Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Taruhan Dua Penguasa
Udara di dalam ruang kerja Adrian mendadak terasa begitu tipis dan menghimpit. Adrian menutup pintu di belakangnya perlahan, melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun menebarkan ancaman yang amat nyata. Tatapan matanya yang cokelat gelap terkunci pada map merah yang masih digenggam Aria.
"Aku bertanya padamu, Aria," bisik Adrian, berhenti tepat di depan meja kerjanya. "Apa yang sedang kau lakukan dengan dokumen itu?"
Aria berusaha menguasai rasa paniknya. Ia menarik napas panjang, menatap Adrian dengan tatanan mata yang dipenuhi kekecewaan. "Jadi apa yang dikatakan Dante semalam benar? Kerajaan bisnismu... dibangun di atas darah dan kehancuran keluarganya?"
Ekspresi Adrian berubah keras. Rahangnya mengeras rapat. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia merebut dokumen tersebut dari tangan Aria dan meletakkannya kembali ke dalam lemari besi, lalu menguncinya.
"Masa lalu keluarga Mahardika bukan urusanmu, Aria," ujar Adrian dingin. "Yang perlu kau tahu adalah aku melakukan segalanya untuk menjaga stabilitas perusahaan ini—termasuk melindungimu dari dendam Dante."
"Dengan cara membohongiku?" cetus Aria tajam. "Kau berpura-pura menjadi penyelamat, sementara kau sendiri berdiri di atas bangkai keluarga pria itu!"
Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia melangkah mendekati Aria hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Ditatapnya wajah Aria dengan intensitas yang membakar. "Aku tidak pernah membohongimu tentang perasaanku, Aria. Apapun yang terjadi di masa lalu antara ayahku dan ayah Dante, itu adalah perang bisnis. Tapi kau... kau tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku tidak akan membiarkan Dante menarikmu ke dalam neraka yang ia ciptakan!"
Sebelum Aria sempat membalas, ponsel Adrian bergetar nyaring di atas meja. Adrian mengangkat panggilan itu, mendengarkan laporan dari asistennya selama beberapa detik, lalu raut wajahnya berubah semakin gelap.
"Dante Vance menantang kita secara terbuka," ujar Adrian pelan setelah mematikan ponsel. "Malam ini ada pelelangan rahasia tanah strategis di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Lahan yang sangat krusial untuk fase dua Mahardika Grand Tower. Dan Dante memastikan dirinya hadir."
Adrian menatap Aria, matanya memancarkan ketegasan yang tak bisa dibantah. "Kau akan ikut denganku malam ini. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku selagi Dante berkeliaran."
Pukul sembilan malam, Grand Ballroom Hotel Mulia disulap menjadi ruang pelelangan tertutup bagi para petinggi bisnis dan elite kota. Lampu gantung krisotil memancarkan cahaya keemasan yang mewah di atas meja-meja bundar berlakas mahal.
Aria berdiri di samping Adrian, mengenakan gaun malam berpotongan mermaid berwarna hitam elegan. Tangan Adrian melingkar erat di pinggang Aria—sebuah gestur yang tegas untuk menunjukkan kepemilikan kepada siapa pun yang memandang.
Saat prosesi pelelangan lahan pelabuhan dimulai, suasana ruangan mendadak menjadi hening.
"Penawaran awal untuk Lahan Sektor A3 dibuka pada harga lima ratus miliar rupiah," seru pembawa acara pelelangan.
"Enam ratus miliar," sahut Adrian santai sambil mengangkat papannya.
"Tujuh ratus miliar!" suara bariton yang terngiang cerdas memotong dari sudut ruangan VIP.
Seluruh hadirin menoleh. Dante Vance duduk di kursi kulit mewah dengan kaki bersilang, memegang gelas brandy di tangannya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, memancarkan aura dominasi kegelapan yang pekat. Mata abu-abu Dante langsung mengunci pandangan Aria, menatap jari manis wanita itu yang kini telanjang tanpa cincin ular naganya.
"Satu triliun," balas Adrian tanpa ragu, menaikkan taruhan secara drastis.
Dante terkekeh rendah, suara tawa yang bergema dingin. Ia berdiri dari kursinya dan melangkah perlahan menuju panggung utama, mengabaikan protokol pelelangan.
"Satu triliun rupiah angka yang kecil untuk tanah strategis itu, Adrian," ujar Dante dengan nada meremehkan. Pria itu berhenti tepat beberapa langkah di depan meja Adrian dan Aria. Tatapannya liar dan sarat akan tantangan.
"Jika kau ingin bertaruh, mari kita bertaruh dengan sesuatu yang lebih bernilai," lanjut Dante seraya menancapkan tatapannya ke dalam mata Aria.
"Apa maksudmu, Dante?" desis Adrian dengan rahang mengeras.
Dante tersenyum miring—sebuah senyuman tajam yang membuat bulu kuduk para undangan berdiri. Ia melemparkan sebuah dokumen kepemilikan saham senilai tiga triliun rupiah ke atas meja pelelangan.
"Aku pertaruhkan seluruh saham utama konsorsium pelabuhan milik Black Viper untuk tanah itu," ujar Dante, suara beratnya memenuhi ruangan. "Tapi sebagai gantinya, jika penawaranku menang... aku ingin satu hal dari CEO Mahardika Group."
"Sebutkan," tantang Adrian dingin.
Dante menunjuk tepat ke arah Aria dengan jari berhias cincin peraknya.
"Berikan aku satu malam bersama arsitek cantikmu ini. Tanpa pengawalmu, tanpa campur tanganmu. Biarkan dia memilih sendiri dengan siapa dia ingin menghabiskan malamnya."
Pernyataan Dante sontak memicu kasak-kusuk penuh kejutan dari para pengusaha di ruangan itu. Adrian langsung mengepalkan tinjunya, matanya berkilat membunuh saat melangkah maju mendekati Dante.
"Kau sudah gila, Dante! Dia bukan barang taruhan!" bentak Adrian murka.
Dante hanya terkekeh sinis, menatap Aria dengan tatapan penuh gairah yang membakar dari balik mata abu-abunya. "Kenapa, Adrian? Kau takut dia akhirnya menyadari... bahwa kau tak lebih dari seorang penjahat berjas mewah yang mengurungnya dalam sangkar emas?"
Di antara tatapan membunuh Adrian dan tantangan obsesif Dante, Aria berdiri kaku di tengah panggung pelelangan. Dua penguasa kota kini secara terbuka mempertaruhkan masa depan bisnis dan hatinya dalam permainan yang teramat berbahaya.