NovelToon NovelToon
Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.

Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.

Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.

Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.

Mari mengikuti ceritanya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 Menerima Lamaran

Setelah menyelesaikan sholat shubuh, Refisha berada di dapur untuk membuat sarapan.

"Kakak pakai apa?" Refisha kaget mendengar suara itu membuatnya menoleh kebelakang dan ternyata Laudya berdiri bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangannya di dadanya.

"Memakai apa? Memang apa yang di pakai Laudya?" tanya Refisha.

"Kok bisa seorang Ezra, mengejar-ngejar Kakak? Kakak akhirnya meruntuhkan keimanan pergi ke dukun dan meminta pelet?" tuduh Laudya.

"Astagfirullah Laudya, Kakak tidak mungkin melakukan hal seperti itu," sahut Laudya.

"Aneh dong kak, masa iya, dia mengejar-ngejar kakak dan bahkan sampai menemui Papa untuk melamar Kakak, mengingat selama ini banyak laki-laki yang menolak Kakak dan bahkan mereka juga jijik pada Kakak," sahut Laudya.

"Terserah kamu berpikiran seperti apa tentang bagaimana Ezra mengejar Kakak atau bahkan menemui Papa, tetapi selama ini Kakak sama sekali tidak pernah harus datang ke tempat hal-hal yang sangat dibenci Allah hanya untuk mendapatkan suami," tegas Refisha menegaskan kepada adiknya itu untuk tidak menyebar fitnah.

"Lalu, apa Kakak akan menerima pinangannya, jika memang laki-laki itu pada akhirnya akan datang lagi?" tanya Laudya.

"Kakak masih sholat istikharah," jawab Refisha.

"Kalau Kakak meminta petunjuk yang artinya Kakak mengharapkannya, Kak, lebih baik berpikir dua kali dan siapa tahu saja laki-laki itu hanya ingin mempermainkan Kakak karena dia sepupu dari Malik, mungkin saja mereka sedang taruhan dan memberdayakan Kakak," sahut Laudya.

"Laudya!" di tengah banyaknya bicara Laudya tiba-tiba saja ditegur Mila yang memasuki dapur dengan geleng-geleng kepala.

"Astagfirullah, apa yang ada di kepala kamu sampai-sampai berpikir buruk hah!" sahut Mila.

"Kamu sebaiknya sekarang ambil wudhu dan langsung sholat subuh!" tegas Mila.

"Apaan sih. Ma, waktu sholat subuh berakhir juga masih lama," sahut Laudya.

"Begini, kalau kamu itu kebanyakan menunda-nunda sholat dan akhirnya pikiran kamu selalu buruk kepada orang lain. Mama tidak suka jika sekali lagi mendengar kamu mempertanyakan hal yang tidak penting kepada Kakak kamu dan apalagi mencoba untuk mempengaruhinya,"

"Hanya karena Ezra serius dan ingin melamar Kakak kamu dan kamu langsung berpikiran buruk yang menganggap bahwa Kakak kamu pergi ke dukun mencari pelet atau ini dan itu. Laudya mungkin ada sesuatu yang tidak dimiliki orang lain pada diri Kakak kamu dan membuat laki-laki itu serius kepadanya!" tegas Mila.

"Isss, Mama itu berlebihan kalau sudah membela kak Refisha, apapun yang aku katakan pasti saja salah!" ucapnya dengan kesan menggertakan kedua kakinya di lantai dan kemudian langsung pergi.

"Astagfirullah...." lirih Mila geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya.

"Sudahlah, Ma," sahut Refisha.

"Refisha dengarkan Mama baik-baik. Kamu adalah anak yang cantik, ini adalah ibukota, ini adalah zaman modern, wanita berkepala 30 belum menikah itu hal yang biasa, kamu harus percaya diri dengan diri kamu, jangan jadikan beban perkataan orang lain, Jika laki-laki seperti Ezra di mata orang lain begitu sempurna dan ternyata wanita yang dia pilih adalah kamu artinya kamu adalah wanita yang sempurna di matanya. Jadi harus percaya diri karena kamu memiliki value yang tidak dimiliki oleh orang lain!" tegas Mila mencoba untuk mengangkat kepercayaan diri putrinya itu.

"Iya. Ma," sahut Refisha tersenyum.

"Ya, sudah kamu lanjutkan memasak, Mama mau ke kamar dulu," ucap Mila membuat Refisha menganggukkan kepala dan kemudian langsung pergi.

*********

Refisha seperti biasa saat ini sedang berada di butik. Seperti biasa Refisha sedang mengecek beberapa desain yang telah dia ciptakan sendiri dan akan segera diproduksi di pabrik miliknya sendiri.

TOK-TOK-TOK.

Di tengah kesibukannya yang berada di ruangannya tiba-tiba diketuk. Refisha menoleh ke belakang dan siapa lagi jika bukan Ezra yang berdiri begitu santai dengan kakinya yang tampak di silang.

"Selamat pagi, calon istri!" ucapnya terlihat sangat percaya diri.

Di dalam ruangan itu ada dua karyawan wanita cukup kaget mendengar perkataan itu, tetapi mereka tersenyum yang membuat Refisha justru malu dengan tingkah Ezra.

"Kamu tidak mengangkat teleponku, padahal aku tadi ingin membelikan sarapan untuk kamu," ucap Ezra berjalan memasuki ruangan tersebut.

2 Karyawan itu pada akhirnya bentar-bentar melirik pada pasangan itu yang membuat mereka justru senyum-senyum sendiri kegemes.

"Tidak perlu melakukan itu karena saya sudah sarapan," sahut Refisha.

"Saya belum sarapan, bagaimana jika kamu menemani saya sarapan?" ajak Ezra.

"Katakan apa tujuan kamu datang menemui saya, jangan kebiasaan mengganggu pekerjaan orang lain," sahut Refisha.

"Astagfirullah Refisha, hati saya sangat sakit jika kamu mengatakan bahwa saya datang hanya mengganggu pekerjaan kamu, padahal sebagai calon suami bukankah memberi support yang besar kepada istrinya itu adalah hal yang penting," ucap Ezra.

"Hmmmm, Bu Refisha, saya harus menemui klien!" ucap salah satu wanita itu merasa bahwa dia sangat mengganggu pasangan itu.

"Saya juga. Bu," sahut yang satunya.

Belum mendapatkan persetujuan dari Refisha membuat mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.

"Karyawanmu benar-benar sangat pengertian," sahut Ezra dengan santai menghampiri sofa yang tampak kosong di sana.

"Mari bicara di luar!" ucap Refisha membuat Ezra tidak sempat duduk.

Refisha bahkan tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian langsung keluar dari ruangan tersebut karena menurutnya tidak baik jika harus berduaan berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

"Oke!" ucapnya dengan mengangkat kedua bahunya dan kemudian menyusul Refisha.

*******

Refisha saat ini berada di salah Restaurant yang berada di dekat kantornya, terlihat mereka duduk berdua saling berhadapan dengan meja bulat di tengah keduanya.

Ezra sepertinya memang benar bahwa dia belum sarapan dan terbukti dia memesan makanan dan sementara Refisha tidak.

"Saya bertanya untuk yang terakhir kali kepada kamu, kenapa kamu menginginkan saya untuk menjadi istri kamu?" tanya Refisha.

"Karena saya yakin kamu bisa menjadi istri untuk saya dan juga menjadi ibu untuk anak-anak saya," jawabnya dengan sangat singkat.

"Tetapi belum tentu saya bisa memberikan kamu keturunan," sahut Refisha.

"Dalam pernikahan tidak harus selamanya hanya tentang anak, toh juga kalau sudah tua anak akan hidup masing-masing dengan keluarganya dan kembali lagi hanya pasangan suami istri yang akan saling menjaga satu sama lain," jawab Ezra.

"Memang kamu sudah mengatakan kepada orang tua kamu tentang saya?" tanya Refisha.

"Papa saya ada waktu menemani keponakannya ingin melamar kamu, dan saya rasa tidak perlu mengatakan apapun, saya berbicara apa adanya kepada orang tua saya tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi," jawab Ezra.

"Baiklah! kalau begitu kamu boleh datang ke rumah saya, membawa kedua orang tua kamu untuk membicarakan semua ini, tetapi tetap saya ingin ada proses taaruf sebelum kita menikah,"

"Tapi saya ingin proses pacaran....." ucapnya membuat Refisha mengerutkan dahi.

"Bercanda Refisha," Ezra mengubah kalimatnya dengan cepat takut diterkam Refisha.

"Proses taaruf sangat diperlukan sebelum menjelang pernikahan agar kita saling mengenal satu sama lain dengan syariat Islam, dan jika kamu tidak setuju atau ragu, kamu juga boleh untuk membatalkan keinginan kamu untuk menikah dengan saya dan begitu juga dengan saya, saya mengatakan seperti ini bukan saya angkuh, saya hanya tidak ingin ada penyesalan dalam pernikahan kita nanti," ucap Refisha.

"Jadi akhirnya kamu menerima saya?" tanya Ezra memastikan sekali lagi.

Refisha tidak menjawab apapun, sejak tadi bahkan dia tidak berani menatap kedua bola mata Ezra yang tidak berhenti menatapnya. Refisha masih berusaha untuk menjaga pandangannya.

Bersambung......

1
Dew666
Belah durenya di cut nanggung nih
Yasinta Niken
saya suka dengan cerita2nya tapi kenapa selalu putus 2
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!