NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkas yang Terkirim

Sinar matahari pagi Kota Solo menembus sela-sela pepohonan di sepanjang jalan menuju SD Harapan Bangsa. Udara segar membelai wajah Eda yang melangkah tenang dari tempat angkot biasa berhenti. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa gugup atau gentar seperti pagi-pagi sebelumnya. Beban berat yang biasanya membebat dadanya kini berganti menjadi rasa ringan yang membebaskan.

Ketika Eda melangkah memasuki gerbang sekolah, Pak Manto yang sedang menyiram tanaman bunga kertas di pinggir lapangan menyapanya dengan senyum lebar.

"Pagi, Bu Eda! Walah, harinya cerah, Bu Edanya juga kelihatan segar banget pagi ini!" seru Pak Manto ramah.

Eda menghentikan langkahnya sejenak, mengulas senyum tulus yang sudah lama tidak terukir di wajahnya. "Pagi, Pak Manto. Alhamdulillah, Pak. Udara pagi ini memang segar sekali."

"Nggih, Bu. Beda kalau hatinya adem, jalannya jadi makin mantap," sahut Pak Manto sambil terkekeh renyah.

Eda mengangguk, lalu melanjutkan langkah menuju ruang guru. Di koridor, beberapa siswa kelas empat yang melintas menyapa Eda dengan penuh semangat. Eda membalas sapaan mereka satu per satu dengan ramah. Di tempat inilah ia diingatkan bahwa dirinya berharga, bahwa ilmu dan kerja kerasnya diapresiasi dengan tulus tanpa pernah dituntut lebih dari kapasitasnya.

Di dalam ruang guru, suasana masih terbilang lengang. Bu Maya sudah duduk di mejanya sambil menikmati secangkir teh hangat dan membuka lembar modul ajar.

"Pagi, Bu Maya," sapa Eda ramah sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.

Bu Maya menoleh, matanya berbinar melihat perubahan pada raut wajah Eda. "Pagi, Bu Eda! Wajahnya kelihatan jauh lebih lega dibanding kemarin sore. Sudah agak mendingan permasalahannya, Bu?"

Eda tersenyum tipis, merapikan letak kursi kayu kerjanya sebelum duduk. "Masalahnya mungkin belum selesai sepenuhnya, Bu Maya. Tapi saya sudah memutuskan untuk tidak lagi membiarkan masalah itu merusak ketenangan pikiran saya."

Bu Maya mengangguk-angguk penuh rasa hormat. "Aplikasi nyata dari prinsip pembatasan diri ya, Bu. Saya bangga sekali mendengarnya. O iya, soal pendaftaran Guru Penggerak bagaimana? Sudah sempat buka portalnya?"

"Sudah, Bu Maya," jawab Eda penuh rasa syukur. "Semalam semua berkas dan esai refleksi diri sudah selesai saya isi dan berhasil saya unggah sampai tuntas."

"Wah, hebat!" puji Bu Maya sambil menepuk tangannya pelan.

"Langkah awal yang sangat bagus, Bu Eda. Semoga jalannya dimudahkan sampai tahap wawancara dan simulasi mengajar nanti. Sekolah pasti dukung penuh!"

Pukul sepuluh pagi, bel istirahat pertama bergema di seluruh area sekolah. Eda baru saja selesai memberikan materi Matematika tentang pecahan di kelas empat. Anak-anak berlarian keluar kelas menuju kantin dengan riang.

Saat Eda berjalan menyusuri koridor menuju ruang guru, Pak Burhan melangkah keluar dari ruangannya sambil membawa map plastik berisi dokumen dinas.

"Bu Eda, bisa minta waktunya sebentar?" panggil Pak Burhan ramah.

"Bisa, Pak Burhan," jawab Eda menghampiri Kepala Sekolahnya.

"Soal pendaftaran Guru Penggerak yang kemarin saya sampaikan, apakah Bu Eda mengalami kendala saat mengakses portalnya? Kalau ada dokumen dari sekolah yang kurang, biar langsung saya buatkan hari ini," tutur Pak Burhan penuh perhatian.

Eda tersenyum lebar, ada rasa haru yang menggetarkan dadanya. "Matur nuwun sanget atas perhatiannya, Pak Burhan. Alhamdulillah semalam berkas persyaratannya sudah lengkap dan status di portalnya sudah terverifikasi terkirim semua."

Mendengar hal itu, raut wajah Pak Burhan tampak sangat puas. Pria setengah baya itu mengangguk-angguk bangga.

"Luar biasa cepat penanganannya! Ini bukti kalau Bu Eda memang punya komitmen tinggi sebagai pendidik. Saya sudah tanda tangani surat rekomendasi resmi dari sekolah pagi ini, nanti tinggal diarsipkan oleh petugas tata usaha," ujar Pak Burhan. "Fokus saja mengajar dan persiapkan mental untuk tahap berikutnya ya, Bu."

"Baik, Pak Burhan. Terima kasih banyak atas kepercayaan dan bimbingannya," tutur Eda tulus.

Perlakuan hangat dan dukungan tanpa syarat dari pihak sekolah membuat Eda sadar betapa tajamnya perbedaan antara lingkungan kerjanya dengan lingkungan rumahnya. Di SD Harapan Bangsa, usahanya sekecil apa pun dihargai dan didorong untuk maju. Sementara di rumah kontrakan sempit itu, seluruh pengorbanan yang ia berikan selama belasan tahun dianggap kewajiban mutlak yang tidak pernah cukup.

Siang harinya, jam pelajaran usai. Eda melangkah keluar gerbang sekolah dengan perasaan yang mantap. Hari ini, ia tidak lagi merasa ketakutan untuk pulang. Ia tahu apa yang menunggu di rumah kontrakan Solo itu: tatapan dingin Agus, omelan ketus ibunya, atau sindiran pedas dari Doni dan Rini.

Namun, Eda tidak akan membiarkan mereka memengaruhi suasana hatinya lagi.

Saat angkot oranye yang ditumpanginya berhenti di depan gang permukiman, Eda turun dan membayar ongkos dengan tenang. Langkah kakinya menyusuri lorong gang yang mulai dipayungi bayang-bayang sore.

Begitu sampai di depan pintu kontrakan, Eda mendorong pintu kayu pudar itu hingga terbuka.

Di ruang tengah, suasana membisu. Agus sedang duduk di sudut ruangan sambil memegang gelas kopi hitam yang sudah dingin, sementara Ibu Ratna duduk di sofa sambil melipat tangan di dada. Begitu Eda melangkah masuk dan mengucapkan salam dengan suara tenang, tidak ada satu pun dari mereka yang membalas.

Silent treatment berjemaah tampaknya sedang dilancarkan untuk menghukum ketegasan Eda kemarin sore.

Eda melepaskan sepatu pantofelnya, menatanya dengan rapi di sudut pintu, lalu berjalan melewati mereka menuju kamar tanpa sedikit pun melirik atau meminta maaf.

Eda melangkah masuk, memutar kunci kamar klek, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tipisnya. Ia memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang yang terasa lapang. Hukuman diam dari mereka tidak lagi terasa bagai penjara yang menyiksa, melainkan menjadi ruang ketenangan baru yang dinikmatinya dengan damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!