Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9_Kebencian Michael
Dengan langkah tergesa, Michael memasuki pekarangan rumah orangtuanya. Dia hanya datang ke sana jika ada sesuatu yang membuatnya harus datang dan itu jarang sekali. Palingan dia datang karena merindukan mamanya. Namun, baru saja papanya menelfon dengan suara yang diyakini tengah marah besar. Itulah sebabnya Michael datang ke rumah orangtuanya dengan tergesa-gesa.
Seorang wanita berusia hampir tiga puluh lima tahun keluar dari arah dapur dan langsung mendatangi Michael yang masih melangkah menuju ruangan Adelardo. Rani, wanita tersebut sudah bekerja cukup lama di keluarga Aditama.
“Tuan Michael, selamat datang,” sapanya sopan kepada Michael.
“Papa di ruangan?” tanya Michael dengan suara datar.
Belum sempat Rani menjawab, suara pintu ruangan terbuka mengalihkan pandangan mereka bertiga. Adam keluar dari ruangan dan menatap Michael dengan senyum tipis dan menunduk. Setelahnya, dia mendongak dan menatap Michael datar.
“Tuan menunggu anda di ruangan,” ucap Adam dan langsung membukakan pintu ruangan Adelardo.
Michael menghembuskan nafas panjang dan melangkah memasuki ruangan tersebut. Adelardo yang melihat langsung mengalihkan pandangannya dari gadis yang ada dihadapannya menjadi menatap Michael yang sudah masuk.
“Papa memanggil Ael?” tanya Michael ketika sudah sampai di depan meja ruangan Adelardo.
Adelardo hanya diam dan menatap ke depan, menatap gadis yang sejak tadi diam di kursi depannya. Michael menatap ke arah yang sama dan langsung membelalak melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Kamu lagi,” desis Michael tidak suka dengan kedatangan Vinda dihadapannya. Namun, sedikit perasaannya menolak untuk membencinya.
_____
Vinda menatap Michael yang juga tengah menatapnya. Tidak ada yang membuatnya takut meski saat ini dia berhadapan dengan salah satu pewaris tunggal keluarga Aditama. Dia bahkan sudah bertemu dengannya ketika di café Dika dan Vinda tidak terlalu menggubris dengan kehadiran Michael.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Michael tidak suka dengan kehadiran Vinda.
Vinda menatap Michael sembari mengerutkan kening. “Memangnya ada masalah ketika saya datang ke sini?” Vinda malah melemparkan pertanyaan dan menatap Michael kesal. Kenapa dia harus bertemu lagi dengan pria dihadapannya ini?, gerutu Vinda dalam hati.
“Aku bertanya padamu, jangan balik bertanya,” geram Michael sembari menunjuk Vinda kesal karena gadis dihdapannya seperti mengabaikan dan tidak memiliki rasa takut sama sekali.
Vinda menghela nafas panjang dan menatap Michael aneh. Bahkan dia tidak mengenal Michael dan dalam sehari dia sudah berurusan dengan orang yang sama. Sebuah deheman membuat mereka mengalihkan pandangan, menatap ke arah Adelardo yang sejak tadi menjadi penonton pertengkaran mereka berdua. Vinda langsung diam, sedangkan Michael hanya menatap datar dan langsung duduk bersebelahan dengan Vinda.
“Kalian sudah bertengkarnya?” tanya Adelardo dengan suara dingin.
“Maaf, Pak,” sahut Vinda dengan menundukan wajah, segan. Sedangkan Michael hanya diam dan menatap papanya tanpa rasa takut.
Adelardo menghela nafas panjang dan menatap Michael dengan tatapan tajam. Dia tidak menyukai apa yang dilakukan anaknya kali ini. Berita dan informasi yang didapat membuatnya menghela nafas panjang, menghilangkan rasa kesal yang sejak tadi dipendam.
Adelardo mengambil amplop dan membantingnya tepat di depan wajah Michael. Michael yang melihat mengerutkan kening heran dan langsung mengambilnya, membuka dengan wajah masih tenang. Ketika matanya melihat tulisan yang tertera, dia sudah tidak merasa asing dan kaget dengan apa yang akan terjadi nantinya. Hanya saja dia tidak memikirkan Vinda akan melakukan hal senekad itu. Datang ke rumahnya dengan kemungkinan kecil bisa bertemu dengan papanya.
“Bisa kamu jelaskan itu apa, Ael?” tanya Adelardo dengan wajah serius.
Michael yang mendengar masih mempertahankan ketenangannya dan melirik Vinda yang juga diam disebelahnya. Matanya melirik tajam dan menghembuskan nafas pelan, kembali menatap papanya yang sudah tampak murka dihadapannya.
“Kenapa diam? Bisa jelaskan itu semua, Ael? Mengelurkan mahasiswi berprestasi yang akan menjadi dosen di Universitas kita tanpa sepengetahuan Papa. Apa itu masih bisa ditoleransi?” ucap Adelardo dengan wajah yang sudah mengeras.
Michael menarik nafas dalam dan menatap papanya tajam. “Bukankah Ael berhak atas Universitas tersebut dan berhak mengambil keputusan?”
“Tapi kamu tidak berhak mengeluarkan seseorang tanpa seizin Papa, Ael!” bentak Adelardo sembari menggebrak meja.
Vinda langsung berjingkat kaget karena sejak tadi Adelardo menunjukan wajah tenang dan ramah ketika bersamanya. Sedangkan sekarang, dia seperti melihat wajah berbeda karena Adelardo sudah tampak dengan taringnya.
“Kenapa Papa membela dia dan bukannya, Ael? Apa keputusan Ael salah dengan mengeluarkan anak yang sudah membuat Ael marah?” tanya Michael dengan suara yang masih tenang, tetapi terselip ketegasan yang membuat Vinda bergidik ngeri.
Vinda hanya diam dengan tangan yang menggenggam tali ranselnya erat, menyalurkan perasaan takut yang sudah hampir berada di puncak. Kenangan masa lalu tentangnya kembali berkilas dan membuatnya merasa ngeri. Matanya terpejam, mencoba melupakan kenangan yang berkelebat di dalam otaknya saat ini. Kamu harus kuat, Vinda. Mereka tidak akan menyakitimu. Tenanglah. Ucap Vinda dalam hati, mencoba menegarkan diri sendiri.
“Kamu sudah kelewatan, Ael!” Adelardo mengeluarkan semua amarahnya dan menatap anak semata wayangnya dengan tatapan kesal bercampur kecewa, “Papa kecewa sama kamu.”
Michael bangkit dan sedikit mendorong kursi ke belakang. Hanya karena Vinda dia mendapatkan kalimat tersebut? Dengan wajah yang masih diselimuti dengan kesal, tangannya menarik Vinda yang ada didekatnya. Membuat Vinda membuka mata dan menatap ngeri.
“Papa memilih membela dia tanpa tau apa maksud Ael? Papa terlalu mempercayai orang lain ketimbang anak sendiri,” desis Michael dengan rahang mengeras dan menatap Vinda.
“Kamu itu biang masalah!” bentak Michael membuat Vinda menjerit tertahan dan menitikan air mata.
Vinda mengatur jantungnya yang sejak tadi berdegup tidak karuan. Apalagi saat tangannya dipaksa untuk bangkit dan menatap tatapan benci dari Michael. Apa salahnya? Dia bahkan tidak mengenal pria dihadapannya saat ini, tetapi sepertinya dia begitu membenci. Teriakan dari Michael membuat Vinda semakin kehabisan nafas dan menitikan air matanya. Seberapa kuat dia mencoba untuk kuat dan terlihat tegar, nyatanya dia juga memiliki kelemahan.
“Ael, kamu keterlaluan. Papa sudah menghubungi pihak kampus dan meminta penjelasan dan semua adalah ulah kamu,” ucap Adelardo masih dengan tatapan tajam.
“Iya, karena Ael tidak menyukai dia,” ucap Michael sembari menunjuk Vinda yang hanya diam, “dia sudah membuat wanitaku mengalami kekesalan hari ini. Dia tidak bisa menjalankan tugasnya dengan benar.”
Wanitanya? Vinda menggenggam erat tas yang sejak tadi dibawanya. Dia berjuang sendiri menghilangkan rasa takut yang mulai menyerang. Wajahnya sudah dipenuhi keringat yang sejak tadi mengucur tanpa henti.
“Wanitamu?” suara Adelardo terdengar lirih dan menatap anaknya penuh selidik. Siapa wanita yang dimaksud?
“Iya. Rensi. Dia wanitaku dan gadis ini…”
Ucapan Michael tertelan di tenggorokan ketika melihat Vinda yang hanya diam dengan wajah pucat pasi. Adelardo yang penasaran juga ikut menatap ke arah yang sama dan cukup terkejut dengan pemandangan dihadapannya.
Vinda diam, kepalanya terasa pusing dan pandangannya kabur. Hanya ada satu namanya yang diingat dan akhirnya dia tumbang. Rensi. Masih untung Michael langsung sigap menopangnya. Pada saat yang bersamaan, pintu ruangan Adelardo terbuka dan menanpilkan Anastasya yang baru saja pulang.
“Ada apa ini?” teriak Tasya dengan wajah panik karena ada seorang gadis pingsan dalam pelukan anaknya.
“Bawa dia ke kamar tamu,” perintah Adelardo takut sesuatu terjadi.
Adam yang melihat langsung masuk dan mengambil Vinda dari pelukan Michael dan membawanya keluar. Sedangkan Michael, dia merasa tidak asing dengan wajah Vinda. Jantungnya berdetak cukup keras dan langsung mengabaikannya. Dia melangkah keluar, sampai suara tegas di belakang membuatnya menghentikan langkahnya.
“Kita masih punya urusan yang harus diselesaikan, Ael,” desis Adelardo membuat Tasya yang saat itu masih di ruangan yang sama diam tidak mengerti.
Michael tidak menjawab dan malah melangkah meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan keras dan mengajak Roy untuk pergi dari rumah orangtuanya. Dia merasa tidak mengenal orangtuanya dan kesal karena tidak mendapat pembelaan sama sekali.
Semua karena Vinda, geram Michael dengan tangan mengepal tidak suka. Sedangkan raa bencinya semakin bertambah dan dia benar-benar tidak menyukai Vinda. Entah apa penyebabnya. Namun, dia yakin karena Vinda tidak bisa membahagiakan wanitanya. Ya, dia ingin semua orang bisa membahagiakan Rensi bagaimana pun caranya.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄