NovelToon NovelToon
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan

Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.

​Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.

​Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.

​Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.

​Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan

​

​Deru mobil yang membawaku menuju bandara baru saja menghilang di balik gerbang besi ukir. Di dalam ruang makan yang semerbak aroma sup ginseng bertabrakan dengan wangi parfum menyengat, keheningan tegang mendadak mengendap.

​Gibran masih berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya merangkul bahu Melani yang berpura-pura terisak pelan. Namun, keheningan itu seketika pecah saat jarum jam dinding berdentang tebal menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.

​Kayla dan Evan tidak melangkah keluar menuju mobil jemputan sekolah seperti yang kuperintahkan tadi. Kedua buah hatiku itu tetap berdiri kokoh di dekat ambang pintu ruang makan, menyilangkan tangan di dada dengan tas sekolah yang masih tersangkut di bahu mereka.

​Gibran yang baru menyadari keberadaan anak-anaknya langsung memalingkan wajah, menyapu pandangannya ke arah jam dinding lalu menatap Kayla dan Evan dengan dahi berkerut tebal. Amarahnya yang sempat tertahan di hadapanku kini mencari sasaran empuk untuk diluapkan.

​"Kenapa kalian berdua masih berdiri di situ?!" bentak Gibran dengan suara menggelegar, melepaskan rangkulannya dari Melani dan melangkah dua tapak mendekat. "Jam berapa ini?! Mobil sudah menunggu dari tadi! Kenapa belum berangkat ke sekolah?."

​Kayla tidak bergeming sedikit pun. Putri sulungku itu menatap ayahnya lurus-lurus, matanya memancarkan pendar keberanian dan ketegasan yang sangat mirip denganku.

​"Kita sengaja menunda berangkat, Pi," jawab Kayla dengan suara datar namun dingin menusuk. "Kita mau memastikan perempuan ini benar-benar keluar dari rumah Mami sebelum kita pergi. Kita nggak sudi meninggalkan rumah ini dalam keadaan kotor cuma karena Papi sibuk menampung sampah di pagi hari."

​"Kayla! Jaga mulutmu!" muka Gibran seketika memerah padam, jarinya menunjuk tepat ke arah wajah putri sulungku. "Papi sudah bilang, dia ini tamu Papi! Dia rekan kerja di kantor! Dari mana kau belajar bicara kurang ajar dan tidak sopan begitu pada orang yang lebih tua?."

​"Kurang ajar?" Kayla tertawa terkekeh sebuah tawa kecil yang sarat akan rasa hambar dan penghinaan mendalam. "Papi bicara soal sopan santun dan tata krama? Papi nggak cermin sebelum membentak kita?"

​Melani yang berdiri di belakang Gibran kembali mengusap sudut matanya yang kering, memasang raut wajah terzalimi yang dibuat-buat. "Kayla... Tante minta maaf kalau kedatangan Tante bikin kamu marah. Tante cuma niat baik antarkan sup buat Papi kamu..."

​"Tutup mulut Tante!" sergah Evan cepat sebelum Melani menyelesaikan kalimat palsunya. Putra laki-lakiku itu melangkah maju satu tapak, memagari kakaknya dengan tubuh tegapnya. "Nggak usah panggil-panggil nama Kakak saya dengan mulut murahan itu! Tante pikir kita anak kecil yang bisa dibodohi pakai sandiwara air mata? Pakai baju bertelanjang dada pagi-pagi masuk ke rumah orang, terus pura-pura jadi korban? Murahan sekali."

​"Evan! Cukup!" gertak Gibran, dadanya naik turun oleh kemarahan yang meledak-ledak. Ia merasa wibawanya sebagai kepala keluarga telah hancur berkeping-keping di depan wanita simpanannya. "Siapa yang mengajari kalian berdua jadi anak pembangkang begini?! Ini pasti Mamimu, kan?! Mamimu yang mencuci otak kalian sampai kalian berani melawan dan menghina Papi di rumah ini."

​"Jangan pernah bawa-bawa Mami!" tegas Kayla, melangkah melampaui Evan hingga ia kini berdiri sangat dekat di hadapan ayahnya. "Mami tidak pernah mengajari kita untuk membenci Papi! Papi sendiri yang mengajari kita betapa tidak berharganya sosok seorang ayah seperti Papi."

​Gibran tersentak, matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat yang keluar dari bibir putri yang selama ini sangat dimanjakannya. "Kayla... apa yang kau katakan?"

​Kayla menatap ayahnya tanpa kedipan sedikit pun, membiarkan kebenaran yang pahit itu terhampar di udara.

​"Papi tahu apa peran seorang kepala keluarga?" tanya Kayla dengan intonasi rendah namun setiap kata menghujam tepat di ulu hati Gibran. "Seorang kepala keluarga itu adalah pelindung. Dia adalah benteng pertama yang menjaga kehormatan istri dan anak-anaknya dari marabahaya luar. Tapi Papi? Papi justru jadi orang pertama yang meruntuhkan benteng itu dan memasukkan bahaya ke dalam rumah kita sendiri."

​Gibran tertegun membisu, bibirnya terkatup kaku.

​"Dan Papi tahu apa arti sosok seorang ayah buat anak perempuannya?" lanjut Kayla dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Ayah adalah standar tertinggi bagaimana seorang pria harus memperlakukan wanita di masa depan. Aku dulu bangga punya Papi... Aku dulu mikir, kalau nanti aku menikah, aku mau dapat suami yang hebat dan penyayang seperti Papi."

​Kayla berhenti sejenak, mengusap kasar titik air mata di sudut matanya sebelum sempat menetes. Ia menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah kulihat.

​"Tapi hari ini, di depan perempuan murahan ini, Papi hancurkan semua standar itu," bisik Kayla menusuk. "Papi tunjukkan ke aku kalau pria yang paling kupercaya ternyata cuma pria lemah yang gampang berlutut sama bentuk tubuh dan godaan murah. Papi mengajarkan aku satu hal penting hari ini... bahwa aku tidak boleh percaya pada pria mana pun, termasuk Papi kandungku sendiri,"

​DEGG!

​Kalimat itu meluncur seperti anak panah beracun yang menancap telak di dada Gibran. Wajah CEO NexTech Group yang biasanya dipenuhi keangkuhan itu seketika pucat pasi. Tubuhnya agak berguncang, terpukul hebat oleh hantaman ucapan putri sulungnya yang membedah kebusukan perbuatannya tanpa sisa.

​Melani yang berada di belakangnya pun tampak gelisah. Ia tidak menyangka anak remaja di hadapannya memiliki ketajaman mental dan artikulasi kata yang begitu mematikan, persis seperti bayangan diriku.

​"Kayla... Papi... Papi tidak bermaksud..." suara Gibran mendadak tergagap, kehilangan seluruh artikulasi garangnya yang tadi ia pamerkan.

​"Cukup, Pi. Nggak usah jelaskan apa-apa lagi," potong Kayla dingin seraya membetulkan tali tas di bahunya. "Papi mau berhubungan sama perempuan ini sampai kiamat pun, terserah Papi. Tapi jangan pernah mimpi Papi bisa dapat rasa hormat dari aku dan Evan lagi."

​Evan melirik Melani dengan tatapan paling menjijikkan, lalu menatap Papi-nya dengan wajah kaku. "Ayo Kak, kita berangkat sekolah. Nanti Pak Sopir kelamaan nunggu di depan."

​"Ayo," sahut Kayla mantap.

​Sebelum memutar tubuhnya untuk melangkah keluar, Kayla memandang Melani dari atas ke bawah untuk terakhir kalinya.

​"Oh ya, Tante," ucap Kayla dengan nada menyepelekan yang amat kentara.

"Pikniknya sudah selesai, kan? Mending Tante cepat-cepat angkat kaki dari rumah Mami saya sebelum para asisten rumah tangga di sini menyiram Tante pakai air bekas pel-pelan. Karena di rumah ini, cuma barang kotor yang pantas disiram."

​Tanpa menunggu balasan dari Melani yang wajahnya sudah memerah padam menahan malu, Kayla dan Evan membalikkan badan. Mereka melangkah lebar menuju pintu depan dengan kepala tegak, melangkah keluar menuju mobil sekolah tanpa memutar kepala sedikit pun.

​Suara pintu utama yang ditutup dengan dentuman keras bergema panjang di seluruh penjuru rumah mewah itu.

​Gibran berdiri terpaku di tengah ruang makan yang kini terasa kian asing dan hampa. Kata-kata Kayla masih bergema liar di dalam kepalanya, menelanjangi seluruh kebanggaan dan harga dirinya sebagai seorang pria. Pria yang mengira bisa mengendalikan dunia dengan uang dan jabatannya itu kini sadar, ia telah kehilangan hal paling berharga di dalam hidupnya rasa hormat dan cinta dari anak-anak kandungnya sendiri.

​Melani melangkah pelan, mencoba menyentuh lengan kemeja Gibran untuk memberikan penenangan palsu. "Mas... kamu nggak apa-apa? Anak-anakmu benar-benar sudah keterlaluan, mereka"

​"Tutup mulutmu, Melani!" gertak Gibran dengan nada suara yang sangat dingin dan patah, menepis tangan wanita itu dengan kasar tanpa memandangnya sedikit pun.

​Melani terperanjat, mundur satu langkah dengan mata membelalak kaget. "Mas? Kok kamu malah bentak aku?"

​Gibran mengusap wajahnya yang terasa panas dengan kedua belah tangan, menarik napas panjang yang terasa begitu berat dan menyiksa. Pria itu memandang tempat makanan stanles di atas meja, lalu memandang ruangan kosong di sekelilingnya.

​"Pulanglah, Melani," perintah Gibran dengan suara serak yang memendam rasa frustrasi luar biasa. "Ambil makananmu dan keluar dari rumahku sekarang juga."

​"Mas! Tapi aku"

​"Ku bilang keluar!" bentak Gibran dengan mata yang memerah penuh amarah dan kekecewaan pada dirinya sendiri.

​Tanpa berani membantah lagi, Melani mengambil tempat makanannya dengan tangan gemetar, melangkah cepat menyusuri lorong menuju pintu keluar dengan mengusap air mata malunya.

​Gibran perlahan menarik kursi makan, menyandarkan tubuhnya yang terasa mendadak lelah dan tua. Di dalam ruang makan yang dingin itu, bayangan kehangatan keluarga yang pernah dibangunnya selama belasan tahun bersama Kirana mendadak menguap, menyisakan penyesalan dingin yang mulai merayap pelan menembus dadanya.

1
merry
pdhl uang sgtu hrs buat beli rumh ya biar nnti bnr bnr hncur seenggaknya pyn rumh pyn modal buat usaha baru jgn mkrin gengsi yg pntg bs mkn ud ckp 🤭🤭🤭🤭
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Ariany Sudjana
dasar CEO bodoh kamu Gibran, gimana ceritanya sisa uang penjualan tanah akan dipakai untuk pesta mewah? yang ada nama kamu semakin hancur
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kamu itu Melanie, dengan pedenya kamu yakin akan menikah dengan Gibran 🤣🤣😂😂 ya jelaslah sudah tinggal bareng, kalau ga nikah, tapi kan sudah ga punya rasa malu ya 🤣🤣😂😂
Noey Aprilia
Ktanya ceo....yg pstinya bs jd pmimpin prshaan,tp gliran udh t'desak keadaan otaknya mlah ga fungsi....
tp biarin aja lh,yg dungu sm yg dungu....😛😛😛
Hary Nengsih
lanjut
merry
gibran tu katarak y gk dukung bisnis mu lah modal bgn perusahaan dr mn gibran 🤭🤭🤭 trs manjain selingkuhan mu uang dr mn bhkn modal bgn usha ajj lbh bnyk mntn istri mu yg kluarkn,, sdgkn kmu kluarin dikit,, kmu enk enk kn selingkuh mntn mu rawat mmu dan ankmu
Muft Smoker
orang yg terpojok terkadang bisa ceroboh dlm segala hal ,,
yx seperti Gibran ni ,, dg ikhlas lahir batin dy mengakui semua kebusukan ny bersama nyai lampir ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Lilik Lailiyah
mantap akhirnya kirana yg menang
Mundri Astuti
good Kirana....hempaskan laki" ngga tau diri dan ngga tau diuntung, ditolong malah mentung
Ilfa Yarni
aaaass akhirnya kirana me dapatksn lg semua hartsnya long lempar tub di mokondo gibran kejalanan Dr Kantor yg dia pimpin itu
Noey Aprilia
Mantappp.....
slmt buat kirana,krna udh brhsil bkin mreka malu plus kismin....mngkn abs ni mreka bkln jd rakyat jelata....😛😛😛
Ariany Sudjana
bagus Kirana, kamu tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri. kamu akan bangkit lagi, dan tunjukkan kelas kamu jauh di atas pelacur murahan kesayangan Gibran itu
Ariany Sudjana
maklum sih pelacur murahan kesayangan Gibran 🤣🤣😂😂 hanya bisa bermimpi dan bodohnya kebangetan dan ga bisa menyaring setiap perkataan yang keluar dari mulutnya 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
skak mat kamu Gibran 🤣🤣😂😂 si pelacur murahan kesayangan kamu itu lagi-lagi buat ulah, yang membuat posisi kamu semakin sulit. tapi ya terima saja, kan kamu sudah memilih membuang batu permata demi pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Hary Nengsih
👍👍👍👍
Heni Setiyaningsih
Kirana,,,,, mantap & keren 👍👍
Ariany Sudjana
ga seru ah, pelacur murahan itu harusnya di tarik keluar sama security. gimana ceritanya, pelacur murahan kok bisa hadir di acara sosialita? kalau begini, kelihatan bodohnya kamu Melanie 😂😂🤣🤣 tapi cocok sih, pelacur murahan kan hanya bisa menghabiskan uang dan bermimpi jadi istri konglomerat 😂😂🤣🤣 di
Muft Smoker
aduuh2 mimpii ny ketinggian mbaaa baju biruuu ,,
nanti kalo jatuh bukan cuma sakit ,, tp malu ny tu looo ,, gx bisa d tampung dmna2🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Dfnisi trsngka yg brsa jd korban....
gmna ga stia,duitnya msh bnyak trs pnya jbatan jg...cba kl nnti udh ga pnya apa2,plingn jg bkln kabur.....🙄🙄🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!