🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Rabu pagi, Alina bangun sebelum jam enam. Lampu tangga masih mati di tanjakan kedua. Ia tidak menyalakan lampu di dalam studio. Ia hanya mengisi botol minum, memakai sepatu yang sudah dipakai dua hari sebelumnya, dan mengambil jaket tipis dari gantungan. Kamera saku tetap di belakang map kosong di dalam lemari. Ia tidak membawanya. Ponsel masih di laci orang lain. Yang ia bawa hanya uang tunai, kunci studio, dan satu lembar catatan kecil yang sudah dilipat empat kali.
Mei sempat menelepon semalam. Alina tidak mengangkat. Pagi ini ia mengirim pesan singkat lewat aplikasi di laptop: “Jangan ke Menara hari ini.” Alina membaca, lalu menutup laptop. Ia tidak membalas.
Celah yang ia pikirkan bukan pintu depan dan bukan lift tamu. Kemarin sore, saat menunggu di halte dekat Sudirman, ia melihat mobil box kecil berhenti di sisi bangunan. Supir turun, menunjukkan kertas ke satpam pintu servis, lalu mendorong trolly berisi karton ke dalam. Prosesnya cepat. Tidak ada QR. Hanya daftar nama dan tanda tangan di papan klip.
Pagi ini ia berdiri di sudut gang samping Menara Mahendra pukul 07.40. Udara masih lembap. Ia memakai topi dan jaket yang menutupi rambut. Ia menunggu sampai mobil box biru tua muncul. Supirnya turun, membawa klipbord. Alina melangkah mendekat, bukan terlalu cepat.
“Kurir tambahan?” tanya satpam, melihatnya.
Alina mengangkat sedikit tas kain yang ia bawa. Di dalamnya hanya map kosong dan botol minum. “Saya bantu bongkar. Ada yang kurang di list tadi.”
Satpam melihat klipbord di tangan supir. Supir mengangguk tanpa terlalu peduli. “Iya, ada yang tertinggal di mobil.”
Satpam tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menunjuk ke arah pintu servis yang sudah terbuka. “Cepat. Jangan lewat lobi.”
Alina masuk di belakang trolly. Koridor servis sempit, berbau karton basah dan oli. Ia mengikuti sampai ke area loading yang terhubung dengan lift barang. Ketika satpam berpaling untuk menandatangani kertas lain, Alina berbelok ke tangga darurat yang pintunya tidak terkunci dari dalam.
Ia naik dua lantai dengan cepat, lalu berhenti. Napasnya pendek. Ia tahu kamera di tangga darurat biasanya menyala, tetapi ia tidak punya pilihan yang lebih baik. Dari lantai 3 ia pindah ke lift barang yang kebetulan berhenti. Ia menekan tombol lantai 28.
Lift barang berbunyi pelan. Pintu terbuka di lantai 28. Koridor masih sepi. Data room ada di ujung. Ia berjalan tanpa terburu-buru, seolah ia punya alasan untuk berada di sana.
Ia hampir sampai di depan pintu data room ketika suara langkah datang dari belakang.
“Berhenti.”
Dua orang sekuriti. Bukan satpam lobi. Seragam lebih rapi. Yang satu sudah memegang radio.
Alina tidak lari. Ia berdiri diam, tangan di sisi tubuh.
“Anda siapa?” tanya yang lebih tinggi.
“Pengunjung.”
“Dari mana masuk?”
“Pintu servis.”
Radio berbunyi. Yang satu berbicara singkat. Beberapa detik kemudian ia menatap Alina lagi. “Anda ikut kami ke lantai bawah.”
Mereka tidak memegang tangannya. Mereka hanya berjalan di kedua sisinya, mengantar ke lift karyawan. Di lantai 2, ruang tunggu sekuriti kecil dan tanpa jendela. Meja besi, dua kursi, kamera di sudut. Alina duduk. Mereka tidak menanyakan apa-apa lagi. Mereka hanya menunggu.
Dua puluh menit kemudian pintu terbuka. Adrian masuk. Jas hitam, kemeja putih, jam tali kulit di pergelangan. Ia tidak membawa map. Ia hanya berdiri di depan meja, menatap Alina.
“Anda kembali,” katanya.
“Saya belum selesai melihat.”
“Ponsel Anda masih di laci. QR sudah mati. Buku tamu sudah dicek. Dan Anda memilih masuk lewat pintu servis.” Adrian menarik kursi di seberangnya dan duduk. “Sekuriti melaporkan Anda membawa tas kosong. Tidak ada kamera. Tidak ada flashdisk. Hanya map dan botol.”
Alina tidak menjawab.
“Kemarin Anda bilang angka di halaman empat tidak akan menjadi sama hanya karena Anda di trotoar.” Adrian menatapnya. “Hari ini Anda membuktikan bahwa Anda lebih memilih ketahuan daripada menunggu.”
“Kalau saya menunggu, halaman itu sudah dibersihkan.”
“Oscar akan menandai ulang. Itu bukan berarti menghapus.”
“Menandai ulang sebelum draf ke Aruna berarti membuat angka terlihat rapi untuk orang yang tidak akan memeriksa lampiran.”
Adrian diam sejenak. “Anda masih menolak menyebut siapa yang mengirim Anda.”
“Tidak ada yang mengirim.”
“Lalu kenapa nama Pramesthi?”
Alina menahan napas. “Itu nama yang saya pakai.”
“Bukan jawaban.”
Salah satu sekuriti mengetuk pintu dari luar. Adrian mengangkat tangan, memberi tanda tunggu. Ia menatap Alina lagi.
“Saya bisa memanggil polisi sekarang. Ada rekaman Anda masuk lewat pintu servis tanpa izin. Ada nama di buku tamu kemarin. Ada ponsel yang masih saya kunci.” Ia berhenti sebentar. “Atau Anda menjelaskan kenapa Anda begitu bersikeras melihat kertas yang sudah saya lihat sendiri.”
Alina menatap meja besi di depannya. “Karena ada yang digeser. Bukan hanya angka. Ada nama yang seharusnya sudah selesai, tapi masih muncul. Dan orang yang seharusnya tahu justru ingin membuatnya tidak terlihat.”
“Siapa orang itu?”
“Saya belum tahu.”
Adrian menghela napas pendek. “Anda masuk dua kali dalam tiga hari. Sekali lewat kelalaian, sekali lewat celah kurir. Saya tidak punya alasan untuk terus menahan sekuriti.”
“Kalau Anda memanggil polisi, angka itu akan jadi pertanyaan orang lain. Bukan hanya saya.”
Adrian berdiri. Ia berjalan ke pintu, lalu berbalik. “Anda tetap di sini. Jangan bergerak. Saya akan berbicara dengan Dimas dulu.”
Ia keluar. Pintu tertutup. Alina tetap duduk. Di ruang yang tanpa jendela itu, ia mendengar suara radio sekuriti di luar, lalu langkah kaki yang menjauh.
Di lantai 32, Dimas sudah menunggu di ruang Adrian. Ia membawa laptop terbuka.
“Ada laporan sekuriti,” kata Dimas. “Perempuan yang sama. Masuk lewat pintu servis. Tertangkap di lantai 28.”
Adrian mengangguk. “Saya sudah bertemu.”
“Anda akan menyerahkannya?”
“Belum.” Adrian duduk di mejanya. “Anda sudah cek nama itu?”
Dimas ragu sejenak. “Saya menemukan satu artikel lama. Baskara Prameswari. Mantan Direktur Keuangan. Nama belakang sama. Saya belum yakin itu hubungan darah. Saya juga belum memberitahu siapa-siapa.”
Adrian menatapnya. “Kapan Anda menemukan itu?”
“Kemarin sore.”
“Dan Anda diam.”
“Saya belum punya konfirmasi. Saya tidak ingin membawa nama orang mati ke meja Anda tanpa bukti.”
Adrian menekan pelipisnya sebentar. “Bawa laptop itu. Kita turun.”
Mereka turun bersama ke ruang tunggu sekuriti di lantai 2. Alina masih duduk di kursi yang sama. Ketika Adrian dan Dimas masuk, ia tidak berdiri.
Dimas meletakkan laptop di meja, layar menghadap ke arah yang bisa dilihat ketiganya. Artikel lama terbuka. Foto Baskara Prameswari di samping logo Mahendra. Judul tentang skandal Koridor Timur.
Adrian membaca dalam diam. Lalu ia menatap Alina.
“Nama belakang sama. Baskara Prameswari. Mantan Direktur Keuangan kami.” Ia menunjuk layar. “Anda memakai nama itu di buku tamu. Apakah ini kebetulan?”
Alina menatap foto itu, lalu menatap Adrian. “Saya tidak menjawab pertanyaan yang sudah Anda putuskan sendiri.”
“Saya belum memutuskan apa pun. Saya bertanya.”
“Dan saya tidak akan memberikan jawaban yang Anda butuhkan hanya karena saya duduk di kursi ini.”
Dimas menutup laptop pelan. Adrian tidak duduk. Ia berdiri di samping meja, jari-jarinya mengetuk permukaan besi sekali.
“Anda masuk ke data room dua kali. Anda menolak menyebut pemberi kerja. Anda menolak disebut utusan Kusuma. Dan sekarang nama yang Anda pakai sama dengan nama orang yang pernah bekerja di sini dan keluar dalam skandal.” Adrian menatapnya. “Saya punya cukup alasan untuk memanggil polisi. Satu-satunya alasan saya belum melakukannya adalah angka di halaman empat yang tidak cocok.”
“Angka itu tetap tidak cocok meskipun saya diam.”
“Benar. Tapi diam Anda membuat saya sulit membedakan apakah Anda datang untuk membuka lubang atau untuk membalas sesuatu yang sudah selesai di kertas.”
Alina mengangkat dagu sedikit. “Kalau sudah selesai di kertas, kenapa nama Lazuardi masih muncul di lampiran dan akan ditandai ulang sebelum sampai ke Aruna?”
Adrian menatap Dimas. “Keluar dulu. Tunggu di luar.”
Dimas ragu, lalu mengangguk dan keluar, menutup pintu di belakangnya.
Adrian dan Alina tinggal berdua di ruang yang sempit itu. Adrian menarik kursi dan duduk lagi.
“Saya belum memanggil polisi,” katanya. “Tapi saya juga belum memutuskan Anda boleh pergi. Kita akan bicara. Di sini. Sekarang. Tanpa map, tanpa kamera, tanpa orang ketiga. Dan tanpa Anda mengaku atau menyangkal nama itu. Saya hanya ingin tahu apa yang Anda lihat di lampiran yang membuat Anda rela ketahuan dua kali.”
Alina mengangguk sekali. “Baik.”
Di luar, Dimas berdiri di koridor, memegang laptop yang sudah tertutup. Ia tidak mendengar percakapan di dalam. Ia hanya tahu bahwa nama yang kemarin ia temukan sekarang sudah diletakkan di depan perempuan itu, dan bahwa apa pun yang terjadi di balik pintu itu tidak akan kembali ke keadaan semula.