NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

🍂🍂🍂🍂

Lampu minyak di dinding kamar utama rumah joglo membiaskan cahaya keemasan yang remang-remang. Suasana malam begitu hening, hanya diiringi derik jangkrik dari luar pelataran. Bagas terbaring telentang di atas peraduan kayu jatinya, menatap kosong ke arah langit-langit ukir. Bayangan wajah Mbok Sumi yang meneteskan air mata meminta cucu terus berputar di benaknya, menghimpit dadanya dengan rasa bersalah yang amat dalam.

Tiba-tiba, hembusan angin dingin beraroma melati segar yang teramat pekat menyapu seluruh ruangan. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan, lalu meredup hangat.

Gumpalan kabut hijau tipis bergulung di samping tempat tidur. Dari balik kabut tersebut, melangkah sesosok wanita dengan keagungan yang tiada tandingannya. Kali ini, tidak ada ekor ular raksasa bersisik zamrud atau wujud siluman yang mengerikan. Wanita itu berwujud manusia sempurna—jelita, anggun, berbalut kemben sutra hijau lumut dengan ronce bunga melati yang melilit sanggul mewahnya. Kulitnya yang seputih porselen terpapar pendar redup keemasan.

Ia melangkah perlahan, lalu duduk lembut di tepi ranjang jati milik Bagas.

"Suamiku..." bisik wanita itu dengan suara yang begitu merdu, halus, dan menyentuh sukma.

Bagas tersentak, segera menegakkan posisinya. Matanya membelalak menatap paras jelita di hadapannya. Melalui penglihatan Indra Ular di keningnya, Bagas bisa merasakan aura kasih sayang yang amat murni dan hangat memancar dari wanita tersebut.

"Nyai...?" bisik Bagas parau.

Wanita itu tersenyum manis, mengulurkan jemari halusnya yang dingin untuk mengelus pipi tegap Bagas. "Aku merasakan gelisah di dalam sukmamu, Bagas. Kesedihan atas kerinduan ibumu menembus hingga ke kedalaman rahim gaibku di Sendang Manten."

Bagas menghela napas panjang, memegang erat jemari halus istrinya lalu mengecupnya penuh ketulusan.

"Maafkan aku, Nyai..." tutur Bagas pelan, menundukkan kepalanya. "Aku teramat menyayangimu, tapi melihat Ibu menangis merindukan cucu dan ingin melihatku menikah dengan wanita biasa... hatiku rasanya teriris. Aku berada di antara dua takdir yang saling meremukkan."

Wanita jelita itu menatap Bagas dengan pendar mata yang teramat dalam dan sarat keharuan. Untuk pertama kalinya, tatapan mata emasnya tak lagi memancarkan keangkuhan seorang penguasa ghaib, melainkan kejujuran seorang wanita yang menyerahkan seluruh hatinya.

Ia merapatkan duduknya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagas yang hangat.

"Bagas... malam ini, di atas tempat tidurmu, aku ingin jujur padamu tentang siapa diriku yang sebenarnya," bisik wanita itu halus di telinga Bagas. "Wujud manusia yang kamu lihat malam ini bukanlah sekadar ilusi atau penyamaran gaib. Inilah wujud asliku yang sebenarnya sebelum sumpah takdir mengikatku menjadi Ratu Ular di Sendang Manten ratusan tahun lalu."

Bagas tersentak pelan, merangkul punggung mulus istrinya. "Wujud aslimu...?"

Wanita itu mengangguk pelan dalam dekapan Bagas. "Namaku... Candra Kirana. Dahulu, aku adalah putri manusia fana sebelum kemalangan dan perjanjian sakral mengubah raga dan sukmaku menjadi penguasa bangsa taksaka. Ratu Ular adalah gelarku, Sendang Manten adalah istanaku... Tapi di depanmu, malam ini, aku hanyalah Candra Kirana, istrimu."

Dada Bagas berdesir dahsyat. Nama itu—Candra Kirana—bergema begitu indah dan sakral di dalam dadanya. Bagas mengangkat wajah istrinya, memandangi paras cantiknya yang tiada tara di bawah pendar temaram lampu minyak. Rasa cinta dan kehangatan yang luar biasa meledak di dalam batin Bagas, melampaui rasa takut atau perbedaan alam di antara mereka.

"Candra Kirana..." panggil Bagas lembut dengan nada memuja. "Nama yang teramat indah. Aku benar-benar mencintaimu, Candra Kirana... Bukan hanya karena kekuatan atau pusakamu, tapi karena jiwamu yang menyatu denganku."

Candra Kirana tersenyum sangat manis, air mata keemasan menetes tipis di pipinya. "Aku pun teramat mencintaimu, Bagas. Jiwa dan ragaku adalah milikmu sepenuhnya."

Namun, raut wajah Bagas kembali meredup. Ia mengusap pipi Candra Kirana dengan lembut. "Tapi kita... kita terpisahkan oleh batas dua alam. Ibu ingin melihatku hidup normal bersama wanita biasa dan menimang anak di rumah ini. Sementara kamu harus kembali ke Sendang Manten..."

Candra Kirana menatap Bagas lurus-lurus. Jemari indahnya mengelus Rajah Pusaka Sisik Emas di dada Bagas yang berdenyut pelan.

"Bagaimana jika aku katakan... ada satu cara agar aku bisa kembali menjadi manusia biasa sepenuhnya?" tutur Candra Kirana pelan.

Bagas membelalakkan matanya sempurna. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa?! Kamu... kamu bisa menjadi manusia biasa kembali, Kirana?!" pekik Bagas dengan binar harapan yang membuncah luar biasa. "Maksudmu, kamu bisa tinggal di rumah ini bersamaku, merawat Ibu, dan melahirkan anak kita secara fana di dunia nyata?!"

Candra Kirana mengangguk pelan. "Ya, Suamiku. Di dalam kitab kuno Kerajaan Sendang Manten, ada sebuah ritual penyucian sukma. Jika ritual itu dijalankan, wujud ularku dan takhta gaibku akan luntur selamanya, mengembalikan ragaku menjadi manusia biasa fana sepenuhnya."

Bagas tersenyum lebar, rasa gembira yang tak terhingga memenuhi seluruh dadanya. "Gusti Pangeran... Ini kabar yang luar biasa! Jika kamu menjadi manusia biasa, Ibu akan sangat bahagia memiliki menantu secantik dirimu, dan kita bisa membesarkan anak kita di rumah ini!"

Namun, di tengah kegembiraan Bagas, Candra Kirana tidak ikut tersenyum. Raut wajah jelitanya justru berubah menjadi sangat serius, kelam, dan penuh duka. Ia menggenggam kedua tangan Bagas erat-erat, menatap suami manusianya dengan binar mata yang sarat kecemasan.

"Jangan gembira dulu, Bagas..." bisik Candra Kirana dengan suara bergetar. "Ritual itu bukan ritual sembarangan. Ada syarat dan konsekuensi teramat kelam yang harus kita berdua tanggung... dan itu bisa sangat menyakitkan bagi kita berdua."

Bagas terdiam sejenak, mengernyitkan dahinya. "Konsekuensi? Konsekuensi seperti apa, Kirana? Katakan padaku, aku siap menanggung apa pun asal kita bisa bersatu di dunia nyata!"

Candra Kirana menarik napas panjang, suaranya terdengar begitu parau dan berat.

"Untuk melepaskan kutukan dan takhta Ratu Ular dari jiwaku," papar Candra Kirana pelan, "seluruh racun bisa dan aura gaib Sendang Manten yang ada di dalam tubuhku harus diserap dan dialihkan seutuhnya ke dalam raga manusia yang memiliki keturunan darah murni denganku. Maksudnya... seluruh penderitaan dan panasnya rasa terbakar dari pelunturan takhta itu harus kamu pangkas dan tanggung sendiri melalui raga dan sukmamu, Bagas."

Bagas menelan ludah, mendengar penjelasan itu dengan saksama. "Aku tidak takut rasa sakit, Kirana! Jika aku harus menahan panasnya energi itu demi membawamu ke dunia nyata, aku sudi!"

"Bukan hanya rasa sakit fisik, Suamiku..." potong Candra Kirana dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Konsekuensi terberatnya adalah... saat ritual itu berlangsung, ingatan dan ikatan batin kita akan diuji di ambang kematian. Jika sukmamu tidak cukup kuat menahan rasa sakitnya, kamu bisa kehilangan seluruh ingatanmu tentangku selamanya... atau lebih buruk, rahim gaib tempat anak kita tumbuh bisa pecah dan membunuh benih pangeran kita sebelum sempat terlahir ke dunia!"

Bagas tertegun kaku. Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di tengah malam yang sepi.

Rasa gembira yang tadinya meluap-luap seketika membeku. Pilihan di hadapannya teramat mengerikan: menjalani ritual kelam demi membawa Candra Kirana menjadi manusia biasa dan membahagiakan ibunya, namun berisiko meremukkan jiwa mereka, merusak ingatan cinta mereka, bahkan mengancam nyawa calon buah hati mereka sendiri.

Candra Kirana merapatkan tubuhnya, memeluk leher Bagas rapat-rapat seraya terisak pelan di bahu tegap suaminya.

"Itulah sebabnya aku ragu untuk mengutarakannya padamu, Bagas..." tangis Candra Kirana pecah. "Aku teramat mencintaimu dan anak kita... Aku tidak sanggup jika harus melihatmu menderita atau kehilangan ingatanmu tentang cinta kita."

Bagas memejamkan matanya erat-erat, merengkuh tubuh jelita Candra Kirana dalam dekapannya yang sangat erat. Di dalam kamar utama yang remang-remang itu, dua insan dari dua alam yang berbeda saling berpelukan dalam kepedihan dan pertaruhan takdir yang amat dahsyat.

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!