Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengalaman Pertama Yang Berharga
Hari-hari berikutnya terasa begitu indah bagi Laras. Setiap pagi saat berangkat ke sekolah, hatinya selalu terasa ringan dan berdebar.
Mengetahui ada seseorang yang selalu ada untuknya, membuat hari-harinya terasa lebih bermakna. Hubungan mereka tumbuh alami, tanpa terburu-buru, tanpa dipaksakan.
Namun cerita indah tidak selalu berjalan mulus begitu saja. Suatu hari, saat jam olahraga, Laras terpeleset di lapangan yang masih basah setelah hujan semalam.
Pergelangan kakinya terasa sakit sekali hingga dia tidak bisa berdiri tegak. Guru olahraga menyuruhnya beristirahat di ruang kesehatan dan akan memanggil seseorang untuk mengantarnya pulang nanti sore.
Saat bel pulang berbunyi, Laras duduk sendirian di ruang kesehatan sambil menahan rasa sakit dan sedikit kesepian. Dia berusaha tidak berharap terlalu banyak, tapi jauh di dalam hatinya, dia berharap sosok yang akan datang menjemput adalah Arka.
Pintu terbuka. Bukan Arka, melainkan Siska. Laras sedikit kecewa tapi tetap tersenyum sopan.
"Guru suruh gue antar lu sampai depan gerbang. Ayo jalan, gue nggak bisa nunggu lama," ucap Siska dengan nada dingin.
Mereka berjalan perlahan menuju gerbang sekolah. Laras tertatih-tatih, kakinya terasa sangat nyeri. Siska berjalan agak di depan, tidak terlalu peduli apakah Laras bisa mengikutinya atau tidak.
Saat mereka sampai di gerbang, Laras melihat mobil Arka terparkir di sana. Arka sedang berdiri di samping mobilnya seolah sedang menunggu seseorang.
Siska langsung mempercepat langkahnya menghampiri Arka. "Hai Arka! Kebetulan sekali lu di sini. Gue baru saja bantu Laras sampai di sini, dia kesakitan banget lho kakinya. Kasihan sekali dia ya."
Arka tidak menatap Siska, matanya langsung tertuju pada Laras yang berdiri tertatih di belakang Siska. Dia segera berjalan mendekat tanpa mempedulikan Siska yang masih berbicara sendiri.
"Lu kenapa nggak kabari gue kalau lu terluka?" tanyanya lembut sambil langsung menopang tubuh Laras.
Laras tersenyum tipis. "Gue nggak mau nyusahin lu. Lagian gue pikir lu sudah pulang."
"Gue nggak akan pulang sebelum memastikan lu aman. Naik, gue antar lu pulang sekarang," ucap Arka tegas sambil membukakan pintu mobilnya.
Siska berdiri terpaku di tempatnya, menatap mereka dengan wajah yang merah padam karena cemburu dan malu. Namun Arka tidak menoleh sedikit pun padanya. Dia masuk ke sisi pengemudi, menyalakan mesin, dan mobil perlahan meninggalkan area sekolah.
Sepanjang jalan, suasana di dalam mobil terasa hangat dan tenang. Arka sesekali melirik ke arah Laras yang sedang menatap ke luar jendela.
"Sakit banget kakinya?" tanyanya pelan.
"Sedikit saja. Nanti juga sembuh sendiri kok," jawab Laras lembut.
"Jangan remehkan sakit. Lu itu berharga, Laras. Kesehatan lu itu penting, bukan cuma buat Ibu lu, tapi juga buat gue," ucap Arka pelan, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri.
Laras menoleh perlahan. Dia melihat sisi profil wajah Arka yang terlihat begitu tenang dan teguh. Hatinya berdebar kencang. Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Laras, itu adalah kalimat terindah yang pernah dia dengar.
Sesampainya di rumah Laras, Arka membantunya turun dan mengantarnya sampai ke teras depan. Dia juga menelepon ibunya sebentar untuk memberi tahu kejadian itu agar tidak khawatir.
"Masuklah, gue buatkan teh hangat sebagai ucapan terima kasih ya," ajak Laras.
Arka tersenyum sambil menggeleng. "Lain kali saja. Istirahatlah, semoga cepat sembuh. Gue datang besok bawakan obat dan buah untuk lu."
"Tidak perlu repot, Ka. Gue..."
"Gue mau datang, bukan karena lu butuh, tapi karena gue mau datang. Istirahat ya, sampai ketemu besok," potong Arka lembut namun tegas.
Laras hanya bisa mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia berdiri di teras sampai mobil Arka benar-benar hilang dari pandangannya. Saat dia masuk ke dalam rumah, ibunya tersenyum melihat senyum di wajah putrinya yang tak kunjung pudar.
"Arka anak yang sangat baik ya, Nak. Dia bukan sekadar teman biasa bagimu kan?" tanya ibunya pelan.
Laras tersipu malu sambil menyentuh dadanya yang masih terasa hangat. "Aku juga belum tahu pasti Bu. Tapi satu hal yang Aku tahu... setiap kali dia ada di dekat Aku, Aku merasa dunia ini tempat yang jauh lebih baik untuk dijalani."
Malam itu Laras tidur dengan perasaan damai. Dia belajar satu hal berharga hari ini bahwa dicintai dan diperhatikan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang membuat seseorang merasa berharga di muka bumi ini.