NovelToon NovelToon
ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Romantis / Ketos / Romansa / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.

“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”

“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”

Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Akhir-akhir ini Revi jarang mengangguku. Ia sibuk dengan urusan OSIS yang membuatnya berada di ruangan OSIS sepanjang istirahat. Kesempatan ini aku jadikan sebagai bentuk rasa syukur karena aku bisa bebas menghabiskan waktu di kantin atau perpustakaan sekolah tanpa gangguan laki-laki tengil itu. 

Entah bagaimana aku dan Bimo kini bukan lagi dua orang asing, atau saingan seperti saat SMP dulu. Kini aku dan Bimo menjadi kami. Kami sering bersama layaknya teman lama. Kami menjadi terbiasa bercakap-cakap dan berdiskusi tentang apa pun sambil berjalan bersama di koridor sekolah, menghabiskan waktu di kantin, atau mengganggu Baskara bermain basket di lapangan. 

Jika sebelumnya aku sering berkata pedas atau ketus terhadapnya, sekarang aku bisa berkompromi dengan baik. Kedekatan ini aku manfaatkan karena aku juga butuh teman yang mengerti ku. 

Teman-teman perempuan di kelasku cukup tersaingi oleh ku, hal yang sama terjadi lagi. Sekarang pesaingnya cukup ketat dan ngeri, perempuan tidak malu lagi mengutarakan isi hati terlebih dahulu kepada gebetan baru.

Maka menjadi gadis tomboi dan memiliki teman-teman laki-laki sudah lebih dari cukup untuk tidak terlalu kesepian di sekolahan.

"Kabarnya bakal ada pemilihan anggota OSIS baru? Kamu mau ikut lagi, Lilah?" tanya Bimo menatapku sekilas. 

Aku mengangkat bahu dan menggeleng, "Udah males aku. Apalagi harus menghadapi dia!" 

"Oh... Oke." Bimo mengangguk tanpa memberi banyak pertimbangan.

"Jadi dia lagi rapat koordinasi untuk cari anggota OSIS kelas satu?" tanyaku pada Bimo, ia mengangguk sambil tersenyum. 

Meskipun kami sering berdua. Tak jarang Bimo ini juga sering nimbrung dengan anak-anak lain. Ngobrol ngalor-ngidul membahas topik hangat yang sedang terjadi di sekolah. Tak terkecuali dengan hal-hal yang terjadi antara aku dan Revi!

Sedangkan Baskara, ia lupa tujuan awal masuk ke sekolah ini. Alasannya klasik, dia pengen tau gimana rasanya punya gebetan, punya pacar baru dan banyak teman selain aku. Tapi dia tidak melupakan aku begitu saja, setiap pulang sekolah Baskara akan menemaniku sampai di jemput oleh Ayahanda atau anggota keluarga lainnya. 

Termasuk Om Nanang, dia sudah kembali ke keraton setelah berkelana mencari cinta yang tak kunjung nyantol dihatinya. Padahal, kalau dipikir-pikir ada seorang sinden yang terus-menerus mencuri hatinya. Tapi Om Nanang masih saja jual mahal. Gayanya masih seperti ABG, padahal usianya lebih tua dari Ibunda. Apa gak sayang ketampanan hanya akan sia-sia. 

"Besok kamu mau ambil ekskul apa?" 

Lagi-lagi aku hanya mengangkat bahu, "Kamu sendiri, Bim?" tanyaku balik. 

"Seni, sama ilmiah." jawab Bimo. 

Aku tertawa garing, "Seni fotografi? Atau seni apa? Seni banyak jurusannya." ujarku sembari menunggunya menjawab penuh minat. 

"Seni tari. Aku kagum, kenapa Suryawijaya bisa menari begitu bagusnya. Kamu juga." 

Aku tertawa terbahak-bahak, sekaligus tidak percaya dengan keinginan Bimo untuk mempelajari seni tari. Dia sebenarnya kenapa sih, keinginannya aneh-aneh.

"Karena kami sudah belajar sejak kecil, sejak TK kami sudah di gembleng oleh Ayahanda untuk belajar menari. Tapi kalau kamu memang niat, kamu bisa bergabung dengan sanggar tari yang biasanya dijadikan tempat untuk belajar tarian klasik keraton. Jangan di sekolah!" ujarku mengingatkan. "Mending basket aja, atau nge-band. Lebih seru." 

Bimo mengangguk, "Oke. Mungkin hari Minggu besok aku akan berkunjung ke rumahmu sekalian saja kamu bisa mengenalkan kepada guru tarinya." 

Aku tercekat, dia... tidak sedang masuk ke dalam duniaku kan? Dia sedang tidak berada di dalam pengaruh tanda cinta kan? 

"Oke, gak masalah." jawabku singkat sembari berdiri merapikan seragamku. 

Sungguh, tak masalah untukku jika Bimo mau belajar menari, aku sudah cukup gembira Bimo mau mengenal duniaku. Dunia yang penuh dengan tata krama. 

***

Jam istirahat tinggal sepuluh menit lagi ketika aku berjalan melintasi lapangan basket. Tampak Baskara dan teman sebangkunya sedang berlarian merebutkan bola bundar berwarna merah bata itu. Terdengar suara pekik riang yang Asih-Asih lakukan. Ia bertepuk tangan setelah Baskara berhasil merebutkan bola dan mengarahkannya ke dalam keranjang.

Asih? Apa dia gebetan Baskara? Duh, Gusti. Cowok itu ternyata pintar juga cari mangsa, tahu aja yang bening-bening. 

Aku mendekati Asih dan duduk di sebelahnya, ia menoleh dan tersenyum. 

"Baskara bilang dia sahabatmu." ujar Asih. 

"Iya. Kami sahabatan sejak SMP. Kenapa?" tanyaku penasaran. 

"Dia suka apa?" tanya Asih. 

"Semua suka, tapi dia lebih suka basket ketimbang sepak bola, dia suka mie ayam daripada bakso, dia juga suka warna monokrom." jelasku tidak mendetail. Aku ingin tahu, apa Asih ini benar-benar suka dengan sahabatku atau hanya sebatas mengangumi. 

"Ndoro putri... Ayo!" Ajak Baskara sembari melambaikan tangannya. 

Aku mengangguk mantap, dengan langkah cepat aku bergabung dengan mereka berdua. 

Baskara melemparkan bola basket, aku menangkapnya, dengan lincah aku mendribbling bola. Pada jarak beberapa langkah dari ring, aku mengangkat tangan dan lutut ke atas mengarah pada keranjang. Lay-up shoot, Bam!!

Bola masuk ke dalam keranjang dengan mulus lalu memantul-mantul di atas lapangan. Terdengar suara riuh tepuk tangan dari beberapa siswa yang ikut menonton. 

Aku dan Baskara ber-high five, begitu juga dengan teman sebangkunya. 

"Hahaha..  masih jago juga kamu, Lil. Keren." Puji Baskara. 

Aku tertawa kecil lalu menyeka keringat yang membasahi dahiku. 

"Hebat... Hebat, boleh juga gayamu!" 

Aku menoleh. Si ketua OSIS itu menunjukkan batang hidungnya. Senyumnya miring seolah meledek kami bertiga. 

Di belakangnya, ada lima orang yang mengikutinya. Bak gerombolan si berat, ketua OSIS ini memang slalu membawa kawanannya kemana saja. 

"Three on three seru juga nih. Gimana tuan putri, setuju?" Revi mendekatiku. 

Aku berangsur mundur, "Gak!" jawabku lugas. 

"Ayolah, aku bakal bikin taruhan! Kalau timmu menang, aku gak bakal gangguin kamu lagi tuan putri, tapi kalau timku menang. Kamu harus menjadi tim OSIS dan menjadi pacarku!" 

Aku berdecih, tapi tawarannya cukup menggiurkan. Dia, si ketua OSIS sekaligus si pengki ini tidak mengangguku. Itu mukjizat. Keajaiban yang tidak perlu aku tawar lagi. 

"Deal!" kataku cepat tanpa pikir panjang. 

Revi menjabat tanganku dan mengangguk sambil tersenyum puas. 

"Gaysss... Three on three, main halus aja! Cewek nih tandingannya!" seru Revi semringah. Gerombolannya mengangguk sambil tertawa kecil. 

Baskara menarik tanganku cepat, ia memegang kedua bahuku dan menatapku tajam. 

"Kamu gegabah Lilah! Dia dan gerombolannya adalah anggota inti tim basket sekolah ini. Dan, kamu mau tahu berapa piala yang sudah mereka dapet selama ikut perlombaan!" 

Aku menggeleng pelan, "Berapa, Bas?" tanyaku penasaran. 

Baskara menepuk jidatnya, ia menggeleng lalu mencubit pipiku gemas. 

"Mereka gak pernah kalah, Lilah!" ujar Baskara dengan geram sembari melototkan matanya, "kamu yakin mau jadi pacarnya karena taruhan? Come on Princess, otak kamu dimana?" 

Aku menginjak sepatu Baskara dengan kesal, "Otak aku di dalam tempurung kepala. Gitu aja gak tahu!" sergahku cepat.

"Bisa gak diskusinya nanti lagi, jam istirahat keburu kelar nih!" sahut Revi seakan tahu kami berdua sedang gelisah membicarakan tentang taruhan ini. 

Aku merapikan seragamku, dengan sikap terhormat aku menghadap Revi yang tersenyum mengejek. 

"Tandingnya nanti saja pulang sekolah,  karena bel masuk kelas sudah bunyi." Aku berjalan mendekati Revi dan menepuk bahunya, "Denger kan ketua OSIS kalau belnya sudah bunyi, ayo masuk kelas dulu!" Aku tersenyum kecut, menyembunyikan kekhawatiran yang begitu kentara di wajahku. 

 

 

 

 

1
Camera Gaming
novel kk author bagus alur ceritanya aku suka tapi banyak b.inggrisnya apala lh sy yg gagap b inggris🤣🤣🤣
Camera Gaming
novel om nanang judulnya apa sih
ig : skavivi_selfish: Cinta Di Ujung Senja, tapi versi chat story
total 1 replies
Nining Setyaningsih
Luar biasa
Bundanya Syahdan
baru kali ini membaca novel yang lain dr yang lain, terinakasih thoorr 🤩
Ida Erwanti
Luar biasa
Ida Erwanti
Lumayan
SARI MEUTIA
Luar biasa
anonim
Lilah....ketakutanmu lahiran tdk sebanding dengan keingintahuanmu tentang masa renaja waktu di SMA 😄
anonim
😂😂😂😂 Lilah pasti geli2 malu ya ngadepin ngidamnya mas Pengki
anonim
ha haaa....ngidamnya cemburuan neh mas Jati. Gawaaattt
anonim
he he...lucu ibunda Jani
anonim
kasiatnya biar bisa mengimbangi kejailannya Lilah, mas Jati....
anonim
Dalilah....pingin lolypop ya....wkwkwk
anonim
akhirnya....sama2 belajar ya mas Jati...dik Lilah....
anonim
sabar mas Jati....
anonim
lucuuuuuu😆😆
anonim
akhirnya....pacar taruhan menjadi istrimu yg sesungguhnya Revi.
Masih gak nyangka ya Revi...
Kalau sdh berjodoh, semesta merestui, berpisah 7 tahun pun akhirnya dipertemukan dan menjalani hari2 yg takpasti, akhirnya ijab kabul terlaksana. Selamat bercanggung-canggung ria mas Jati dan dik Lilah dlm menjalani MP.
anonim
oooooo ....jadi mas Jati itu mas Revi ya .....owalaaaa....kirain suami Lilah dokter lain bukan dokter Revi.
anonim
Delilaaaahhhh.....😆
anonim
Mini Cooper mobil mehong wkwkwk👍🏻👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!