Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
Satria semakin terang-terangan mengejar Linda. Meski sering mendapat penolakan secara sadis. Lama-lama predikat pria dingin dan kaku luntur karena hasrat Satria untuk mendapatkan Linda.
Meski semua berawal dari ambisi tanpa alasan yang jelas, ditambah kedua sahabatnya itu memang tidak ada disini melainkan kembali ke negaranya masing-masing. Sehingga Satria lebih leluasa untuk mendapatkan Linda. Kecuali ketiga herder yang setia mengawal tuannya.
Contohnya hari ini, Satria berhasil mengantar Linda pulang setelah berdebat cukup lama dengan Linda juga Ferry.
"Mel.... Hari ini kamu pulang bareng aku!!!!"
Jreeennnggggg
Satria menghentikan langkah Linda yang hendak meninggalkan ruangannya setelah selesai merapikan lemari untuk cadangan pakaian Satria.
Linda tak mau ambil pusing lagi, dengan sangat halus Linda menolaknya.
"Maaf Pak, adik saya sudah menunggu di bawah..." Linda ngeluyur meninggalkan Satria sendirian di ruangannya.
Adaaaa aja alasan menghindariku, segitu bencinya kah dirimu padaku Princess??? Lihat saja, hari ini kamu harus pulang denganku...
Satria tersenyum licik.
Linda keluar dari ruang ganti. Berjalan meninggalkan kantornya, namun tiba-tiba handphone nya berdering.
"Iya halo...Hahh.....Iya saya segera kesana pak!" Linda terlihat panik setelah menerima telpon. Buru-buru Linda berlari ke ruangan Satria dengan wajah panik. Sambil menghubungi Ferry agar pulang duluan.
Napasnya memburu karena memang Linda memilih menaiki tangga daripada lift. Setelah sampai di ruangan Satria, Linda segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Matanya mencari keberadaan Satria.
"Pak!!!! Anda dimana Pak!!!" Linda terlihat panik karena tak kunjung menemukan atasannya.
Ada suara di dekat meja kerja atasannya. Dengan penuh kewaspadaan, Linda mendekat mencari tau sumber suara.
Betapa terkejutnya Linda mendapati atasannya meringis kesakitan di bawah meja.
* Flashback
*Lihat saja, hari ini kamu harus pulang dengan ku
Hahahahahaha
GUBRAAKKKK
Oh tidak,, Satria terjatuh saat akan duduk di kursi kebanggaannya.
Satria meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.
Baru aja niat bikin rencana buruk. Udah kena sial aja. Br* ngs*k.....
Satria memaki dirinya sendiri karena keteledorannya. dia sangat bingung harus menghubungi siapa.
Untung saja saat Beberapa waktu lalu Linda tertidur di sofa, dia sempat menyimpan nomornya.
Satria mencari smarphone di saku celananya, lalu menghubungi Linda.
"Halo..... Linda, segera ke ruangan saya. Saya terpeleset..."
*Kembali lagi
Linda masih melongo melihat atasannya masih terduduk menahan sakit.
"Adduuuhhhh bagaimana bapak bisa seperti ini???" Linda terlihat panik melihat atasannya meringis kesakitan di bawah sana.
"Aku juga nggak mau!! Cepat bantu berdiri!!!" Perintah Satria sambil meringis kesakitan
Linda pun membantu Satria berdiri, namun.
"Adduuuhhhh kamu mau membunuh ku???" Satria mengaduh seperti anak kecil baru jatuh dari sepeda.
"Aduhhhh gimana nih...." Linda masih panik, lalu menelpon Ferry agar kembali.
"Haloo dek... buruan kesini lagi, atasan mbak jatuh."
Selang beberapa lama, Ferry masuk diikuti sopir Satria.
"Kita ke rumah sakit pak!" Linda meminta Pak Min agar membawa Satria ke rumah sakit.
"No!!!!! Aku nggak mau ke rumah sakit!" Satria berteriak saat Linda menyebut rumah sakit
"Trus gimana dong????" Linda tampak putus asa.
"Terserah kamu asal jangan ke rumah sakit." Satria masih dengan emosinya yang meledak.
Heran gue, lagi sakit gini masih aja galak!!! Nurut bentar napa!
Karena pikirannya buntu, Linda memutuskan membawa Satria ke rumahnya. Ferry masih mengikuti mobil yang ditumpagi Satria dari belakang.
Hingga sampai di rumah Linda, Satria turun dari mobil dibantu Ferry juga pak Min.
"Kenapa dibawa ke rumah sih? Emang bos mu nggak punya rumah?" Tanya Ferry dengan nada ketus
"Lo diem aja bocah!!" Teriak Satria
Satria dibaringkan di kamar Ferry. Semua orang rumah memandang heran adegan itu.
Ibu, Ayah juga si kembar mengekor tanpa diminta ke kamar Ferry.
Kenapa ke kamar gue sih!!!! Lah dari pada ke kamar mbak Linda, kamar gue lebih aman.
Ferry bergumam kesal sambil cemberut.
"Ini ada apa sih Fer? Kamu nabrak orang? Ini anak kenapa?" Ayahnya memberondong pertanyaan kepada Ferry, minta penjelasan kepadanya.
"Gini ayah, pak Satria jatuh di kantor tapi nggak mau dibawa ke rumah sakit. Pas Linda inget, ya Linda bawa ke rumah aja. Kan ayah bisa mijit." Linda tersenyum kepada ayahnya .
"Bu, ambil tikar." Sang ibu pun menurut mengambil tikar lalu menggelarnya di lantai kamar Ferry.
"Bawa turun temanmu kesini." Perintah ayahnya kepada Ferry.
Setelah Satria terbaring dibawah Ayah Linda mendekat dan memiringkan tubuh Satria dan
Blethak
AAAAAA
Blethak
AAAAA
Kreekkk
WADAAAAWWW
Blethak
ADOOOHHHH AMPUUNNN
"Dah bangun kamu nak..." Perintah Ayah Linda kepada Satria
"Sakit pak!" Satria membantah perintah konyol ayah Linda
"Sudah coba saja, jangan banyak omong!!" Ayah Linda meninggikan suaranya.
Satria sedikit enggan namun tetap menuruti perintah ayah Linda.
Perlahan ia bangkit, sudah tidak ngilu lagi. Pelan pelan bangkit dan
Taraaaaa
"Wiiihhhh canggih, beneran bisa berdiri!!!! Bahkan bisa loncat, nggak sakit lagi loh. Sumpah! Wuuuuu Keren !!!!" Satria bersorak bahagia. Lompat-lompat kegirangan.
"Eheemmm"
"Ooohhhh makasih Pak! Untung saya dibawa kesini. Kalau ke rumah sakit bisa mati sesak napas saya!!" Ucap Satria enteng.
"Kalian sudah makan?" Ibunya Linda masuk ke kamar Ferry setelah menyiapkan makan malam di meja.
"Belum bu!" Jawab Linda antusias. Karena memang masakan ibunya sangat enak, jadi dia sangat senang. Setelah dibuat panik oleh bosnya sore ini.
Semuanya pun menuju meja makan termasuk Pak Min. Suasana hening, mereka menikmati makan malam. Keluarga itu memang tidak suka berbicara saat makan. Selesai makan semuanya berkumpul di ruang tamu. Kecuali Linda dan ibunya pasti. Dan si kembar. Keduanya sangat penasaran kisah sebenarnya, karena sebelumnya mereka pernah bertemu bos kakaknya waktu di mall.
"Anda siapanya Linda?" Tanya Ayah Linda dengan sangat serius.
"Perkenalkan pak, saya Satria atasannya Melinda." Satria menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan ayah Linda.
"Tunggu Satria? Presdir perusahaan S yang terkenal itu?" Ayahnya Linda menatap tak percaya ke arah Satria. Yang hanya dibalas dengan senyuman tipis juga anggukan kepala.
"Jadi..."
"Jadi, Melinda adalah salah satu karyawan di perusahaan saya. Melinda juga sangat rajin..."
Obrolan berlangsung lama, dan entah apa yang mereka obrolkan.
Sesekali terdengar tawa dari ruang tamu.Bahkan keduanya sangat akrab. Ferry sudah pamit ke kamarnya untuk mandi dan istirahat. Sedangkan Linda, sudah berganti pakaian rumahan. Dengan kaos biru navy, dan celana selutut. Rambut dicepol keatas, Linda bergabung di ruang tamu.
"Mmmm bapak nggak pulang?" Linda berusaha tidak menyinggung atasannya.
"Apakah kamu mengusir ku??"
"Iya, besok kan kita harus masuk kantor. Jadi kalau sampai kemalaman takutnya bapak besok kesiangan..."
"Ya terserah aku. Bahkan besok aku nggak ke kantor pun tidak ada yang berani memarahiku..."
"Iya bapak nggak mungkin ada yang memarahi. Lah saya?? Hanya karyawan kecil. Pasti dimaki habis-habisan sama Bu Meri." Linda terlihat sangat marah dengan omongan Satria yang seenaknya.
"Ya sudah. Pak, boleh saya menginap disini?"
"Pak! Anda jangan sembarangan. Rumah anda jauh lebih nyaman dari pada gubuk kami."
Perdebatan masih berlangsung lama. Hingga Ayahnya Linda mengambil keputusan agar Satria pulang saja. Karena akan menimbulkan omongan tidak baik nantinya.