Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Siapa Pria itu?
"Oh iya, bagaimana bisnis mu yang di New Zealand?, apa semua berjalan dengan baik?." Tanya Alvero lagi.
"Hem, berjalan baik. Tapi aku sudah memberikan hak penuh kepada orang lain perusahaan itu, jadi bukan urusan ku lagi."
"Ha?, Kenapa?."
Glen menghela napas seperti belum bisa merelakan perusahaanya diberikan kepada orang lain.
"Gak apa-apa. Sekarang aku ingin fokus ngembangin Butik orang tua ku saja."
"Padahal mimpi kamu dulu membangun usaha Pixel Paradise itu sangat antusias Glen, kenapa malah kamu serahkan keorang lain begitu saja?."
"Adalah pokoknya."
"Hem, sepertinya kamu banyak sekali menyimpan rahasia dariku dan tidak mau memberitahuku. Padahal setiap rahasiaku selalu kuberitahu padamu." Ucap Alvero menjadi kesal kepada sahabatnya itu, dirinya serasa tidak dipercayai Glen lagi untuk berbagi cerita.
Glen memegang bahu Alvero terkekeh.
"Bukan begitu, hanya saja aku tidak mau membebani dirimu bro, atas apa yang aku alami selama ini."
Alvero memutar bola matanya, masih saja kesal. "Baik lah, terserah kamu saja."
"Oh iya, sepertinya aku harus memastikan kalau Amira benar-benar masih hidup sendiri dat tidak ada hubungan dengan pria itu."
"Pilihan yang tepat, lakukan lah selagi masih ada kesempatan. Kamu masih bisa memperjuangkan dia selagi Amira belum menikah dengannya, kalau masih sebatas pacar saja itu bukan masalah yang besar." Saran Alvero.
"Iya, kamu benar. Kalau begitu ayo kita pergi." Ucap Glen bergegas dari tempat tidurnya.
"Hei, kamu mau kemana?."
"Ya, kamu bilang harus segera mengejar Amira kan?, jadi menunggu apa lagi."
Alvero memukul jidatnya sendiri. "Ya ampun Glen, mengejarnya nanti ajah, sekarang kesehatan mu yang paling penting. Tunggu luka kepalamu itu sembuh dulu."
"Gak bisa Al, aku harus memperjuangkan dia. Ayo kita pergi!" Ucap Glen melepaskan selang inpus ditangannya.
Alvero hanya bisa menggeleng kepala saja, dan sangat salut melihat perjuangan Glen untuk bisa mendapatkan Amira kembali.
Didepan rumah Amira, Glen dan Alvaro terdiam didalam mobil memandang pekarangan rumah Amira yang remang-remang dengan cahaya lampu Night Light disegala penjuru.
"Apa yang kamu harapkan datang kesini?." Tanya Alvaro kesal.
Glen menatap Alvaro dan melihatnya kikuk. "A-em, seharusnya sekarang bukan waktu yang tepat menghampiri Amira."
"Enggak, ini waktu yang tepat, ayok gedor-gedor pintunya." Kesalnya. "Lagian harus banget semalam ini kamu mengajakku menemui Amira. Aku tahu kamu sangat mencintainya, tapi kan masih ada hari besok Glen." Cibirnya.
Glen terkekeh merasa bodoh. "Haha, kamu benar. Ayo kita pulang sekarang." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya. Sementara Alvero memutar bola matanya melihat antusias sahabatnya itu untuk bertemu dengan Amira.
**
Dipemakaman itu terlihat Amira sedang menaburkan bunga diatas dua kuburan kedua orang tuanya. Ya, dia sudah kehilangan kedua orang tuanya tiga tahun lalu akibat perampokan yang terjadi dirumahnya saat itu.
Ketika Amira pulang bekerja, dia melihat rumahnya sangat berantakan seperti telah terjadi peperangan dirumah. Tentu saja dia sangat terkejut dengan situasi itu. Dia berjalan dari pintu menuju kedalam rumah mengamati semua sisi yang berantakan pelan-pelang. Dan memanggil kedua orang tuanya.
"Ayah...Ibu... Apa yang terjadi?." Tannya kebingungan dan khawatir. Namun tidak ada jawaban dari kedua orang tuanya.
"Ibu..., Ibu dimana?, Ayah..." Panggilnya lagi, dan seketika dia merasa ada yang tidak beres karena kedua orang tuanya tidak mendengarnya. Amira langsung berjalan cepat menuju kamar kedua orang tuanya untuk mencari mereka. Namun hasilnya nihil, mereka tidak ada disana.
"Ibu, Ayah...." Dia semakin panik dan mengambil Hape nya untuk menghubungi Ayahnya.
Hp berdering
Amira mendengar suara dering Hape dari arah dapur. Dan dia segera berlari menuju dapur. Sesampai didapur, alangkah terkejutnya dia melihat apa yang ada dihadapannya.
Dia terpaku beberapa saat dengan mata yang membelalak. Berlahan seluruh tubuhnya bergetar, dan darah yang berserak dilantai itu berlahan mengalir kearah kakinya.
Amira berusaha mencerna apa yang telah dia lihat, sebila pisau tertancap di bagian perut kiri ayahnya. Amira semakin bergetar dan menghampiri ayahnya dan ibunya yang tergeletak didapur itu.
"Ayah, Ibu." Ucapnya lirih dengan getaran suaranya.
Seketika tangisnya pecah memangil kedua orang tuanya itu dan segera berteriak meminta tolong.
"Amira."
Amira tersadar dari lamunannya setelah Kevin memanggilnya. "Iya."
"Apa semuanya baik-baik saja?." Tanya nya melihat Amira yang melamun dari tadi.
"Em, iya, semuanya baik. Ayo kita pulang sudah selesai."
"Baik lah."
Lalu mereka keluar dari pemakaman itu dan menuju kafe Amira, karena Amira punya banyak urusan hari ini. Kevin ikut dengannya karena Kevin adalah partner bisnisnya, Kevin yang sudah banyak membantunya selama ini. Bahkan bisa dibilang Usaha Amira berkembang pesat karena bantuan Kevin selama ini.
Sesampai di cafe, Amira turun dari mobil dan Kevin hendak memarkirkan mobilnya ditempat yang nyaman. Dan ketika melangkah Amira melihat Glen yang sudah berada didepannya.
"Sial, ngapain lagi dia kesini?." Ucapnya pelan dan memalingkan wajahnya dari Glen.
Glen segera berlari ke arahnya. "Amira."
Tanpa melihat Glen, Amira langsung melangkah meninggalkan Glen.
"Tunggu, Mir." Ucapnya segera menghalangi Amira dari depan.
"Apa lagi yang kamu butuhkan?, apa ada urusan pekerjaan?." Tanya mira kesal.
"Iya, ada. Aku kesini untuk mengurus masalah kerja sama kita kemaren." Jelas Glen.
Amira terdiam, matanya seperti menyelidiki apakah perkataan Glen itu benar atau tidak, karena kenapa hanya dia disini dan temannya itu tidak ikut.
"Harusnya kalian memberitahuku sebelum datang kesini, sekarang aku ada urusan lain. Bisa lain kali saja mengurus itu?, kuyakin apa yang hendak kamu katakan tidak sebegitu penting."
"Ini sangat penting!." Ucapnya blak-blakan. Glen berkata-kata tanpa berpikir. Bisa-bisanya dia membuat alasan kerja sama supaya bisa menemui Amira. Rasanya dia setelah ini akan mampus karena dia sendiri pun tidak tahu mau mengatakan apa tentang kerja samanya dengan Alvero.
"Amira, ada apa?." Tanya Kevin bingung melihat keberadaan Glen dihadapan Amira.
Glen menatapnya seperti mempertanyakan siapa dia dalam hidup Amira.
"Oh iya, ayo kita masuk." UCap Amira mengajak Kevin dan dianggukan oleh Kevin sambil menatap Glen.
"Amira, tunggu!." Glen berusaha menghentikan Amira.
"Sudah kukatakan, aku ada urusan. Bisa nanti kita bahas tentang kerja sama itu?." Lirih Amira.
Kevin yang paham Amira terganggu dengan pria itu langsung menggandeng tangan Amira. "Ayo kita masuk." Ucapnya.
Tentu saja Amira kaget dengan Kevin yang tiba-tiba menggandengnya. Dan dia berusaha mengikuti Kevin masuk kedalam cafe.
Glen terdiam melihat hal itu. Pikirannya kembali lagi kacau balau. Ternyata antara Amira dan pria itu ada hubungan makanya pria itu menggandengnya barusan.
Dia semakin kebingungan.
"Apa dia pacarnya?," Tanya nya pada diri sendiri. "Atau bahkan suaminya?." Dia semakin dibuat bingung. "Gak mungkin, sepertinya Amira belum menikah dengannya. Aku harus mencari tahu."
Glen kembali mengikuti mereka dan seketika terhenti.
"tapi bagaimana kalau mereka sudah menikah?." Tannya nya lagi gelisah. "Akh, tidak penting. Yang penting sekarang aku harus mencari tahu, hubungan mereka seperti apa." Ucap Glen tetap berjuang.