😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9 : Memory
Sekarang giliran pak Direktur yang akan memberikan pertanyaan kepada mereka.
Direktur : "Seumpama minggu depan kita akan memasarkan produk baru, tetapi produk lama belum terjual sesuai target. maka kemungkinan produk lama tersebut akan tergeser dan bahkan ketinggalan sebelum mencapai target. Jadi apa yang akan kalian lakukan agar produk lama itu bisa terjual lebih dulu?"
"Kita harus menurunkan harga nya pak,atau bila perlu membuatnya hingga setengah harga. Agar produk itu terjual,dan setelah produk tersebut mencapai target baru kita mulai memasarkan produk baru nya." Ucap si peserta 1 dengan sangat yakin dan percaya diri.
Para atasan yang mendengar jawaban peserta itu pun tampak tersenyum mendengar jawabannya, tapi mereka merasa jawaban peserta 1 belum memuaskan.
"Saya tidak setuju Pak, karena dengan menurunkan harga produk lama akan membuat produk tersebut terkesan tidak laku dan mungkin beberapa dari konsumen mengira kalau barang tersebut KW. Jadi menurut saya lebih baik kita menunggu produk lama mencapai target nya baru kita mulai untuk memasarkan produk baru." Peserta 2 juga sangat yakin dengan jawaban nya,dan ia juga tidak kalah percaya diri dengan peserta pertama.
"Bagaimana menurutmu?" Direktur bertanya kepada Fani.
"mm... Menurut saya kita masih bisa menjual produk lama dan baru secara bersamaan." jawab Fani gugup. Ia tampak sangat tak percaya diri, berbeda dengan dua peserta sebelumnya.
"Dengan cara..?" Sang Direktur tampak mengintimidasi Fani dengan tatapannya.
Tangan Fani gemetar melihat tatapan tajam Direktur tersebut, ia melirik ke arah Dimas dengan wajah penuh harap.
Menyadari kalau Fani sedang bingung, Dimas lantas tersenyum sembari mengedipkan kedua matanya, agar Fani bersemangat dan percaya diri.
Setelah menatap Dimas, Fani merasa mendapatkan dukungan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran nya.
"Bisa tolong jelaskan secara rinci saudari Fani..?" Tanya pak Direktur memastikan. Tatapan tajamnya bahkan berubah menjadi masam, karena Fani tak kunjung memberikan jawaban.
"b...baik Pak." jawab Fani gelagapan. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, memberanikan diri menyampaikan pendapat dan jawaban.
"Seumpama produk baru kita dibrandrol 500 ribu, dan harga produk lama 400 ribu, maka kita bisa membuat harga produk baru menjadi 700 ribu. Lalu kita buat promosi dengan menambah 200 rb lagi bisa mendapatkan bonus 1 produk yang sebenarnya kurang di minati pembeli. Jadi kita tetap bisa menjual produk lama itu tanpa membuat rugi modal perusahaan." Fani menjawab dengan tegas dan percaya diri. Padahal ia hanya mengingat sebisanya, apa yang ia pelajari saat SMA dulu.
Tiba tiba saja Dimas tepuk tangan setelah mendengar jawaban Fani, membuat semua yang ada di ruangan itu terheran.
"Bagus Fani, om .. eh saya suka dengan pemikiran kamu." Ujar Dimas salah tingkah karena para jajaran yang ada di sana memandanginya dengan heran.
Setelah melewati beberapa pertanyaan dan proses seleksi yang cukup ketat.
Akhir nya Fani berhasil lolos, dan Dimas mengatakan bahwa Fani bisa langsung bekerja di perusahaan nya mulai pekan depan.
Hal itu membuat Fani sangat senang hingga dia mencubit tangan nya sendiri, untuk memastikan kalau ini bukanlah mimpi.
Fani baru keluar dari gedung perusahaan, ia berniat langsung kerumah sakit untuk menjenguk ibunya, sekaligus memberitahu kabar bahagia ini.
"Fani...!" Panggil Dimas dari kejauhan, sambil setengah berlari menghampiri Fani.
"Om Dimas..? " Gumam Fani berbalik, melihat kearah pria yang tengah berlari kecil itu.
"Selamat ya.. Om bangga kamu bisa mengalahkan yang lain bahkan tanpa bantuan." Puji Dimas sambil melebarkan senyum menawan nya.
"hehehe, iya om... Terimakasih ya karena sudah meyakinkan Fani tadi." Gadis itu juga tersenyum, namun ia masih merasa canggung.
"Om sangat bangga sama kamu." Tanpa aba-aba, Dimas manarik tubuh Fani kedalam pelukannya. Ia menepuk kecil puncak kepala gadis itu, sebagai bentuk penghargaan. Keponakan kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang pintar.
Tentu saja itu membuat Fani terkejut bukan main. Dadanya sampai ingin meledak karena perlakuan Dimas itu.
Ingin sekali Fani mengatakan agar Dimas menjauh, tapi lidahnya terasa kelu dan bibirnya tak bisa di gerakkan. Ia benar-benar malu dan takut, karena ini kali pertama ia dipeluk oleh seorang pria dewasa.
"Inget nggak? Dulu waktu om mau pergi ke luar Negeri, kamu peluk om erat banget karena nggak mau om tinggalin." Ujar Dimas sembari memejamkan matanya, ia mengenang masa lalu yang begitu indah nan penuh akan hal manis itu.
"Tapi kan sekarang Fani udah gede om.. " Sahut Fani terbata, sembari berusaha melepaskan diri. Jika ia dan Dimas dulu sering dekat, bahkan sering peluk pelukan, itu kan karena dulu ia masih bocah bau kencur. Jadi ya sudah jelas berbeda sekarang.
"Justru itu, om jadi rindu karena sudah lama nggak peluk kamu." Dimas semakin mendekap tubuh mungil Fani. Ia benar-benar merasa nyaman.
Fani tidak tahu lagi harus bagaimana, ya dia tahu kalau diri nya di mata Dimas sekedar keponakan, tidak lebih. Tapi bagi Fani sangat berbeda.
Meski berdebar tak karuan, tiba-tiba Fani merasakan emosi pilu masalalu, karena ia teringat akan seseorang yang begitu berharga.
"Rasa nya sangat hangat.. jadi rindu sama ayah." Batin Fani meresapi dekapan hangat Adimas, seketika ia jadi mengingat kenangan masa kecil nya saat sedang di peluk oleh ayah tercinta. Fani pun memejamkan matanya, lalu ia merasakan seolah olah sedang di peluk oleh sang ayah.
"Pak Dimas ..?! " Celetuk salah satu karyawan wanita yang tak sengaja lewat di sana. Ia terkejut karena melihat Bos nya tengah berpelukan dengan seorang wanita.
Mereka pun tersadar, lalu dengan cepat Dimas menyembunyikan kepala Fani ke dalam Jas nya. Bisa salah paham jika karyawan itu melihat wajah Fani. Dimas yang tadi nya santai pun langsung menjadi panik.
Begitu juga dengan karyawan tersebut, wajah nya langsung berubah menjadi terheran-heran saat melihat Dimas memeluk wanita. Pasalnya setelah kabar perceraian Adimas menyebar di seluruh kantor, Dimas tidak pernah tertarik untuk dekat dengan wanita mana pun, bahkan ada yang menyebarkan gosip kalau dia tidak akan menikah lagi karena trauma akan kegagalan rumah tangga nya.
...*********...