"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bab enam
Alka bergeleng tak percaya saat menatap rumah yang di tempati Nabila gadis yang di kenal bandel di mata Alka dan sok hebat.
"Rumahnya masak ini!"gumam Alka. Ia tak percaya tempat yang di huni oleh mahasiswinya yang menurutnya angkuh dan berani, sehingga Alka mengira Nabila adalah gadis manja yang hanya kuliah kupu-kupu tapi melihat dari rumahnya seperti sederhana sekali.
"Assalamu'alaikum," ucap Alka, saat berada di depan rumah kecil Alka.
"Waalaikumussalam," sahut ibu Dewi sambil membukakan pintu.
"loh Nak Alka! Nabila kenapa ya nak, ya Allah dia ngerepotin kamu nak. Maaf ya nak, Nabila bilang lemah anaknya sering sakit," ucap Dewi saat melihat anaknya tidak sadarkan diri.
"Tidak papa Tan, Nabila hanya kecape'an saja tadi sudah di periksa oleh dokter," ucap Alka menenangkan calon mertuanya, walau ia belum ada rasa terhadap putrinya tapi sama Ibu Dewi Alka wajib ada rasa hormat.
"Jadi sudah di tangani oleh Dokter ya nak, maaf ya nak, Nabila memang bandel anaknya susah di nasehati padahal dia punya riwayat penyakit Maag tapi tetap saja kadang susah makan, apa lagi ia type anak pekerja keras," keluh Dewi.
Alka tertegun mendengar penuturan Dewi, dalam hatinya tambah berkecamuk rasa bersalah. Alka meminta izin untuk membawa Nabila masuk ke dalam kamarnya.
Alka sempat ngelirik suasana kamar Nabila yang sederhana tapi rapi dan hanya tumpukan buku di sana.
"Terima kasih banyak nak Alka," ucap Dewi sambil membawakan tea ke meja saat Alka keluar dari kamar Nabila.
"Sama-sama Tante, ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai calon suaminya." jawab Alka sopan.
Saat ini Alka sedang duduk di ruang tamu yang hanya ada tiga kursi ukuran sedang dua dan satu kursi kecil.
"Sejujurnya Tante merasa bersalah sama Nabila, sejak kepergian ayahnya dia harus hidup sederhana tapi Nabila yang memiliki jiwa semangat yang tinggi dia nekat kuliah dengan keadaan kita yang sederhana, alhamdulillah sekarang Nabila sudah mau lulus itu semua murni biaya dari hasil kerja kerasnya sendiri, selama ini Nabila mengandalkan dunia maya seperti ia menulis novel online dan juga jualan kadang juga menawar jasa promo atau yang lain dan itu memakai waktu lama, sehingga jam istirahat kurang, sebenarnya ibu khawatir sama kesehatannya tapi gimana lagi keadaan yang memaksa begini," cerita Dewi.
Deg.
Alka terkesiap mendengar cerita dari Dewi, baginya ini tahayul tidak masuk akal menurutnya karena Alka lihat selama ini Nabila anaknya fine saja walau Alka beberapa kali memergoki Nabila tetap fokus sama ponsel atau laptopnya saat di jam istirahat.
"Belum lagi pekerjaan di rumah ini Nak Alka, semua Nabila yang nanggung mengingat ibu juga sibuk bekerja di luar dan tenaga ibu juga tidak sekuat dulu, dari situ sebenarnya Nabila meminta ibu berhenti bekerja tapi kasian karena Nabila pasti akan berpikir untuk biaya makan kita sehari-hari, sudah cukup dia biaya sendiri sekolah jangan di tambah beban yang lain," terang Dewi memang pada kenyataanya begitu.
Kini wajah Alka lansung berubah. Mendadak ia merasa jadi orang jahat karena sudah mengira Nabila adalah anak manja sehingga ia menghukum Nabila berbagai macam tugas agar anak itu kuat dan mau belajar lebih keras.
Setelah berbincang panjang dengan Ibu Dewi, kini Alka sudah pamitan untuk pulang ke rumah. Namun sepanjang jalan Alka masih kepikiran, ia merasa tertampar oleh kenyataan pahit yang di alami oleh calon isterinya.
Sungguh di luar Nurul bagi Alka, ia bingung sekarang harus bersikap bagaimana pada Nabila jika ia lngsung berubah maka Alka gengsi dong yang ada nanti Nabila menuduh dirinya bukan-bukan dan cewek itu merasa di atas angin.
"Tidak, aku harus tetap tegas sama dia," batin Alka.
Sementara Nabila baru sadar ia kaget karena tiba-tiba sudah ada di rumah.
"loh, bukannya tadi gue masih di kampus ya, tepatnya di ruangan dosen nyebelin itu, kenapa sekarang gue sudah ada di rumah." gumam Nabila bingung.
"Nab, kamu sudah sadar nak. Syukurlah, tadi yang bawa kamu ke sini Nak Alka calon suami kamu nak, dia baik sekali ya nak, ibu jadi tenang kamu dapat calon sebaik Nak Alka," ucap Dewi sambil tersenyum, ia memang yakin kalau pilihan suaminya pasti terbaik untuk putri semata wayangnya.
"Hah! jadi gue di antar Pak Alka ke rumah, oh Tuhan musibah apa lagi besok yang bakal gue terima ini, pasti itu orang sudah menganggap gue lemah dan di kira-kira pura-pura pingsan tadi, huh!" Nabila yakin dirinya besok akan dapat hukuman tambahan.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya nak, kalau mau makan sudah ibu siapkan tadi Nak Alka juga sudah memberikan kita banyak makanan dan juga buah, obat kamu juga di suruh minum." kata Dewi sambil berlalu pergi meninggalkan Nabila yang masih shok.
"Udahlah terserah besok, kalau memang harus di hukum gue terima saja."
***
Keesokan harinya Nabila masuk kuliah seperti biasa, dan pagi ini memang ada jam kuliah Alka.
Saat Nabila hendak masuk ke dalam kelas, tiba-tiba ada mahasiswi yang memanggilnya.
"Nabila, kamu di mintak Pak Alka ke ruangannya sekarang juga," katanya melapor.
"Tuhkan betul, dia pasti mau membahas kenapa gue pingsan? Pura-pura ya, dasar pemalas," kata-kata itu sudah tergiang di telinga Nabila.
"Baik, terima kasih infonya." ucap Nabila pasrah.
Nabila berbalik arah ia tidak jadi yang mau masuk ke kelasnya kini berjalan menuju ke ruangan dosen alias ruangan khusus Pak Alka.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Ceklek!.
"Permisi, Pak," ucap Nabila ragu.
Alka melirik sekilas, ternyata benar anak itu tetap masuk.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Alka datar.
"Hah! Bukannya bapak yang manggil gue," batin Nabila.
"Saya sudah mengumumkan untuk kelas AB hari ini libur karena saya ada rapat dan besok semuanya dapat surat panggilan di tempat magang masing-masing dan berhubung hari ini semua jam saya silahkan kalian pulang dan belajar di rumah." ucap Alka datar tapi tegas.
Tentu Nabila heran sebenarnya yang benar siapa, anak tadi itu apa dosennya yang nggak jelas.
"Kenapa bengong, kamu mau ikut saya rapat sekarang? belum jadi istri sudah mau dekat-dekat." katanya jutek padahal dalam hatinya senang melihat Nabila bingung. Alka sengaja meliburkan kelasnya agar Nabila pulang dan bisa istirahat tapi Alka tetap memberikan tugas pada mahasiswanya kecuali Nabila.
"Tid-ak Pak, saya cuma tidak tahu kalau hari ini libur," sahut Nabila.
"Ya sudah sana pulang, ingat jangan keluyuran. Mentang-mentang libur malah nongkrong."
"Iya Pak, saya lansung pulang." Nabila sengat kesal karena Alka seenaknya sendiri kenapa kalau memang libur tidak bilang dari tadi malam kek jadi ia tidak perlu capek-capek masuk kampus.
Di lorong kampus Nabila ngedumel karen Alka yang datar itu belum juga berubah seenaknya udel kata orang Jawa.
Sepanjang jalan Nabila masih heran, di satu sisi ia tahunya libur kelasnya tapi kenapa ia masih melihat teman-teman satu kelasnya masih ada di kampus sebenarnya yang benar yang mana.
Nabila menghela napas panjang, lebih baik ia pulang memang to' yang memberi izin adalah dosennya sendiri.
Di parkiran.
"Nab, Lo kenapa?" tanya Sisil teman Nabila yang juga ada di parkiran.
"Biasa, pagi-pagi udah di bikin Betek sama tuh dosen gila!" sahut Nabila kesal.
Nabila menyeringai." loh mah sewot amat sama Pak Alka, padahal beliau tampan dan pintar lo! Kalau sampai jadi jodoh lo mah keran banget tahu Nab!"
"Ya udah sana lo aja yang jadi calon istrinya, biar gue bisa bebas." sewot Nabila.
"Hah! Maksud lo apa Nab?" tanya Sisil bingung.
"Eh, memang gue ngomong apa tadi?"
"Ah udahlah, nggak jelas lo!"
"Ye udah juga gue mau pulang."
"loh! Kenapa lo mau pulang?"
"Terus mau kemana? Mah keluyuran! yang ada gue di tabok sama itu muster kalau ketahuan keluyuran."
"Maksud gue bukan gitu---,"
"Udah ah, gue pergi, by!" Nabila langsung pergi meninggalkan Sisil yang masih dengan sejuta kebingungannya.