Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTAKAN RIAN
"Jawab aku, Sora! Kenapa badanmu baunya wangi kayu cendana kaya gini?"
Cengkeraman Rian di bahu Sora semakin mengetat, membuat rasa nyeri menjalar cepat ke seluruh lengannya. Tatapan mata suaminya yang merah dan sarat akan kecurigaan menusuk langsung ke manik mata Sora yang gemetar.
Dada Sora naik turun tidak beraturan. Udara di dalam kamar mewah itu terasa seperti mendadak tersedot habis. Bayangan Aris yang baru beberapa menit lalu memeluk dan menciumnya di balik pintu samping melintas cepat di benaknya, mengirimkan gelombang kepanikan yang hebat.
Sora berusaha keras menguasai diri, menelan ludah yang terasa setajam sembilu di tenggorokannya.
"Rian, lepas! Kamu ngomong apa sih? Kamu itu masih mabuk!"
Sora menghentakkan bahunya sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Rian. Reaksi refleks itu membuat Rian sedikit terhuyung ke belakang, namun matanya sama sekali tidak melepaskan pandangan dari wajah istrinya.
"Mabuk?" Rian tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Sora berdiri. "Aku memang minum, Ra. Tapi hidungku nggak tumpul! Ini wangi parfum pria. Wangi yang persis sama kaya pas Aris meluk aku di depan pintu siang tadi!"
Sora mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Hati nuraninya berteriak panik, namun ia tahu satu-satunya cara bertahan hidup di depan suaminya malam ini adalah dengan menyerang balik ego Rian.
"Kamu nuduh aku apa, Rian?" tanya Sora dengan suara yang dipaksa bergetar—bukan karena takut, melainkan menirukan nada seorang istri yang terzalimi. "Kamu pulang jam satu malam dalam keadaan mabuk, bau alkohol, bau parfum wanita lain yang tajam dari baju kamu... lalu sekarang kamu malah nuduh aku yang aneh-aneh?"
Rian terpaku sejenak. Sorot matanya menunjukkan sedikit keraguan saat mendengar tuduhan balik dari Sora.
"Tadi siang Aris memang bawa seikat bunga tulip putih buat kita," lanjut Sora cepat, menunjuk ke arah vas kristal di meja ruang tamu luar walau pintunya tertutup. "Waktu dia serahkan bunganya, bajuku nggak sengaja tersentuh sama kemejanya! Bau parfumnya nempel di bunga itu dan nempel di baju tidurku waktu aku merapikan vasnya!"
Sora melangkah maju satu tapak, menatap Rian dengan mata berembun yang memancarkan kekecewaan mendalam.
"Aku seharian di rumah nungguin kamu pulang, masak buat kamu dan sahabatmu, tapi kamu malah ingkar janji dan pulang mabuk kaya gini. Sekarang kamu tega tuduh aku macam-macam cuma gara-gara bau bunga dari sahabat kamu sendiri?"
Suara Sora yang pecah dan linangan air mata yang lolos membasahi pipinya membuat benteng pertahanan Rian goyah. Efek alkohol yang masih tersisa di kepala Rian membuat pikirannya yang tumpul semakin bingung membedakan antara fakta dan ilusi kecurigaannya.
Rian mengusap wajahnya dengan kasar. "Ra... aku... aku cuma..."
"Kalau kamu nggak percaya sama aku, tidur aja di sofa luar!" potong Sora tegar. Ia berbalik membelakangi Rian, berjalan menuju ranjang, lalu menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya hingga batas dada.
Sora memejamkan mata rapat-rapat di bawah selimut. Di dalam kegelapan itu, tangannya yang tersembunyi gemetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari rongga dadanya. Ia berhasil lolos... untuk malam ini.
Rian berdiri mematung di tengah kamar selama beberapa menit. Akhirnya, dengan helaan napas berat dan langkah kaki terhuyung, Rian berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pagi harinya, sinar matahari menyusup masuk melalui celah gorden tebal. Suasana rumah terasa sangat canggung dan tegang.
Rian berangkat kerja lebih awal dari biasanya tanpa menyentuh sarapan. Rasa bersalah karena telah menuduh istrinya secara sembarangan dalam keadaan mabuk terpancar jelas dari sikap Rian yang menghindari kontak mata dengan Sora sebelum pergi.
Setelah mobil Rian menghilang dari pagar depan, Sora duduk di kursi makan dengan cangkir teh hangat di tangannya. Tubuhnya terasa begitu lelah secara emosional.
Kring... Kring...
Telepon rumah di atas meja samping ruang tamu berdering nyaring. Sora menghela napas pelan, berdiri lalu mengangkat gagang telepon tersebut.
"Halo?" panggil Sora lembut.
"Sora..."
Suara bariton yang sangat dikenalinya terdengar di ujung telepon. Suara Aris. Seketika itu juga, detak jantung Sora kembali terpacu kencang.
"Aris... kenapa telepon ke nomor rumah?" bisik Sora panik sambil menoleh ke arah dapur tempat asisten rumah tangga berada.
"Ponselmu tidak aktif sejak semalam," jawab Aris dengan suara rendah dan tenang. "Aku cemas setengah mati, Sora. Semalam Rian mencurigaimu? Dia melakukan sesuatu padamu setelah kamu masuk?"
Sora menggigit bibir bawahnya, mengingat kejadian menegangkan semalam saat Rian mengendus lehernya.
"Dia hampir tahu, Aris," cicit Sora jujur. "Dia cium bau parfummu di bajuku. Tapi aku berhasil cari alasan."
Di ujung telepon, Aris menghela napas panjang. Ada jeda hening selama beberapa detik sebelum Aris kembali berbicara dengan nada yang jauh lebih tegas dan intens.
"Ini makin berbahaya kalau kamu tetap tinggal di sana, Sora. Rian itu instingnya tajam kalau soal miliknya, walaupun dia nggak pernah menghargaimu."
"Aku tahu... tapi aku butuh waktu, Aris," sahut Sora pelan.
"Siang ini jam satu, datanglah ke cafe di Boutique Hotel area Senopati," potong Aris dengan nada memerintah yang sangat lembut. "Ada hal penting yang harus aku tunjukkan padamu tentang Rian. Sesuatu yang bakal membuka matamu sepenuhnya."
Sora mengerutkan dahi. "Hal penting apa?"
"Datang saja, Sora. Aku tunggu kamu di sana," ucap Aris sebelum mematikan sambungan telepon.
Pukul satu siang.
Sora tiba di lokasi yang disebutkan Aris. Cafe berkonsep glasshouse itu tampak elegan dan tidak terlalu ramai. Sora mengenakan gaun terusan berwarna krem dengan kacamata hitam untuk menyembunyikan matanya yang agak sembap.
Aris sudah duduk di salah satu sudut meja yang agak tersembunyi di balik deretan tanaman hias. Pria itu tampak sangat tampan dengan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku dan celana kain gelap.
Saat Sora mendekat, Aris langsung berdiri dan menarikkan kursi untuk Sora dengan sangat sopan. Sentuhan singkat jemari Aris di punggung Sora saat membantunya duduk kembali membangkitkan desir hangat yang membakar di dalam dada wanita itu.
"Kamu kelihatan pucat," bisik Aris penuh perhatian saat ia kembali duduk di hadapan Sora. Matanya menatap lembut setiap sudut wajah Sora.
"Aku cuma kurang tidur," jawab Sora canggung. "Sebenarnya apa yang mau kamu tunjukkan, Aris? Kenapa harus di tempat seperti ini?"
Aris tidak langsung menjawab. Ia meraih sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tas kerjanya, lalu menggeser amplop itu secara perlahan di atas meja ke arah Sora.
Sora menatap amplop itu dengan jantung yang mulai berdebar tak beraturan. "Ini apa?"
"Buka saja," sahut Aris tenang, meski matanya memancarkan ketegangan yang tersembunyi.
Dengan tangan yang sedikit ragu, Sora membuka segel amplop tersebut dan mengeluarkan tumpukan foto berukuran sedang di dalamnya.
Pada lembar foto pertama, mata Sora langsung membelalak lebar. Tangannya mendadak kaku.
Foto itu memperlihatkan Rian—suaminya—sedang merangkul mesra seorang wanita muda berambut pirang di dalam sebuah restoran mewah. Di lembar foto berikutnya, terlihat Rian sedang merengkuh pinggang wanita yang sama saat berjalan masuk ke koridor sebuah hotel berbintang. Tanggal yang tertera di sudut bawah foto itu adalah... dua hari yang lalu. Hari yang sama saat Rian beralasan lembur hingga larut malam.
Air mata dingin langsung menetes membasahi foto di tangan Sora. Rasa hancur, dikhianati, dan terhina meledak hebat di dalam dadanya. Selama ini ia merasa bersalah karena telah disentuh oleh Aris, namun ternyata suaminya sendiri sudah jauh lebih dulu menjual kesetiaannya pada wanita lain.
"Rian... dia..." suara Sora tercekat di tenggorokan, tangisannya pecah tanpa suara.
Aris berdiri dari kursinya, melangkah mengikis jarak, lalu berlutut di samping kursi Sora. Tanpa peduli pada tempat umum, Aris merengkuh kedua tangan Sora yang gemetar hebat, mengusapnya dengan penuh kehangatan dan rasa empati yang mendalam.
"Sekarang kamu tahu kan, Sora? Kamu nggak pernah punya alasan buat bertahan sama pria bajingan itu."
Sora menatap Aris melalui linangan air mata yang kabur. Sentuhan hangat tangan Aris di jemarinya terasa seperti satu-satunya pegangan di tengah badai yang menghancurkan dunianya.
Aris mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Sora dengan sorot mata membara yang sarat akan janji dan gairah yang lama terpendam.
"Ikut aku pulang ke apartemenku sekarang... atau biarkan aku yang menghancurkan Rian untukmu?"