Leona harus menghadapi cobaan hidup yang berat sejak usia dini. Ketika berusia lima tahun, orangtuanya, yang merupakan sepasang perwira yang teguh, tewas dalam pembantaian mengerikan karena ikut mengusut sebuah kasus besar yang terjadi di kota X.
Ditinggalkan tanpa keluarga, Leona harus belajar bertahan dan menghadapi kehidupan yatim piatu. Meskipun begitu, kekuatan batinnya yang luar biasa membantu Leona melawan rasa kehilangan dan kesepian. Pada usia enam tahun, hidupnya berubah secara tak terduga ketika dia diadopsi oleh seorang pria kaya bernama Willson Smith.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika Leona mengetahui bahwa Willson Smith sebenarnya adalah seorang ketua mafia yang kuat dan berpengaruh di kota C. Terpapar oleh dunia gelap kejahatan, Leona harus menemukan keberanian dan keteguhan untuk menjaga integritasnya sendiri.
Sanggupkah dia menemukan pembunuh kedua orang tuanya dan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Tap...
Tap...
Tap...
Tiga orang pria tiba-tiba saja muncul, mereka merupakan guru beladiri yang melatih Leona. Pagi ini sepertinya mereka datang agak terlambat, karena mension besar itu terlalu ramai hingga sulit untuk di tembus.
"Selamat pagi tuan Willson, selamat pagi nona Leona." ucap ketiga orang pria itu bersamaan.
Leona melirik dengan cepat, kemudian segera mengajak Ketiga orang gurunya itu untuk bergabung bersama dengannya dan menikmati sarapan pagi.
"Selamat pagi sensei! Mari sarapan bersama."
Ketiga orang pria itu terlihat saling berpandangan, sedangkan Willson Smith langsung menganggukkan kepalanya, dia menyetujui keinginan putrinya untuk mengajak ketiga orang guru bela dirinya itu agar turut serta menikmati sarapan bersamanya.
"Duduklah! Kalian bisa menikmati sarapan sebelum melanjutkan pelatihan, lagi pula sepertinya Tuan Putri kita ini masih belum membersihkan diri."
Leona terlihat langsung mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Willson yang terkesan menyindirnya karena belum mandi sejak pagi tadi, namun tak lama kemudian gadis kecil itu segera beranjak dari kursi makan untuk segera kembali menuju kamarnya.
Tiga puluh menit kemudian, Leona telah kembali dan bersiap untuk melanjutkan pelatihannya, sedangkan Willson Smith saat ini langsung naik ke atas menuju lantai 3 di mana kamarnya berada.
Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat melihat pintu kamar tidur yang ditempati oleh Leona terbuka, tanpa sengaja Willson melihat keberadaan tas lusuh yang selalu dibawa kemana-mana oleh Leona, membuat pria itu merasa penasaran, apa sebenarnya yang dibawa oleh gadis kecil itu.
Tanpa berpikir dua kali, akhirnya Willson pun melangkahkan kakinya dan memasuki kamar Leona, dengan segera dia pun mendekati tas itu kemudian membuka resletingnya.
Wajah Willson sejenak berkedut melihat banyaknya barang yang Leona bawa, namun yang menarik perhatian pria itu adalah keberadaan berkas-berkas dan sebuah album photo.
Willson menggerakan tangannya untuk mengambil benda itu, hingga tanpa sengaja tangannya menjatuhkan sebuah flashdisk.
Pluk...
Willson segera membungkuk dan mengambil flashdisk itu, dia berencana untuk melihatnya nanti, tanpa ragu, Willson pun menyimpan flashdisk itu dalam saku trainingnya.
Dengan santai, Willson membuka satu persatu berkas yang ada ditangannya, keningnya berkali-kali terlihat berkedut saat membaca tulisan demi tulisan yang tertera disana, dengan cepat, dia pun mengambil ponselnya dan langsung mengarahkan kameranya pada tiap lembar tulisan yang kini ada dihadapannya itu.
Entah kenapa Willson tiba-tiba saja menjadi sangat penasaran dengan asal-usul Leona, apalagi setelah membaca keseluruhan berkas itu, membuat Willson semakin tak tenang, dia yakin jika saat ini gadis itu berada dalam bahaya.
"Siapa Leona sebenarnya? Dan kenapa begitu banyak orang yang mengincar gadis itu? Sepertinya aku harus mulai mencari tahu tentang asal-usul dan juga keluarganya." gumam Willson sambil memasukkan kembali berkas-berkas itu ke dalam tas lusuh milik Leona.
Willson segera meraih album foto dan membuka satu persatu gambar yang ada di sana, matanya seketika langsung membola melihat penampakan seorang wanita cantik, membuat jantung Willson langsung berdetak dengan sangat kencang.
Apalagi saat melihat sosok Leona berada dalam pangkuan wanita itu, membuat Willson mengingat kembali kejadian 7 tahun yang lalu, di mana dia yang saat itu tengah mabuk parah tanpa sengaja telah meniduri seorang gadis.
Flash back on.
"Tuan muda, anda tidak apa-apa?" tanya Robin, tangan kanan kepercayaan Willson.
Hoek...
Hoek...
Willson memuntahkan seluruh isi perutnya, dia benar-benar mabuk akibat terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol, membuat Robin mau tak mau akhirnya segera memesan kamar hotel, agar bosnya itu bisa beristirahat.
Setelah menyelesaikan administrasi, akhirnya Robin pun mendapatkan kunci kamar, kemudian memapah Willson menuju kamar yang telah dibayarnya. Namun Willson yang saat itu benar-benar telah dikuasai oleh alkohol, tiba-tiba saja langsung menarik tubuh seorang gadis yang merupakan cleaning service di hotel itu dan langsung membawanya ke dalam kamar, membuat Robin berusaha untuk mencegah perbuatannya.
Namun sayang, Willson yang saat itu telah dikuasai oleh kabut gairah tidak bisa dihentikan dan Robin hanya bisa menarik nafas panjang sambil mengurut dadanya. Semoga saja tidak akan menjadi masalah besar, jika sampai terjadi sesuatu pada gadis itu.
Malam itu Willson merenggut kehormatan seorang gadis yang ternyata masih suci, dia telah merusak masa depan seorang gadis yang baik.
Hiks... Hiks... Hik...
Terdengar suara isak tangis tersedu-sedu dari seorang gadis, yang menggulung tubuhnya dengan selimut, sambil memegangi lututnya. Wajahnya terlihat sembab, dengan mata yang bengkak, membuat Willson yang terlelap akhirnya terbangun dan merasa heran dengan keberadaan seorang gadis di atas tempat tidurnya.
"Siapa kau?" tanya Willson. Namun gadis itu tidak menjawab pertanyaan Willson sedikitpun membuat pemuda itu menjadi berang, hingga akhirnya hampir melayangkan telapak tangannya ke wajah gadis itu.
Drrt...
Drrrt...
Ponsel Willson berdering, hingga akhirnya pemuda itu melirik ke arah layar ponsel dan melihat jika saat ini Robin, kaki tangannya menghubungi.
📱"Dimana kau?" tanya Willson.
📱"Bos, aku sudah menunggu dibawah, haruskah kuantarkan pakaian kerja keatas? Anda ada pertemuan penting dengan beberapa orang pengusaha jam sepuluh nanti." jawab Robin.
📱"Kau tahu siapa gadis yang saat ini ada dikamarku?" tanya Willson kembali.
📱"Anda tidak mengingatnya?" Robin terdengar meragukan pertanyaan yang diajukan oleh Willson, namun tak lama kemudian dia pun segera menceritakan kembali kejadian tadi malam, ketika Willson dalam keadaan mabuk, membuat pemuda itu akhirnya mengerti, jika saat ini dia telah melakukan sesuatu hal yang sangat salah, sehingga telah merusak kehormatan seorang gadis.
📱"Hmm.. Aku mengerti!" ucap Willson sambil mematikan panggilan teleponnya, kemudian memungut kembali seluruh pakaiannya yang berceceran di lantai, dan langsung memasangkannya kembali.
"Ambil ini!" ucap Willson sambil mengambil kartu nama dan juga black card yang ada di dompetnya, kemudian melemparkannya ke atas tempat tidur, sedangkan gadis itu hanya melirik dengan ujung matanya dan masih tetap terisak. Dia sedikitpun tidak bergerak apalagi mengambil kedua kartu yang telah dilemparkan oleh Willson Smith.
"Kau bisa menggunakan kartu itu untuk mencukupi kebutuhanmu, kau juga bisa menghubungiku jika ada masalah." ucap Willson sambil berjalan menuju pintu, dan langsung meninggalkan gadis itu.
Flash back off.
Meskipun dia menyerahkan sebuah black card dan juga kartu namanya, hingga hari ini Willson masih belum juga menemukan gadis itu dan kini sebuah foto telah menjawab kebingungannya.
Gadis itu telah menikah dengan pria lain dan memiliki seorang putri berusia 6 tahun, namun benarkah Leona anak kandung dari pria itu? Ataukah memang merupakan putri kandung Willson Smith, yang telah merenggut kehormatan dari wanita yang menjadi ibu gadis kecil itu?