Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Ciuman Pertama
Kepercayaan Mark pada Nesya sangat besar, dia memberikan apa yang Nesya pinta secepatnya. Mark tengah melamun, dia tengah memikirkan konsep seperti apa untuk pernikahan dia dan Nesya nanti. Mark merencanakan pernikahan mewah.
"Tuan muda," sapa Abi dan Gimar yang masuk kedalam ruangannya.
"Bagus kalian datang, sudah selesai semua urusan?" Tanya Mark.
"Sudah, Tuan muda," jawab Gimar.
"Tuan, bolehkan saya bicara sebagai sahabat?" Tanya Abi.
"Bicaralah Abi," jawab Mark.
"Tuan, kenapa anda melepaskan kekuasaan anda pada perusahaan Jamiel? Kalau anda masih berkuasa di seluruh anak perusahaan Jamiel, maka anda berkuasa penuh Tuan, atas diri Nesya, Nesya tidak akan berani menyakiti anda Tuan," ucap Abi yang masih menundukkan kepalanya.
"Demi Nesya, aku menghapus protokoler penjaga keamananku, karena dulu Nesya bilang, tidak mau jadi kekasihku karena serasa pacaran dengan anak Presiden, demi dia aku tidak lagi meminta salah satu dari kalian mengawalku, keamanan diriku saja aku acuhkan demi kenyaman Nesya, apalagi hanya masalah perusahaan kecil itu," seru Mark.
"Tuan, tapi ... bagaimana kalau Nesya pergi dari anda, Anda tidak mengikatnya jika membebaskan semua perusahaan Jamiel," ucap Abi.
"Abi, aku sangat mencintai Nesya, aku percaya padanya, aku sangat bahagia bersama Nesya,"
Abi langsung bungkam mendengar jawaban dari Mark. "Kalau begitu kami permisi Tuan muda, ini semua berkas yang Tuan muda pinta," Abi memberikan beberapa berkas pada Mark. Kebahagiaan Mark memang terlihat sangat jelas, membuat Abi dan Gimar tidak berani buka suara tentang Nesya.
Abi dan Gimar berada di ruangan kerja mereka.
"Bagaimana ini Mar? Kita tahu perempuan seperti apa Nesya, bagaimana kalau dia hanya memperalat Tuan muda?"
"Aku tidak bisa bicara Abi, kebahagiaan Tuan muda sangat besar jika bersama wanita jal*ng itu,"
"Mulai sekarang kita awasi Nesya, kita pastikan dia tidak menyakiti Tuan muda, kalau tuan muda sakit hati, bisa jadi neraka kota ini," gerutu Abi.
"Kamu benar Bi, marahnya orang besar, bikin sakit semua orang yang bekerja padanya,"
Abi dan Gimar menjalankan misi mereka, menyuruh orang-orang Mark, untuk mengawasi Nesya.
***
Nesya bukan perempuan bodoh, dia sangat yakin kalau nantinya Abi atau Gimar akan mengirim mata-mata untuk mengikuti kemanapun dirinya pergi. Nesya tidak berani kemana-mana selain bekerja, ponselnya pun dia matikan, hanya ponsel yang biasa di hubungi Mark yang masih aktif. Nesya menghabiskan semua kontrak modelingnya dan tidak menerima pekerjaan baru lagi, membuat rekan sesama model heran. Termasuk Ara.
Kontrak kerja sama yang di tolak Nesya, bukan kontrak kecil, nilainya begitu luar biasa, namun Nesya kekeh tidak menerima kontrak baru. Ara semakin penasaran pada Nesya.
***
Gildan semakin putus asa, pengumuman pembangunan gedung itu semakin dekat, sedang Nesya tidak dapat di hubungi. Lebih dari sebulan dia tidak menerima kabar dari Nesya, juga tidak bisa menghubungi wanita yang menjanjikan banyak hal padanya.
"Besok hari kelulusan Ara dan Shita, mereka sudah tamat SMA, apa keputusan kamu Gildan?" Tanya Sammy.
"Lanjutkan saja pah perjodohan ini, tapi om Pram tidak perlu melepaskan Kontrak, aku bisa membangun mimpiku kembali," jawab Gildan pasrah dengan nasibnya.
"Baiklah, aku akan mengabari Pram dan Arum. Tolong jangan kamu sakiti anak gadis Pram, pesona apa yang kamu miliki Gildan, sehingga Ara tergila-gila padamu," seru Sammy. Namun Gildan hanya diam, matanya fokus memandangi pemandangan luar rumah lewat kaca jendela itu.
Walaupun Gildan memintanya meneruskan kontrak kerja sama tersebut, Pram tetap mundur dari proyek itu. Dia sangat memikirkan perasaan Gildan.
***
Ara tengah bersiap, dia akan melakukan pemotretan sore ini.
"Ara sayang, mulai sekarang kurangi jadwal modeling kamu, karena kamu dan Gildan akan menikah secepatnya," seru Arum.
"Beneran mah?" Wajah Ara memerah seketika menahan luapan kebahagiaannya.
"Iya sayang, kamu mulai sekarang belajar masak ya, kasian Gildan kalau kamu gak bisa masak," seru Arum.
"Nggak perlu belajar masak mah," jawab Ara dengan entengnya.
"Belajar masak itu penting sayang," seru Arum.
"Kata di film nih ya mah, gak bisa masak itu gak apa-apa, asalkan masih bisa makan," seru Ara.
"Araaa!" Teriak Arum geram.
"Bye mama ... aku mau pemotretan dulu," seru Ara sambil mencium pipi kanan Arum. "Aku berangkat mah," seru Ara.
Arum pasrah melihat kelakuan putri semata wayangnya itu.
Sesampai di luar rumah, senyum Ara merekah, melihat mobil yang sangat dia kenal parkir di depan pagar rumahnya. Ara berlari mendekati mobil itu. "Kak Gildan?" Sapa Ara.
"Hai manis, mau aku antar?" Tanya Gildan.
Ara tidak menjawab, dia langsung masuk ke mobil Gildan. "Terimakasih kak," ucap Ara yang sudah duduk di kursi mobil Gildan.
"Ara, kenapa kamu meminta papamu untuk perjodohan ini?" Gildan menatap tajam pada Ara.
Seketika tubuh Ara menggigil di tanya Gildan hal itu.
"Ara ...." Gildan menangkup wajah Ara dengan kedua telapak tangannya. Tatapan Gildan tajam memandanginya
"Ara ... katakan kenapa? Jawab dan tatap aku, apakah aku jelek sehingga kamu tidak mau memandang wajahku?" Tanya Gildan. Wajah Ara dan wajahnya sangat dekat, hembusan napas Ara yang tidak teratur terpantul jelas di kulit wajahnya.
"Sejak lama a--akuuu jatuh cinta sama Kak Gildan," ucap Ara lirih.
"Benarkah?" Tanya Gildan sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.
"Hemmm," jawab Ara, Ara tidak bisa berkata, karena mulutnya di bungkan oleh bibir Gildan. Lidah Gildan juga masuk kedalam area mulutnya. Perasaan Ara meledak-ledak, ini ciuman pertamanya.
Gildan menarik sedikit wajahnya dari Ara. "Kenapa diam?" Tanya Gildan.
"Aku harus apa?" Jawab Ara sambil menyapu bibirnya yang basah karena ciuman maut Gildan.
"Ikuti pergerakan lidahku," bisik Gildan lalu mengulangi lagi cumbuan mereka. Ciuman bibir mereka semakin panas, sesekali Gildan menarik wajahnya dari Ara, memberi kesempatan gadis kecil itu untuk menghirup oksigen. Tangan Gildan menelusup kedalam bagian baju Ara, lalu mengeluarkan sesuatu dari tempatnya. Dia memainkan milik Ara tersebut.
Perasaan Ara campur aduk karena tangan Gildan bermain manja pada area lembah kembarnya. Ara tidak sanggup menahan perasaan yang timbul. "Hemmm," Ara memberi kode agar Gildan berhenti.
Gildan melepas pangutannya. "Apa manis?" Tanya Gildan, namun tangannya masih melakat pada bagian dada Ara.
"Aku harus melakukan pemotretan," ucap Ara.
"Maafkan aku," seru Gildan, dia menarik tangannya dan langsung menghidupkan mesin mobilnya, mobil Gildan melaju meninggalkan rumah Ara, menuju tempat pemotretan Ara. Sedang Ara langsung membetulkan bra nya yang tidak pada posisinya kembali pada posisi yang benar.
Sepanjang jalan tangan Gildan menggenggam tangan Ara. Membuat kebahagiaan Ara semakin besar. Lama membelah jalanan, Gildan sampai di tempat pemotretan Ara.
"Makasih ya kak," seru Ara.
"Jangan makasih doang, sini," seru Gildan menunjuk bibirnya. Melihat Ara yang malu Gildan semakin semangat menggodanya. "Kamu harus melakukannya saat kita bertemu," seru Gildan.
Ara memberanikan diri dan langsung mencium bibir Gildan tanpa mengecupnya. "Sampai jumpa, aku sudah telat ini," seru Ara. Ara langsung turun dari mobil Gildan dan berlari masuk ketempat pemotretan itu.
Setelah Ara pergi, Gildan langsung meninggalkan tempat itu.
***
Sepanjang acara pemotretan wajah Ara sangat jelas memancarkan kebahagiaan, mengingat ciuman pertamanya dengan Gildan. Pemotretan Ara berjalan lancar. Ara berjalan sambil mengetik chat pada ponselnya, selesai mengirim pesan, Ara menyimpan ponselnya, melihat wanita yang berjalan di depannya Ara langsung memanggil wanita itu. "Kak Nesya …." Teriaknya.
Nesya menghentikan langkahnya dan berbalik. "Hai, anak baru," sapa Nesya saat melihat Ara berlari mendekati dia.
"Kak Nesya, boleh aku bertanya?"
"Silahkan, tapi cepat aku ada urusan"
"Kenapa kak Nesya berhenti jadi model?"
"Karena Nesya akan menikah," jawab seseorang yang berdiri di belakang Nesya.
"Wah, selamat kak Nesya," seru Ara.
Nesya berbalik, melihat sumber suara itu. "Beib," sapa Nesya saat melihat Mark.
"Aku jemput kamu beib," ucap Mark melingkarkan tangannya pada bahu Nesya.
Saat yang sama Gildan datang menyaksikan hal itu.
"Kak Gildan!" seru Ara.
Nesya langsung menengok ke arah yang di pandang Ara. Benar saja Gildan ada di belakangnya.
"Kak Gildan, kak Nesya model cantik itu juga akan menikah dengan kak Mark," seru Ara.
Pandangan Gildan sesaat memandang Nesya. "Pantas kamu memutuskan semua panggilan, kamu mendapat yang jauh lebih baik dari aku," gerutu hati Gildan.
"Kami juga akan menikah dalam waktu dekat ini," seru Ara.
Nesya sangat terkejut mendengar penuturan Ara, namun berusaha ber ekspresi datar.
"Selamat Ara," seru Mark.
"Terima kasih," ucap Ara.
"Ayo kita pulang," seru Gildan melingkarkan tangannya di pinggang Ara. Mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu lebih dulu.
"Kita kerumahku ya, mama sama Shima rindu kamu," ucap Mark.
Seketika Nesya terperanjat dari lamunannya mendengar perkataan Mark. "Iya" jawab Nesya.
Nesya dan Mark meninggalkan tempat itu juga, mobil Mark langsung melaju menuju kediamannya.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark