Felisia harus menerima nasibnya. Menikah disaat dia tidak menginginkannya. Dan setelah dia menerimanya, apa yang terjadi? Suaminya malah membawa seorang wanita dengan anak berusia tiga tahun kerumah.
"Mulai sekarang Wilona dan anak kami akan tinggal dirumah ini."
Anak kami?
Selanjutnya, bisakah Felisia menerima Wilona dan anak dari suaminya bersama wanita lain? Mampukah hatinya bertahan di rumah itu? Membagi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L2080617, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BC:SAM? #9
Setibanya di rumah sakit, Felisia langsung menuju bagian resepsionis bersama dengan pria yang tidak dikenal itu. Mereka berdua membayar semua biaya operasi, pengobatan Nina dan Nino, juga biaya inap.
"Akhirnya selesai juga," ucap Felisia lega.
"Iya," balas pria itu.
"Tuan terima kasih banyak sudah menolong saya sampai sejauh ini," ucap Felisia tulus.
"Sama sama Nona. Tapi bisakah anda mengabulkan satu permintaan saya?" Tanya pria itu tiba tiba.
"Permintaan? Jika saya bisa akan saya lakukan, Tuan" jawab Felisia sedikit cemas akan permintaan pria itu.
Dia takut jika permintaan pria itu akan merugikannya.
"Pertama tama, perkenalkan nama saya Gabriel. Saya seorang pengawal pria seorang pengusaha dari luar negeri. Saya disuruh untuk membagikan uang itu kepada orang orang yang membutuhkan. Dan menurut perkiraan mereka saya akan pulang paling cepat jam tujuh. Jadi agar tidak membuat mereka curiga, bisakah Nona membiarkan saya disini bersama anda? Saya tidak bisa kemana mana karena tempat ini masih sangat baru bagi saya," ucap pria itu yang bernama Gilbert.
"Anda masih baru disini?" Tanya Felisia terkejut.
Gilbert mengangguk.
"Jika orang lain tidak akan percaya dengan apa yang kamu katakan. Pria asing seperti kamu bagaimana bisa sangat lancar berbahasa Indonesia? Sangat aneh," ucap Felisia mengungkap keterkejutannya.
"Haha, semua orang memang pasti mengatakan seperti itu. Tapi sebenarnya sebelum ke Indonesia saya sudah belajar berbahasa Indonesia di negara asal saya," jawab Gilbert sambil tersenyum manis.
Felisia ikut tersenyum melihat pria itu.
"Ya sudah, ayo kita ke ruang operasi. Aku tebak operasinya sebentar lagi akan selesai" ucap Felisia berjalan di depan untuk ke ruang operasi setelah bertanya kepada suster.
"Kak Felisia," Nino langsung berlari saat melihat Felisia.
"Nino," Felisia tersenyum hangat menatap Nino.
"Kak, apa Kak Nina akan selamat?" Tanya Nino masih cemas.
"Pasti, Kak Nina pasti selamat. Kamu tenang saja ya. Jangan menangis lagi. Kamu sudah makan siang?" Tanya Felisia setelah menenangkan Nino.
Nino menggeleng.
"Ya sudah kamu pergilah ke kantin dan makan disana ya. Ini uangnya," Felisia memberikan sisa uang yang ada di tasnya kepada Nino.
"Terima kasih Kak. Kak Felisia jaga kak Nina ya," ucap Nino.
Felisia mengangguk.
"Em... aku juga akan ke kantin. Aku sangat lapar. Apa kamu ada titipan?" Tanya Gilbert.
"Tidak," jawab Felisia.
"Baiklah," Gilbert pergi ke kantin bersama dengan Nino.
Sedangkan Felisia dengan setia menunggu operasi Nina dengan duduk di depan ruangan.
Tiga puluh menit kemudian. Lampu ruang operasi padam. Dokter Irma keluar dari ruang operasi.
Felisia langsung berdiri dan menghambat jalan dokter Irma.
"Bagaiman dok? Apakah Nina baik baik saja? Apakah operasinya berhasil?" Tanya Felisia was was.
"Ya, operasinya berhasil" jawab dokter dengan tersenyum ramah.
"Oh Tuhan terima kasih," ucap Felisia bahagia.
"Kak, apa Kak Nina sudah baik baik saja?" Tanya Nino yang tiba tiba datang bersama Gilbert di belakangnya.
"Iya Nino, operasinya berhasil. Kak Nina akan segera sembuh," ucap Felisia bahagia.
"Maaf Bu. Keadaan pasien tidak seperti yang anda katakan. Kaki beliau tidak akan bisa digerakkan seperti dulu lagi," ucap dokter Irma.
Kebahagiaan yang membendungi Felisia tadi hilang begitu saja. Tidak berjejak seakan akan sejak tadi tidak pernah ada kebahagiaan yang dia rasakan.
"Maksud anda dok?" Tanya Felisia.
"Kaki pasien lumpuh," jawab dokter Irma.
Mendengar hal itu Felisia langsung syok sedangkan Nino langsung menangis.
"Jangan sedih begitu. Lumpuhnya tidak bersifat permanen. Bisa disembuhkan," ucap dokter Irma memberikan secercah harapan untuk kesembuhan Nina.
"Namun pasien harus menjalani banyak terapi agar bisa berjalan dengan baik dan sering sering berolahraga. Dan untuk terapi membutuhkan biaya yang lebih," ucap dokter Irma.
Felisia lagi lagi dibuat putus asa oleh benda bernama uang.
Melihat keputus asaan Felisia, Gilbert angkat bicara.
"Berapapun harganya akan saya bayar," ucap Gilbert.
Felisia menatap Gilbert dengan ekspresi tak percaya. Bisa bisanya dia berkata dengan begitu mudah, Felisia tidak habis pikir dengan pemuda satu ini.
"Tuan Gilbert," panggil Felisia sungkan.
Bagaimanapun mereka adalah orang asing. Dan mendapatkan hal yang sangat banyak dari pria itu akan membuat Felisia terbebani.
"Tidak perlu, saya akan meminta uang kepada suami saya saja," ucap Felisia.
"Tidak apa apa Nona, selagi saya disini. Saya akan membantu sebisa mungkin. Agar adik anda langsung mendapat perawatan yang baik" ucap Gilbert tanpa memikirkan kesungkanan yang dialami Felisia.
"Tapi tuan," Felisia masih mencoba untuk menolak.
"Sudahlah, sebaiknya anda siapkan mental anda untuk merawat adik anda," ucap Gilbert.
Akhirnya Felisia memilih diam.
Gilbert pergi untuk membicarakan biaya terapi untuk Nina.
Di sisi lain, karena Nina sudah dipindahkan ke ruang inapnya, Felisia dan Nino dapat menjaga Nina dari dekat.
Nina belum sadarkan diri karena pengaruh bius yang diberikan saat operasi.
"Nino, kamu bisa pulang sendiri kan? Kamu mandi dulu ya dirumah. Besok pagi kamu baru kesini," ucap Felisia kepada Nino.
"Tidak mau Kak, Nino mau menjaga Kak Nina" ucap Nino menolak.
"Jangan begitu, Nino. Jika kita berdua menjaga Nina bersama sama. Lalu siapa yang akan menggantikan kita ketika kita letih. Sebaiknya kita gantian saja menjaga Nina ya," bujuk Felisia.
Nino yang penurut mengangguk dan pamit untuk pulang ke rumahnya.
"Nino pulang dulu ya kak," pamit Nino.
"Iya, hati hati di jalan. Ini uang untuk ongkos kamu," ucap Felisia berniat memberikan uang kepada Nino.
"Gak usah Kak, uang yang kakak kasih tadi masih ada sisanya," jawab Nino.
"Emang cukup?" Tanya Felisia.
"Cukup," jawab Nino yakin.
"Baiklah," balas Felisia.
Nino keluar dari ruang inap Nina dan menghilang dari pandangan Felisia.
Felisia mencoba menghubungi Dafi kembali namun tetap saja tidak diterima. Jadi Felisia mengirim pesan yang isinya
Kak Dafi, hari ini aku gak pulang ke rumah ya. Aku mau ngerawat Nina. Nina baru saja kecelakaan tadi siang
Pesan Felisia sangat cepat dibalas. Sama seperti tadi.
Ya
Hanya dua huruf saja yang dia dapat. Namun walaupun begitu Felisia tetap bahagia karena Dafi masih mau membalas pesannya.
"Nina, kamu harus sembuh ya. Kamu harus bantu aku. Kamu harus temani aku dirumah itu. Jika kamu tidak ada siapa yang akan menghiburku? Siapa yang akan memotivasi ku? Jika tidak ada yang menghibur dan memotivasi aku. Nanti aku hanya akan terlarut dalam kesedihan. Kamu tidak mau kan melihat kakak ku ini terpuruk. Jadi bangunlah dan segera sembuh. Ingat, ada aku dan Nino yang setia menunggu kesembuhan mu. Jadi jangan menyerah untuk sembuh walaupun itu sulit ya," ucap Felisia berbisik di telinga Nina.
***
Jangan lupa like dan komen 🤗🤗🤗.
beda dgn IGD, pasien baru akan menerima tindakan, apakah itu mau di oprasi, atau tindakan lainnya, sesuai dgn keadaan pasien, apakah dia gawat, atau luka ringan..