Di tengah kemiskinan setelah menjual segalanya demi membantu ibu mendiang sahabatnya, takdir membawanya pada sebuah keajaiban.
Sebuah gulungan lukisan leluhur yang tak sengaja terkena tetesan darahnya membuka gerbang menuju dimensi lain—sebuah "Ruang Peta Spiritual".
Di sana, waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat. Mata airnya mampu menyembuhkan penyakit mematikan, dan tanahnya dapat mengubah tanaman layu menjadi harta karun bernilai miliaran!
Dari seorang gelandangan di kawasan kumuh menjadi taipan pertanian yang disegani. Xia Ruofei memulai hidup barunya: menanam sayuran kualitas dewa, memulihkan tubuhnya, dan menghajar mereka yang berani meremehkannya.
Inilah kisah sang Raja Tentara yang beralih profesi menjadi Petani Legendaris!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukma Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pensiun dini
Sore itu di musim dingin, Kota Tiga Gunung, Provinsi Tenggara.
Suasana di Alun-Alun Tiga Gunung di pinggiran selatan tampak ramai.
Di tengah hiruk-pikuk manusia, seorang pemuda berwajah agak pucat berjalan dengan langkah tegap membelah kerumunan.
Namanya Xia Ruofei. Tahun ini usianya menginjak 23 tahun, seorang prajurit yang baru saja pensiun dari barak militer.
Xia Ruofei tidak terlalu jangkung, tingginya sekitar 175 cm dengan perawakan yang cenderung kurus.
Rambutnya cepak gaya militer, tubuhnya dibalut seragam loreng musim dingin Tipe 07 berwarna cokelat. Kakinya mengenakan sepatu bot tempur hitam standar dengan tali tinggi.
Namun, tak ada pangkat atau lencana militer apa pun yang menempel di seragam lusuh itu. Sepatu botnya pun sudah babak belur; cat hitamnya terkelupas di sana-sini, tampak seperti luka parut yang jelek.
Meski pakaian Xia Ruofei tergolong tua, semuanya tampak bersih dan memberi kesan segar.
Hanya saja, penampilannya memang terasa asing di tengah gaya orang-orang kota. Ia bahkan memancing beberapa tatapan penasaran dan remeh dari orang yang lewat.
Xia Ruofei memilih masa bodoh. Punggungnya tetap tegak, langkahnya konstan—tepat 75 sentimeter per langkah. Ia melangkah penuh semangat, memancarkan aura militer yang kental.
Di tangannya tergenggam selembar struk bukti transfer, sementara wajah pucatnya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Hu Zi, cuma ini yang bisa kulakukan. Aku bahkan sudah menjual rumah peninggalan Kakek..." gumam Xia Ruofei pelan pada dirinya sendiri.
"Dengan uang ini, setidaknya Ibu bisa cuci darah. Soal cangkok ginjal... aku benar-benar sudah tak sanggup. Hah, semoga kau mengerti, Kawan. Beberapa hari lagi, kita berdua bakal bertemu di alam sana. Nanti aku akan minta maaf langsung padamu..."
Setelah bicara begitu, Xia Ruofei menghela napas panjang. Hatinya terasa perih.
Hu Zi adalah kawan seperjuangan sekaligus saudara terbaik Xia Ruofei di tentara. Dia tewas tertembak dalam pertempuran di perbatasan demi melindungi nyawa Xia Ruofei.
Dua tahun setelah kematian Hu Zi, Xia Ruofei didiagnosis menderita penyakit neuron motorik, atau yang dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig (ALS).
Gejala awalnya memang ringan—pasien mungkin hanya merasa sedikit lemas, otot kedutan, dan mudah lelah. Tapi lama-kelamaan, penyakit ini akan menyebabkan penyusutan otot hingga kesulitan menelan.
Menurut standar medis saat ini, penyakit neuron motorik belum ada obatnya. Vonis hidupnya bisa sesingkat beberapa bulan, atau paling lama dua hingga tiga tahun. Kebanyakan pasien akhirnya meninggal karena gagal napas.
Setelah memahami kondisi penyakitnya, Xia Ruofei dengan nekat mengajukan pensiun dini. Ia tak mau menjadi beban bagi kesatuannya.
Tentu saja, alasan yang lebih penting adalah harga dirinya. Xia Ruofei punya gengsi yang tinggi. Dia dulunya adalah tulang punggung tim penyerbu 'Lone Wolf' (Serigala Penyendiri). Dia tak sudi kawan-kawannya melihat dia susah payah hanya untuk menggerakkan jari, atau melihatnya terbaring tak berdaya menunggu ajal memakannya perlahan.
Setelah pensiun, Xia Ruofei pergi ke rumah Hu Zi untuk menjenguk ibunda temannya itu. Namun, betapa kagetnya dia saat tahu wanita tua itu menderita uremia (gagal ginjal). Uang santunan kematian Hu Zi yang tak seberapa sudah lama ludes, sementara kondisinya tak kunjung membaik.
Tanpa ragu sedikit pun, Xia Ruofei menjual rumah kecil peninggalan kakeknya dengan harga murah.
Dia baru saja dari bank untuk mentransfer 400.000 yuan hasil penjualan rumah, ditambah 80.000 yuan uang pesangon militernya, langsung ke rekening ibunda Hu Zi.
Tapi akibatnya, dirinya sendiri kini jatuh miskin.
Sekarang, selain uang sewa kost dua bulan yang sudah dibayar di muka, seluruh harta Xia Ruofei hanyalah beberapa ratus yuan di sakunya.
***
Setelah melewati jalan beringin baru di samping Alun-Alun Tiga Gunung, pemandangan di depannya berubah drastis.
Kemewahan kota seolah lenyap ditelan bumi. Yang terlihat hanyalah rumah-rumah rendah dengan kabel listrik semrawut dan pohon-pohon yang tumbuh liar tak terurus.
Selokan di pinggir jalan menguarkan bau busuk menyengat, dan sampah berserakan di mana-mana.
Ini adalah kawasan kumuh di tengah kota. Di era modern ini, tempat itu memancarkan aura tua dan lapuk. Untungnya, kabarnya daerah kumuh ini bakal digusur dalam satu atau dua tahun lagi.
Setelah menjual rumahnya, Xia Ruofei menyewa kamar termurah di kawasan ini untuk berteduh.
Orang tua Xia Ruofei meninggal muda, dan satu-satunya keluarganya, sang Kakek, juga sudah tiada. Dia hidup sebatang kara, jadi kamar sempit pun sudah cukup baginya.
Dia berjalan cepat menyusuri jalanan sempit itu. Keningnya bahkan tak berkerut sedikit pun meski bau busuk sesekali menusuk hidung.
Selama karier militernya, dia pernah mengalami lingkungan yang seratus kali lebih buruk dari ini. Ini mah enteng.
"Lepaskan aku... Tolong!"
Sayup-sayup, terdengar suara teriakan dari kejauhan.
Kening Xia Ruofei sedikit berkerut. Langkah kakinya dipercepat menuju arah suara itu.
Biasanya, Xia Ruofei bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Tapi keamanan di daerah kumuh ini memang parah. Ada berbagai macam orang di sini.
Teriakan minta tolong itu terdengar seperti suara wanita muda, penuh dengan nada panik dan ketakutan. Kalau dia diam saja, hal buruk mungkin akan terjadi.
Dia menerobos gang sempit dengan cepat.
Di depan sebuah rumah kosong yang terbengkalai, Xia Ruofei melihat pemandangan yang membuatnya geram. Tiga preman mabuk sedang mengepung seorang gadis yang tampak panik sambil cengar-cengir nakal.
Gadis itu mengenakan jaket bulu angsa putih pendek dan celana jins biru.
Dia memiliki sepasang kaki yang jenjang. Meski pakaian musim dinginnya agak tebal, lekuk tubuhnya yang anggun dan tinggi tetap tak bisa disembunyikan.
Wajahnya oval dan sangat cantik. Mata besarnya yang seharusnya tampak lincah, kini dipenuhi ketakutan.
Rambut indahnya tampak agak berantakan, dan tubuhnya gemetar hebat, membuatnya terlihat makin menyedihkan.