Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Sheila
Sore hari saat hendak menuju dapur untuk mengambil buah potong, ponselnya berdering. Itu nomor pakde.
Awalnya Melisa mengabaikannya. Namun, panggilan itu terus diulang seolah tidak mau menyerah. Melisa mengangkat telepon itu dengan malas.
“Halo. Ada apa Pakde?” Ia berusaha sedikit sopan. Bagaimanapun, Pakde adalah orang yang lebih tua darinya.
“Bagaimana semalam, Mel? Apa kamu suka?”
Melisa menegang. “Itu orang suruhan Pakde?”
“Iyalah, habisnya kamu tidak cepat menjenguk budemu. Kami butuh tanda tangan dan cap jarimu, Mel. Rencananya, kalau tidak berhasil membawamu ke rumah, orang-orangku akan membawa jarimu saja.”
Suara tawa pakde di seberang telepon terdengar menyeramkan. Melisa tidak menduga pakde akan sampai hati melakukan hal seperti itu padanya.
“Bagaimana, Mel? Kapan kamu akan mengunjungi kami? Atau kami paksa saja ya, setelah pengalaman yang gagal tadi malam sepertinya aku punya cara lain yang pasti berhasil.”
“Silakan saja cari cara lain. Aku tidak takut. Kalian akan aku kirim ke penjara, tunggu saja!” gertak Melisa.
Bukannya takut, Pakde malah tertawa-tawa di sana. Telepon terputus.
Ia pikir yang semalam ulah Sheila juga, ternyata ia salah.
Ponselnya berdenting lagi. Notifikasi untuk satu pesan masuk dari pakde.
Melisa membukanya. Begitu gambar itu terunduh, ia terkejut dan menutupi mulutnya. “Bagaimana mereka tahu lokasi Dayu?”
Sepertinya kali ini pakde dan orang-orangnya akan mengancam Melisa menggunakan Dayu.
Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus memberitahukan hal ini pada Dharma.
Melisa batal menuju dapur dan segera ke kamar untuk menemui Dharma.
Kebetulan Dharma baru saja menutup pintu. Ia hendak pergi ke suatu tempat. Melihat Melisa yang berjalan tergesa ke arahnya, ia berhenti sebentar.
“Hei, ada apa, Melisa?” Ia memperhatikan wajah Melisa yang seperti dikejar hantu. “Kenapa kamu pucat sekali?”
“Aku.. aku… Di mana Dayu sekarang?”
“Tadi dia izin padaku mau pergi untuk kunjungan wawancara dengan teman kelasnya.”
“Kirim orang-orangmu untuk mengawalnya, Pak Dharma. Ia target selanjutnya.”
Dharma bingung, tapi ia segera menghubungi seseorang dan meminta mereka melakukan pengawalan seperti yang diminta Melisa. Meskipun belum tahu apa maksud ini semua, Dharma percaya Melisa tidak mungkin mengarang cerita setelah kejadian yang menimpanya semalam.
“Ada apa, Melisa? Siapa yang menargetkan Dayu?”
“Pakde. Tadi malam yang membawaku pergi dari restoran itu juga orang-orangnya pakde.”
Dharma yang belum tahu sama sekali tentang masalah Melisa dengan pakdenya tentu saja keheranan. “Pakde? Untuk apa?”
“Ceritanya Panjang, nanti aku ceritakan. Sekarang pastikan dulu Dayu aman.”
“Sudah. Aku mengirim dua orang di Lokasi Dayu.”
Melisa mengangguk. Lalu ia membuka ponselnya untuk menunjukkan foto Dayu yang dikirim pakdenya tadi.
“Semalam ulah pakde, dia menculikku karena membutuhkan cap jariku untuk persetujuan penjualan tanah warisan ibu. Tadi dia menelepon dan mengancam akan membawaku paksa. Lalu dia mengirim foto Dayu.”
Rahang Dharma mengeras. Tidak boleh ada yang menyentuh Dayu, anak itu satu-satunya kenangan dari mantan istrinya yang membuatnya tetap semangat melanjutkan hidup.
“Pakdemu berurusan dengan orang yang salah,” ucap Dharma. “Aku yang akan memberi mereka pelajaran lebih dulu.”
“Apa luka bakar di pahamu itu juga ulahnya?”
“Bukan, itu Sheila. Dia mencintaimu, Pak Dharma. Makanya dia menyiksaku agar aku menyerah dan pergi dari sisimu.”
Dharma mundur dan duduk agak menjauh. “Jangan mendongeng, Melisa. Bukan karena aku bersimpati atas apa yang menimpamu lalu kamu bisa menuduh keluargaku melakukan yang tidak-tidak.”
“Aku orang baru di sini, Pak Dharma. Tidak ada alasan untukku menuduh siapapun yang belum sepenuhnya aku kenal.”
Melisa kecewa, tapi bisa mengerti. Sheila dan Dharma adalah teman sejak kecil, mereka sepupu dekat. Tidak mungkin Dharma percaya begitu saja pada ucapan Melisa yang menceritakan keburukan Sheila padanya.
…
Sementara Sheila di kediamannya terus uring-uringan sejak melihat Dharma menggendong Melisa pergi dari pesta malam itu.
“Aku yang susah payah memberi Dharma obat itu dan menyiapkan kamar untuk masa depan kami, malah Melisa yang ia gendong pergi. Mereka pasti melanjutkan adegan gendong-gendongan itu,” pikir Melisa. Makanya ia kesal setengah mati.
Ia menghubungi Rosa untuk menanyakan bagaimana keadaan di rumah Dharma. Ia perlu ke sana lagi untuk memberi peringatan yang lebih keras pada perempuan itu.
“Apa? Diculik orang?” Sheila terkejut mendengar kabar penculikan Melisa.
Bukan terkejut karena peduli, ia hanya baru tahu kalau ternyata ia punya sekutu yang bisa diajak kerja sama.
“Apa kamu tahu siapa orangnya?” selidik Sheila.
“Kurang tahu, Non. Tapi beberapa hari yang lalu ada seseorang yang datang meminta uang pada Nona Melisa, dia mengaku pakde yang dari desa.”
“Oh, pakde itu ya. Aku yang memberi tahu tempat tinggal Melisa padanya. Tapi aku tidak menyangka dia bisa bertindak sendiri sejauh itu. Sepertinya dia bisa kita jadikan tim ya.”
“Dilanjut nanti ya, Non. Ada Pak Dharma.” Rosa menutup teleponnya. Sebenarnya tidak ada siapa-siapa di sana, hanya saja Rosa sudah lelah terlibat dan terus berpura-pura, sejak lama ia diancam oleh Sheila dan harus menuruti semua rencana jahatnya.
Sheila yang tidak tahu isi hati Rosa justru malah tersenyum saat ia menemukan satu ide baru lagi untuk mengganggu Melisa.
...
Sheila sejak tadi bergelayutan di lengan daddy-nya, ia menghalangi Gunawan yang akan berangkat kunjungan ke luar kota. “Tolong dong, Dad. Sekali ini aja, kalau tidak berhasil lagi aku janji akan menyerah,” rengek Sheila.
“Sudah cukup, mau dibuat sampai bagaimana lagi? Daddy susah payah menutupi aksi bakar-bakar kemarin dari Inggit. Sekarang dia sudah mulai curiga kalau kita dalang di balik kebakaran resto Dharma itu.”
“Yah, Daddy. Kalau gitu aku pake cara aku sendiri aja deh.”
“Jangan gegabah, Sheila. Kalau sampai Dharma dan Inggit bekerja sama, bahkan yang kamu lakukan pada mantan istrinya dulu juga bisa ikut terbongkar.” Gunawan memperingatkan putri kesayangannya.
“Abisnya Dharma bohong, katanya aku perempuan terbaik dalam hidupnya.”
“Itu dulu, Sheila. Kalian masih muda sekali waktu itu. Wajar dia berubah saat menjadi dewasa dan mengenal lebih banyak orang. Jangan lupa, Daddy sudah memberi fasilitas pendidikan yang bagus untukmu agar bisa bersaing dengan perempuan-perempuan lain yang dekat dengan Dharma. Kalau dia tidak juga tertarik padamu lagi itu berarti dia hanya menganggap kamu sebagai sepupu.”
“Aku tidak mau, Daddy. Aku bukan ingin hubungan yang seperti itu. Pokonya Dharma harus jadi milikku.”
“Dekat sebagai sepupu itu sudah cukup bagus, Sheila. Dari pada Dharma jadi membencimu karena semua ulahmu terbongkar. Pikirkan itu!”
“Ah, Daddy ga seru. Ga sayang aku lagi.” Sheila lelah membujuk Gunawan untuk setuju membantunya menjalankan rencana baru. Ia kesal dan pergi begitu saja.
Ia bertekad untuk menjalankan rencana itu sendiri. Toh, kalau tidak berhasil orang tuanya pasti akan selalu melindunginya, seperti sebelum-sebelumnya.