NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Romansa
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.

Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

awal dari permulaan

Pemulihan Zhou Yu berlangsung secara ajaib. Sari Bunga Embun Salju yang dibawa Ling’er tidak hanya menyambung nadinya yang putus, tetapi juga memurnikan energi Qi dalam tubuhnya, membuatnya selaras dengan dinginnya es dan jernihnya air. Seminggu setelah malam berdarah itu, Zhou Yu sudah bisa berdiri tegak di lapangan desa, meskipun balutan kain putih masih melingkar di bahunya.

Ia memandangi wajah-warga desa yang kini tampak gelisah. Ketakutan akan kembalinya para perompak iblis merah menghantui setiap sudut pikiran mereka. Zhou Yu tahu, keberuntungan tidak akan datang dua kali. Ia harus mengubah para pengungsi ini menjadi pelindung bagi rumah mereka sendiri.

"Dengarkan aku!" suara Zhou Yu menggelegar di tengah lapangan. "Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan. perompak dan para bandit tidak akan membiarkan kita hidup tenang. Jika kita ingin bebas, kita harus memiliki taring!"

Di sampingnya, Da Ge berdiri tegak, memegang palu besar yang kini telah ia beri pengait logam. Sementara itu, Ling’er berdiri di barisan depan para wanita, matanya menunjukkan tekad yang sama kuatnya dengan para pria.

Zhou Yu mulai mengajarkan dasar-dasar Qi. Karena mereka bukan praktisi bela diri profesional, Zhou Yu menyederhanakan gerakan teknik Arus Pemecah Karang. Ia mengajari mereka cara mengatur napas, bagaimana menyerap energi dari alam sekitar, dan bagaimana mengalirkannya ke alat kerja mereka cangkul, arit, maupun kayu pemukul.

"Bayangkan kalian adalah air yang tenang saat diam, namun menjadi ombak yang menghancurkan saat bergerak!" teriak Zhou Yu.

Han Shui muncul dalam bentuk bayangan kecil yang hanya bisa dilihat oleh Zhou Yu. "Bocah, melatih mereka bertarung itu bagus, tapi tubuh manusia ada batasnya. Jika gerombolan yang lebih besar datang, desa ini akan rata dengan tanah sebelum mereka sempat mengayunkan cangkul."

"Lalu apa yang harus kulakukan, Han Shui?" tanya Zhou Yu dalam batinnya.

"Gunakan kekuatanku. Kita akan membangkitkan 'Perisai Arus Langit'. Ini adalah penghalang kuno yang pernah melindungi sekte-sekte besar di masa lalu. Tapi, harganya adalah energi spiritualmu yang akan terkuras habis setiap harinya untuk menjaga pondasi perisai ini."

Zhou Yu menatap warga desa, menatap anak-anak yatim yang kini mulai bisa tertawa lagi, dan menatap Ling’er. "Lakukan," jawabnya tanpa ragu.

Bangkitnya Perisai Kuno

Malam harinya, saat desa mulai sunyi, Zhou Yu berjalan menuju pusat desa, tepat di mana mata air terjun mengalir ke sungai kecil. Han Shui melayang di sampingnya. Zhou Yu menghunus pedangnya, menancapkannya dalam-dalam ke tanah yang basah.

"Fokuskan seluruh pikiranmu pada keamanan rumah ini. Bayangkan air terjun ini menyelimuti seluruh lembah dengan kubah yang tak kasat mata," perintah Han Shui.

Zhou Yu memejamkan mata. Ia mengalirkan seluruh energi Qi yang baru saja pulih ke dalam bilah pedang. Cahaya biru elektrik mulai merambat dari pedang, masuk ke dalam aliran air, dan tiba-tiba melesat ke langit. Dari kejauhan, tampak seperti pilar cahaya biru yang membelah langit.

Cahaya itu kemudian melengkung, membentuk kubah transparan yang sangat besar, menyelimuti seluruh area Desa Harapan. Seketika, suasana di dalam desa terasa lebih sejuk dan damai. Suara angin kencang dari luar pegunungan kini hanya terdengar seperti bisikan halus.

Penghalang ini bersifat satu arah warga desa bisa keluar masuk, namun siapapun yang memiliki niat jahat atau energi hitam akan tertahan oleh dinding air yang sangat keras seolah-olah menabrak baja.

Zhou Yu jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya kembali pucat, keringat dingin membasahi tubuhnya. Membangkitkan sihir kuno sebesar itu hampir merenggut seluruh sisa tenaganya.

Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, dua pasang tangan kuat menangkapnya. Da Ge dan Ling’er rupanya telah mengikuti Zhou Yu sejak tadi.

"Kau terlalu memaksakan diri, bodoh!" gerutu Da Ge, meskipun matanya berkaca-kaca melihat pengorbanan sahabatnya. Ia merangkul bahu Zhou Yu yang kuat, membantunya tetap berdiri.

Ling’er segera menyelimuti tubuh Zhou Yu dengan jubah bulu yang hangat. "Kau sudah memberikan kami rumah, sekarang kau memberi kami pelindung. Berhentilah mencoba memikul beban dunia sendirian, Kak Yu."

Mereka bertiga duduk di sebuah batu besar dekat sungai, menatap pendar biru tipis yang sesekali terlihat di langit malam pertanda bahwa perisai itu bekerja. Da Ge mengeluarkan sebuah botol berisi sari buah yang difermentasi.

"Untuk pemimpin kita yang keras kepala," ucap Da Ge sambil memberikan botol itu pada Zhou Yu. Mereka berbagi minuman itu dalam keheningan yang penuh arti. Da Ge kemudian bercerita tentang bagaimana warga desa kini mulai merasa aman karena latihan tadi siang.

"Mereka percaya padamu, Zhou Yu. Tadi siang, aku melihat beberapa ibu-ibu berlatih gerakan pedangmu sambil memegang kayu bakar. Mereka bilang, mereka ingin melindungi anak-anak mereka seperti kau melindungi kami," kata Da Ge sambil menepuk punggung Zhou Yu dengan bangga.

Tawa kecil pecah di antara mereka. Kehangatan persahabatan itu seolah menjadi obat paling mujarab bagi rasa lelah Zhou Yu. Di bawah lindungan perisai kuno itu, untuk pertama kalinya sejak mereka melarikan diri dari tambang, mereka merasa benar-benar bisa bernapas tanpa rasa takut.

Da Ge, yang menyadari suasana mulai berubah menjadi lebih pribadi, bangkit berdiri sambil meregangkan badannya. "Baiklah, aku harus memeriksa gerbang depan. Kalian berdua jangan terlalu lama di sini, udara dingin tidak baik untuk pasien yang baru sembuh," ucapnya dengan kerlingan mata nakal sebelum berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Kini hanya tersisa Zhou Yu dan Ling’er di bawah naungan pohon willow yang melambai. Gemericik air terjun terdengar seperti melodi yang menemani kesunyian mereka.

Zhou Yu menoleh ke arah Ling’er. Di bawah cahaya mentari dan sisa sinar perisai biru, wajah Ling’er tampak begitu tenang. "Ling'er, maafkan aku karena selalu membuatmu khawatir."

Ling'er tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menggeser duduknya, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Zhou Yu. Ia meraih tangan Zhou Yu, menjalin jemari mereka satu sama lain.

"Tanganku sudah tidak sekasar dulu saat di tambang," bisik Zhou Yu, merasakan kelembutan tangan Ling'er.

"Tapi bekas lukanya masih ada, Kak Yu. Dan setiap bekas luka ini bercerita tentang berapa kali kau menyelamatkanku," jawab Ling'er lembut. Ia menatap ke langit, ke arah kubah transparan yang kini melindungi mereka. "Kau tahu, saat aku berada di puncak gunung mencari bunga itu, aku sangat takut. Tapi setiap kali aku ingin menyerah, aku membayangkan tanganmu yang hangat menggenggamku seperti ini."

Zhou Yu merasakan dadanya bergetar. Ia membawa tangan Ling'er ke bibirnya, mencium jemari gadis itu dengan penuh hormat dan kasih sayang. Tidak ada nafsu di sana, hanya ada janji suci yang lebih kuat dari sumpah manapun.

"Aku akan terus membangun tempat ini, Ling'er. Sampai suatu hari nanti, kita tidak perlu lagi merasa takut pada apapun. Kita akan menanam bunga, melihat anak-anak tumbuh, dan menua bersama di sini," ucap Zhou Yu dengan nada yang dalam dan dramatis.

Ling'er memejamkan matanya, menikmati detak jantung Zhou Yu yang kini terdengar stabil di dekat telinganya. "Aku memegang janjimu, Pemimpin Zhou Yu."

Malam itu, Desa Harapan benar-benar menjadi surga yang nyata. Di luar perisai, mata-mata perompak Naga Hitam mungkin sedang mengintai dengan geram karena tidak bisa menembus dinding air misterius itu, tetapi di dalam sana, di bawah cahaya bintang, dua jiwa telah menemukan kedamaian yang selama ini mereka cari di tengah gelapnya dunia.

Zhou Yu tahu, perjuangan belum berakhir. Kekaisaran mungkin akan membawa pasukan yang lebih besar, dan perisai ini butuh pengorbanan besar untuk dipertahankan. Namun, saat ia melihat senyum kecil di bibir Ling'er yang tengah terlelap di bahunya, ia tahu bahwa setiap tetes keringat dan darahnya sangatlah sepadan.

...Bersambung.......

1
Ada badaknya
baru 1 bab udah cerita sedih/Sweat/
pinguin: author kejam👍
total 1 replies
Butet Kon77
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!