NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Orang yang Tahu Terlalu Banyak

Pukul sepuluh lewat tujuh menit, Kanaya Putri masih memikirkan komentar misterius di akun Garudatama Confessions.

"Kalau kalian tahu siapa Rendra sebenarnya, kalian bakal lebih kaget lagi."

Kalimatnya pendek. Sayangnya, efeknya lebih mengganggu daripada ceramah guru selama dua jam pelajaran.

Naya melirik Rendra yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sedang mencatat materi dengan wajah serius, seolah-olah dunia tidak sedang sibuk menggosipkan kehidupan pribadinya.

“Ren.”

“Hm?”

“Menurut lo, kalau ada orang bilang dia tahu rahasia seseorang, tapi nggak menjelaskan rahasianya apa, itu maksudnya apa?”

Pulpen Rendra berhenti.

“Siapa yang ngomong begitu?”

“Gue nanya pendapat.”

“Dan gue nanya siapa orangnya.”

Naya menyipitkan mata. “Kita baru ngobrol lima detik dan lo udah interogasi balik.”

“Pertanyaan lo mencurigakan.”

“Jawaban lo juga.”

Rendra menghela napas, kemudian kembali menatap buku.

“Mungkin dia cuma cari perhatian. Kalau memang tahu sesuatu, seharusnya dia bisa menjelaskan.”

Naya mengangguk kecil. Jawaban itu masuk akal. Ia hanya belum yakin apakah komentar tersebut memang sekadar pancingan.

Sebelum sempat bertanya lagi, Aldi muncul di antara meja mereka sambil membawa sebungkus keripik.

“Gue punya teori baru tentang akun gosip itu.”

“Turut berduka,” jawab Rendra.

“Dengerin dulu, anjir! Menurut gue, adminnya pasti anak kelas sebelah.”

“Buktinya?” tanya Naya.

Aldi mengangkat telunjuk dengan penuh percaya diri.

“Insting.”

Rendra menatapnya datar. “Insting lo pernah bilang guru matematika bakal membatalkan ulangan. Hasilnya, lo dapat nilai empat puluh.”

“Itu masa lalu!”

“Baru minggu kemarin.”

Naya tertawa kecil. Aldi langsung menunjuk mereka bergantian, merasa dikhianati oleh dua orang yang seharusnya mendukung teori konspirasinya.

“Suatu hari nanti kalian bakal menyesal meremehkan gue.”

“Kalau hari itu datang, kabarin,” kata Rendra. “Gue mau lihat fenomena langka.”

Aldi pergi sambil menggerutu.

Naya kembali memeriksa ponselnya. Komentar misterius itu masih ada, tetapi ia memutuskan untuk tidak membalasnya. Ia menyimpan tangkapan layar, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas.

Kalau orang tersebut memang menginginkan perhatian, Naya tidak berniat memberikannya secara cuma-cuma.

Saat istirahat, Naya menunjukkan tangkapan layar itu kepada Keysha di dekat perpustakaan.

Keysha membacanya dua kali.

“Bisa jadi orang yang kenal Rendra dari sekolah.”

“Bisa.”

“Atau orang dari komunitas game kalian.”

“Itu juga bisa.”

Keysha mengembalikan ponsel tersebut. “Kesimpulannya, kita belum tahu apa-apa.”

“Terima kasih atas analisis tingkat tinggi lo.”

“Sama-sama. Biaya konsultasinya satu es teh.”

Naya mendengus geli.

Namun, Keysha kembali serius sebelum mereka meninggalkan koridor.

“Kalau ada yang mulai menyebarkan informasi pribadi, jangan ditangani sendirian, ya. Simpan bukti dan laporkan kalau perlu.”

“Iya, Bu Ketua RT.”

“Gue serius, Nay.”

Naya mengangguk. “Gue tahu.”

Ia memang tidak ingin membesar-besarkan sesuatu yang belum jelas. Namun, ia juga tidak akan mengabaikan masalah kalau orang itu benar-benar melewati batas.

Apalagi, Rendra sendiri masih belajar bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, koneksi, atau rencana rumit yang kemungkinan besar berakhir membuat Aldi ikut terseret.

Sepulang sekolah, Naya duduk di bangku dekat taman untuk menyelesaikan beberapa urusan komunitas Discord yang dikelolanya.

Ada laporan anggota yang bertengkar, pesan moderator yang perlu dibalas, dan notifikasi yang terus bermunculan tanpa mengenal belas kasihan.

Di tengah kesibukannya, sebuah pesan pribadi masuk dari akun yang cukup dikenalnya.

Unknown: Nay, lo kenal Rendra Adijaya secara pribadi?

Naya mengerutkan dahi.

Naya: Kenal. Kenapa?

Pengirimnya sempat mengetik, lalu berhenti. Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul.

Unknown: Pastikan aja lo beneran kenal dia.

Naya langsung menegakkan punggung.

Naya: Maksud lo apa?

Pesannya dibaca, tetapi tidak dibalas.

“Hebat,” gumam Naya. “Berani mancing, nggak berani menjelaskan.”

Ia menyimpan tangkapan layar percakapan itu dan memeriksa profil pengirim. Tidak ada informasi yang cukup untuk memastikan siapa orang di balik akun tersebut.

Sekarang ada dua kejadian: komentar misterius di akun gosip sekolah dan pesan aneh di Discord.

Keduanya belum tentu berhubungan. Naya tidak ingin asal menyimpulkan, tetapi kemiripan pesannya membuat ia semakin penasaran.

Ponselnya kembali bergetar.

Rendra: Lo masih di sekolah?

Naya: Iya. Beresin urusan Discord.

Rendra: Kalau udah selesai, kabarin. Gue masih di parkiran.

Naya: Ngapain?

Rendra: Nunggu.

Naya: Gue punya kaki, Ren. Bisa pulang sendiri.

Rendra: Gue tahu. Gue cuma nawarin.

Naya menatap balasan itu sebentar, kemudian mengetik.

Naya: Oke. Tapi jangan berdiri di depan gerbang kayak satpam.

Rendra: Gue duduk.

Naya: Di mana?

Rendra: Tadi di motor Aldi.

Balasan Naya datang nyaris seketika.

Naya: MOTOR ORANG JANGAN DIJADIIN KURSI, WOI.

Dari arah parkiran terdengar suara Aldi memprotes seseorang. Naya tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa penyebabnya.

Ia menutup laptop sambil tertawa sendiri.

Setidaknya, satu hal masih konsisten di sekolah itu. Rendra bisa menjadi siswa terbaik seangkatan, tetapi tetap membutuhkan pengawasan saat berada di dekat Aldi.

Mereka akhirnya mampir ke kedai makan dekat sekolah.

Naya memesan mi ayam, sementara Rendra memilih nasi goreng. Ketika menunggu pesanan, ponsel Naya berdering.

“Mama?”

Suara ibunya terdengar dari seberang.

“Kamu sudah pulang sekolah?”

“Belum, Ma. Lagi makan sebentar.”

“Jangan lupa cek pesan Mama, ya. Rincian pembayaran bulan ini sudah Mama kirim.”

Naya melirik tasnya.

“Iya. Nanti Naya cek.”

“Kalau ada yang kurang, bilang. Jangan sampai terlambat.”

“Iya, Ma.”

Ada jeda sebelum ibunya bertanya lagi.

“Kamu sehat, kan?”

Naya tersenyum kecil. “Sehat. Tenang aja.”

“Baiklah. Mama lanjut kerja dulu. Jaga diri.”

“Iya, Ma. Hati-hati.”

Setelah panggilan berakhir, Naya membuka pesan ibunya. Ia membaca rincian yang dikirimkan, lalu menghitung sesuatu sebentar di layar ponsel.

Ekspresinya berubah serius.

Namun, ketika pelayan datang membawa makanan, ia segera menyimpan ponselnya.

Rendra tidak bertanya macam-macam. Ia hanya menggeser gelas air ke dekat Naya.

“Minum dulu.”

“Makasih.”

Mereka makan sambil membicarakan tugas sekolah dan rencana presentasi minggu depan. Naya sempat menertawakan ide Rendra yang terlalu serius untuk sebuah tugas kelompok, sementara Rendra menganggap standar kerja Naya terlalu santai.

Percakapan itu terasa biasa. Nyaman, bahkan.

Sampai ponsel Naya bergetar lagi.

Mama: Kalau akhir pekan kamu sempat, kabari Mama. Papa juga mungkin ingin bicara sebentar.

Naya membaca pesan itu cukup lama.

Kemudian ia membalas singkat dan meletakkan ponselnya kembali.

Rendra melihat perubahan ekspresinya, tetapi tidak mendesaknya untuk bercerita.

Untuk saat ini, Naya bersyukur atas hal sederhana itu.

Malamnya, seseorang membuka kembali unggahan Garudatama Confessions.

Komentar misterius di bawah foto Rendra masih ada. Orang itu lalu membuka galeri ponselnya dan menemukan sebuah foto lama.

Foto seorang Rendra yang jauh lebih muda, berdiri di samping seorang pria. Wajah pria itu tidak terlihat jelas, tetapi papan nama sebuah acara tampak di latar belakang.

Orang itu memperbesar foto tersebut.

Lalu membuka percakapan dengan admin akun gosip.

Admin GC: Emang lo tahu sesuatu tentang Rendra?

Jarinya berhenti di atas papan ketik.

Ia belum siap menjelaskan semuanya. Bahkan, ia sendiri belum yakin apakah foto lama itu cukup untuk membuktikan apa yang selama ini dipikirkannya.

Akhirnya, ia mengirim balasan singkat.

Unknown: Jangan unggah apa-apa lagi dulu. Gue mau memastikan satu hal.

Ponselnya diletakkan di atas meja.

Di layar, foto lama itu masih terbuka.

Sementara itu, jauh dari sana, Rendra sedang duduk di kamarnya, mengerjakan tugas sekolah tanpa mengetahui bahwa seseorang baru saja membuka kembali bagian dari masa lalunya.

Dan kali ini, masalahnya mungkin tidak akan selesai hanya dengan mengabaikan kolom komentar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!