Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - TANCAP GAS
Lantai kanopi seng gudang belakang Apotek Sentral bergetar halus di bawah pijakan kaki lima penyintas yang bersiap melompat. Di bawah sana, bak terbuka truk pick-up rakitan milik Onad terbentang kokoh, dibentengi oleh plat baja tebal setinggi dada yang dirancang khusus untuk menahan gempuran fisik. Dari balik persimpangan lorong sempit, puluhan zombie yang terusik oleh raungan mesin berturbo mulai bermunculan, menggeram serak seraya menyeret kaki kaku mereka mendekati tiang kanopi.
"Ayo melompat, Endru!" dorong Steve seraya menopang siku pemuda itu.
Endru menelan ludah kaku, menatap jarak dua meter antara tepi kanopi dan lantai plat baja di bawahnya. Rasa pusing akibat ketakutan mendadak menyerangnya, namun pelukan eratnya pada dua ransel medis merah berisi pasokan antibiotik vital membakar sisa keberaniannya. Pemuda berkacamata itu memejamkan mata rapat-rapat, lalu melompat turun.
BRUAK!
Endru mendarat agak canggung di atas lantai besi bak truk, terduduk lemas namun berhasil mengamankan dua ransel medis di dadanya tanpa ada botol obat yang pecah.
"Aku aman!" seru Endru lega seraya menengadah mendongak.
"Awas ranselnya!" bisik Nancy seraya menyusul melompat turun dari kanopi seng.
Dengan bantuan juluran tangan Endru dari bawah, Nancy mendarat mulus di samping sang asisten apoteker. Kedua jemari mereka saling beradu rapat saat Endru membantu Nancy menyeimbangkan tumpuan kakinya di atas lantai plat besi yang licin.
"Cepat turun, Rian!" instruksi Steve seraya memandu pemuda itu.
Rian melompat tangkas, menyusul mendarat di pojokan bak truk seraya memeluk erat ranselnya. Steve tidak menunggu lama; pria kekar itu melompati pembatas kanopi dengan kelenturan fisik yang mengagumkan, mendarat tegap di atas bak besi tanpa goyah sedikit pun.
Di atas kanopi, tiga zombie terdepan yang berhasil memanjat tumpukan mobil rosok di lorong mulai merayap mendekati posisi Luna. Mata kelam sang taruna menyipit dingin. Dengan ketenangan taktis yang luar biasa, Luna melepaskan satu tembakan panah terakhir tepat menembus dahi zombie terdepan.
BSSST!
Tanpa membuang waktu untuk mengambil kembali anak panahnya, Luna berbalik, melompat turun dari tepi kanopi seng seraya mendarat anggun di sisi Steve tepat saat puluhan jemari kaku dari atas kanopi menggapai-gapai udara kosong.
"Semuanya sudah naik, kan?!" teriak Onad dari balik kaca kawat ram kabin belakang.
"Sudah lengkap! Tancap gas sekarang!" seru Steve seraya mengacungkan pipa besinya ke udara.
"Siapkan mental kalian, Pelanggan Setia!" jerit Onad seraya menyeringai lebar dari balik kacamata merahnya.
Onad membanting tuas transmisi ke gigi satu, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam hingga menyentuh lantai kabin.
BRRRUMMM! BRRRUMMM!
Raungan mesin diesel berturbo ganda itu melengking dahsyat, menyemburkan asap hitam pekat dari dua pipa knalpot tegak di samping bodi. Ban-ban raksasa bergerigi tebal berukuran tiga puluh lima inci berputar liar di atas aspal lorong, memercikkan serpihan oli, air kotor, dan batu-batu kecil ke udara.
Mobil pick-up rakitan itu melesat maju bagaikan peluru baja yang ditembakkan dari meriam, melemparkan tubuh seluruh penumpang di bak belakang ke arah dinding pembatas besi akibat sentakan momentum yang sangat kuat.
"Pegangan semuanya!" jerit Nancy seraya memeluk erat lengan kanan Endru.
"Obatnya tidak boleh jatuh!" bisik Endru erat seraya merapatkan dua ransel medisnya ke dalam pelukan dada.
Di depan sana, belasan zombie yang mengepung lorong samping apotek berdiri menutupi jalur keluar menuju Jalan Sudirman. Namun, Onad sama sekali tidak berniat mengeram rem atau memutar arah setir. Pria eksentrik itu justru makin menekan pedal gasnya, menyalakan klakson konyolnya yang bergema nyaring di antara dinding gedung.
TET-TERET-TET-TET!
Brakkk! BASHHH!
Bumper peremuk berbentuk bajak besi segitiga di depan truk menghantam kerumunan zombie di lorong tersebut dengan daya hancur murni. Tubuh-tubuh terinfeksi terlempar melayang ke udara, hancur berantakan terkena hempasan paku baja dan plat besi tebal yang meluncur kencang tanpa hambatan.
Darah menghitam bercampur serpihan kerak jamur dan debu spora terpercik hebat membasahi pelindung baja kendaraan, sementara roda-roda raksasa truk melindas setiap rintangan di bawahnya dengan gemeretak suara yang mengerikan.
"Luar biasa mobil ini!" puji Steve seraya tertawa kencang menahan guncangan bak truk.
"Pengemudinya gila, tapi kendaraannya sangat solid!" timpal Luna seraya berdiri tegap merapatkan punggungnya di dinding baja bak.
Mobil pick-up rakitan itu berhasil menembus barikade lorong samping, keluar meluncur deras memasuki hamparan luas Jalan Sudirman. Onad membanting setir ke kiri secara agresif, membuat bodi truk miring meluncur cepat menelusuri aspal jalan raya utama, meninggalkan lautan ratusan zombie di sekitar Apotek Sentral yang meraung kebingungan di belakang mereka.
Rintangan demi rintangan di jalan raya utama—mulai dari bangkai mobil sedan yang melintang, tiang rambu lalu lintas yang tumbang, hingga tumpukan sampah pemukiman—dilibas tanpa ampun oleh moncong bajak besi truk buatan Onad. Hembusan angin fajar yang pekat menyapu wajah kelima penyintas di bak belakang, menerbangkan helai rambut dan sisa-sisa debu spora yang menempel di pakaian mereka.
Setelah melaju kencang sejauh dua kilometer menembus pusat kota yang lumpuh, raungan mesin diesel truk perlahan mulai melandai secara teratur. Onad memindahkan transmisi ke gigi jelajah, membawa kendaraan tempurnya meluncur stabil di atas aspal luar kota yang jauh lebih sepi.
Rian merosot duduk di lantai besi bak truk, menghembuskan napas panjang yang amat lega seraya menyapu keringat di dahinya. "Kita... kita benar-benar lolos dari kepungan apotek itu..."
"Obat antibakteri dan perbekalan medis kita juga aman," tambah Endru seraya menatap dua ransel merah di pangkuannya dengan senyum lega.
Nancy berpaling menatap Endru, memegang pergelangan tangan pemuda itu seraya tersenyum manis dari balik kacamata tebalnya. "Kamu melakukan tugas medis dengan sangat baik tadi, Endru. Tanpa kamu, Steve mungkin masih demam tinggi sekarang."
Endru merona merah mendengarkan pujian tulus Nancy, menunduk malu namun matanya memancarkan rasa bahagia yang amat mendalam. Chemistry dan rasa saling percaya yang tumbuh alami di antara mereka berdua di tengah kiamat ini makin mempererat ikatan emosional kelompok.
Steve menggerakkan bahu kirinya yang terbungkus perban elastis rapi buatan Endru. Rasa panas akibat peradangan jaringan kini telah surut sepenuhnya, digantikan oleh kesegaran fisik yang kembali memuncak berkat kerja cepat antibiotik. Pria kekar itu menyandarkan pipa besinya di lantai bak, lalu menepuk pelan bahu Luna yang berdiri di sisinya.
"Satu operasi penyelamatan medis selesai tanpa ada korban tumbang, Komandan," kata Steve seraya menyunggingkan senyum khasnya.
"Ini baru permulaan, Steve. Tapi kelompok kita jauh lebih kuat sekarang," balas Luna seraya menyunggingkan senyum tipisnya yang langka, menatap lurus ke arah pemandangan kota mati yang perlahan tertinggal di ufuk timur.
Kaca kawat ram di bagian belakang kabin pengemudi perlahan digeser terbuka oleh Onad dari dalam. Pria eksentrik itu memutarkan kepalanya sedikit, mengedipkan matanya dari balik kacamata merahnya ke arah lima penumpang di bak belakang.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami," tutur Nancy lembut ke arah jendela kabin.
"Sama-sama, Mba Cantik! Sudah kewajiban mekanik paling tampan se-kota untuk menolong warga yang membutuhkan transportasi kelas satu!" sahut Onad santai dari jendela dengan nada genitnya yang khas.
"Kita butuh tempat aman untuk istirahat dan menyusun rencana selanjutnya," kata Luna seraya menatap Onad dengan pandangan kepemimpinan yang tegas.
"Aku tahu tempat yang pas untuk kita sembunyi dan merawat mobil gantengku ini," jawab Onad seraya mengedipkan matanya penuh rahasia.
Truk pick-up rakitan berlapis baja itu terus melaju membelah jalanan, membawa kelima penyintas utama yang kini telah bersatu utuh melintasi batas takdir baru di tengah kiamat Cordyceps yang mencekam.