NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL21. Terbongkar?

Ravi sudah siap sejak beberapa menit lalu. Kini ia menunggu Qiera untuk berangkat ke kampus bersama. Tak seperti saat pertama kali sejak pernikahan mereka, dimana Ravi mengomel karena menunggu Qiera, ia justru memperhatikan istrinya yang begitu sibuk mengurus segala sesuatu, sampai-sampai tidak menyadari bahwa pria itu sedang tersenyum sendiri.

Ketika Qiera kembali, Ravi mengulurkan tangan dan merapikan sedikit rambut yang jatuh di dekat pelipisnya.

Perempuan itu terdiam. Sentuhan sederhana itu mengingatkannya pada kecupan malam itu, membuat jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Ia menatap Ravi, tetapi pria itu sudah menarik tangannya dan berdiri dengan ekspresi biasa.

“Sudah waktunya berangkat,” kata Ravi.

Qiera berkedip, lalu buru-buru mengambil tasnya. “Iya. Aku siap-siap dulu.”

Ia berjalan menuju kamar dengan langkah cepat, meninggalkan Ravi yang hanya bisa menggeleng kecil.

Rupanya, bukan hanya dirinya yang kesulitan bersikap biasa setelah kejadian malam itu.

...🌵🌵🌵...

Perjalanan menuju kampus berlangsung cukup tenang. Ravi mengemudi dengan hati-hati, sementara Qiera duduk di kursi penumpang sambil memeriksa jadwal kuliahnya.

Mereka sempat berbicara mengenai kegiatan masing-masing, tetapi setiap kali suasana berubah terlalu hening, ingatan tentang kejadian malam itu kembali menyelinap ke pikiran Qiera.

Ketika mobil berhenti di dekat gerbang fakultas, Qiera segera meraih tasnya.

“Aku turun di sini saja, Mas.”

Ravi menoleh. “Kenapa tidak sampai ke parkiran?”

“Nanti ada orang yang lihat.”

Ravi terdiam sesaat. Ia memahami alasan itu. Pernikahan mereka masih menjadi rahasia, dan keduanya sepakat untuk tidak mengungkapkannya sebelum merasa waktunya tepat.

Meski begitu, ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak menyukai kenyataan bahwa Qiera masih harus menjaga jarak darinya di depan orang lain.

“Baiklah,” jawabnya akhirnya. “Nanti kabari saya kalau kelasmu selesai.”

Qiera mengangguk. “Mas juga hati-hati. Jangan terlalu banyak bergerak di kampus.”

“Saya akan mengingatnya.”

“Dan jangan bekerja terlalu lama.”

“Baik, Bu Dokter.”

Qiera tersenyum kecil sebelum turun dari mobil. Ia baru saja menutup pintu ketika Ravi memanggilnya lagi melalui jendela yang terbuka.

“Lily.”

Qiera menoleh. “Ya, Mas?”

Ravi menatapnya sejenak. “Semoga kelasmu menyenangkan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat Qiera tersenyum lebih lebar. “Makasih, Mas.”

Ia kemudian bergegas menuju gedung fakultas, tanpa menyadari bahwa Ravi masih memperhatikannya sampai sosoknya menghilang di balik kerumunan mahasiswa.

Setelah itu, Ravi mengarahkan mobil menuju area parkir dosen. Hari ini adalah hari kedua ia kembali mengajar setelah beberapa hari beristirahat.

Dokter memang menyarankan agar ia tidak memaksakan diri, tetapi selama kondisinya tetap stabil dan ia membatasi aktivitas, ia merasa mampu menjalankan sebagian tanggung jawabnya.

Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada Qiera.

Ia sengaja tidak memberitahukan bahwa kelas pertamanya hari ini adalah kelas yang diikuti istrinya. Tepatnya, ia datang sebagai dosen pengganti. Dosen asli mata kuliah tersebut sebelumnya adalah dosen pembimbing Ravi semasa S1 dulu, jadi bukan hal aneh jika keduanya sangat akrab.

Ia tidak memberi tahu bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu yang penting, melainkan karena ia sudah bisa membayangkan reaksi Qiera jika mengetahui hal itu sejak pagi. Perempuan itu mungkin akan melarangnya mengajar, menyita tas kerjanya, bahkan menghubungi pihak fakultas agar ia diminta pulang.

Ravi mengembuskan napas panjang sebelum keluar dari mobil. Ia harus kembali menjadi dosen yang tegas, bukan pasien yang terus diawasi istrinya.

“Baik, sebelum kelas dimulai, saya ingin mengingatkan bahwa perkuliahan hari ini tetap berjalan sesuai jadwal.”

Suara dosen pengganti yang baru memasuki ruangan membuat mahasiswa mulai menyiapkan buku dan laptop. Qiera yang duduk bersama Nisa sedang membuka catatan ketika pintu kembali terbuka.



Dan pria yang masuk berikutnya membuat tangannya berhenti di atas keyboard laptop.

Ravian Aryasatya.

Mengenakan kemeja rapi dengan ekspresi tenang, Ravi berjalan ke depan kelas sambil membawa beberapa berkas. Tidak ada yang berbeda dari penampilannya sebagai dosen, kecuali gerakannya yang sedikit lebih hati-hati ketika meletakkan barang di meja.

Qiera menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.

Nisa yang duduk di sampingnya ikut menoleh. “Bukannya Pak Ravian harusnya masih istirahat?”

“Entahlah,” jawab Qiera cepat.

Padahal, di dalam hati, ia ingin berlari ke depan kelas dan bertanya mengapa suaminya tidak tinggal di rumah seperti yang sudah ia perintahkan. Meskipun kemarin Ravi sudah kembali mengajar, namun sepulang dari kampus luka di punggungnya kembali terbuka hari itu.

Ravi membuka berkas, kemudian mengangkat pandangan ke arah mahasiswa.

“Selamat pagi. Saya akan melanjutkan materi yang sempat tertunda. Saya harap kalian sudah membaca bahan yang dikirimkan sebelumnya.”

Pandangan mereka bertemu selama sepersekian detik.

Qiera segera menunduk, berpura-pura mencari sesuatu di dalam tas. Sementara itu, Ravi tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia mulai menjelaskan materi dengan nada profesional, sesekali menuliskan poin penting di papan dan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa.

Semuanya berjalan normal, selayaknya kelas seorang Ravian Aryasatya.

Sampai Ravi memanggil nama yang paling tidak ingin didengar Qiera pagi itu.

“Saudari Lyana Shaqiera.”

Qiera perlahan mengangkat kepala. “Iya, Pak?”

“Silakan jelaskan perbedaan antara pertanggungjawaban hukum dan pertanggungjawaban moral dalam kasus yang kalian bahas minggu lalu.”

Beberapa mahasiswa langsung menoleh kepadanya. Nisa bahkan menyenggol lengannya pelan, berbisik bahwa ia seharusnya bisa menjawab karena materi tersebut sudah dibahas sebelumnya.

Qiera menarik napas, lalu berdiri. Ia menjelaskan dengan cukup lancar, memberikan contoh dan menyusun argumennya berdasarkan bahan bacaan. Namun, ketika ia sampai pada bagian kesimpulan, Ravi mengajukan pertanyaan lanjutan yang memaksanya mempertimbangkan kembali salah satu asumsi dalam jawabannya.

“Kalau begitu, bagaimana Saudari membuktikan bahwa kesimpulan tersebut tidak hanya didasarkan pada penilaian moral pribadi?”

Qiera terdiam sesaat.

Ia tahu pertanyaan itu. Biasanya, ia akan merasa kesal karena Ravi selalu menemukan celah dalam argumennya. Namun, hari ini ada hal lain yang membuat konsentrasinya berantakan.

Pria yang berdiri di depan kelas itu adalah orang yang kemarin pagi duduk diam ketika ia mencukur wajahnya, orang yang kemarin tanpa sengaja mencium bibirnya, dan orang yang masih berusaha ia yakinkan agar beristirahat.

“Saudari Shaqiera?” panggil Ravi.

Qiera tersentak. “Saya sedang menyusun jawaban, Pak.”

“Silakan. Saya tunggu.”

Nada suaranya tetap tenang, profesional, dan tidak memberi sedikit pun petunjuk bahwa mereka baru saja menghabiskan pagi bersama di apartemen.

Qiera akhirnya melanjutkan jawabannya, kali ini lebih hati-hati. Ravi mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan catatan mengenai bagian yang perlu diperkuat. Tidak ada pujian berlebihan, tidak ada perlakuan khusus, dan tidak ada kemudahan hanya karena mereka terikat pernikahan.

Anehnya, hal itu justru membuat Qiera merasa lega. Ravi tetap menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya seorang dosen.

Namun, ketika kelas hampir berakhir, pria itu menutup berkasnya dan memberikan pengumuman mengenai tugas lanjutan. Qiera segera mencatatnya, lalu diam-diam melirik punggung Ravi saat pria itu merapikan barang-barangnya.

Ia seharusnya merasa kesal karena suaminya kembali bekerja sebelum benar-benar pulih.

Tetapi di balik kekesalan itu, ia juga merasa bangga melihat Ravi kembali melakukan sesuatu yang disukainya.

“Qiera,” bisik Nisa ketika mahasiswa lain mulai berkemas, “kamu dari tadi kelihatan aneh. Ada apa?”

Qiera buru-buru memasukkan buku ke dalam tas. “Tidak ada.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Nisa menyipitkan mata, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, suara Ravi terdengar dari depan kelas.

“Saudari Shaqiera, bisa tinggal sebentar?”

Jantung Qiera seketika berdebar.

Nisa menoleh kepadanya dengan senyum penuh arti. “Wah, dipanggil dosen lagi. Kamu bikin masalah apa kali ini?”

“Tidak ada!” jawab Qiera terlalu cepat.

“Kalau begitu, semoga sukses.”

Nisa pergi sambil tertawa kecil, meninggalkan Qiera yang kini harus berjalan menuju meja dosen dengan perasaan campur aduk.

Begitu mahasiswa terakhir keluar, Ravi menutup pintu kelas dan kembali menghadapnya. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi profesional, tetapi Qiera bisa melihat kelelahan tipis di sekitar matanya.

“Mas seharusnya istirahat di rumah,” kata Qiera tanpa basa-basi.

Ravi mengangkat alis. “Kita sedang berada di kampus, Saudari Shaqiera.”

Qiera langsung terdiam, menyadari bahwa mereka belum benar-benar sendirian dalam arti bebas berbicara sebagai suami istri. Ia melirik pintu, lalu kembali menatap Ravi.

“Pak Ravian,” katanya dengan nada dibuat formal, “Anda seharusnya mengikuti saran dokter.”

“Terima kasih atas perhatiannya. Kondisi saya sudah cukup stabil untuk mengajar.”

“Mas—” Qiera segera menghentikan diri. “Maksud saya, Pak, jangan terlalu memaksakan diri.”

Ravi menahan senyum. “Saya akan mempertimbangkannya.”

“Jangan cuma mempertimbangkan!”

“Saudari Shaqiera, apakah Anda ingin membahas kondisi kesehatan saya atau ada urusan akademik lain?”

Qiera menatapnya tidak percaya. “Mas sengaja, ya?”

“Di kampus, saya dosen Anda.”

“Dan di rumah, Mas pasienku!”

Ravi akhirnya tertawa kecil. “Baiklah. Saya akan pulang setelah menyelesaikan satu urusan lagi.”

Qiera mengembuskan napas kesal. “Aku tunggu di luar. Setelah itu kita pulang.”

Ravi mengangguk, membiarkannya pergi lebih dulu. Namun, sebelum Qiera mencapai pintu, ia memanggilnya sekali lagi.

“Lily.”

Qiera menoleh.

Tatapan Ravi melunak. “Terima kasih sudah mencukur wajah saya.”

Wajah Qiera langsung memanas. Ia buru-buru membuka pintu, lalu berbalik dengan ekspresi panik.

“Jangan membicarakan itu di kampus!”

“Saya hanya berterima kasih.”

“Mas Ravi!”

Tawa Ravi terdengar dari belakang, sementara Qiera berjalan cepat menyusuri lorong dengan jantung yang kembali berdebar. Ia baru saja melewati tikungan ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

📲Saya tahu hubungan kalian bukan sekadar dosen dan mahasiswa

Qiera berhenti berjalan.

Ia membaca pesan itu sekali lagi, berharap dirinya salah memahami kalimat tersebut. Namun, sebelum sempat membalas, satu pesan berikutnya masuk.

📲Kalau kamu ingin rahasia pernikahanmu tetap aman, sebaiknya kamu mulai berhati-hati. Tidak semua orang di kampus akan menerima hubungan kalian.

Wajah Qiera perlahan kehilangan warna.

Selama ini, ia dan Ravi selalu berhati-hati. Mereka tidak pernah datang bersama ke kampus, tidak menunjukkan kedekatan di depan teman-temannya, dan selalu menjaga jarak ketika berada di lingkungan fakultas.

Kecuali saat tragedi hujan hari itu. Apakah ada yang melihat kejadian hari itu?

Lalu, siapa yang mengetahui rahasia mereka?

Dan yang lebih mengkhawatirkan, sejak kapan orang itu mengawasi mereka?

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!