[SUDAH TERBIT]
Ingin beli, chat me atau DM di @diagaa11
Dengan sengaja aku menggantikan kakakku di hari pernikahan kakakku. Namun pada akhirnya aku kehilangan pria yang kucintai, inikah karma?
***
Zora: Aku ini istrimu apa peliharaan yang selalu di kurung?
Gavin: Sekali kau menjadi milikku, jangan berharap orang lain bisa menyentuhmu
Cek lanjutannya...
Note: Part tidak lengkap karena untuk kepentingan penerbitan.
#My Third Novel#
Ig: @diagaa11
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiAgaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anti Kata Maaf
☆ Alan Walker - Faded ⋮☰
━━━━━━━⬤──────────
01:25 03:44
⇄ ❘◁◁ ❙❙ ▷▷❘
_____________________________________________
"Darimana!" bentak Gavin
"A aku..." gugup Zora
"Menghilang dari penjagaanku dan pergi semaumu sendiri?" tanya Gavin dengan ekspresi datar
"Maaf, aku tadi pergi dengan teman ku!" ucap Zora
"Apa aku mengijinkanmu?" tanya Gavin
"Maaf, aku hanya pergi dengan temanku saja. Dia juga perempuan," ucap Zora
"Mana buktinya?" tanya Gavin
"Astaga, aku benar-benar pergi dengan teman perempuan!" ucap Zora sambil meneteskan air mata
"Dasar wanita lemah! Sedikit-sedikit menangis!" ucap Gavin
"Kalau tau aku cengeng tolong jangan marahi aku! Aku juga ingin punya teman dan pergi bersama temanku, aku ingin hidup normal!" ucap Zora sambil menangis
"Oh jadi kau menyalahkan aku? Itu salahmu sendiri, kau yang mau menikahiku!" ucap Gavin
"Kau pikir aku mau begitu saja menikahimu? Jangan terlalu tinggikan dirimu!" ucap Zora sambil mengendurkan kacamatanya dan mengusap air matanya
"Hah! Aku memang pantas untung meninggikan diriku sendiri, aku memang tampan, kaya dan memiliki segalanya!" ucap Gavin
"2 yang tidak kau punya, pertama hati dan yang kedua cinta!" ucap Zora
Zora bergegas pergi namun tangan Gavin mentahan. Gavin menarik tangan Zora keras hingga Zora mundur dan berbalik.
Klakk...
Kacamata Zora jatuh dan patah, seketika Zora dan Gavin saling berpandangan.
Mata ini... Kenapa begitu indah dan aku baru mengetahuinya? - Batin Gavin
"Lepaskan aku!" ucap Zora
"...."
"Gavin lepaskan aku!" bentak Zora
Gavin melepaskan Zora dengan sedikit mendorongnya hingga Zora terjatuh.
"Aww..." keluh Zora
Zora kembali meraba-raba lantai dan mencari kacamatanya.
"Dimana sih kacamata ku, kenapa bisa jatuh lagi!" kesal Zora
Gavin pergi meninggalkan Zora sendiri di ruang tamu. Setelah lama mencari, Zora menemukan kacamatanya ia meraba kacamatanya.
"Yah patah," ucap Zora sambil meraba kacamatanya
Ini pasti karena kemarin tidak ku perbaiki, sekarang malah patah - Batin Zora
Zora masuk ke dalam kamar dengan menaruh lensa kacamata nya didepan mata agar Zora bisa melihat. Sampai di dalam kamar, ia menelfon Radit.
Zora: Halo Dit...
Radit: Halo Ra, ada apa?
Zora: Kamu bisa kesini? Kacamata ku patah, aku tidak bisa melihat tanpa kacamata
Radit: Oh ok baiklah
Setelah 15 menit, Radit datang membawa sebuah kotak yang cukup besar.
"Non.. Di cari Tuan Radit," ucap Bi Ijah
"Oh iya bi," ucap Zora
"Loh itu kacamata nya kenapa?" tanya Bi Ijah
"Patah Bi, makanya saya panggil Radit!" ucap Zora
"Oh ya sudah non, itu ditunggu!" ucap Bi Ijah
Zora keluar untuk menemui Radit, terlihat Radit menunggu di ruang tamu.
"Hai Ra," sapa Radit
"Hai Dit, lihat ini!" ucap Zora
"Itu kenapa? Jatuh, kok bisa patah?" tanya Radit
"Iya tadi," ucap Zora
"Sini aku perbaiki!" ucap Radit
"Zora, kamu bisa lihat ini?" tanya Radit sambil menunjukkan sebuah kertas yang berisi beberapa alfabet
"Tidak," jawab Zora
"Ini?" tanya Radit
"Tidak Dit, tidak kelihatan sama sekali. Semua benar-benar buram!" ucap Zora
"Coba kamu pakai ini!" ucap Radit
"Apa?" tanya Zora
"Ini lensa kontak khusus, aku dan teman dokterku meneliti ini untuk membantumu bisa melihat tanpa kacamata. Jika lensa kontak biasa pasti tidak membantu, tapi ini beda. Cobalah," ucap Radit
"Baiklah," jawab Zora
Zora memakai softlens buatan Radit dengan dibantu Radit. Setelah memakainya Zora bisa melihat dengan jelas.
"Wah Dit aku bisa melihat," ucap Zora
"Bagaimana? Nyaman tidak?" tanya Radit
"Sebenarnya agar risih, apalagi saat mau berkedip! Tapi rasanya seperti lebih jelas daripada memakai kacamata," ucap Zora
"Coba lihat ini," ucap Radit
Radit menunjukkan beberapa ukuran alfabet dari kejauhan yang berbeda. Setelah mencapai 8 meter, baru Zora lebih buram untuk melihat.
"Tidak jelas Dit," ucap Zora
"Baiklah setidak lebih membantu kan daripada kacamata," ucap Radit
"Hmm.. Ya, tapi tolong tetap perbaiki kacamata ku ya!" ucap Zora
"Kenapa? Bukannya lebih mudah begini?" tanya Radit
"Biarlah, aku lebih suka memakai kacamata." ucap Zora
"Baiklah, tapi apa kamu belum mau cerita kenapa mata kamu bisa seperti ini?" tanya Radit
"Maaf Dit, aku belum siap! Itu kenangan menyakitkan kedua setelah kematian ibuku" ucap Zora
"Hm baiklah tak apa," ucap Radit
Mendengar ada orang yang berbicara, Gavin turun dan melihat ke ruang tamu.
"Loh kamu disini Dit?" tanya Gavin
"Eh iya Gav," ucap Radit
"Ngapain?" tanya Gavin
"Ini perbaiki kacamata Zora," ucap Radit
Apa karena jatuh tadi makanya rusak? - Batin Gavin
Baru Gavin hendak duduk di samping Radit, Zora langsung mengambil kacamata, kotak lensa dan cairan lensa dari Radit.
"Makasih Dit, aku masuk dulu!" ketus Zora
Apa dia marah padaku? - Batin Gavin
Zora masuk ke kamarnya dengan langkah kasar meninggalkan Radit dan Gavin di ruang tamu.
"Dit, dia itu kenapa matanya? Kok pake kacamatanya?" tanya Gavin
"Hmm.. Nggak tau, dia nggak pernah cerita. Yang aku tau, saraf matanya mengalami kerusakan karena sebuah racun." ucap Radit
"Oh," ucap Gavin
Karena racun? Kebetulan sekali - Batin Gavin
*****
Besok Pagi
Zora hari ini bersiap lebih awal untuk sarapan lebih awal. Ia lebih memilih menghindari Gavin daripada dapat masalah lagi. Baru mengangkat sendok, Bi Ijah memanggil Zora.
"Non.. Non Zora dipanggil Tuan Muda, disuruh ke kamarnya!" ucap Bi Ijah
"Oh iya bi," ucap Zora
Kenapa lagi sih tu orang, nggak capek apa tiap hari gangguin aku terus? - Batin Zora
*****
Di Kamar Gavin
"Ada apa mencari ku?" tanya Zora ketus
"Hei aku ini suamimu, bersikaplah yang sopan!" ucap Gavin
"Baiklah suamiku, ada apa mencariku?" tanya Zora dengan suara lembut
Tanpa sadar sebuah senyum tipis terukir di bibir Gavin. Seperti ada kepuasan tersendiri saat Zora memanggilnya suami.
"Bantu aku bersiap," ucap Gavin
"Baiklah," ucap Zora
Zora sedang tidak mau berdebat, ia lebih memilih menuruti semua perkataan Gavin.
"Sudah bisa sekarang memakaikan dasi?" tanya Gavin
"Hmm...." jawab Zora
"Apa kau ada kelas pagi?" tanya Gavin
"Ya," jawab singkat Zora
"Kenapa jawaban mu seperti itu?" tanya Gavin
"Huh... Apa lagi?" tanya Zora sambil menghela nafas panjang
"Apa kau masih marah karena semalam?" tanya Gavin
"Sudahlah, aku tidak mood berdebat!" ucap Zora
Setelah selesai Zora turun dan kembali melanjutkan sarapannya. Baru makan setengah, Gavin sudah turun dan hendak ikut sarapan. Belum sempat Gavin duduk, Zora sudah berdiri dan membawa piringnya ke kamar dan makan di kamar.
"Dasar pria menyebalkan, sudah salah tapi berlagak seperti tidak ada apa-apa! Mulutnya seperti anti kata maaf!" kesal Zora
Setelah makan, Zora mengembalikan piringnya dan hendak bergegas ke kampus. Baru membuka pintu, Gavin sudah memanggilnya.
"Hei... Wanita..." panggil Zora
Zora tak menggubrisnya, ia tetap membuka pintunya.
"Hei wanita yang membuka pintu!" kesal Gavin
"Namaku Zora! Bukan wanita yang membuka pintu!" kesal Zora
"Baiklah, Zora tunggu!" panggil Gavin
"Apalagi sih!" kesal Zora
"Ayo aku antar ke kampus!" ajak Gavin
Antar aku ke kampus? Mimpi apa dia semalam? Apa dia ada maunya? - Batin Zora
"Tidak terima kasih," ucap Zora
"Ayolah, kau ini istriku!" ucap Gavin
"Hanya istri di atas kertas!" ucap Zora
"Ayo berangkat bersamaku saja!" ucap Gavin
"Berhenti bersikap seperti menyukaiku!" kesal Zora
"Aku memang menyukaimu!" ucap Gavin
Zora berhenti mendengar kata-kata Gavin barusan.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Happy reading:)
Rasain tuh Vin,saat kamu di tinggal baru kamu tau arti kehilangan dan penyesalan..😡😡