan bangkit lalu mengecup kening elea singkat.
"Janji,"
Elea menatap langit-langit kamar itu dalam diam. Seraya membayangkan masa depannya dengan Devan nanti. Mereka pasti akan menjadi pasangan yang sangat bahagia.
"Aku tidak sabar untuk membangun rumah tangga bersamamu,"
Perlahan kelopak Elea menggelap dan mimpi langsung menyambutnya.
********
Devan berjalan bukan ke arah dapur. Ia keluar melalui gerbang di bagian belakang mansionnya lalu mulai memasuki pekarangan Paviliun.
"Hei, mau kemana kamu?" teguran Raihan membuat langkah Devan terhenti.
"Bukan urusanmu,"
Raihan tersenyum sinis. Devan benar-benar lelaki keras kepala dan angkuh. Mungkin Devan tahu kalau Raihan menahannya karena ingin membicarakan kesalahannya di kantor hari ini.
"Kamu meninggalkan pertemuan penting hanya untuk menghabiskan waktu di dalam kamar bersama pelacurmu itu?"
Devan tahu siapa yang dimaksud Papanya. Ia menatap Raihan dengan amarah yang tertahan.
"Jaga ucapan Papa!! Elea kekasihku,"
"Kamu benar-benar tidak bertanggung jawab, Devan. Usiamu sudah dewasa, seharusnya kamu berpikir lebih matang sebelum melakukan sesuatu yang dapat merugikan banyak orang," desis Raihan. Ia bersedekap dada menantikan reaksi putranya.
"Kerugian yang aku buat tidak sebanyak dengan kerugian yang kalian buat padaku. Menjadikan dia sebagai istriku adalah salah satu contohnya,"
"Kamu yakin itu adalah bentuk kerugianmu?Kamu menikmati semua yang ada padanya, Brengsek!!"
***********
"Dimana Lovi?" Tanya Devan pada Netta yang terlihat sibuk membasuh piring. Usai di caci maki oleh Papanya, Devan butuh pelampiasan. Apalagi Raihan melakukan itu karena membela Lovi. Maka Lovi yang patut di salahkan.
Bukan hanya itu saja. Lovi juga sudah membuat Eleanya bersedih hati
Netta tersentak lalu dengan tergesa mengeringkan kedua tangannya, meninggalkan sejenak pekerjaannya lalu menghampiri sang tuan.
"Ada apa Tuan?"
"Aku bertanya padamu, Dimana Lovi sekarang?!"
Netta menutup sejenak matanya saat mendengar suara Devan yang lebih keras daripada sebelumnya.
"Nona Lovi berada di kamarnya, Tuan,"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Devan berlari menaiki tangga. Sementara Netta dibuat bingung. dengan maksud kedatang Majikannya itu. Hal apa gerangan yang membuat Devan datang ke paviliun ini tidak seperti biasanya.
Devan memasuki kamar Lovi dan mendapati Lovi yang sedang membelakanginya dan duduk disebuah Kursi yang berhadapan dengan meja mengarah jendela. Perempuan itu terlihat menulis sesuatu di atas buku.
Lovi menoleh saat pintu kamarnya dibuka dengan kasar. matanya membulat kaget saat mendapati Devan yang ada di depan kamarnya dengan napas memburu dan menatapnya sangat tajam.
Devan berjalan menghampiri Lovi. Ia berencana membuat kerusakan lagi di dalam tubuh Lovi. Devan meraih tangan Lovi hingga Ia bangkit dari posisinya.
Melihat tatapan mematikan Devan, Napas Lovi terasa dihimpit dalam tenggorokan. Tangannya berusaha melawan Devan yang semakin menyakitinya tanpa perasaan dengan wajah datarnya.
Devan bukan lagi terlihat sebagai manusia. Karena perasaan cintanya pada Elea, Ia sampai menyakiti Lovi.
"Oh Ya Tuhan Sakit sekali," Napas Lovi tersedat-sendat.
Rahang Devan mengeras dengan gigi bergemelutuk. matanya menyala penuh kobaran amarah.
"Apa yang kamu lakukan pada Elea hingga dia bersedih seperti tadi?! Hm?! "
Lovi tidak menyangka kalau Devan akan menghampirinya dan berbuat seperti ini setelah mengantar Elea kembali kekamarnya.
Tak lama Devan pergi bersama dengan Elea, Lovi pun memilih untuk kembali masuk kamar dan melanjutkan tulisan hariannya yang hampir jadi. Dan sekarang Lovi benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Lovi tidak tahu apa alasan Devan kembali ke Paviliun ini. Padahal tidak ada hal apapun yang dia lakukan terhadap Elea.
"Aku..."
Belum sempat Lovi menjawab, Ia masih dalam kendali Devan hingga tiba-tiba punggungnya menyentuh dinding.
"Arrghh,"
Ia tidak tahu lagi harus bertindak seperti apa untuk melawan Devan. Seluruh kekuatannya sudah dikerahkan untuk memberontak sebagai bentuk perlawanan terhadap Devan.
"APA YANG KAMU KATAKAN PADA ELEA?! JAWAB AKU!!"
Lovi menggeleng. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menjawab pertanyaan Devan.
Lovi menangis dalam diam. Ia tak bisa menatap Devan yang sedang Dilanda kemarahan ini. Ia benar-benar takut. Takut kalau Devan akan menghabisinya juga saat ini.
Kristal bening itu mulai berjatuhan dari mata hazel Lovi. Tak bisa menghitung lagi rasa sakit yang sedang ia alami saat ini. Semuanya terasa menyayat hati. penderitaan yang bertubi-tubi membuat Lovi hampir menyerah. hal yang membuat Devan berubah menjadi bukan dirinya untuk beberapa detik.
Tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkan Devan. Ia hanya menatap Lovi dalam diam. Dengan raut wajah yang mulai tenang.
"Aku peringatkan padamu, Ini untuk terakhir kalinya kamu membuat Elea bersedih. Kalau kamu melakukan hal itu lagi, Kamu akan tahu akibatnya!"
"Dan jangan lagi kamu meracuni semua keluargaku. Mereka semua membela kamu yang seharusnya dibuang ini,"
Devan pergi dengan meninggalkan kehancuran pada diri Lovi. Ini belum lama. Lovi masih harus bertahan. Mungkin bukan dia yang akan memberi pelajaran untuk lelaki itu. Melainkan yang lebih berkuasa atas segalanya.
*******
Jgn lupaaa heyyy tinggalkan jejaknya dungss. Makasii manteman...
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya