"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan."
Itulah yang dipikirkan Devinta Dwi Suseno saat mengetahui pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ternyata kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya .
Namun setelah 5 tahun menghindar , takdir berkata lain . Ia kembali di pertemukan dengan Arnold Prayoga , pria yang paling tidak ingin Ia temui .
Bagaimana kelanjutan lika liku hubungan Devi dan Arnold ? Bisakah Devi keluar dari bayang bayang penghianatan Arnold di masa lalu ? Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia bersama ?
" Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apapun itu, kita akan tetap akan bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu . "
"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar."
( Inilah karya pertamaku , Karena Kamu Jodohku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 Flashback Chapt 6
Devi POV
Sudah dua bulan berlalu semenjak Aku dan Arnold memutuskan untuk menjalin kasih.
Jujur saja aku sangat bahagia dengan hubungan ini. Aku tidak menyesal menerima permintaan Arnold yang waktu itu memintaku membantunya untuk melupakan masa lalunya.
Banyak hal yang akhirnya baru ku ketahui mengenai sosok seorang Arnold.
Yah... selain Ia adalah seorang CEO di perusahaan Prayoga Group, Arnold juga memiliki usaha sendiri berupa sebuah cafe yang menyatu dengan sebuah bengkel mobil.
" Bengkel ini untuk menyalurkan hobiku di bidang otomotif saja, sedangkan cafe aku buat agar pengunjung-pengunjung di bengkelku bisa nyaman saat menunggu mobil mereka yang sedang di service ", begitulah jawaban Arnold saat aku bertanya apakah dia masih ada waktu untuk mengurus usaha bengkel dan cafenya itu.
Arnold juga mengenalkanku kepada ketiga sahabatnya.
Selain Thomas,sahabat yang juga merupakan sepupu dan asistennya di kantor. Ada juga Willi dan Max.
Willi adalah pemilik green cafe yang memiliki beberapa cabang di daerah jabodetabek hingga bandung.
Sedangkan Max memiliki usaha sebuah club malam di Jakarta dan di Bali.
Aku juga cukup akrab dengan ketiga sahabat Arnold. Terlebih dengan Willi.
Willi pernah mengatakan padaku bahwa sikap ku mengingatkannya kepada adiknya yang telah meninggal dunia.
Mungkin karena itulah aku merasa kalau Willi sering memberikan perhatiannya kepadaku seperti seorang kakak kepada adik.
Bahkan terkadang sikap dan perhatian willi kepadaku membuat Arnold cemburu.
Membahas soal cemburu, selama 2 bulan menjalin hubungan dengan Arnold,
aku akhirnya menyadari ternyata Arnold seorang yang sangatlah posesif dan mudah cemburu.
Pernah sekali, sore itu Arnold menjemputku di rumah sakit karena malam ini kami akan makan malam bersama Nanny Grace, Mommy Sofi , dan Daddy Yoga.
Saat itu aku menunggu Arnold di depan lobby rumah sakit sambil berbincang bersama Dokter Stevan , Ia adalah rekan salah satu dokter bedah di rumah sakit yang sama denganku.
Dari kejauhan kulihat mobil yang Arnold kendarai mendekat. Saat mobil Arnold telah berhenti tepat di depanku, akupun berpamitan kepada dokter Stevan dan langsung masuk ke mobil.
" Hai Sayang .... jalanan tadi macet yah ? Tanyaku berbasa-basi pada Arnold setelah memberikan kecupan singkat dipipinya.
Kupasang seatbelt ku, kemudian menatap Arnold karena Ia tidak menjawab pertanyaanku.
Biasanya juga Ia selalu membalas mengecup pipiku, tapi yang ada saat ini Arnold malah mengacuhkanku.
" Hemm.... apa dia marah padaku yah? Tapi sepertinya aku gak buat kesalahan deh "
" Mungkin saja dia lagi ada masalah dikantor " pikirku.
Karena merasa di acuhkan oleh Arnold, akupun memilih memeriksa pesan yang masuk ke ponselku. Ternyata itu dari dokter stevan .
Dokter stevan mengirimkanku tautan referensi soal operasi salah satu pasien yang akan kami lakukan bersama minggu depan.
Saat aku baru mau membuka tautan yang dikirimkan oleh Dokter Stevan, Arnold sudah menarik ponselku, kemudian membaca isi pesan Dokter Stevan.
Setelah membacanya, ponselku tidak dikembalikan lagi olehnya. Ia memilih menyimpan ponselku di sakunya.
" Lain kali jika kita sedang bersama ku harap kamu bisa fokus hanya padaku " ucapnya dengan nada datar dan dingin padaku.
" Aku tidak suka kamu dekat dengan temanmu itu .Bukan hanya dengan dia saja, tapi aku tidak suka jika kamu berdekatan dengan pria lain. Ingat kamu itu kekasihku " , lanjutnya. Namun Ia masih tidak mau menatapku.
" ooohhh jadi ini alasannya mengacuhkanku ...... " ucapku dalam hati.
Tapi bodohnya kenapa aku malah senang yah diperlakukan seperti itu.
Rasanya seperti Arnold takut kehilanganku.
" Kamu Cemburu ? Tanyaku pada Arnold .
Arnold tidak menjawab, Ia masih fokus menyetir.
Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum saja.
Akhirnya kami telah sampai di halaman rumah Arnold. Namun sebelum Arnold membuka pintu mobil, Aku menggenggam salah satu tangan Arnold dengan kedua tanganku.
" Maafkan aku yah sayang.... Aku janji deh gak lagi dekat-dekat dengan pria lain " ucapku masih menahan Arnold yang akan turun dari mobil.
" Yahh.. yahh.. yahh... maafkan aku yah.... Aku janji hanya akan fokus padamu " , ucapku dengan sedikit nada manja.
Arnold menatapku sejenak,
" kamu udah janji yah, awas kalau kamu ketauan aku lagi dekat-dekat dengan pria lain dan juga jangan lagi suka membalas pesan pria lain lagi " ancamnya, sambil membalas untuk menggenggam kedua tanganku.
" Iya.. aku janji " ucapku sambil menunjukkan dua jariku membentuk huruf ' V '.
Sekitika Arnold menarik tanganku sehingga aku sedikit tertarik mendekat kearahnya.
Arnold lalu memajukan wajahnya kearahku sehingga jarak kami sangat dekat sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
Seketika Arnold mengecup bibirku. Hanya kecupan. Tapi karena aku terkejut, maka aku hanya diam saja.
Kurasakan Arnold kembali mendekatkan wajahnya kearahku dan kali ini Ia tidak lagi mengecupku tapi Arnold menciumku denga sedikit melum*at bibirku.
Hanya beberapa saat Arnold menciumku tapi aku masih tetap terdiam karena terkejut.
" Ayoo sudah melamunnya.... " suara Arnold menyadarkanku.
Aku segeta turun dari mobil dan sedikit berlari mengejar Arnold yang sudah berjalan lebih dulu.
" Mommy dan yang lain sudah menunggu , pulang nanti kita lanjutin lagi yang di mobil tadi yah " ucap Arnold sambil sedikit berbisik .
Aku yang mendengar itu langsung saja merasakan hawa panas di kedua pipiku. Aku yakin saat ini kedua pipiku sudah memerah.
Arnold yang menyadarinya hanya tertawa sambil terus berjalan memasuki rumah dan menuju ke arah meja makan tempat semua orang sudah menunggu kami berdua untuk makan malam.
.
.
.
.
.
to be continue
Semoga Willi dapat rumah ya