Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Pernyataan Cinta
Kuda yang mereka tunggangi akhirnya roboh karena kelelahan di depan sebuah mulut gua tersembunyi di lereng gunung. Lin Yue melompat turun lebih dulu, namun saat ia hendak membantu Han Shuo, pria itu terjatuh dari pelana dengan wajah pucat pasi.
"Han Shuo!" teriak Lin Yue. Ia menangkap tubuh pria itu sebelum menghantam tanah.
Baru saat itulah Lin Yue melihatnya. Sebuah anak panah patah masih tertancap di punggung bawah Han Shuo. Luka di sekitarnya tidak berwarna merah, melainkan hitam pekat yang menjalar seperti akar pohon iblis. Panah beracun.
"Bodoh... kenapa kau tidak bilang?" suara Lin Yue bergetar, sesuatu yang jarang terjadi bahkan saat ia menghadapi lawan terberat di ring.
Han Shuo tersenyum lemah, bibirnya membiru. "Aku tidak ingin... kecepatan kuda kita melambat... jika kau tahu."
Lin Yue dengan sigap memapah Han Shuo masuk ke dalam gua. Ia menyuruh Mei Mei dan Jenderal Yuan untuk berjaga di luar dan menyalakan api kecil untuk menyamarkan aroma darah. Di dalam gua yang remang, Lin Yue membaringkan Han Shuo di atas tumpukan daun kering.
Dengan tangan yang stabil namun dingin, Lin Yue merobek jubah kebesaran Han Shuo. Pemandangan di depannya membuat jantungnya mencelos. Racun itu adalah Akonitum Hitam, jenis racun yang mematikan saraf dalam hitungan jam.
"Aku harus mengeluarkan racun ini sekarang," ucap Lin Yue. Ia mengambil belati peraknya, memanaskannya dengan api kecil.
"Lakukanlah," bisik Han Shuo. Ia meraih tangan kiri Lin Yue, menggenggamnya erat. "Jika aku tidak berhasil... kembalilah ke istana. Jenderal Yuan akan membantumu... menguasai tahta."
"Diamlah! Kau tidak akan mati di sini, Han Shuo," Lin Yue menatap mata Han Shuo dengan tajam. "Aku belum selesai melatihmu menjadi kaisar yang hebat. Dan kau belum membayar hutang budimu padaku."
Lin Yue mulai mengiris luka itu. Han Shuo mengerang kencang, otot-otot tubuhnya menegang hebat, namun ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Lin Yue. Lin Yue harus menghisap racun itu secara manual—sebuah tindakan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri jika ada luka di mulutnya.
Setelah beberapa kali menghisap dan meludah, warna darah Han Shuo mulai berubah menjadi merah segar kembali. Lin Yue mengoleskan ramuan herbal yang selalu ia bawa di kantong pinggangnya.
Napas Han Shuo perlahan mulai teratur, meski tubuhnya masih demam tinggi. Lin Yue menyeka keringat di dahi Han Shuo dengan kain yang dibasahi air sungai. Ia duduk bersandar di dinding gua, membiarkan kepala Han Shuo beristirahat di pangkuannya.
Dalam keheningan malam yang hanya diisi oleh suara tetesan air gua, Han Shuo membuka matanya sedikit. Ia menatap Lin Yue dari bawah, melihat wajah wanita yang telah berubah total dari "karung lemak" menjadi pelindungnya yang tangguh.
"Lin Yue..." suara Han Shuo parau.
"Tidurlah, Han Shuo. Kau butuh kekuatan."
"Kenapa kau... melakukan semua ini untukku?" Han Shuo meraih jemari Lin Yue, membawanya ke bibirnya dan menciumnya lembut. "Kau bisa saja membiarkanku mati dan menguasai Daxuan sendirian dengan dukungan Bangsa Tang."
Lin Yue terdiam sejenak. Ia menatap tangan Han Shuo yang menggenggamnya. "aku selalu bertarung untuk diriku sendiri. Menang atau kalah, tidak ada yang peduli selama aku menghasilkan uang. kau adalah orang pertama yang menatapku bukan sebagai babi, bukan sebagai alat, tapi sebagai manusia."
Lin Yue menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Han Shuo. "Aku tidak butuh tahta yang kosong, Han Shuo. Aku butuh seseorang yang bisa mengimbangi pukulanku. Dan pria itu adalah kau."
Han Shuo menarik tengkuk Lin Yue perlahan. Lin Yue tidak menolak. Di dalam gua yang sunyi itu, di sela-sela maut yang baru saja lewat, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang terasa seperti campuran antara darah, keringat, dan janji setia yang tak terucapkan. Itu bukan ciuman lembut seorang putri, melainkan ciuman dua pejuang yang telah menyerahkan nyawa mereka satu sama lain.
"Jika kita selamat dari ini," bisik Han Shuo di sela napasnya, "aku akan membangunkanmu sebuah istana yang lebih megah dari siapa pun di dunia ini." ungkap nya tersirat.
Lin Yue tersenyum sombong, gaya khasnya kembali. "Aku tidak butuh istana megah. Aku hanya butuh ring yang cukup luas agar kita bisa berlatih tanding setiap pagi tanpa menghancurkan perabotan."
Han Shuo tertawa kecil, meski dadanya masih sakit.
Namun, kedamaian itu hanya sesaat. Dari luar gua, suara burung gagak terbang menjauh dengan gaduh.
"Yang Mulia!" Mei Mei masuk dengan wajah panik. "Pasukan obor Letnan Fang sudah sampai di kaki bukit. Mereka membawa anjing pelacak!"
Lin Yue segera berdiri, mengenakan kembali pelindung lengannya. Ia menatap Han Shuo yang masih lemah namun mencoba bangkit.
"Tetap di sini," perintah Lin Yue. "Biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan mantan tunanganku itu. Sudah saatnya aku memutuskan tali masa lalu yang busuk itu selamanya."
Lin Yue melangkah keluar gua dengan mata yang berkilat kejam. Di bawah cahaya rembulan, ia terlihat seperti dewi perang yang siap menerjang badai.
***
Happy Reading ❤️
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih❤️
🧐