Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah ke Rumah baru
Setelah dua hari pernikahan mereka, Dafa mengajak Risma pindah ke rumah baru yang sudah di belinya beberapa waktu lalu. Dafa menyiapkan empat asisten rumah tangga, dua orang koki dan satu orang asisten pribadi yang di khususkan mengurus keperluan Risma, tiga orang satpam, dan dua sopir.
Dafa pun kembali ke rutinitasnya, yaitu mengurus perusahaannya, bahkan dia pun kini sudah berada di Jakarta untuk kesibukannya di sana, sedangkan Risma, dia hanya duduk-duduk di toko kuenya bersama Chika dan juga asisten pribadinya. Awalnya Risma begitu canggung dengan keberadaan Serly asisten pribadinya, yang di tugaskan oleh Dafa, tapi sekarang dia sudah mulai terbiasa.
"Dek, Bisa bicara sebentar?" Kata Nando yang berjalan ke arahnya.
"Bang nando? Ada apa bang?" Tanya Risma antusias ketika tahu bahwa yang datang adalah Nando.
"Bisa kita bicara di ruanganmu sebentar?" Kata Nando, seakan ini adalah pembicaraan penting.
"Bisa bang, oh ya Serly kamu tunggu di sini sebentar."
"Baik, Nona."
Nando pun menuntun tangan adiknya untuk menuju ruangannya di toko kue itu. Sesampai di ruangannya Risma dan Nando duduk di sofa.
"Ada apa bang? kelihatannya penting." Kata Risma.
"Begini dek, Abang ada kenalan Dokter mata yang bagus, dia tinggal di Singapura, dan katanya ada donor mata yang cocok dengan kamu." Kata Nando.
"Benarkah??" Kata Risma dengan mata berbinar bahagia.
"Iya dek, abang gak bohong, apa kamu setuju melakukan pengobatan di sana?"
"Adik sih ok-ok saja bang, tapi mas Dafa kan masih di Jakarta bang,"
"Kamu tenang saja dek, minggu depan kita ke Singapur untuk pengecekan saja, jadi tidak perlu bilang dengan Dafa dulu, anggap saja kita akan memberikan kejutan padanya."
"Baiklah bang, terserah abang dan ayah aja gimana baiknya." Kata Risma pasrah.
"Nanti abang aka sekalian periksakan kandungan Nadia ke sana, jadi biar rame."
"Baiklah bang."
Tak lama setelah itu Nando pun keluar dari ruangan Risma, tak lama setelah Nando keluar dengan sigap Serly masuk mendampingi Risma.
"Ini saya nona muda." Kata Serly supaya Risma tidak kaget.
"Oh Serly, masuk." Kata Risma mempersilahkan Serly untuk masuk.
"Serly, bagaimana menurut kamu kalau ada yang mau mendonorkan mata ke saya."
"Bagus dong nona, itukan kabar bagus."
"Tapi operasinya di Singapura, dan mas Dafa kan sampai sekarang masih di Jakarta."
"Apa perlu saya menghubungi tuan muda sekarang nona?."
"Nanti saja tunggu mas Dafa menghubungi kamu, takutnya mengganggu kerjaannya kalau menelpon sekarang."
"Baik nona muda."
Serly tahu bahwa sebenarnya Risma sangat ingin menelpon bossnya, tapi Risma terlalu takut untuk sekedar menanyakan kabar sang suami.
**********************
Karena kesibukannya Hp Dafa susah di hubungi, dan Risma yang menunggu kabar dari suaminya itu pun merasa cemas. Akhirnya dia pun menyuruh Serly untuk menghubungi Ryo asisten pribadi Dafa.
Ryo menyampaikan pada Dafa untuk segera menghubungi Risma, tapi Dafa selalu punya alasan untuk menghindarinya, di hati Dafa belum bisa mencintai istrinya sepenuhnya, dia hanya melakukan sebatas kewajiban sebagai menebus rasa bersalahnya terhadap Risma.
"Aku kan sudah bilang Daf, ga perlu menikahinya kalau kamu tidak mencintainya." Kata Ryo mengingatkan kembali.
"Sudahlah Yo, dengan begini dia tidak mendapat kesulitan lagi, dia tidak jadi bahan hinaan orang lagi." Kata Dafa dengan tatapannya tidak lepas dari komputer di depannya.
"Sudah dua bulan Daf, kamu bahkan tidak melihat gimana keadaan dia di sana."
"Apa gunanya asisten sepertimu jika tidak tahu gimana keadaannya, kamu bisa hubungi Serly kan untuk mengetahui itu semua." Kata Dafa seakan ini hanya masalah kecil.
"Hey bodoh, aku bukan suaminya, ternyata kamu benar-benar sudah tidak waras Daf." Kata Ryo sambil melempar bantal di sofa ke arahnya.
"Terus aku harus gimana Yo??"
"Sesekali lihatlah keadaannya di sana, bagaimana pun kamu suaminya."
"Baiklah, baiklah, kamu ikut aku besok ke kota S."
"Nah gitu akan jauh lebih baik."
Mereka memang begitu walaupun Ryo asistennya, tapi dia juga sahabat Dafa, Ryo pun langsung menghubungi pihak Bandara untuk penerbangan ke kota S besok dengan pesawat pribadinya.
Sebenarnya dafa masih berat untuk pergi ke kota S, karena di dalam hatinya msih belum bisa mencintai Risma, bayang-bayang penghianatan Agnes masih begitu berbekas di hatinya. Dafa masih belum siap membuka hatinya untuk istrinya itu.
Perjalanan menuju ke kota S sangat lancar, namun sebelum pulang ke rumahnya, Dafa dan Ryo menuju ke Resort. Melihat-lihat kinerja para pegawainya. Setelah menjelang malam dia pulang ke rumahnya.
"Selamat malam tuan muda." Sapa para pelayan menyambut kedatangan Dafa dan Ryo.
"Nona muda dimana?" Tanya Dafa.
"Di kamarnya tuan muda." Jawab Serly asisten Risma.
"Aku akan melihatnya ke kamar, dan tolong siapkan makan malam."
"Baik tuan muda." Jawab pelayan kompak.
Dafa berjalan menuju kamar, sesampainya di dalam kamar di lihatnya Risma duduk di ranjangnya sambil memakai earphone di telinga, yang Dafa yakini sebagai lagu-lagu yang di dengarkan Risma karena itulah yang di katakan Serly sebagai kebiasaan Risma di saat suntuk.
"Risma."
"Eh iya, Siapa di situ?" Kata Risma yang merasa ada seseorang di dalam kamarnya.
"Ini Dafa, suamimu." Dafa pun duduk di samping Risma dan menggegam jemari Risma.
"Mas Dafa, kok gak kasih kabar kalau mau pulang."
"Mau ksih kejutan, oh ya gimana kabar kamu selama aku tinggal tugas di Jakarta?"
"Seperti yang mas lihat, para pelayan dan Serly melayaniku dengan baik mas."
"Syukurlah kalau begitu, kamu sudah makan?" Tanya Dafa.
"Udah mas, mas udah makan?"
"Belum, temani aku makan yuk."
"Baiklah."
Walaupun dafa tidak mencintai Risma namun dia berusaha memperlakukan Risma dengan baik, karena kondisi Risma yang tidak bisa melihat itu membuat Dafa merasa kasihan.
Akhirnya Dafa, Risma dan Ryo makan bersama di meja makan, Serly dengan setia menemani Risma di sisi kanannya.
"Mas, ada yang mau Risma bicarakan."
"Ya, katakan saja."
"Tiga hari lagi aku akan..--"
Kring... kring... kring....
"Bentar-bentar." Kata Dafa yang melihat hpnya berbunyi dan di lihatnya di layar nama mamanya yang muncul, Dafa pun pergi menjauh dari meja makan.
"Ya, ada apa mom."
"Halo sayang, gimana kabarnya? sudah enam bulan tidak bertemu."
"Dafa baik mom, kapan mommy kembali ke indonesia."
"Maafkan mommy sayang karena tidak bisa menghubungi kamu beberapa bulan ini, kamu tahu sendiri perusahaan papi kamu sedang ada masalah di sini."
"Iya mom, Dafa mengerti, mommy tidak perlu khawatirkan Dafa di sini, Dafa tunggu mommy pulang, karena ada yang mau Dafa bicarakan ke mommy dan papi."
"Kalau begitu kebetulan, ada yang mau mommy bicarakan juga dengan kamu sayang, seminggu lagi mommy akan pulang ke Indonesia."
"Ok mom, Dafa akan tunggu kedatangan mom."
"Ok sayang, hati-hati di sana, jaga kesehatan kamu."
Dafa pun mematikan ponselnya dan menuju ke meja makan,setelah selesai makan mereka menuju ruang kerja untuk membahas sesuatu. Risma yang dari awal akan bicara soal operasi matanya ia mengurungkan niat.
☆Bersambung☆
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭