Kisah seorang gadis yang terjerat hubungan sangat rumit, dia menikahi seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Gadis itu mengambil keputusan dalam desakan yang tidak bisa dipungkiri. Keinginan, cinta pertama serta cita-citanya dia lupakan karena suatu tragedi yang menimpanya.
Di suatu ketika dia mengetahui rahasia besar, kenapa suaminya menikahinya? Dan rahasia itulah yang membuat gadis itu berubah 180°.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Benar?
Muezza tidak ingin mengalami hal yang sama seperti tadi, kali ini dia meminta Vita duduk di belakang dan dia yang mengemudikan motor matic tersebut.
“Kamu bisa naik motor, Mue?” celetuk Vita yang tidak yakin akan kemampuan teman sekelasnya.
Muezza yang tidak terima langsung memajukan kepalanya dengan mata yang membulat.
“Kamu tidak percaya sama aku!” katanya dengan mata yang memicing.
Vita tersenyum masam dengan tangan yang menggaruk leher belakang.
“Aku takut aja,” cicitnya tidak jelas.
“Kenapa? ... kenapa kamu takut?” tutur Muezza mempertanyakan alasan Vita.
Gadis itu memutar tubuh Muezza dan memberikan kunci motornya, jelas bukan jika dia tidak mau menyinggung perasaan temannya.
“Gaskeun ‘lah!” Perintah Vita dengan tangan yang terangkat ke atas.
Muezza yang semula murung kini tertawa sambil memundurkan motor Vita. Desiran angin selembut lain sutra, ia membelai kulit sawo matang Muezza dan memberikan sensasi sejuk.
Hamparan lain yang cerah menambah semangat dua gadis itu dan ketika Muezza berhenti di lampu merah tanpa sengaja dia melihat seseorang yang selalu memenuhi mimpinya.
Diturunkannya flat visor untuk menutupi wajahnya agar Alun tidak dapat melihatnya berada di sana. Gadis itu sudah bertekad akan menghindari Alun, dia tidak ingin menjadi seorang gadis yang mengemis cinta.
Sejak pertemuan terakhir mereka di sebuah restoran Chinese food yang membuat Muezza sadar akan kehadirannya di hidup Alun hanya sebagai rumput liar. Meski demikian rasa kagumnya tidak pernah pudar dan tidak semudah itu dia melupakan pria pujaan hatinya.
Di tengah kefokusannya melihat Alun dari ekor matanya, Vita menepuk bahu Muezza.
“Bukannya itu kakak Laras?” Vita membuka flat visor yang melindungi wajahnya dari terpaan angin.
“Hmm,” gumam Muezza menyahuti pertanyaan Vita.
“Ganteng banget, ya.” Vita meremas lengan Muezza sampai gadis itu memekik kecil dan suaranya menarik perhatian Alun yang sedari tadi terbengong.
Pria itu menolehkan pandangannya ke arah Muezza berada, tentu saja jantung gadis itu berdegup sangat kencang. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa gerah, padahal tadi dia merasa kedinginan.
“Mue! Dia lihat kita,” ujar Vita kegirangan.
Sontak gadis itu menyapa Alun dengan nada suara yang terdengar genit.
“Hai, Kak!”
Alun si cowok dingin hanya mengernyitkan keningnya sambil mengacungkan salah satu jarinya kepada Vita.
Muezza tidak menyangka bahwa Alun akan melakukan hal seperti itu, tapi dia tetap mengagumi sosok pria berparas tampan tersebut.
“Dih, sombong!” hina Vita sembari membalas perilaku Alun sama persis apa yang pria itu lakukan terhadapnya.
“Masih kecil jangan centil! Sekolah yang bener,” saran Alun dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
“Aku udah besar!” sungut Vita tidak terima.
“Iya, kepalamu yang besar. Dasar bocil!” cemooh Alun seraya menekan Power window.
“Dasar sombong, sok ganteng!” cibir Vita berang.
Muezza mendongak melihat lampu rambu lalu lintas, terlihat lampu merah telah menyala segera dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat Alun terpancing emosi, dia pikir gadis yang menggodanya itu menantang untuk berduet.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sama bahkan dia melebihi kecepatan rata-rata. Di tengah balapan sengit ini dia memepet motor yang dikendarai Muezza dan dia meminta gadis itu untuk menepi.
“Berhenti woi!” teriak Alun dengan tangan yang menunjuk.
Alih-alih menepikan motornya Muezza semakin tancap gas tanpa rasa takut.
“Dasar bocil tidak punya aturan!” decak Alun bergerak cepat memblokir jalan kedua gadis yang dia kejar sejak tadi.
Mau tidak mau Mue mematikan motornya, lalu dia menyuruh sang teman untuk tidak melawan ataupun berkata kasar lagi. Bukan untuk membela Alun, hanya saja dia tidak ingin terlibat masalah yang akan membuatnya terlambat untuk pulang ke rumah.
Pria yang mengenakan jaket kulit itu turun dan berjalan dengan gagahnya menghampiri Murah dan juga Vita.
“Kalian mau mati!” tunjuk Alun penuh emosi.
“Orang tua kalian di rumah menunggu kepulangan kalian. Jika terjadi sesuatu siapa yang akan menyesal?” tandas Alun lebih tegas.
Kepala kedua gadis itu tertunduk dan setelahnya Vita melepas helmnya.
“Terima kasih, Kak atas nasehatnya. Kami tidak berniat seperti itu, iyakan Mue?” sanggah Vita penuh percaya diri.
Alun menggulirkan bola matanya ke samping menatap gadis yang masih menggunakan helm tanpa membuka flat visor. Kepala lelaki itu menunduk dan menelisik gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Dia Muezza Irabela?” tanya Alun dengan mata yang melirik Vita.
Gadis yang menggunakan celana jeans biru langit tersebut mengangguk mengiyakan pertanyaan Alun.
Kali ini Alun lebih fokus menatap Muezza dan bertanya.
“Kamu mau ke mana?”
Alih-alih menjawab gadis itu hanya menggeleng cepat. Kepala alun bergerak mundur, dia merasa aneh dengan tingkah gadis ini.
“Lagi sariawan?” Bertanya lagi dengan tangan yang menyilang di dada.
Lagi-lagi kepala Muezza menggeleng, hal ini membuat Alun geregetan.
“Kalau ditanya jawab, punya mulut ‘kan?”
“Kami mau pulang, Kak. Ini saya mau anter Mue pulang,” sahut Vita tidak tahan melihat Muezza berakting.
“Rumah kamu di mana?” Alun berbalik badan bertanya kepada Vita.
“Daerah J jalan Grogol,” jawab Vita lebih kalem.
“Kamu pulang aja! Biar dia aku yang anter,” ucapnya memerintah.
“Huh?” Vita tersentak mendengar kalimat perintah Alun.
“Enggak denger perkataan ku?” tanya Alun memastikan.
“Hanya memastikan saja Kak,” kila Vita menadahkan tangan meminta helm yang dikenakan Muezza.
Dengan berat hati gadis itu melepas pengait helm dan menyerahkannya kepada sang pemilik. Sebelum meninggalkan Muezza bersama Alun, gadis itu berbisik sangat pelan.
“Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa langsung teriak saja!” saran Vita setelah memasukkan helmnya ke dalam bagasi motor.
Selepas melihat Vita melesat pergi, Alun membukakan pintu mobil. Sepanjang perjalanan Muezza membuang mukanya melihat ke luar jendela, sikapnya sudah tidak sama lagi.
Gadis itu lebih diam dan tidak banyak memperhatikan lelaki yang duduk di sampingnya, Alun yang suka ketenangan tidak menghiraukan hal itu. Bahkan dia menyukai hal ini.
Namun, tiba-tiba saja Alun menepikan mobilnya di bahu jalan dan melepas safety belt. Muezza gusar, gadis itu menggenggam erat safety belt.
Apa yang akan dia lakukan? Kenapa berhenti di sini? Tanya Muezza dalam hati kecilnya.
“Kamu diem di sini! Aku mau beli rujak kesukaan ibuku,” titah Alun dengan suara baritonnya.
Muezza tertawa getir dan bernapas lega mendengar ucapan Alun, dia sangka lelaki itu akan memperlakukannya dengan tidak pantas. Sungguh prasangka buruk itu tidak baik.
"Dasar bodoh!" katanya merutuki dirinya sendiri.
Dari kejauhan Muezza memperhatikan lelaki itu, tanpa diperintah bibir tipisnya menyunggingkan senyum termanis.
“Cewek mana yang tidak akan terpesona melihatmu?” tuturnya mengagumi paras Alun.
“Lalu, apa kau termasuk ke dalam kategori cewek yang terpesona saat melihat ku?”
Muezza terjingkat mendengar pertanyaan seperti itu dari Alun. Gadis berbaju cokelat tersebut bergerak dengan gelisah dan jemarinya memainkan cincin yang melingkar di jari manis.
jangan jangan sudah firasat ini😑😑jangan bikin mereka kehilangan ayah 🥺
sabar yah mue , ingin kuliah tapi liat kondisi keuangan 😓😓😓😓😓😓