Dianjurkan untuk membaca novel BUKAN CINDERELLA BIASA season pertama agar mengerti alur cerita dan pengenalan tokoh, serta rentetan peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Deanda Federer, seorang gadis cantik dari kalangan rakyat biasa akhirnya menikah dengan Alvero Adalvino, seorang raja tampan dan sekaligus seorang pengusaha hebat dari Kerajaan Gracetian. Negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut, di mana ucapan Raja adalah hukum mutlak.
Pada awalnya Alvero dikenal tampan, cerdas, sekaligus sosok pengusaha hebat, namun juga dikenal keras, arogan, dingin, sekaligus dikenal playboy karena tidak pernah bersama dengan gadis yang sama lebih dari satu bulan karena menderita alergi saat bersentuhan dengan wanita. Namun sejak kehadiran Deanda yang tidak menimbulkan alergi padanya, banyak hal berubah dalam kehidupan Alvero.
Satu persatu misteri di masa lalu dan kejahatan orang-orang di sekitar Alvero dan Deanda mulai terungkap sejak Alvero dan Deanda menikah. Sosok cantik sekaligus pemberani Deanda sebagai permasuri banyak membantu Alvero dalam memimpin kerajaannya dan menumpas musuh-musuhnya.
Bagaimanakah perjalanan cinta mereka selanjutnya? Apakah cinta mereka akan bertahan sampai akhir? Ikuti perjalanan cinta mereka yang penuh perjuangan sekaligus romantis.
Cerita ini cuma fiksi maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, dan kejadian. Kali ini Author hanya ingin menulis cerita fiksi, drama, romantis. Semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JE270608, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA NYONYA ROSE (1)
"Selamat pagi Permaisuri..." Cleosa yang melihat kedatangan Deanda pagi itu di gedung perkantoran Adalvino langsung menyapa Deanda dan memberikan tanda penghormatan, diikuti oleh pegawai lain yang juga sedang ada di sana.
"Eh, selamat pagi" Deanda menjawab sapaan orang-orang di sekitarnya sambil berjalan bergegas ke arah Cleosa.
"Cleosa, jangan bersikap seresmi itu." Deanda berkata sambil menarik lengan Cleosa, mengajaknya menjauh di salah sudut ruangan sehingga tidak terlihat oleh pegawai lainnya.
"Hah, mana berani aku bersikap seperti itu di depan orang lain. Bisa-bisa ada yang melaporkan aku tidak menghormati keluarga kerajaan dan aku berakhir dengan nasib buruk di penjara." Cleosa berbisik pelan ke arah Deanda yang langsung menarik nafas dalam-dalam.
"Ah, terserah padamulah, tapi jangan bersikap formal saat kita hanya berdua saja. Aku merasa tidak nyaman." Cleosa langsung terkikik pelan mendengar perkataan Deanda.
"Eh, tapi Deanda. Ini kan masih masa bulan madumu? Kenapa kamu justru berkeliaran di kantor? Kemana yang mulia Alvero? Apa yang mulia membiarkanmu pergi sendirian ke kantor?" Pertanyaan Cleosa membuat Deanda tersenyum dengan wajah terpaksa.
"Yang mulia Alvero sedang berada di kota Renhill, ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Aku bisa keluar dari istana dengan alasan ada barangku yang penting tertinggal di penthouse yang mulia Alvero." Cleosa hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Deanda.
"Lalu sebenarnya apa yang sedang kamu cari di sini sebenarnya? Tidak mungkin karena hari ini kamu ingin bertemu denganku atau Abella kan? Kemarin kalian sudah sibuk memasak di dapur bersama kan?" Mendengar perkataan Cleosa, Deanda langsung meringis dengan wajah terlihat ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Kenapa denganmu? Apa pernikahanmu dengan yang mulia Alvero tidak berjalan dengan baik? Apa yang mulia orang yang kasar? Apa dia sudah melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?"
"Haist! Jangan berpikiran macam-macam tentang yang mulia Alvero. Yang mulia Alvero sangat baik padaku." Deanda berkata dengan wajahnya bersemu merah.
"Ahhhh.... manisnya kamu saat memuji suamimu." Cleosa berkata sambil mencubit pelan pipi Deanda.
"Upst..." Tiba-tiba saja begitu menyadari dia sudah begitu berani mencubit pipi Deanda, Cleosa langsung melihat dengan wajah khawatir ke sekelilingnya, takut jika ada seseorang yang melihat dia sudah bersikap kurang ajar kepada Deanda yang sekarang merupakan permaisuri Gracetian.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya membawamu ke tempat ini di masa bulan madumu tanpa yang mulia Alvero bersamamu?" Cleosa bertanya sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakangnya, namun tiba-tiba Deanda menarik lengan Cleosa, mengajaknya masuk ke ruangan yang berisi lemari loker (Lemari Loker adalah sejenis tempat benda-benda pribadi yang mudah disimpan, biasanya berupa lemari yang bersekat-sekat, membentuk lemari berukuran kecil) para pegawai dan duduk di kursi panjang yang ada di depan lemari loker yang berjajar rapi menempel pada kanan kiri dinding.
"Sebenarnya... Ah... apa hari ini ada staff baru yang baru saja diterima di departemen R&D?" Akhirnya dengan nada ragu dan pelan Deanda menanyakan tentang Alaya kepada Cleosa.
"Oooo, maksudmu Alaya Stein? Gadis yang cantik, dia menjadi bahan pembicaraan banyak pegawai lajang di sini. Mengingatkanku pada waktu pertama kalinya kamu bergabung dengan perusahaan ini." Deanda hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan dari Cleosa.
"Jadi memang benar dia diterima di tempat ini ya?" Cleosa langsung mengaguk-anggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Deanda.
"Eh, tapi darimana kamu tahu? Cuma staff biasa, kenapa kamu terlihat begitu penasaran? Apa kamu mengenalnya? Pernah bertemu dengannya?"
"Aku tidak mengenalnya, hanya pernah bertemu du kali, pertama kali di pabrik pengalengan ikan yang ada di pantai Tavisha." Deanda langsung memotong pertanyaan-pertanyaan dari Cleosa.
"Apa yang membuatmu begitu penasaran dengan gadis cantik itu. Jangan bilang yang mulia Alvero mengenal gadis itu dan membuatmu cemburu." Cleosa berkata dengan mata mengerling dan wajah menggoda.
"Ah... tidak... yang mulia tidak mengenalnya. Cemburu? Ada-ada saja.... Kenapa aku harus cemburu dengan seorang gadis yang bahkan tidak dikenal oleh yang mulia Alvero?" Mendengar perkataan Deanda, Cleosa langsung mencebikkan bibirnya.
"Ok, ok... aku percaya."
"Ah, aku akan mampir sebentar ke departemen R&D, aku akan menemui Abella sebentar. Kembalilah ke tempatmu bekerja jika tidak ingin mendapat teguran." Deanda berkata sambil bangkit dari duduknya.
"Hei! Jangan begitu dong. Siapa yang mengajakku meninggalkan posku?" Mendengar protes dari Cleosa, Deanda hanya tersenyum geli sambil berjalan keluar dari ruang lemari loker itu dan berjalan ke arah lift, berencana ke ruang R&D untuk menemui Abella, walaupun sebenarnya dia juga ingin melihat apakah Alaya ada di sana juga.
# # # # # # #
"Baiklah Tuan Robert, jangan khawatir, aku akan segera memberitahunya." Alvero berkata sambil berjalan keluar dari ruangan Robert di departemen R&D, bertepatan dengan sosok Deanda yang tiba-tiba masuk ke ruangan R&D.
Wajah Deanda tampak kaget melihat bagaimana tiba-tiba Alvero yang diketahuinya masih berada di kota Renhill tiba-tiba sudah berada di kota Tavisha, bahkan di ruangan Robert, kepala departemen R&D. Sekilas Deanda melirik ke arah meja tempat biasanya dia bekerja juga ditempati oleh seseorang. Dan sosok yang menggantikan posisinya di meja kerja itu adalah Alaya Stein, gadis yang dalam dua kali pertemuan mereka cukup membuat hatinya merasa tidak tenang, bahkan pertemuan ketiga hari ini.
Alvero yang melihat sosok Deanda yang tiba-tiba muncul di ruang R&D langsung berjalan mendekat ke arah istrinya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Morning sweety... Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu ke kantor?" Alvero berkata sambil merengkuh bahu Deanda dan memutar tubuhnya, mengajaknya keluar dari ruangan R&D tanpa sempat menyapa Robert atau Abella, apalagi Clare dan yang lain.
"Aku sengaja kembali dari Renhill pagi-pagi sekali tapi sesampainya di istana, nyonya Rose mengatakan kamu sudah pergi ke kantor Adalvino. Memangnya barang penting apa yang tertinggal di penthouse?" Alvero bertanya sambil mengajak Deanda berjalan ke arah lift pribadinya, berencana mengajak Deanda ke penthousenya.
"Apa urusanmu di kota Renhill sudah selesai? Eh, lebih baik kita kembali ke istana sekarang." Deanda tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, membuat Alvero ikut menghentikan langkahnya.
"Aku akan mengurusnya dari istana. Kenapa denganmu? Tidak jadi mengambil sesuatu di penthouse?"
"Ah, aku baru ingat ternyata aku sudah membawanya kemarin. Maaf, aku melupakan itu." Deanda berkata sambil mengalihkan pandangannnya dari Alvero, tidak ingin Alvero melihat kebohongan di matanya, karena dia tidak terbiasa berbohong dan selalu merasa gugup jika berbohong.
"Ok, kita kembali ke istana, toh ini masih masa bulan madu kita. Walaupun sepertinya sepanjang hari ini aku masih akan disibukkan dengan penataan ulang sistem keamanan istana dan rumah sakit tempat papa dirawat bersama duke Evan dan yang lainnya." Alvero berkata sambil berjalan ke arah lift, tapi kali ini yang ditujunya adalah lantai dasar bukan lagi lantai teratas gedung Adalvino dimana terdapat bangunan penthousenya.
# # # # # # #
Sepanjang hari Deanda memilih menghabiskan waktu di dapur seolah-olah sengaja menghindari Alvero yang kebetulan sejak kembali ke istana juga sibuk mengatur ulang keamanan istana dan rumah sakit di kota Renhill bersama Erich dan Ernest, juga Evan yang sedang berada di kota Renhill. Hampir setiap menit Alvero tidak lepas dari handphonenya, melakukan pembicaraan dengan Evan tentang rencana dan hasil dari proses perbaikan keamanan, sehingga Alvero benar-benar tidak menyadari bahwa sepanjang siang Deanda sengaja menghindar darinya.
Nyonya Rose yang mengamati sikap Deanda yang aneh di dapur hanya bisa mengamatinya dalam diam. Beberapa kali nyonya Rose melihat Deanda menarik nafas dalam-dalam bahkan melamun.
Sepertinya malam ini aku harus segera bertindak jika tidak ingin hubungan mereka semakin menjauh. Yang mulia dengan kesibukannya, permaisuri dengan usahanya yang terus menghindari yang mulia Alvero. Dan celakanya, sepertinya yang mulia Alvero tidak menyadari kalau permaisuri sengaja menghindarinya sepanjang siang ini dengan bersembunyi di dapur. Wah… ternyata memang sedikit susah mengharapkan dua orang sepolos mereka untuk membuat keadaan menjadi romantis.
Nyonya Rose berkata dalam hati sambil melirik ke arah jam di dinding, yang hampir menunjukkan waktunya untuk makan malam di istana.